Transmigrasi Menjadi Penyihir Legendaris

Transmigrasi Menjadi Penyihir Legendaris
The Truth / Kebenaran


__ADS_3

Para kelima prajurit dengan penuh keberanian dan kepedulian menyusuri jalanan yang hancur untuk mencari prajurit yang lain dan menyelamatkan penduduk yang terperangkap di bawah reruntuhan. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk membebaskan mereka yang terjebak, mengangkat batu-batu berat dan puing-puing dengan tekad yang tak tergoyahkan.


Dalam setiap langkah mereka, teriakan keputusasaan dan tangisan kepedihan menghantui telinga mereka. Namun, prajurit-prajurit ini terus melangkah dengan semangat tak tergoyahkan, menyalurkan harapan dan kekuatan kepada mereka yang terperangkap di dalam reruntuhan.


Dengan kerja sama yang erat dan kesigapan yang luar biasa, mereka berhasil menyelamatkan banyak nyawa yang hampir terhenti. Mereka membawa keluar orang-orang yang penuh debu dan luka-luka, memberikan pertolongan pertama, dan menunjukkan kebaikan yang tak terhingga kepada sesama.


Di antara para prajurit, terdapat kekuatan dan keberanian yang tak tergoyahkan. Meskipun kelelahan mulai terasa, mereka tidak menyerah dan terus bekerja tanpa henti. Mereka menyadari bahwa hidup-hidup yang terselamatkan adalah harapan bagi masa depan kerajaan mereka.


Saat kabar tentang keberhasilan penyelamatan mulai menyebar, semangat dan harapan mulai muncul di antara para penduduk yang selamat. Mereka bersyukur kepada prajurit yang dengan penuh dedikasi telah menyelamatkan mereka dari bahaya yang nyata.


Saat prajurit-prajurit yang tersisa berkumpul di istana, suasana haru dan penyesalan melingkupi mereka. Mereka menyadari betapa besar kerugian yang telah terjadi dan betapa banyak nyawa yang telah hilang. Namun, di antara kesedihan itu, ada tekad yang tumbuh untuk membangun kembali kerajaan yang hancur dan menjaga keamanan dan kebahagiaan penduduk.


Theovilus, yang masih memeluk tubuh Eveline dengan erat, melihat kedatangan prajurit-prajurit itu. Wajahnya penuh dengan campuran emosi kesedihan dan harapan. Ia memberikan teguran yang tulus kepada prajurit-prajurit yang telah berjuang sekuat tenaga untuk menyelamatkan orang-orang.


"Dalam keadaan yang gelap ini, kalian adalah sinar harapan. Terima kasih atas pengorbanan dan keberanianmu. Kita harus bersama-sama mengangkat kerajaan ini dari reruntuhan dan membawa kedamaian kembali kepada rakyat kita," kata Theovilus dengan suara yang gemetar namun penuh dengan tekad.


Para prajurit itu, meski lelah dan terluka, mengangguk sebagai bentuk penghormatan dan kesetiaan pada pemimpin mereka. Mereka mengetahui bahwa tugas mereka belum selesai. Bersama-sama, mereka berjanji untuk memulihkan kerajaan yang terpuruk, membangun kembali yang telah hancur, dan menjaga keamanan dan kebahagiaan bagi setiap penduduk.


Pada saat itu, api semangat dan keberanian menyala di hati setiap prajurit, siap untuk menghadapi rintangan yang akan datang. Bersama-sama, mereka berdiri tegak sebagai penjaga dan pembela kerajaan, membuktikan bahwa kekuatan persatuan dan cinta pada tanah air dapat mengatasi bahkan tragedi terbesar.




Dalam ruangan yang telah direstorasi dengan sebaik mungkin setelah kehancuran, Theovilus dikelilingi oleh para bangsawan yang selamat. Wajah mereka mencerminkan kekhawatiran dan keraguan, seiring dengan semangat untuk memulihkan kerajaan yang terpuruk.



Theovilus, dengan sikap yang tegar namun penuh keprihatinan, berdiri di hadapan para bangsawan. Ia menghela nafas dalam-dalam sebelum memulai pembicaraan yang krusial ini.



