
Pagi itu, di dalam istana Kerajaan Ardor, Raja kerajaan Ardor yang bernama Theovilus Alain Feld terbangun dari tidurnya yang lelap. Dia memandang istri tercintanya, Ratu Eveline, yang masih tertidur pulas di sampingnya. Wajahnya dipenuhi dengan ekspresi penuh cinta dan kelembutan saat dia merenungkan keberuntungannya memiliki wanita yang begitu indah dan mulia di sisinya.
Dengan hati yang penuh kasih sayang, Theovilus membungkuk dan mencium lembut kening istri tercintanya. Dia merasakan kehangatan tubuhnya dan tersenyum dalam kebahagiaan. Raja dan Ratu Ardor telah melewati banyak cobaan dan tantangan bersama, dan kehadiran Eveline selalu menjadi pilar kekuatan dan kegembiraan dalam hidupnya.
Theovilus berbisik dengan lembut, "Selamat pagi, sayangku." Suaranya lembut dan penuh dengan kelembutan yang tak tergantikan. Dia berharap bisa melindungi dan menyayangi Eveline sepanjang hidupnya. Keberadaannya adalah cahaya yang menerangi hati Theovilus dalam dunia yang penuh dengan kegelapan dan intrik politik.
Raja Ardor menyadari tanggung jawabnya sebagai pemimpin dan pelindung kerajaan. Namun, di saat-saat intim seperti ini, dia bisa melupakan semua beban dan tekanan tersebut. Dia bisa menjadi suami yang penuh kasih dan pengasih bagi Eveline, mengutip kekuatan dari cintanya yang tak tergoyahkan.
Setelah mencium kening Eveline, Theovilus berdiri perlahan dari tempat tidur. Dia berjalan ke jendela dan menatap pemandangan istana yang indah. Udara segar pagi itu memberikan energi dan semangat baru ke dalam dirinya. Dia merenungkan tugas dan tanggung jawabnya sebagai raja, dan berjanji untuk melindungi dan memajukan kerajaan serta melibatkan kebijaksanaan dan keadilan dalam setiap keputusan yang dia buat.
Dalam keheningan pagi yang tenang, Raja Ardor yakni Theovilus Alain Feld melanjutkan hari ini dengan tekad yang kuat dan hati yang penuh cinta. Dia siap menghadapi tantangan apa pun yang mungkin muncul, tidak hanya sebagai seorang raja, tetapi juga sebagai suami dan mitra bagi Ratu Eveline.
Saat ia masih memandang melalui jendela Dalam sekejap, keadaan berubah drastis di kamar Raja Theovilus Alain Feld. Getaran yang semula lemah menjadi semakin kuat dan hebat, mengguncang tembok dan lantai istana. Theovilus segera menyadari bahaya yang mengancam dan melihat retakan yang tiba-tiba muncul di sekitar kamar.
Tak ingin kehilangan istri tercintanya, Theovilus berlari mendekati tempat tidur tempat Eveline masih terlelap. Dia berteriak memanggil namanya dengan harapan bisa membangunkannya dan menyelamatkannya dari bahaya yang semakin mendekat.
Namun, sebelum Theovilus bisa mencapai tempat tidur, retakan yang semakin melebar membuat bangunan itu runtuh dengan dahsyat. Debu dan serpihan batu beterbangan di sekitarnya, menghalangi Theovilus untuk mendekati Eveline. Rasa panik dan keputusasaan merasuki hatinya saat dia melihat istri tercintanya tertimpa reruntuhan.
Dengan hati yang hancur dan penuh keputusasaan, Theovilus berusaha keras mengangkat puing-puing yang menimbun Eveline. Tubuhnya dipenuhi dengan kekuatan yang tidak terduga, saat cintanya dan keinginannya untuk melindungi Eveline memberinya motivasi yang tak tergoyahkan.
Dalam upaya putus asa untuk menyelamatkan Eveline, Theovilus menggerakkan puing-puing dengan tangannya, terlepas dari rasa sakit dan kelelahan yang melanda dirinya. Ia berteriak memanggil namanya dengan harapan bahwa istri tercintanya masih bisa mendengarnya di antara kerusakan dan kekacauan.
