Transmigrasi Menjadi Penyihir Legendaris

Transmigrasi Menjadi Penyihir Legendaris
3 Tahun Kemudian


__ADS_3

3 Tahun berlalu sejak kerajaan Ardor mengalami kehancuran yang mengguncangkan hati Raja Theovilus. Saat ini, Raja Ardor duduk di takhtanya, berbagi pikiran dengan sekretarisnya. Namun, pikiran yang menghantuinya terus-menerus membawanya kembali ke kejadian yang menyakitkan.


"Sudah 3 Tahun berlalu, dan kerajaanku akhirnya pulih kembali," ucap Raja Ardor dengan suara yang penuh emosi. "Namun, ketika aku mengingat kembali kejadian itu..."


Tiba-tiba, rasa amarah yang tak terbendung meluap dari dalam diri Raja Theovilus. Ia merasa marah, kecewa, dan terluka oleh seseorang yang telah menghancurkan hidupnya.


"SIAL!!!" serunya dengan suara yang penuh kebencian. "SIALAN!!! BAJINGAN!!! ZEPHYR!!!!!! AKU TIDAK AKAN MEMAAFKANMU, BANGSAT!!!"


Dalam kemarahan yang tak terkendali, Raja Theovilus melemparkan segala kekesalan dan amarahnya. Ia merasa bahwa Zephyr telah merampas cintanya, menyakitinya hingga ke lubuk hati. Takhta yang kuat dan megah pun menjadi sasaran pukulannya yang keras.


Gempuran keras tangan Raja Theovilus pada takhta mencerminkan keputusasaannya yang dalam. Ia merasakan kehampaan dan kesedihan yang teramat dalam akibat perbuatan Zephyr yang membawa penderitaan padanya.


Sekretaris Raja Ardor, yang hadir di sampingnya, melihat keadaan Raja dengan keprihatinan. Dalam hatinya, ia berharap agar Raja dapat menemukan kedamaian dan kebahagiaan setelah melalui masa-masa yang sulit tersebut.


Sekretaris yang berada di samping Raja Theovilus merasa cemas melihat kemarahan yang membara dalam diri Raja. Namun, ia mencoba untuk mengungkapkan empati dan pemahamannya terhadap keadaan yang sedang Raja alami.


"Yang Mulia, aku mengerti perasaanmu yang telah kehilangan banyak hal dalam tiga tahun terakhir ini," ucap sekretaris dengan suara yang rendah.


Namun, kata-kata sekretaris tersebut malah memicu kemarahan lebih dalam dalam diri Raja Theovilus. Tatapannya yang tajam memandang sekretaris dengan amarah yang menyala di matanya.


"APA KAU BILANG MENGERTI BARUSAN?!!" seru Raja dengan suara yang bergema di ruangan. "AKU SUDAH KEHILANGAN BANYAK HAL DALAM TIGA TAHUN TERAKHIR INI!!! SIALAN, JANGAN PERNAH BERKATA SEPERTI ITU!! APAKAH AKU HARUS MEMBERI CONTOH RASA SAKITKU PADA MU? DENGAN MEMBUNUH KELUARGAMU YANG KAU CINTAI??!!!!"


Sekretaris yang takut dan gemetar menghadapi tatapan tajam Raja Theovilus. Ia menyadari bahwa perkataannya telah salah dimaknai dan menyebabkan kemarahan yang semakin membara dalam diri Raja. Sekretaris tersebut menyadari bahwa ia telah mengabaikan rasa sakit yang mendalam yang dirasakan Raja dan mengakui kesalahannya dalam mengungkapkan empati.


Theovilus melihat sekretarisnya yang masih gemetar dan berkeringat, bahkan mengeluarkan sedikit air mata. Ia merasa penyesalan dan rasa bersalah merayap dalam hatinya. Dalam keheningan, Theovilus berbicara dalam hati, mengakui bahwa ia tidak dapat mengendalikan emosinya. Dia berharap agar Eveline, orang yang dicintainya, bisa memaafkannya.


Dengan suara yang agak gemetar, Theovilus berbicara kepada sekretarisnya yang masih ketakutan. "Maafkan aku. Aku terbawa emosi tadi. Aku tidak seharusnya melepaskan kemarahanku padamu."


Sekretarisnya, dengan sedikit keberanian yang tersisa, menjawab dengan suara yang gemetar, "Ah, tidak apa-apa, Yang Mulia." Meskipun ia masih ketakutan, ia mencoba menunjukkan pengertian dan kesediaan untuk memaafkan.

__ADS_1


Theovilus memutuskan untuk mengabaikan tanggapan sekretarisnya. Dia menyadari bahwa ia perlu mengendalikan emosinya lebih baik dan tidak menyalahkan orang lain atas kehilangan dan penderitaan yang ia rasakan.