"Para bangsawan, dalam situasi ini yang mengejutkan dan penuh penderitaan, kita harus bersatu dan memulihkan kerajaan Ardor dan aku sebagai raja ardor ingin Meminta bantuan dari kerajaan Anvil. Kejadian ini menunjukkan betapa rapuhnya kehidupan kita, dan tidak dapat diabaikan," ucap Theovilus dengan suara yang bergetar.



Bangsawan-bangsawan itu saling berpandangan, menunjukkan ketidakpastian dan kecemasan mereka. Salah satu bangsawan berani mengutarakan keraguannya, "Yang Mulia, apakah meminta bantuan dari Kerajaan Anvil adalah langkah yang tepat? Apakah itu tidak akan mengurangi kedaulatan dan martabat Kerajaan Ardor?"



Theovilus memandang bangsawan tersebut dengan serius. Ia menyadari bahwa pertanyaan tersebut mencerminkan kekhawatiran banyak orang di ruangan itu. "Pertimbangan yang sulit ini memang mengandung risiko. Namun, jika kita ingin membangun kembali kerajaan ini dengan cepat dan efektif, mungkin tidak ada pilihan lain."



Dengan penuh keyakinan, Theovilus menjawab, "Saya memahami keraguan dan kekhawatiran kalian. Namun, saat ini kita membutuhkan sumber daya yang lebih besar untuk memulihkan kerajaan kita. Bantuan dari Kerajaan Anvil bukanlah pengkhianatan, tetapi tindakan bijak untuk mengatasi tantangan yang ada. Kita dapat menjaga kedaulatan kita sambil menggandeng mereka sebagai sekutu yang dapat membantu dalam proses rekonstruksi."



Beberapa bangsawan menganggukkan kepala mereka, mulai menerima argumen Theovilus. Namun, seorang bangsawan lainnya dengan skeptis berkata, "Tetapi apakah Kerajaan Anvil akan membantu kita tanpa mengharapkan imbalan yang berlebihan? Apakah kita siap menghadapi konsekuensi politik dan ekonomi yang mungkin timbul?"



Theovilus tersenyum, memperlihatkan yang tajam. "Saya telah mempertimbangkan hal itu. Tentu saja, kita harus memastikan bahwa kesepakatan yang kita buat akan saling menguntungkan kedua belah pihak. Kita dapat menawarkan kerja sama dalam bidang ekonomi, pertahanan, dan kebudayaan. Kerajaan Anvil memiliki kepentingan untuk menjaga stabilitas di wilayah ini, dan kita dapat menawarkan jaminan bahwa kerjasama ini tidak akan mengancam kedaulatan kita."



Salah satu bangsawan, yang dikenal karena pendiriannya yang teguh dan sikapnya yang tegas, mengangkat suaranya menentang gagasan untuk meminta bantuan Kerajaan Anvil. Dia adalah Lord Harrington, seorang bangsawan yang memiliki pengaruh yang cukup besar di kerajaan.



Lord Harrington, dikenal sebagai seorang bangsawan yang tegas dan memiliki pengaruh yang besar, mengangkat kepalanya dengan angkuh saat mendengar Theovilus mempertanyakan keputusannya. Dia dengan mantap menjawab, "Yang Mulia, saya memahami urgensi untuk memulihkan kerajaan kita. Namun, meminta bantuan dari Kerajaan Anvil adalah pengkhianatan terhadap prinsip kedaulatan, kehormatan kita. Kita harus mengandalkan kekuatan internal dan tekad kita sendiri untuk bangkit kembali,Anda mungkin terpaku pada kebutuhan mendesak yang ada di hadapan kita, tetapi Anda tidak boleh mengabaikan nilai-nilai dan martabat kerajaan ini."



Dalam tatapan tajamnya, Lord Harrington melanjutkan, "Kerajaan Anvil mungkin menawarkan bantuan dan sumber daya, tetapi dengan harga apa? Apakah Anda siap mengorbankan kemerdekaan kita? Apakah Anda siap menggadaikan kehormatan kita sebagai bangsa yang berdaulat?"



Suara Lord Harrington terdengar lantang di ruangan itu, memantulkan keberaniannya dalam mempertahankan keyakinannya. Dia melanjutkan, "Kita harus mengandalkan kekuatan dan kemampuan kita sendiri. Kita telah bertahan selama bertahun-tahun dengan kebijakan independen dan strategi pertahanan yang kuat. Mengajukan permohonan bantuan kepada Kerajaan Anvil adalah tanda kelemahan dan ketergantungan."