Namun, saat puing-puing akhirnya terangkat, Theovilus dengan sedih menemukan Eveline dalam keadaan tak bernyawa. Air mata tak terbendung mengalir dari matanya saat dia memeluk tubuh dingin Eveline. Hancurnya istana dan kehilangan yang tak tergantikan ini melukai hatinya yang dalam.
Dalam keheningan yang penuh duka, Theovilus meratapi kehilangan yang tak terbayangkan. Dia kehilangan tidak hanya istana yang berdiri megah, tetapi juga hati yang paling berharga baginya. Keberanian dan kekuatan yang pernah ada kini terasa rapuh di hadapan kehilangan yang melanda.
Dalam keputusasaan dan kepedihan yang mendalam, Theovilus berlutut di samping tubuh Eveline yang tak bernyawa. Air mata tak terbendung terus mengalir dari matanya, menyatukan rasa sakit dan cinta yang tak terukur.
"Dia adalah cintaku, dia adalah segalanya bagiku," bisik Theovilus dengan suara terputus-putus. "Bangunlah, sayangku. Jangan tinggalkan aku di dunia yang tanpa kehangatanmu."
Namun, tidak peduli berapa kali Theovilus berteriak atau berbisik, tak ada jawaban dari istri tercintanya. Hanya keheningan menyakitkan yang mengisi ruangan hancur itu, mengingatkan Theovilus akan kehilangan yang tak tergantikan.
Air mata jatuh ke atas tubuh Eveline, meresapi kain putih yang kini terlihat kotor oleh debu dan reruntuhan. Theovilus meraih tangan dingin istri tercintanya, menciumnya dengan lembut, berharap bisa membangunkan keajaiban yang sudah tidak mungkin.
"Cintaku, maafkan aku. Maafkan aku karena tidak bisa melindungimu," desis Theovilus dengan suara penuh penyesalan. "Aku akan selalu mencintaimu, bahkan di dunia yang penuh kehancuran ini."
__ADS_1
Dia merasa kekosongan dalam dadanya, seolah-olah sebagian dirinya telah dicabut bersama dengan kepergian Eveline. Rasa bersalah dan penyesalan melilit hatinya, menghancurkan harapannya akan masa depan yang indah bersama istri tercintanya.
Dalam keheningan yang terasa begitu berat, Theovilus hanya bisa mengenang kenangan manis mereka bersama. Ia memandangi wajah Eveline yang tenang, mencoba menyimpan setiap detail yang pernah ada di hatinya. Meskipun fisiknya tidak ada lagi, cinta mereka tetap abadi di dalam jiwa Theovilus.
Dalam keadaan yang kacau balau, Theovilus merasa kebingungan dan terjebak dalam kehancuran yang mengelilinginya. Dia memeluk tubuh Eveline dengan erat, takut kehilangan jejak terakhir dari kehidupan mereka yang bahagia.
"Dalam nama Ardor, apa yang terjadi di sini?" serunya dengan suara yang penuh keputusasaan. Namun, tak seorang pun menjawab panggilannya. Suara yang terdengar hanya gemuruh reruntuhan dan tangisan kesedihan yang menyayat hati.
Theovilus melangkah dengan hati yang berat, berusaha melintasi puing-puing yang menutupi jalannya. Ia mendapati prajurit-prajurit kerajaan yang tertimpa reruntuhan, beberapa dari mereka tak bernyawa di tempat. Dia merasa pilu melihat para penjaga setianya mengalami nasib yang sama dengan istri tercintanya.
"Kalian adalah penjaga kerajaan yang berani dan gagah. Kini kalian beristirahat dengan damai," Theovilus berkata dengan suara terisak, mengenang jasa-jasa mereka yang telah melindungi kerajaan dengan kesetiaan.
Tetapi, pertanyaan Theovilus tetap terus membayangi pikirannya. Apa penyebab gempa dahsyat ini? Siapa yang bertanggung jawab atas bencana ini? Dalam keputusasaan, ia melanjutkan pencariannya dengan harapan menemukan jawaban yang dapat menerangi kegelapan yang menimpanya.