Mereka berdua kembali terdiam, membiarkan keheningan mengisi ruangan takhta yang megah. Theovilus merenung tentang konsekuensi dari emosi yang tak terkendali dan betapa pentingnya untuk mempertahankan kendali diri dalam situasi-situasi sulit.


Ketukan pintu menghentikan keheningan di ruang takhta, dan pintu pun terbuka. Seorang prajurit dengan sikap hormat masuk ke dalam ruangan dan memberitahu Theovilus bahwa Raja Anvil telah tiba.


Theovilus menanggapi dengan anggukan ringan, menunjukkan bahwa ia mendengar kabar tersebut. "Hmm, baiklah. Aku akan segera bersiap-siap," ucapnya dengan suara yang tenang namun penuh kewibawaan.


Prajurit tersebut tetap berdiri tegak, bertelut sebagai tanda penghormatan. Ia memahami pentingnya menghormati kedudukan Raja dan melaksanakan tugasnya dengan baik. "Baik, Yang Mulia," jawabnya dengan hormat.


Theovilus segera bangkit dari takhtanya, menyesapinya untuk bersiap menyambut kedatangan Raja Anvil. Meskipun masih ada ketegangan dan emosi dalam dirinya, ia menyadari pentingnya menjaga etiket dan protokol dalam bertindak sebagai seorang raja.


Prajurit tersebut membiarkan Theovilus untuk bersiap-siap dengan tenang. Ia tahu bahwa persiapan yang baik adalah hal yang penting untuk menyambut tamu dengan pantas dan bermartabat. Selama Theovilus bersiap, prajurit tersebut tetap berdiri dengan sikap yang tegap, siap untuk melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab.


Sementara itu, Theovilus merasa gelombang emosi masih menghantam ke dalam dirinya. Ia harus menenangkan diri dan berusaha mengendalikan perasaannya sebaik mungkin ketika bertemu dengan Raja Anvil. Kehadiran tamu tersebut menimbulkan rangsangan emosional yang kuat, mengingat masa lalu yang terjadi antara mereka.


Dengan perlahan, Theovilus mengambil napas dalam-dalam, mencoba memusatkan pikirannya dan menenangkan hatinya. Ia menyadari bahwa sebagai seorang raja, ia harus menunjukkan sikap yang berwibawa dan tetap tenang dalam menghadapi setiap situasi.


Di ruang makan yang megah, Raja Theovilus dan Raja Anvil duduk berhadap-hadapan. Suasana di ruangan itu terasa tegang dan hening, seolah memuat beban masa lalu yang rumit antara keduanya. Meskipun demikian, Theovilus menyadari bahwa Raja Anvil telah memberikan bantuan berharga untuk memulihkan kerajaannya selama tiga tahun terakhir.


Raja Anvil memulai percakapan dengan nada yang santai. " Vilus!, sudah lama sekali kita tidak bertemu. Terakhir kali adalah saat perang tahunan 4 Tahun lalu, bukan? Saat kau masih Berjaya?, HAHAHA, betapa hebatnya strategimu waktu itu," ujarnya dengan suara yang tenang dan diiringi senyuman humor.


Theovilus menatap Raja Anvil dengan intensitas, mencermati setiap kata yang diucapkan sebelum memberikan tanggapan. "Anvil, apakah ucapanmu itu sarkastik? Jika iya, aku merasa tersinggung dengan perkataanmu. Jika mungkin, tolong tarik kembali ucapanmu," ujarnya dengan serius.


Raja Anvil tertawa terbahak-bahak. "HAHAHAHA, tidak, Vilus! Jangan salah paham. Aku hanya mengagumi kehebatan strategimu saat perang tahunan itu. Aku merindukan momen itu!, HAHAHA," jawabnya dengan nada yang penuh keterbukaan.


Emosi Theovilus mulai mereda, dan wajahnya terbukti sedikit lega. Ia tersenyum pelan, menunjukkan bahwa sedikit ketegangan dalam hatinya mulai berkurang. "Maafkan sikapku yang tempramental sejak tiga tahun terakhir. Aku tidak bisa mengendalikannya," ujarnya sambil menghela nafas.


Theovilus merasakan emosinya mereda dan tersenyum sedikit, menunjukkan sedikit kelegaan di wajahnya. "Terima kasih, Anvil. Maafkan sikapku yang tempramental selama tiga tahun terakhir. Aku tidak bisa mengendalikannya."

__ADS_1


Ketika Theovilus mengingat kembali kejadian kehancuran tiga tahun yang lalu, kemarahannya meletup. "ZEPHYR, SIALAN! BAJINGAN! Akan kubunuh kau!"


