Transmigrasi Menjadi Penyihir Legendaris

Transmigrasi Menjadi Penyihir Legendaris
Pasukan Malaikat


__ADS_3

Dalam keheningan istana, Yuki memusatkan pikirannya untuk menciptakan tentara malaikat yang kuat. Dia ingin pasukan ini menjadi kekuatan yang tak terkalahkan, melambangkan keagungan dan kemuliaan kerajaannya. Dengan menggunakan kekuatan sihirnya, [Mass Create],


Cahaya terang yang memancar dari tubuh Yuki mengisi ruangan dengan keajaiban, keanggunan dan keindahan.


Pikiran Yuki dipenuhi dengan citra-citra malaikat yang anggun dan perkasa. Dia memvisualisasikan sayap yang besar dan indah, sinar yang memancar dari tubuh mereka, dan senjata yang memancarkan kekuatan suci. Yuki berharap pasukan malaikat ini akan menjadi penjaga setia dan pembawa keadilan bagi kerajaannya.


Cahaya yang mempesona memenuhi ruangan, dan dengan tiupan angin yang lembut, ratusan malaikat tercipta. Mereka muncul dalam keindahan yang memukau, dengan sayap terentang yang menandakan kebebasan dan kemuliaan mereka.


Ketika cahaya terang mereda, ratusan malaikat muncul di hadapan Yuki. Mereka mengenakan baju zirah yang berkilauan dan membawa pedang suci di tangan mereka. Dengan setiap langkah yang mereka ambil, sayap-sayap mereka terbentang dengan megah, menunjukkan keanggunan dan kekuatan mereka


Malaikat-malaikat itu bertelut di hadapan pencipta mereka dengan sikap hormat dan penghormatan yang mengagumkan. Tatapan mereka penuh dengan kesetiaan dan ketaatan, siap untuk menjalankan tugas-tugas yang akan diberikan oleh Yuki.


Dalam kesatuan , semua malaikat itu bertelut di hadapan pencipta mereka, dengan tatapan penuh penghormatan dan kesetiaan. Mereka merasakan kehadiran Yuki, sang pencipta yang luar biasa, dan tahu bahwa mereka dilahirkan untuk melaksanakan tugas-tugas yang akan diberikan kepadanya.


Para malaikat merespons dengan suara yang harmonis, "Kami bersumpah setia kepada Pencipta kami, siap untuk melindungi pencipta kami segenap hati dan jiwa kami. Kami akan menjaga kerajaan ini dengan penuh dedikasi dan kekuatan kami."


Yuki, yang melihat hasil ciptaannya dengan kebanggaan, melangkah maju untuk berbicara kepada pasukan malaikat yang baru tercipta. "Kalian adalah penjaga suci kerajaanku, pelindung yang tak terkalahkan. Dengan keberadaan kalian, keagungan dan keadilan akan terpancar dalam setiap langkah yang kita ambil," ujar Yuki dengan suara yang penuh keyakinan.


Yuki mengamati kehadiran para malaikat dengan penuh kekaguman dan rasa bangga. Dia menyadari bahwa ini adalah puncak dari kekuatannya yang tak tertandingi. Dengan pasukan malaikat ini, kerajaannya akan menjadi kekuatan yang tidak dapat dihentikan.


Yuki merasa terpenuhi oleh pencapaian ini. Dia merasa berkuasa, sebagai pencipta yang memiliki kendali atas kehidupan dan kekuatan. Namun, dalam hatinya, ada perasaan tanggung jawab yang semakin tumbuh.


"Mulailah, para malaikatku," ujar Yuki dengan suara lembut namun penuh kuasa. "Jalankan tugas-tugas suci kalian dengan kehormatan dan ketulusan. Jadilah penjaga kerajaanku yang setia dan berani. Arahkanlah kekuatan kalian untuk melindungi dan membela, membawa kedamaian dan keadilan kepada mereka yang membutuhkan."


Para malaikat menjawab dengan suara yang anggun, "Kami siap melaksanakan perintahmu, Pencipta kami. Kami akan menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan dan kebenaran dalam setiap tindakan kami."


Dengan pasukan malaikat yang luar biasa ini, Yuki merasa yakin bahwa kerajaannya akan menjadi pusat kekuatan. Dunia akan melihat kebesaran dan keindahan kerajaan Zephyr yang diciptakannya, dan semua itu berawal dari kekuatan sihirnya yang tak terbatas.

__ADS_1


Yuki, duduk di takhtanya, memperhatikan malaikat kuat yang mencolok di antara pasukan malaikat yang baru tercipta. Dia melihat kekuatan yang memancar dari sosok malaikat tersebut dan merasa tertarik dengan potensinya. Yuki memutuskan untuk memanggil malaikat itu, merasa bahwa malaikat tersebut setara dengan Cali dan Althea, kedua ciptaannya yang telah dianggapnya sebagai anak-anak.


