
Cinta itu kadang membuat kita bahagia dan bisa juga membuat kita sedih. Kata orang cinta itu buta, tapi kata Keysa cinta itu menyakitkan terlebih lagi di mana orang yang mencintai Keysa selalu menyiksanya. Terkadang Keysa berpikir kenapa ia hidup kalau di dunia hanya mendapat siksaan, keinginan Keysa hanya satu yaitu bahagia.
Bel pulang sudah berbunyi, Keysa keluar dari kelasnya dan berjalan sambil bersenandung melewati koridor yang sudah sepi. Sesampainya di gerbang matanya tertuju pada seorang pria tengah memainkan ponsel. Keysa tidak ambil pusing ia memutuskan untuk pulang dahulu dan meninggalkan Arvin. Kekesalannya pada Arvin masih ada, ia akan memaafkan Arvin di saat Arvin merubah sikap Psikopatnya.
"Keysa!" teriak seseorang dari belakang.
Sang empu tidak mendengarkan teriakan yang memanggilnnya. Dia mempercepat jalannya sungguh Keysa tidak mau bertemu dengan Arvin. Laki-laki yang ada di belakangnya terus mengejar Keysa, sampai pergelangan tangan Keysa di cekal kuat oleh Arvin.
"Tunggu Key."
Keysa melirik Arvin sebentar lalu mendelik. "Mau apa lagi?" tanyanya dengan nada ketus.
Arvin memegang kedua bahu Keysa dan membalikkannya.
"Maaf 'kan ak---"
"Maaf, maaf, dan maaf terus. Aku udah capek dengernya, percuma minta maaf! Tapi Tuan terus saja menyiksaku." Keysa melepas tangan Arvin yang ada dibahunya secara kasar.
Arvin diam membisu. Tangannya mengepal, ia berusaha sekuat mungkin menahan jiwa Psikopatnya.
"Dengar ya, Tuan. Sebenarnya aku udah muak dengan kelakuanmu. Mau sampai kapan kau menyimpan jiwa Psikopatmu itu? Aku hanya minta satu permintaan, tolong berhentilah membunuh orang," jelas Keysa menempelkan kedua tangannya memohon.
"Aku gak bisa," tolak Arvin.
Keysa tersenyum sinis. "Kenapa?" tanya Keysa bersidekap dada.
Arvin menghela napas berat, ia harus extra sabar menghadapi Keysa. Jangan sampai dia membuat kesalahan lagi seperti yang telah terjadi seperti kemarin-kemarin.
"Karena membunuh sudah menjadi hobiku."
Gadis dihadapan Arvin tertawa renyah, ia berpikir kenapa ada orang yang hobinya membunuh. Ck, manusia macam apa dia hobi membunuh, hobi memasak kek, atau main sepak bola.
"Hobi? Ck hobi gila," decak Keysa.
"Kau!" geram Arvin mengepalkan tangannya.
"Apa? mau pukul silahkan nih." Keysa menunjuk-nunjukan pipinya.
Arvin mengusap wajahnya kasar. Tatapannya berubah menjadi lembut, ia mendekatkan dirinya pada Keysa.
"Key, maaf 'kan aku." Untuk kesekian kalinya Arvin meminta maaf. Kali ini sedikit berbeda Arvin menarik tangan Keysa dan menempelkan diwajah tampannya.
Keysa gugup, baru pertama kalinya ia memegang pipi Arvin. Ada rasa desiran aneh di dalam tubuhnya. Keysa menarik tangannya kasar, dan memalingkan wajahnya.
"Sebelum Tuan berhenti membunuh, aku gak akan pernah maafin Tuan," sarkas Keysa melirik Arvin. "Dan yah, sekarang aku gak akan tinggal di rumahmu lagi. Sebelumya makasih sudah merawatku beberapa hari ini." Keysa membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Arvin.
__ADS_1
"Tapi Key--" ucapan Arvin terpotong.
"Keysa, kamu ngapain masih di sini?" tanya Rio tepat di samping Keysa dengan menaiki motor sportnya.
"Ehk, Kak Rio. Iya nih lagi nungguin angkutan umum," jawab Keysa.
Rio ber oh sambil manggut-manggut. Ia melirik Arvin sebentar, lalu bertanya pada Keysa. "Key, kenapa kamu bersama Pak Arvin?"
Keysa tampak gegelapan, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"An-u aku---"
"Aku apa?" tanya Rio memiringkan kepalanya.
"Ak-u mengembalikan tugas, iya tugas."
Rio memicingkan matanya. Keysa mengigit bawah bibirnya takut Rio menyangka yang tidak-tidak.
"Yaudah yuk, kita pulang aku anterin," ajak Rio.
Keysa bernapas lega, ia melirik ke arah Arvin tengah memperhatikan dirinya dan Rio.
"Emang boleh?" tanya Keysa.