Di antara reruntuhan dan kehancuran, Theovilus melihat sisa-sisa bangunan yang dulu menjadi tempat kebahagiaannya. Dia merasa sedih dan marah sekaligus. Sedih karena melihat kerajaannya hancur berantakan, dan marah karena tak dapat menemukan penjelasan apa pun.
Dalam keheningan yang mencekam, Theovilus mencoba merangkul kenyataan yang menyakitkan. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa akan mencari kebenaran dan keadilan atas kehancuran ini. Tidak ada yang akan lepas dari tangannya, termasuk para pihak yang bertanggung jawab.
Dengan tekad yang terbakar dalam hatinya, Theovilus melangkah maju melintasi reruntuhan, menghadapi masa depan yang suram namun penuh dengan harapan akan pemulihan dan keadilan.
Bangunan-bangunan yang indah dan megah telah runtuh menjadi tumpukan puing yang tak beraturan. Jalan-jalan yang dulu ramai dengan aktivitas kini tertutup oleh reruntuhan, membuat pergerakan sulit dilakukan. Theovilus melihat wajah-wajah yang penuh keputusasaan dari penduduk yang selamat, berusaha menyelamatkan diri dan orang-orang tercinta mereka.
Dalam keheningan yang terengah-engah, suara tangisan dan ratapan mengisi udara. Hati Theovilus terluka mendengar jeritan kesedihan yang tak terelakkan. Dia berjalan di antara bangunan yang hancur, mencoba mencari tahu nasib kerajaan dan rakyatnya.
Tidak ada kata-kata yang mampu menggambarkan betapa hancurnya kehidupan yang dulu begitu makmur dan damai. Theovilus memegang erat istri tercintanya, menarik napas dalam-dalam untuk menguatkan hati. Ia tahu, saat ini ia harus menjadi pilar kekuatan bagi rakyatnya yang sedang dilanda kesedihan.
Dalam perjalanan mereka, Theovilus menyaksikan pemandangan yang menyayat hati. Banyak orang terluka, terjebak di bawah reruntuhan, atau kehilangan anggota keluarga mereka. Dia merasakan beban tanggung jawab yang semakin berat di pundaknya. Dia harus melindungi, menyembuhkan, dan membangun kembali kerajaannya yang hancur.
Dalam kesendirian dan kehampaan, Theovilus bersumpah untuk berdiri tegak melawan penderitaan ini. Ia tidak akan menyerah pada keputusasaan. Ia akan memimpin rakyatnya dalam menghadapi masa depan yang penuh tantangan ini.
Sambil melangkah di antara reruntuhan, Theovilus menyimpan harapan di dalam hatinya. Harapan bahwa kerajaannya akan bangkit kembali, dan kehidupan akan kembali bersemi. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa tidak akan ada kekuatan yang bisa menghancurkan semangatnya dan semangat rakyatnya.
Dalam langkah yang penuh ketabahan, Theovilus melanjutkan perjalanan, membawa beban masa depan kerajaannya dan harapan untuk membangun kembali apa yang telah hilang.
Theovilus menatap para prajurit yang datang dengan perasaan campur aduk. Dia merasakan kelegaan sekaligus kekesalan.
__ADS_1
"Dengan segala hormat, apa yang telah terjadi di kerajaan ini?" tanyanya dengan suara yang penuh keprihatinan.
Salah seorang prajurit yang terluka dengan susah payah menjawab, "Maafkan kami, Yang Mulia. Gempa dahsyat ini melanda dengan tiba-tiba. Bangunan-bangunan runtuh dan kami berjuang untuk bertahan hidup."
Theovilus mengangguk paham, tetapi rasa kebingungannya masih belum terpecahkan. "Namun, di mana yang lainnya? Apa yang terjadi pada pasukan kita? Mengapa mereka tidak datang untuk membantu?"
Prajurit yang lain menjawab dengan nada sedih, "Yang Mulia, banyak di antara saudara-saudara kami yang tertimpa bangunan dan tidak dapat menyelamatkan diri. Kami adalah yang tersisa, dan kami datang secepat mungkin untuk memberikan laporan."
Theovilus merasa hatinya semakin berat mendengar kabar tersebut. Ia menyadari bahwa gempa dahsyat ini telah menelan korban yang tak terhitung jumlahnya. Kerajaan yang pernah berdiri kokoh dan indah kini hanya tinggal puing-puing dan kesedihan yang mendalam.
