
Yuki dan Kai terbang di udara, melayang tinggi di atas langit-langit Kerajaan Anvil. Angin sepoi-sepoi membelai rambut mereka saat mereka terbang menuju tujuan yang belum diketahui.
Kai, dengan tatapan penuh keingintahuan, bertanya kepada Yuki, "Ayah, kita mau kemana?"
Yuki tersenyum, melihat wajah penuh semangat anaknya. "Ikuti saja, Nak. Kita akan pergi ke tempat yang baru, tempat yang bisa menjadi markas kita."
Mata Kai berbinar-binar saat mereka menerobos awan putih lembut. Mereka terbang semakin tinggi, hingga akhirnya Yuki menghentikan perjalanan mereka di sebuah pulau terbang yang baru saja diciptakan oleh kekuatan magis Yuki.
Pulau itu terapung di langit, dikelilingi oleh awan-awan yang lembut dan panorama yang indah. Tanah di pulau itu subur dan hijau, dipenuhi dengan keindahan alam yang melimpah.
Yuki mengangguk, memandang pulau terbang yang ia ciptakan dengan penuh kebanggaan. "Nak, Pulau ini akan menjadi rumah kita sekarang. Di sinilah kita akan memulai awal baru kita.
Mereka mendarat di tanah pulau yang subur, menghirup udara segar yang mengalir di sekeliling mereka. Yuki merasa kelegaan dan rasa lega mengisi hatinya, sebagai peluang untuk memulai kehidupan baru yang lebih tenang dan damai.
Dengan penuh kekuatan sihirnya, Yuki mengeluarkan kemampuan [Create] yang dimilikinya. Dalam sekejap, di tengah-tengah pulau terbang yang subur, terdapat sebuah istana megah yang berdiri dengan megah dan gemilang.
Kai tercengang melihat keajaiban yang terjadi di hadapannya. Ia melihat istana yang begitu indah dan megah, dengan detail arsitektur yang menakjubkan. Hatinya dipenuhi dengan kagum dan kebanggaan akan kekuatan ayahnya.
Yuki, dengan senyuman di wajahnya, mengarahkan pandangannya pada istana yang baru saja diciptakannya. "Inilah awal permulaan kita, Nak," katanya dengan bangga. "Kita akan mendirikan kerajaan kita sendiri di pulau ini. Istana ini akan menjadi pusat kekuatan dan keadilan kita."
Kai, penuh semangat, membungkuk hormat pada ayahnya. "Baik, Ayah. Aku akan menjadi pendukungmu sepenuhnya,Dan menuruti setiap perintahmu."
Yuki tersenyum dan mengelus kepala Kai dengan penuh kasih sayang. "Aku bangga padamu, Nak."
Yuki dan Kai memasuki istana yang megah yang telah dibangun oleh Yuki dengan kekuatan sihirnya. Mereka melangkah dengan langkah mantap, merasakan kehadiran keagungan dan kekuasaan yang terpancar dari setiap sudut istana.
__ADS_1
Yuki, dengan tatapan penuh kepuasan dan kebanggaan, menduduki takhta di pusat istana. Ia merasa seperti raja sejati, memerintah dengan kebijaksanaan dan kekuasaan yang dimilikinya. Di balik tatapan dinginnya, ada kegembiraan yang tak terbendung karena meraih posisi tertinggi dalam kerajaan yang baru mereka ciptakan.
Kai, tanpa ragu, berlutut hormat di hadapan ayahnya yang duduk di takhta. Suaranya penuh dengan rasa hormat dan kebanggaan saat ia berkata, "Selamat, Ayah. Anda layak menduduki takhta ini. Saya merasa terhormat menjadi bagian dari kerajaan yang Anda bangun."
Yuki melihat Kai dengan bangga, memahami betapa besar peran dan kontribusi anaknya dalam perjalanan mereka. "Terima kasih, Nak," ucap Yuki dengan suara penuh kehangatan.
Kai mengangguk, penuh tekad. Ia berjanji untuk setia mendukung dan melindungi tempat ini dengan segenap kemampuannya.
Yuki menatap sekeliling istana dengan perasaan yang tidak puas. Meskipun ia telah meraih kekuasaan dan membangun kerajaan yang megah, namun ia merasakan kekosongan dalam hatinya. Ia merasa bahwa kerajaannya terasa sunyi dan sepi.
Menggambarkan perasaannya kepada Kai, Yuki berkata, "Kai, betapa sunyi kerajaanku ini. Terasa seperti ada sesuatu yang kurang." Ia merasa bahwa kehadiran rakyat yang setia dan penuh kecintaan adalah salah satu hal yang hilang dalam kekuasaannya.
Kai, dengan penuh semangat dan tekad, menjawab, "Jika Ayah menghendaki, aku dapat mencarikan manusia yang layak untuk menjadi rakyatmu, Ayah." Ia berlutut hormat, menawarkan dirinya untuk membantu memenuhi keinginan Ayahnya.
Namun, Yuki dengan nada sinis berkata, "Haha, tidak perlu, Nak. Aku tahu betul bahwa mereka tidak akan setia kepadaku." Ia merasa skeptis terhadap kesetiaan manusia dan meragukan apakah ada yang dapat benar-benar mempercayai dan mengabdi padanya.