Kembali dalam ingatannya, Theovilus teringat kejadian kehancuran yang melanda tiga tahun lalu. Amarahnya yang meluap-luap saat itu, terutama terhadap Zephyr, masih menghantuinya. Namun, dengan hadirnya Raja Anvil di depannya, ia berusaha menenangkan diri dan menjaga ketenangan.


Melihat kemarahan Theovilus seperti orang gila, Raja Anvil dalam hatinya merasakan pilu. Ia menyadari betapa perubahan drastis yang terjadi pada Theovilus sejak terakhir kali mereka bertemu. Kehilangan yang Theovilus alami, baik itu kehilangan istri yang dicintainya maupun kerajaannya yang hancur, membuatnya mengalami pergolakan batin yang dalam. Raja Anvil merasa simpati terhadap keadaan yang sedang dihadapi oleh Theovilus.


Raja Anvil, mengucap ia telah berusaha mencari Zephyr selama 3 Tahun ini.


Theovilus merespons kata-kata Raja Anvil dengan ekspresi campur aduk di wajahnya. Setelah sejenak berpikir, ia menjawab dengan nada yang penuh kekecewaan, "Jadi, seluruh upaya kita untuk menemukan Zephyr selama tiga tahun ini sia-sia? Sungguh, ini membuatku semakin frustrasi, SIALAN!."


Raja Anvil mengangguk dengan keprihatinan. "Ya, Vilus. Aku mengerti betapa besar keinginanmu untuk membalas dendam atas kejadian itu. Namun, meskipun intelkuku sudah berusaha semaksimal mungkin, kami belum berhasil menemukan jejak Zephyr."


Theovilus menarik nafas dalam-dalam, mencoba mengendalikan emosinya yang bergolak. "Aku merasa putus asa, Anvil. Setelah tiga tahun berlalu, aku masih merasakan luka itu begitu dalam. Hati ini terus terpenuhi oleh keinginan untuk membunuhnya! ."


Raja Anvil meletakkan tangannya dengan lembut di atas tangan Theovilus, memberikan sedikit dukungan. "Vilus, aku paham betapa sulitnya untuk melupakan dan melanjutkan. Tetapi ingatlah bahwa kekuatanmu sebagai seorang raja tidak hanya terletak pada dendammu, tetapi juga dalam cara mengayomi dan membangun kerajaanmu."


Mendengar kata-kata bijak Raja Anvil, emosi Theovilus redah dan merenung sejenak. "Kau benar, Anvil. Aku tidak boleh membiarkan dendamku menguasai hidupku sepenuhnya. Aku harus mengutamakan kebaikan kerajaanku dan rakyatku."


Raja Anvil tersenyum mengangguk. "Itulah sikap yang bijak, Vilus. Bersama-sama, kita dapat membangun masa depan yang lebih baik. Aku akan selalu mendukungmu, baik dalam pencarianmu untuk keadilan maupun dalam membangun kerajaan ini kembali."


Theovilus mengangkat pandangannya dan tersenyum. "Terima kasih, Anvil. Aku beruntung memiliki seorang teman seperti dirimu di sisiku. Kita akan menghadapi masa depan dengan kekuatan dan tekad yang baru."


Raja Anvil tersenyum tulus. "Meskipun dulu kita musuh bebuyutan, Kita adalah raja. Vilus!, yang berdiri bersama dalam menghadapi musuh yang sama. Bersatu, kita akan menjadi kekuatan yang tak tergoyahkan."


Raja Anvil menatap Theovilus dengan serius, mengerti betapa pentingnya balas dendam itu baginya. "Vilus, aku memahami perasaanmu. Kehilangan yang kau alami tidak bisa diabaikan begitu saja. Kita harus berpikir dengan bijak dan strategis untuk mencapai tujuan kita."


Theovilus mengangguk, menyerap kata-kata Raja Anvil. "Ya, Anvil, kita harus berpikir dengan kepala dingin. Zephyr adalah musuh yang licik dan sulit dilacak. Kita perlu merencanakan dengan matang dan menggunakan sumber daya yang ada."


Raja Anvil menunjukkan dukungannya. "Aku akan mendukungmu sepenuhnya, Vilus. Kita bisa menggabungkan kekuatan dan sumber daya kita untuk menemukan Zephyr. Tidak ada yang bisa melarikan diri dari keadilan, pada akhirnya."

__ADS_1


Theovilus merasakan semangat dan harapan muncul dalam dirinya. "Terima kasih, Anvil. Kita akan menemukan Zephyr, tidak peduli seberapa lama dan sulitnya perjalanan ini. Keadilan akan ditegakkan dan dendam akan terbalaskan."


__ADS_2