Tuan Psikopat Kejam

Tuan Psikopat Kejam
Bab 8


__ADS_3

Sesuai janji, Arvin meminta Sirsak atau Siska untuk menemuinya di jalan yang sudah Arvin tentukan. Laki-laki itu menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, ingin sekali ia buru-buru sampai dan mencincang tubuh Siska.


Di tepi jalan terlihat seorang wanita tengah memakai baju yang sangat seksi sekali, siapa lagi kalau bukan Siska. Arvin tersenyum smirk, Siska kira dirinya akan napsu pada tubuh miliknya. Cih, melihat saja Arvin sudah jijik.


"Sudah lama nunggunya?" tanya Arvin membuka kaca pintu mobil.


"Enggak kok Pak, baru sampai," jawab Siska, ia masuk dan duduk di sebelah Arvin. Arvin mengangguk, ia menjalankan kembali mobilnya dan membelah kota Jakarta.


"Pak, kita mau kemana?" tanya Siska.


"Rahasia dong," jawab Arvin.


Siska mengerucutkan bibirnya, Arvin yang melihat tersebut ingin sekali menampolnya dengan sendal si Otong. Hey Boy, kenapa si Otong dibawa-bawa padahalkan dia gak salah apa-apa huh.


"Kenapa Bapak tadi bentak aku? Terus cewek yang tadi siapa?" tanya Siska.


"Maaf 'kan aku ya Sayang aku kelepasan, dan cewek tadi adalah adik ku." Si Arvin bisa aja membodohi si Siska.


Senyuman terukir di wajah Siska, ia sangat bahagia sekali ternyata Arvin belum punya pacar dan juga Arvin menyebutnya 'Sayang' ini akan menjadi malam yang paling bahagia di kehidupan Siska. Wanita itu sudah sangat lama mencintai Bosnya sendiri, tetapi Arvin selalu cuek dan selalu dingin pada semua orang.


"Yuk turun," ajak Arvin, Siska mengangguk.


"Tuan ini tempat apa?" tanya Siska.


Arvin mengangkat bahu acuh, ia menyuruh Siska masuk ke dalam rumah yang sangat kecil tapi tidak memperlihatkan bahwa tempat itu tempat penyiksaan.. Arvin menyuruh bodyguardnya untuk mengikat tubuh Siska, sedangkan dirinya memasuki ruangan tempat ia menyimpan benda kesayangannya. Si laki-laki itu masuk ke dalam rumah dengan seringaian liciknya.


"Tuan tolongin aku!" Siska memberontak terus memaksa untuk dilepaskan.


"Jangan harap! Sayang."


Srett


"Akhh ...!


Pipi mulus Siska disayat oleh pisau kecil Arvin, keluar lah darah segar berwarna hitam pekat.


"Sa-kit Tu-an hiks ...."


"Ini belasan untukmu Siska! Karena kau sudah membuat gadisku menangis," gertak Arvin.


"Tu-an bil---"


"Hahah ... gampang sekali kau kena tipu Sayang, gadis yang kau bentak tadi adalah gadisku."


Jleb


Mata yang sudah dipoles oleh make up hancur seketika. Arvin menusuk mata Siska dengan penuh napsu.


"Owh Sayang, darahmu banyak sekali, aku suka." Gila! Si Arvin suka sama darah idih,idih, gue lihatnya aja udah eneg.


"Dasar Psikopat!" teriak Siska, tubuhnya bergetar hebat menahan sakit yang luar biasa. Arvin menyeringai lebar.


"Karena kau adalah wanita, aku akan menghantarkan kematianmu lebih cepat." Rasain lo dasar Sirsak, mana dosa si Siska masih banyak lagih.


Dor ...!

__ADS_1


Dor ...!


Si kecil tapi berbahaya itu, langsung masuk ke dalam jantung Siska dengan dua kali tembakan. Gue bangga sama lo Vin, karena apa? Karena si Arvin bisa bunuh tuh si hama.