Gadis berambut panjang itu pun ingin naik, tapi tangannya langsung dicekal oleh Arvin.
"Keysa pulang sama saya," ucap Arvin.
"Loh, emang Bapak ada hubungan apa sama Keysa, Adik? sepupu?"
"Dia cal---"
"Aku dan Pak Arvin cuman tetanggaan," potong Keysa, ia melepas cekalan Arvin dan berucap,"Maaf ya Pak, aku mau pulang sama Kak Rio." Keysa menaiki motor sport milik Rio.
Rio pun menjalankan motornya dengan kecepatan sedang. Keysa sebenarnya tidak tega pada Arvin, tapi mau gimana lagi semoga dengan cara ini Arvin bisa berubah.
'Maaf 'kan aku'
Arvin hanya diam membisu dengan tangan yang mengepal. Dia tidak bisa mencegah Keysa pergi, biarlah waktu yang menjawab apakah Keysa dan Arvin akan bersama lagi atau sebaliknya.
🔪 🔪 🔪
Motor sport milik Rio berhenti tepat di depan rumah sederhana. Keysa memutuskan untuk kembali lagi ke rumah bibinya meski nanti akan mengalami kehidupan yang penuh dengan penderitaan. Keysa turun dari motor Rio.
"Terima kasih ya Kak," ucap Keysa.
__ADS_1
"Iya sama-sama. Kalau begitu aku pulang dulu," pamit Rio.
Keysa tersenyum lalu mengangguk. Rio mengacak rambut Keysa lalu pergi berlalu dengan kecepatan biasa.
Keysa menghela napas kecil, sekarang ia harus mempunyai banyak kesabaran menghadapi bibinya. Keysa mengetuk pintu rumahnya beberapa kali, tapi tidak ada siapapun yang ada di rumah bibinya.
Tok! Tok!
Cklek
Akhirnya pintu bercat biru itu terbuka, dan menampilkan sesosok wanita paruh baya. Keysa mengerjap-ngerjapkan matanya ia tertegun melihat keadaan bibinya yang berbeda.
"Keysa," lirih Marisa.
Keysa berjongkok dan menggenggam tangan Marisa. "Bibi kenapa jadi seperti ini?"
Marisa mengelus rambut Keysa.
"Bibi mengalami kecelakaan Nak." Marisa menghapus air matanya yang menetes.
"Apa kecelakaan? kapan Bi?" tanya Keysa.
Marisa menceritakan kronologi kejadian di mana dirinya dijambret oleh preman. Saat itu ia baru saja belanja tapi entah dari mana ada dua preman merebut tasnya secara paksa. Marisa mengejar kedua preman tersebut, karena terlalu fokus mengejar preman itusampai tidak menyadari bahwa ada sebuah mobil melaju kencang ke arahnya.
Kejadian tersebut mengakibatkan kaki Marisa menjadi tidak bisa di gerakkan akibat lumpuh. Kehidupan Marisa jadi berubah drastis mungkin ini adalah karma dari Tuhan kepadanya.
Keysa memeluk bibinya meski wanita yang ada dihadapannya ini sering menyakitinya, tetapi Keysa menganggap Marisa seperti ibunya sendiri.
"Maaf 'kan bibi Nak, hiks ... Bibi selalu menyiksa dirimu dan Bibi menyesal telah menjualmu." Marisa mempererat pelukannya.
"Aku udah maafin Bibi kok, sebelum Bibi minta maaf." Keysa mengelus punggung Marisa berusaha menenangkan.
Marisa melepas pelukannya lalu mengusap kepala Keysa dengan penuh kasih sayang. "Kamu memang anak yang baik Keysa."
Keysa tersenyum simpul, ia juga bersyukur sifat Marisa menjadi berubah. Mungkin ini adalah teguran dari Tuhan untuk Marisa agar memperbaiki kehidupannya menjadi lebih baik.
"Owh iya kenapa kamu ke sini? Maksudnya kamu 'kan sudah dibeli, bagaimana kamu bisa ke sini apakah laki-laki itu membebaskan mu?"
"Hm ... a-nu Bi, aku pergi dari rumah Tuan Arvin karena dia selalu menyakitiku," ungkap Keysa. "Dan juga Tuan Arvin udah tau kok, kalau aku tidak akan tinggal lagi di rumahnya."
Marisa merasa bersalah, kalau saja dirinya tidak menjual Keysa mungkin saja Keysa tidak akan disakiti oleh laki-laki itu.
"Maaf 'kan Bibi Nak. Ini semua salah Bibi," ucap Marisa.
"Enggak Bi, ini sudah menjadi takdirku dan juga semua ini bukan salah Bibi kok." Keysa tidak bisa meyalahkan siapa pun. Ini adalah takdir untu Keysa yang diberikan Tuhan untuk dirinya. Yang lalu biarlah berlalu, kalau kita masih hidup kita juga masih bisa membuka lembaran baru.
__ADS_1