Dengan suara yang berat dan penuh kuasa, Yuki memanggil malaikat tersebut. "Kemarilah, anakku," ucap Yuki dengan nada lembut, menunjuk ke arah malaikat yang mencolok. Malaikat kuat itu masih bertelut dengan hormat, tetapi mendengar panggilan penciptanya, dia berpikir siapa yang dipanggil oleh Penciptanya.


Yuki memanggilnya sekali lagi dengan nada yang lembut, namun tegas. "Kemarilah, nak." Kali ini, malaikat kuat itu merasa panggilan itu ditujukan kepadanya. Dia mengangkat kepala dan berhadapan dengan penciptanya yang mulia. Dengan hati yang berbunga-bunga, malaikat tersebut merasa terpanggil oleh panggilan dari penciptanya yang dianggapnya sangat agung.Dalam hatinya, malaikat tersebut merasa rendah diri karena dia adalah makhluk yang merasa dirinya hina. Namun, dia sangat bahagia dan dengan hati yang tulus, dia berjalan ke hadapan takhta Yuki.


Yuki tersenyum kepadanya, memberikan kehangatan dan kebaikan. "Ya, kau kemarilah, anakku," kata Yuki dengan suara lembut. Malaikat kuat itu tak bisa menahan kebahagiaan dalam dirinya, air mata bahagia mengalir dari matanya. Dalam hatinya, ia merasa terhormat dipanggil anak oleh penciptanya yang mulia. Dengan penuh kerendahan hati, ia berjalan menuju takhta Yuki.


Malaikat itu menangis bahagia karena merasa dianggap sebagai anak oleh penciptanya yang mulia. Yuki melihat kehadiran malaikat tersebut dengan penuh kehangatan dan mengulurkan tangannya dengan lembut. Malaikat itu mendekati takhta dengan perasaan campur aduk dengan bertelut, terharu dengan kasih sayang yang diberikan oleh penciptanya.


Yuki, dengan penuh kelembutan, berbicara kepada malaikat mencolok yang masih menangis. Suaranya penuh kehangatan saat ia mengatakan, "Anakku, berhentilah menangis." Sambil tersenyum, Yuki berdiri dari takhtanya dan menghampiri malaikat tersebut. Dengan lembut, ia menghapus air mata yang mengalir di pipi malaikat itu menggunakan tangannya.


Malaikat mencolok semakin terharu dan menangis dengan lebih deras melihat kebaikan dan perhatian yang ditunjukkan oleh penciptanya. Mereka menyaksikan momen ini dengan hati yang penuh haru, dan ratusan pasukan malaikat yang bertelut di takhta juga ikut terharu melihat cinta yang ditunjukkan oleh Penciptanya.


Yuki, sambil mengelus kepala malaikat itu, mencoba menghiburnya, "Nak, sudahlah, jangan menangis lagi. Aku tidak ingin melihatmu sedih." Wajah Yuki penuh dengan kebaikan dan kelembutan, dan itu memberikan rasa nyaman dan kedamaian bagi malaikat tersebut.


Malaikat mencolok berusaha menenangkan dirinya sendiri, tetapi air mata masih terus mengalir dengan deras. Yuki, dengan sabar, melanjutkan mengusap air mata dan mengelus kepala malaikat itu. Dia memahami bahwa dalam momen seperti ini, air mata adalah ekspresi kebahagiaan dan terima kasih yang meluap dari hati yang terluka.


Setelah beberapa saat, malaikat mencolok tersebut akhirnya berhasil menenangkan dirinya. Wajahnya yang tadinya basah oleh air mata kini berkilauan karena senyuman. Dia berterima kasih kepada Yuki dengan suara yang penuh rasa syukur, "Terima kasih, Penciptaku yang mulia. Saya merasakan cinta dan kebaikan yang tak terhingga dari hati Anda."


Yuki, dengan senyuman lembut, menjawab, "Kamu adalah ciptaanku yang berharga. Aku ingin melihatmu bahagia dan kuat. Bersama-sama, kita akan menciptakan dunia yang indah dan damai." Malaikat mencolok itu merasa begitu terhormat dan bersyukur karena telah diterima dan dicintai oleh penciptanya.


Di sekitar mereka, pasukan malaikat yang bertelut dalam posisi melihat momen yang indah ini. Mereka tak bisa menahan air mata mereka sendiri dan terharu oleh kebaikan yang ditunjukkan oleh Pencipta mereka kepada ciptaannya . Hati mereka dipenuhi dengan rasa cinta dan harapan.


Yuki duduk kembali di takhtanya, matanya menatap Malaikat mencolok tersebut dengan penuh kebanggaan. "Siapa namamu, nak?" tanyanya dengan suara yang lembut namun penuh kuasa.


Malaikat mencolok tersebut menjawab dengan rendah hati, "Namaku Leon, Penciptaku." Dia tetap bertelut dengan hormat, memperlihatkan ketaatan dan penghormatan yang dalam pada penciptanya.

__ADS_1


Yuki tersenyum dan memberikan penegasan, "Mulai sekarang, namamu akan menjadi Vael. Mengerti?" Suaranya penuh kepastian, mengisyaratkan perubahan yang signifikan dalam kehidupan malaikat itu.