Pendapat Lord Harrington segera memancing reaksi dari beberapa bangsawan yang setuju dengannya. Mereka menunjukkan kekhawatiran mereka terhadap kerugian yang mungkin timbul dari ketergantungan pada Kerajaan Anvil.



Theovilus menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan kemarahan yang memuncak di dadanya. Tatapannya tajam menatap Lord Harrington dan bangsawan lain yang mendukungnya. Dalam keheningan yang tegang, ia berkata dengan suara yang penuh emosi namun tetap terkendali.



"Theovilus: Lord Harrington, kalian telah berbicara dengan penuh keyakinan dan semangat. Aku menghormati itu. Namun, mari kita sementara tinggalkan perbedaan pendapat kita dan berfokus pada apa yang terpenting saat ini. Istriku sudah tiada, dan kerajaan kita tengah berada dalam kehancuran. Rakyat kita menderita dan keputusan yang cepat harus diambil."



Para bangsawan yang mendengarkan langsung merasakan kekuatan kata-kata Theovilus. Mereka merenungkan urgensi yang disampaikan oleh pemimpin mereka. Lord Harrington sendiri merasa terguncang oleh emosi yang terpancar dari Theovilus.

__ADS_1



Lord Harrington: "Yang Mulia, aku memahami rasa sakit dan kepedihanmu. Namun, kita tidak boleh menyerahkan kedaulatan kita begitu saja kepada pihak luar."



Theovilus: "Tidak, Lord Harrington, aku tidak mengusulkan itu. Aku ingin menciptakan kemitraan yang seimbang, di mana kedaulatan kita tetap terjaga. Kerajaan Anvil memiliki sumber daya yang dapat membantu pemulihan kita secara lebih efektif. Jangan biarkan ego dan ketakutan kita menghalangi peluang yang ada."



"Sebagai pemimpin, tanggung jawabku adalah untuk kepentingan rakyat dan pemulihan kerajaan ini. Saya tidak dapat membiarkan keegoisan politik atau kepentingan pribadi menghalangi langkah-langkah yang perlu diambil. Meminta bantuan dari Kerajaan Anvil adalah tindakan yang bijaksana dalam situasi ini. Mereka memiliki sumber daya yang dapat membantu kami memperbaiki kerusakan dengan cepat, menyelamatkan nyawa, dan memberikan dukungan yang dibutuhkan oleh rakyat kita."



Theovilus melanjutkan dengan penuh semangat, "Kami tidak boleh membiarkan perbedaan pendapat menghancurkan kesatuan kita. Ini adalah saatnya kita bersatu, mengesampingkan ego dan memprioritaskan kepentingan kerajaan. Saya meminta semua bangsawan yang hadir untuk melihat gambaran yang lebih besar, melihat kebutuhan mendesak rakyat kita, dan bersedia mengambil tindakan yang diperlukan."



Suasana menjadi tegang saat semua mata tertuju pada Lord Harrington, menunggu responsnya. Dalam diam, Lord Harrington merenung sejenak. Dia menyadari kebenaran kata-kata Theovilus dan akhirnya mengalah. Dengan ekspresi yang terpahat di wajahnya, dia menganggukkan kepala dan mengucapkan, "Kamu benar, Yang Mulia. Kepentingan kerajaan harus diutamakan di atas segalanya. Saya mendukung langkahmu untuk meminta bantuan dari Kerajaan Anvil."



Momen itu ditandai dengan lega dan harapan baru. Para bangsawan mulai memahami arti dari persatuan dan kesatuan, mengesampingkan perbedaan mereka demi kepentingan yang lebih besar.



Dalam keheningan yang penuh tegang, para bangsawan mempertimbangkan kata-kata Theovilus. Lord Harrington, yang awalnya keras kepala, mulai melunak. Dia menyadari bahwa keputusan ini harus dibuat dengan pikiran yang jernih dan hati yang bijaksana.



Theovilus menatap bangsawan yang hadir di ruangan dengan ekspresi kebingungan yang jelas terpancar di wajahnya. Ketidakterjawaban mereka membuatnya semakin gelisah.



