
Yuki melayang di langit, matanya terpaku pada pemandangan kerajaan Ardor yang hancur berantakan akibat kehancuran yang ditimbulkan oleh Kai. Dari kejauhan, Yuki dapat melihat korban-korban yang berserakan, tak bernyawa. Namun, di dalam hatinya, tidak ada belas kasihan yang menggelora. Hatinya terasa dingin, tidak ada simpati yang mengalir. Yuki merenung, menghadapi pertanyaan yang melingkupinya.
"Apakah aku sudah kehilangan rasa kemanusiaanku? Apakah tubuh Avatar ini telah membuyarkan rasa belasku? Sejak kapan kepedulian dan empatiku telah pudar begitu saja?" pikir Yuki dengan penuh kebingungan dan kegelisahan.
Dalam gemuruh langit yang menyaksikan kehancuran di bawahnya, Yuki merenung mencari jawaban yang tersembunyi. Suara langit yang bergemuruh menggema dalam keheningan hatinya, mencerminkan kekacauan batin yang sedang ia hadapi.
"Dalam hidupku sebelumnya, aku pasti akan dilanda rasa takut dan kepanikan saat melihat pemandangan ini. Aku telah menjadi saksi banyak kejahatan dan kekejaman. Aku berharap bahwa dengan kekuatan ini, aku dapat menjadi harapan bagi yang lemah, penolong bagi yang tertindas. Namun, mengapa sekarang aku merasa seperti monster yang tak memiliki belas kasihan?" Yuki berbicara pada dirinya sendiri, tatapannya yang kosong mencerminkan kekosongan dalam hatinya.
Yuki terus merenung, mempertanyakan identitas dan jati dirinya. Berada didalam tubuh avatarnya telah memberinya kekuatan dan kemampuan yang luar biasa, tetapi juga membawanya ke dalam jurang keserakahan dan kekejaman. Dalam keheningan dan kegelapan langit, Yuki berjuang mencari jawaban.
"Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku meninggalkan sifat lama sebagai Yuki dan memulai kehidupan baru sebagai Zephyr?" Yuki menggumam dengan nada ragu dalam suaranya. Perlahan-lahan, ia merasakan dirinya terbagi antara masa lalu dan masa depan yang belum jelas.
Di tengah keheningan langit yang masih gemuruh, Yuki terus merenung. Hati dan pikirannya berkecamuk, mencari pemahaman dan penyelesaian yang belum tercapai.
Yuki masih melayang di langit, memandangi kerajaan Ardor yang hancur berantakan akibat kehancuran yang disebabkan oleh Kai. Pemandangan itu membuatnya merenung dalam keheningan, terlempar dalam pikiran-pikiran gelap yang memenuhi hatinya.
Namun, saat itu Kai tiba-tiba dan berkata "aku telah menyelesaikan perintah yang kau berikan ayah" sambil membungkuk hormat,muncul di hadapannya dengan sikap hormat. Yuki terkejut melihat keadaan kerajaan yang lebih buruk dari yang pernah ia bayangkan. Ia merasa ada yang salah, mengingatkan dirinya bahwa ia hanya memerintahkan Kai untuk mengatasi serangan prajurit musuh, bukan menghancurkan seluruh kerajaan.
Dalam hati, Yuki merenung, "Sejak kapan aku menyuruhnya untuk melakukan ini? Apakah aku benar-benar terjebak dalam kegelapan yang menguasai diriku?"
Saat itu, pikiran ambisius mulai merayap dalam benak Yuki. Ia merasa tidak peduli lagi dengan kerajaan Ardor yang telah hancur. Pemikiran tentang menciptakan dunia yang sesuai dengan keinginannya sendiri menghantui pikirannya.
__ADS_1
Yuki memutuskan untuk melupakan nasib kerajaan dan melanjutkan perjalanan bersama Kai. "Kerja bagus, Nak," ucapnya dengan nada yang terdengar hampa. "Marilah kita pergi dari tempat ini."
Kai, yang tetap setia mengikuti perintah Yuki, menanggapi dengan hormat. "Baik, Ayah."
Di Kerajaan Anvil, sebuah surat resmi dari Kerajaan Ardor tiba dengan segel kerajaan yang masih terjaga dengan baik. Surat itu diterima oleh para penasihat dan pembantu kerajaan yang segera membawanya ke ruang pertemuan utama di istana.
Penasihat itu mulai membacakan isinya dengan suara yang jelas dan terhenti beberapa kali untuk memberikan penjelasan. Surat itu berisi laporan tentang kehancuran Kerajaan Ardor yang disebabkan oleh serangan dan kekuatan magis yang luar biasa. Para bangsawan dan penasihat yang mendengarkan tidak bisa menyembunyikan ekspresi kekhawatiran di wajah mereka.
Raja Cedric, seorang pria bijaksana dengan rambut perak yang menjulang, memperhatikan setiap kata yang terlontar dari mulut penasihat. Ia merenung dalam hatinya, mempertimbangkan situasi yang terjadi di Kerajaan Ardor dan bagaimana hal itu akan mempengaruhi Kerajaan Anvil.
__ADS_1
Setelah penasihat selesai membacakan surat, suasana ruangan kembali hening. Raja Cedric memandang ke sekeliling, melihat raut wajah penuh kekhawatiran dan kebingungan dari para bangsawan dan penasihatnya.
"Dengan adanya laporan ini, Kerajaan Ardor dalam keadaan genting. Mereka meminta bantuan kita untuk memulihkan kerajaan mereka yang hancur," ucap Raja Cedric dengan suara yang tenang namun penuh perhatian. "Kita harus mempertimbangkan dengan matang apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka."
Beberapa bangsawan dan penasihat saling pandang, berbagi pemikiran dan saran dalam diam. Tampaknya keputusan yang akan diambil tidaklah mudah, mengingat kompleksitas politik dan hubungan antara kedua kerajaan.
Raja Cedric mengangkat tangannya untuk menenangkan suasana. "Kita akan membahas lebih lanjut tentang tindakan yang harus diambil dalam pertemuan berikutnya. Sementara itu, saya meminta kalian semua untuk mempersiapkan laporan dan rekomendasi terkait hal ini. Kita harus bertindak dengan bijaksana dan menjaga kepentingan kedua kerajaan."
Dengan itu, pertemuan berakhir dan semua orang kembali ke tugas masing-masing. Raja Cedric menghadap jendela istana, memandang keluar dengan pikiran yang penuh kekhawatiran. Ia tahu bahwa keputusan yang akan diambil nanti akan memiliki dampak besar terhadap hubungan antara Kerajaan Anvil dan Ardor.
Di tengah kegelapan politik dan pertimbangan yang rumit, Raja Cedric berjanji untuk menjaga keadilan dan kepentingan kedua kerajaan, sambil berharap bahwa keputusan yang diambil nantinya akan membawa perdamaian dan pemulihan bagi Kerajaan Ardor yang terpuruk.
__ADS_1