Vael, dengan mata yang berbinar penuh antusiasme, menjawab, "Baik, Penciptaku. Aku mengerti." Kehadiran Yuki telah memberikan arti dan identitas baru dalam hidupnya, dan dia siap menerima perubahan tersebut dengan penuh semangat.


Yuki melanjutkan dengan keputusan penting lainnya, "Mulai sekarang, kau akan menjadi pemimpin dan mengatur seluruh pasukan malaikat." Pernyataan itu menggambarkan kepercayaan yang besar yang diberikan oleh Yuki kepada Vael. Yuki yakin bahwa Vael memiliki kemampuan dan kepemimpinan yang dibutuhkan untuk memimpin pasukan malaikat dengan baik.


Vael dengan tegas menjawab, "Baik, Penciptaku. Aku tidak akan membuatmu kecewa." Dia merasa terhormat dan bersyukur atas kepercayaan yang diberikan oleh penciptanya. Dia berjanji untuk melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya dan menjaga kepercayaan yang telah diberikan kepadanya.


Yuki tersenyum bangga melihat dedikasi dan tekad Vael. "Bagus," ucapnya singkat namun penuh makna. Yuki merasa lega karena menemukan seseorang yang dapat diaandalkan sebagai pemimpin untuk pasukan malaikatnya. Dalam hatinya, Yuki percaya bahwa Vael akan membawa kedamaian dan kebaikan bagi dunia yang mereka layani.


Pasukan malaikat yang bertelut di takhta, menyaksikan momen penting ini, memberikan sorakan dan tepuk tangan meriah sebagai tanda persetujuan dan dukungan mereka. Mereka yakin bahwa di bawah kepemimpinan Vael, mereka akan menjadi kekuatan yang tak terkalahkan dan menyebarkan cahaya kebaikan ke seluruh penjuru dunia.


Yuki, sambil mengangguk puas, kembali duduk di takhtanya. Dia melihat masa depan yang cerah di hadapannya, dengan Vael sebagai pemimpin yang dipercayai dan pasukan malaikat yang kuat


Dengan suara yang berat dan penuh kekuasaan, Yuki menatap seluruh pasukan prajurit malaikat yang berkumpul di hadapannya. Ruangan takhta yang megah terdengar gemuruh oleh semangat yang menggelora di antara mereka. Yuki merasa begitu bangga dan bahagia melihat ciptaannya yang begitu kuat dan setia.


"Prajurit setiaku, kalian adalah kebanggaanku," ujar Yuki dengan suara yang mengisi seluruh ruangan. Sorot matanya penuh dengan kepercayaan dan keyakinan pada pasukan malaikat yang berdiri di hadapannya. "Aku sangat bangga melihat kalian semua, ciptaanku dan prajurit setiaku kalian..


Namun sebelum Yuki melanjutkan ucapan, seluruh pasukan prajurit malaikat dengan semangat yang menggebu-gebu menyela, mengisi ruangan takhta yang megah dengan suara mereka yang bersatu, "Ya, Pencipta kami! Kami bersedia mati untuk melindungi dan mempertahankan tempat mulia ciptaan-Mu, Pencipta kami!"


Yuki tersenyum dengan penuh kebahagiaan mendengar suara semangat para prajurit malaikat. Ia merasakan kebanggaan yang memenuhi hatinya saat mendengar tekad mereka yang siap mengorbankan diri untuk melindungi tempat yang dianggap suci. Dengan kekuasaan dan otoritas yang dimilikinya, Yuki menjawab dengan bangga, "Bagus, kalian semua adalah kebanggaanku."


Yuki mengayunkan tangannya, memberikan isyarat kepada pasukan prajurit malaikat untuk membubar dan menjalankan tugas mereka. "Kalau begitu, bubarlah dan jagalah serta lindungilah tempat ini dengan segenap jiwa dan kekuatan kalian," ucapnya dengan tegas.


Tanpa ragu, seluruh pasukan prajurit malaikat bersama-sama menjawab dengan suara yang lantang, "Baik, Pencipta kami. Akan kami laksanakan dengan setia."


Mereka bergerak maju, meninggalkan tempat takhta yang megah, dan dengan semangat yang membara, mereka menyebarkan sayap mereka yang indah dan terbang menuju tempat-tempat yang mereka amanahkan untuk dijaga. Setiap malaikat menunjukkan kegigihan dan ketekunan mereka dalam menjalankan tugas yang diemban.

__ADS_1


Yuki tersenyum melihat kepergian mereka, merasakan kepercayaan yang penuh dalam pasukan malaikat yang dipercayakan kepadanya. Ia tahu bahwa tempat ciptaannya akan dilindungi dengan setia dan penuh keberanian oleh prajurit malaikat yang ia ciptakan.


Dengan keyakinan yang dalam, Yuki kembali duduk di takhtanya, melanjutkan peran sebagai pemimpin yang bijaksana


__ADS_2