Theovilus: "Tidak ada yang tahu penyebab gempa dahsyat ini? Kita harus mencari tahu apa yang telah terjadi. Kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa kejadian ini memiliki dampak yang luar biasa terhadap kerajaan kita."



Bangsawan lain saling berpandangan dengan raut wajah yang penuh tanda tanya. Mereka mengakui bahwa penyebab gempa tersebut masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.



Lord Harrington: "Yang Mulia, kami telah melakukan penyelidikan awal, tetapi hingga saat ini, kami belum menemukan jawaban yang pasti. Gempa bumi ini sangat kuat dan tak terduga."




Theovilus: "Kita perlu mengumpulkan semua sumber daya yang tersisa dan mendalami penyebab gempa ini. Kita harus bekerja sama dengan pakar geologi, penyelidik, dan siapa pun yang dapat membantu kita memahami fenomena ini."



Para bangsawan mengangguk setuju, menyadari bahwa mencari jawaban tentang penyebab gempa adalah langkah penting dalam memulihkan kerajaan dan melindungi rakyat mereka.



Theovilus: "Sementara itu, kita juga harus memfokuskan upaya kita pada pemulihan dan bantuan bagi mereka yang terdampak. Bangunannya hancur, nyawa hilang, dan banyak rakyat yang membutuhkan perlindungan dan pertolongan. Kita tidak boleh membuang waktu."



Bangsawan yang hadir menyadari urgensi yang disampaikan oleh Theovilus. Mereka tahu bahwa memprioritaskan pemulihan dan memahami penyebab gempa adalah langkah-langkah yang tak terelakkan dalam menghadapi kehancuran yang terjadi.



Dalam keheningan yang tegang, para bangsawan merenungkan situasi yang kompleks dan tantangan yang mereka hadapi. Mereka menyadari bahwa kerja sama dan keputusan yang tepat adalah kunci untuk menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian.



Di tengah suasana tegang di ruangan, suara lantang seorang prajurit yang masih terbalut perban memecah keheningan. Theovilus dan bangsawan lainnya terkejut oleh pernyataannya yang tiba-tiba.



Prajurit: "Permisi, Yang Mulia. Aku mengetahui penyebab gempa dahsyat ini."



Lord Harrington segera melontarkan ejekan dan merendahkan posisi sosial prajurit tersebut. Namun, Theovilus dengan bijaksana meminta agar prajurit itu diberi kesempatan untuk menjelaskan temuan yang dia miliki.



Namun, Lord Harrington tidak bisa menahan diri dan melontarkan ejekan yang merendahkan prajurit tersebut. Dia merasa superior atas kedudukan sosialnya.



Lord Harrington: "Ahh, melihatmu berani bicara, prajurit jelata! Apa yang kau tahu tentang politik dan kedudukan di depan kami, orang-orang berdarah biru?"

__ADS_1



Theovilus dengan tegas menegur Harrington. Dia tidak akan mentolerir sikap sombong dan merendahkan dari siapapun, terlebih dalam situasi yang genting seperti ini.



Theovilus: "Harrington, diamlah! Aku ingin mendengar apa yang diungkapkan oleh prajurit ini. Ayo, prajurit, sampaikan lebih lanjut."



Dengan penuh hormat, prajurit itu melanjutkan penjelasannya dengan penuh keyakinan.



Dengan rasa hormat, prajurit itu maju ke hadapan Theovilus dan dengan penuh perhatian, raja mendengarkan penjelasan yang akan disampaikan.



Prajurit: "Yang Mulia, gempa ini disebabkan oleh seorang kriminal bernama Zephyr beserta anaknya. Dia terlihat seperti bangsawan dari kerajaan lain, dan dia telah membunuh bangsawan Archibane, pemimpin markas guild petualang di kerajaan kita."



Bangsawan-bangsawan yang hadir memandang satu sama lain, terkejut oleh pengakuan prajurit tersebut. Mereka menyadari betapa seriusnya situasi yang dihadapi kerajaan mereka.



Harrington, meskipun tetap skeptis, memutuskan untuk diam dan mendengarkan lebih lanjut.



Theovilus: "Lanjutkan, prajurit. Ceritakan secara rinci apa yang terjadi."



Prajurit: "Yang Mulia, saat itu saya mencoba menangkap Zephyr, seorang kakek bangsawan yang terlihat berasal dari kerajaan lain.