Yuki menatap Kai dengan pandangan campuran antara kebingungan dan penasaran. Ia tidak yakin dengan niat jahat yang tersirat di balik senyuman Kai, namun juga penasaran dengan apa yang dapat anaknya lakukan.
Dengan perbincangan itu, mereka berdua menandai awal dari upaya Kai untuk membangun kepercayaan dan kesetiaan rakyat dalam kerajaan Yuki yang sunyi. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, apakah rakyat dapat mengikat diri mereka dengan hati yang setia ataukah kekuasaan Yuki tetap akan didominasi oleh kekosongan dan ketidakpercayaan.
Dalam hati yang penuh dengan ketidaksukaan terhadap manusia, Yuki menegaskan kepada Kai, "Tidak perlu, Nak. Aku tidak menyukai manusia di dunia ini. Hati mereka sangat korup." Ia merasa bahwa manusia adalah makhluk yang tidak dapat dipercaya dan telah kecewa dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya.
Kai mengangguk setuju dan menjawab, "Ya, Ayah. Perkataanmu itu sangat benar." Ia sepenuhnya memahami sikap dan pandangan Ayahnya terhadap manusia.
Namun, dalam kedalaman hatinya, Yuki merasa terdorong untuk bereksperimen dengan kekuatan sihir [Create]-nya. Ia ingin melihat apa yang dapat ia ciptakan dengan kekuatan tersebut di dunia ini. Ia pun mengumpulkan pikirannya dan memusatkan energi sihirnya.
__ADS_1
Cahaya yang mempesona memenuhi ruangan takhta tersebut, memancarkan kilauan yang memikat hati. Kai, yang juga melihat cahaya yang berkilauan, terpesona oleh keajaiban yang sedang terjadi di hadapannya.
Selama sepuluh detik yang mengalir dengan lambat, cahaya kilauan itu perlahan redup dan ketenangan kembali mengisi ruangan. Di lantai, tergeletak sepasang manusia, seorang pria dan seorang wanita, yang baru saja diciptakan oleh kekuatan sihir Yuki.
Kai memandang dengan penuh kagum dan keheranan, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ia menyadari bahwa Ayahnya telah melampaui batas-batas kekuatan sihir yang ada.
Sementara itu, Yuki mengamati hasil eksperimennya dengan campuran antara kepuasan dan penasaran. Ia bertanya-tanya apa yang akan terjadi dengan manusia yang baru saja ia ciptakan dan apa arti keberadaan mereka dalam kerajaannya yang sunyi.
Takdir pasangan manusia tersebut kini bergantung pada tangan Yuki dan Kai. Apakah mereka akan menjadi alat untuk mengisi kekosongan di hati Yuki ataukah mereka akan membawa perubahan yang lebih dalam kerajaan ini?
Yuki terkejut mendapati hasil eksperimennya berhasil. Tidak disangka, kekuatan sihir [Create]-nya mampu menciptakan kehidupan. Sebuah keberhasilan yang tak terduga.
Namun, saat itu juga, sebuah notifikasi muncul di benak Yuki. Sebuah pesan yang pernah ia dengar sebelumnya, saat ia masih berada dalam kehidupan sebelumnya. Notifikasi tersebut berkata, "Selamat! Anda berhasil menciptakan kehidupan. Skill [Create/Custom NPC] berhasil didapatkan!"
Yuki merasa sangat senang dan terkejut mendengar pesan tersebut. Ia menyadari bahwa hanya dirinya yang bisa mendengar dan melihat notifikasi tersebut. Hanya Yuki yang memiliki akses ke dunia ini dan kekuatan sihir yang luar biasa.
Perasaan campur aduk memenuhi hati Yuki. Di satu sisi, ia merasa senang karena berhasil menciptakan kehidupan dan memiliki kemampuan yang jarang dimiliki orang lain. Namun, di sisi lain, ia juga merasa cemas dan bertanya-tanya tentang konsekuensi dari tindakan eksperimennya.
Dengan perlahan, pria dan wanita ciptaan Yuki mulai membuka mata mereka dan mengambil posisi duduk. Kehadiran mereka memancarkan aura misterius yang memikat.
Pria itu, dengan mata biru tajam dan rambut hitam yang teratur, tampak kuat dan percaya diri. Ia melihat sekeliling dengan penuh keingintahuan, mencerminkan rasa ingin tahu yang tak terbendung di dalam dirinya. Postur tubuhnya yang tinggi menjadikan kehadirannya begitu mencolok di ruangan itu.
Sementara itu, wanita itu memiliki rambut merah yang terurai indah di sekitar bahunya. Wajahnya yang cantik dipenuhi dengan kecerdasan dan keanggunan. Matanya berkilauan dengan kebijaksanaan dan kehangatan. Ia memancarkan pesona yang menarik, dan sikapnya yang anggun membuatnya tampak seperti seorang ratu.
Kai, yang masih bertelut dengan hormat, terpesona melihat kehadiran kedua manusia ciptaan Ayahnya. Ia tidak bisa menahan rasa kagumnya dan berkata dengan penuh kagum, "Sungguh, Ayah, kau luar biasa! Aku semakin kagum dengan kekuatanmu."
__ADS_1
Yuki tersenyum bangga mendengar pujian dari anaknya.