"Dengan penuh duka, kita harus menjaga semangat dan terus melangkah maju. Mari kita mencari tahu apa yang telah menyebabkan gempa ini dan memulihkan kerajaan kita," Theovilus berkata dengan suara gemetar, berusaha menenangkan diri sendiri dan para prajurit.
Prajurit yang terluka menjawab dengan semangat, "Kami siap, Yang Mulia. Kami akan membantu Anda dalam upaya pemulihan dan menemukan jawaban atas kejadian ini."
Theovilus mengangguk tulus. Meski hatinya masih penuh duka, ia menyadari bahwa para prajurit yang tinggal adalah pahlawan-pahlawan sejati yang siap memperjuangkan keadilan dan kebangkitan kerajaan.
Dalam kepedihan yang mendalam, Theovilus memandang dan memeluk tubuh istri tercintanya dengan erat. Air mata tak terbendung mengalir dari matanya saat ia mencium kening Eveline yang dingin.
"Cinta, engkau adalah sinar terang dalam hidupku. Aku berjanji akan memulihkan kerajaan ini demi kenangan kita dan bagi semua orang yang telah kita cintai," bisik Theovilus dengan suara yang penuh harap.
Dalam hati, Theovilus menyimpan kenangan masa lalu mereka yang penuh kebahagiaan. Masa-masa di mana mereka berjalan bersama di taman kerajaan, tertawa riang di atas perahu di danau, dan saling berbagi mimpi-mimpi mereka. Eveline adalah sosok yang memberikan Theovilus kekuatan dan inspirasi untuk menjadi seorang raja yang bijaksana.
Theovilus dengan hati yang berat meletakkan tubuh istri tercintanya dengan penuh kelembutan di tempat yang aman. Ia mencium sekali lagi kening Eveline, lalu dengan tekad yang kuat, ia berbicara kepada para prajurit yang ada di hadapannya.
"Dengan segala hormat, prajuritku yang berani, saya meminta kalian untuk berpencar dan memanggil setiap prajurit yang masih hidup untuk menyelamatkan rakyat yang kesulitan dan setelah itu kalian berkumpullah di istana ini. Ini adalah saat yang paling kritis bagi kerajaan kita. Kita harus bersatu dan memulihkan apa yang telah hancur," ucap Theovilus dengan suara tegas dan penuh harapan.
Para prajurit mengangguk dengan penuh semangat, menyadari bahwa saat ini adalah waktu yang membutuhkan kerja sama dan keberanian dari setiap individu. Mereka segera bergerak, melangkah menjauh dari Theovilus dengan tujuan yang sama: mencari pasukan yang tersisa.
Theovilus sendiri tetap berada di tempat, duduk di samping mayat istri tercintanya. Air mata yang tak terbendung mengalir dari matanya, namun ia tidak membiarkan kesedihan menguasai dirinya sepenuhnya. Ia mengingat masa-masa bahagia yang pernah mereka lewati bersama, senyuman Eveline yang selalu menghangatkan hatinya, dan cinta yang mereka bagi.
"Saya akan memulihkan kerajaan ini, sayangku. Akan ku bangkitkan kejayaanmu dan menjaga warisan yang kau tinggalkan," bisik Theovilus sambil menggenggam erat tangan istri yang sudah kaku.
Dalam kesunyian yang mendalam, Theovilus berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menjadi pemimpin yang kuat, berjuang untuk keadilan dan kebahagiaan rakyatnya. Ia menatap langit yang kini diliputi oleh debu dan reruntuhan, menempatkan kepercayaan pada prajurit-prajuritnya yang sedang mencari keberadaan mereka yang masih hidup.
Dalam saat-saat kelam seperti ini, harapan dan tekad menjadi cahaya yang menerangi jalan menuju masa depan yang lebih baik. Theovilus menghela nafas dalam-dalam, siap menghadapi tantangan yang menanti. Kerajaan Ardor akan bangkit kembali, dan ia akan memastikan bahwa kekuatan cinta dan keadilan akan mengatasi kehancuran.
__ADS_1