Zephyr telah melakukan pembunuhan terhadap Archibane, seorang pemimpin penting dalam guild petualang di kerajaan ini. ,Namun, tanpa diduga, dia menghilang dan meninggalkan anaknya untuk menyelesaikan tugasnya. Anak Zephyr yakni pemuda dengan rambut coklat dengan tatapan yang menyeramkan mengumpulkan energi sihir di tangannya dan melepaskannya, yang menyebabkan gempa dahsyat yang kita alami. Kerajaan kita hancur akibat kekuatannya. Saya sendiri berhasil selamat dari reruntuhan dan serangannya anak Zephyr tersebut , namun berkat bantuan rekanku."



Prajurit: "Saat itu, saya merasa takut dan terjebak di antara reruntuhan. Namun, berkat bantuan rekan-rekan saya, saya berhasil diselamatkan."



Keberanian dan ketulusan prajurit itu terpancar jelas dalam setiap kata yang diucapkannya. Theovilus merasa tergerak oleh ceritanya, dan bangsawan-bangsawan yang hadir mulai memahami betapa pentingnya informasi yang diungkapkan oleh prajurit itu.



Theovilus: "Terima kasih, prajurit. Informasi ini sangat berharga bagi kita. Kita harus segera mengambil tindakan untuk menemukan Zephyr dan menghentikannya sebelum ia menyebabkan lebih banyak kehancuran."



Bangsawan-bangsawan yang awalnya meragukan prajurit itu mulai menyadari kebenaran di balik kata-katanya. Mereka sadar bahwa kerjasama dan keberanian dari semua pihak adalah kunci untuk menghadapi ancaman yang sedang dihadapi kerajaan mereka.



Theovilus, yang dipenuhi oleh kemarahan dan keputusasaan, melontarkan teriakan kegilaan di ruangan yang sunyi. Tangisannya yang tajam dan emosional menggema di sekitar dinding istana yang hancur. Dia melihat sekelilingnya, mengingat semua kerusakan dan penderitaan yang disebabkan oleh Zephyr dan anaknya.



Theovilus: "Bajingan istriku, kerajaanku, dan rakyatku menderita karena si bangsat ini! Aku tidak akan memaafkannya! Aku akan menghukumnya dan menyiksanya hingga mati!"



Ketegasan dalam suaranya mengguncang hati semua yang mendengarnya. Para penasihat dan bangsawan melihat keputusasaan yang melanda Theovilus, dan mereka tahu bahwa langkah-langkah tegas harus diambil untuk menghadapi ancaman ini.



Theovilus: "Kirimkanlah surat ke Kerajaan Anvil segera! Kita membutuhkan bantuan mereka untuk merestorasi kerajaan ini. Sebarkanlah tentang Zephyr dan bahayanya. Dia tidak boleh dibiarkan lepas begitu saja, terutama dengan kehadiran anaknya."



Para penasihat dan bangsawan yang bijaksana menyetujui permintaan Theovilus. Mereka segera mengambil tindakan untuk menulis surat permohonan bantuan kepada Kerajaan Anvil, menjelaskan situasi yang terjadi di Kerajaan Ardor dan ancaman yang dihadapi.



Theovilus, meskipun masih penuh dengan kemarahan dan kesedihan, merasa lega bahwa langkah-langkah diambil untuk menghadapi Zephyr. Dia mengambil nafas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan kekuatan dan keberanian yang tersisa dalam dirinya.



Theovilus: "Kita harus tetap kuat. Kita harus melindungi kerajaan ini dan rakyat kita. Bersiaplah, dan sebarkanlah kabar si bajingan tersebut!.



Dengan tekad yang baru ditemukan, Theovilus dan para penasihat melanjutkan persiapan untuk menghadapi masa depan yang tidak pasti. Mereka sadar bahwa hanya dengan kerjasama, keberanian, dan bantuan dari Kerajaan Anvil, mereka memiliki peluang untuk menghentikan Zephyr dan mengembalikan kehidupan yang tenteram bagi rakyat Kerajaan Ardor.

__ADS_1



Semua yang hadir di ruangan itu terdiam, mencerna informasi yang baru saja mereka dengar. Mereka menyadari bahwa kerajaan mereka telah menjadi sasaran ulah seorang kriminal dengan motif yang belum terungkap.


__ADS_2