🔪 🔪 🔪


Keysa jalan tergesa-gesa memasuki kelasnya, ia sangat marah kepada Arvin karena dia tidak membangunkan dirinya. Sekarang adalah pelajaran sejarah, dan gurunya adalah si Arvin. Kenapa di mana-mana Arvin terus huaa ....


Tok tok tok


"Maaf Pak saya telat." Keysa menunduk takut dan juga menahan kekesalannya pada Arvin.


"Kenapa telat?" tanya Arvin.


Gadis itu mendongakkan kepalanya, matanya menatap sinis. Arvin ingin sekali tertawa melihat wajah kyud Keysa yang sangat menggemaskan.


"Tidurnya kesiangan Pak," jawab Keysa.


"Kenapa kesiangan?"


Kedua telapak tangan Keysa mengepal kuat-kuat, si Arvin minta ditimpuk mungkin dengan karung beras. Keysa hanya diam percuma saja menjawab pertanyaan Arvin yang tidak akan ada hentinya.


"Hmm ... baiklah kamu boleh duduk," perintah Arvin. "Tapi, pas istirahat kamu harus ke ruangan saya."


Keysa pun berjalan ke arah bangkunya, tetapi ia tidak menyadari bahwa ada seorang gadis yang menselonjorkan kakinya.


Bruk


"Awss."


"Hahaha."


"Diam semua!"


Hening


Hanya ada suara rintihan Keysa, Arvin mendekati Keysa langsung mengangkat tubuhnya dan keluar tanpa memperdulikan semua yang tengah melongo memperhatikan mereka berdua.


🔪🔪🔪


Sesampainya di ruang UKS Arvin menidurkan Keysa dan mengambil kotak p3k.


"Sa-kit."


"Tahan sedikit ya," perintah Arvin, ia sangat telaten mengobati lutut Keysa.


"Baby, maaf 'kan aku." Arvin serasa bersalah kalau saja tadi dia membangunkan Keysa mungkin tidak akan terjadi seperti ini.


"Hm." Hanya deheman yang keluar dari mulut Keysa. Arvin menghela nafas berat, ia membuka kacamatanya dan duduk disebelah Keysa.


"Baby Keysa, maaf 'kan aku." Psikopat itu membelai pipi Keysa dengan sangat lembut.


"Ihk ... geli tau, kalau nanti ada yang lihat gimana." Keysa menepis tangan Arvin.


"Gak papa kalau ada yang lihat, tinggal aku jelasin aja gampang 'kan."

__ADS_1


"Jelasin apanya?"


Arvin menyalipkan anak rambut Keysa ke belakang telinganya, lalu membisikkan sesuatu, " aku jelasin bahwa kamu adalah calon istriku."


"Idih ... emang nya aku mau nikah sama Tuan huh!" ketus Keysa, ia berjanji tidak akan salting lagi di depan Arvin.


Laki-laki tampan itu menghela napas gusar, ia bingung harus bagaimana lagi membujuk Keysa. ia langsung menggendong Keysa keluar dari ruang UKS.


"Turunin aku Tuan. Awss ...."


"Makanya diam Baby, nanti lututnya tambah sakit lagi."


Arvin membawa Keysa masuk ke mobil, dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan biasa. Untung jam istirahat belum berbunyi, kalau sudah bakal menjadi trending topik seorang gadis di bawa kabur oleh gurunya.


"Baby, masih marah ya?"


"...."


Arvin memberhentikan mobilnya di tepi jalan, ia menoleh ke arah gadisnya yang tengah cemberut. Arvin menarik dagu Keysa menjadi menghadapnya, degupan kencang dirasakan Keysa.


"Jangan marah terus dong," bujuk Arvin, laki-laki itu menarik tangan Keysa dan menempelkan di dadanya. "Gara-gara kamu hati kecilku ini nangis." Arvin kok jadi gitu ya, kalau ada di sini pengen ku karungin dan langsung aku nikahin awok-awok.


Keringat dingin mulai membasahi pelipis Keysa, manusia yang ada dihadapannya ini terus saja menatap dirinya tanpa kedip. Keysa ingin melepas tangannya tetapi Arvin langsung menariknya kembali.


"Biarkan seperti ini, agar kamu tahu setiap kamu marah hati ini selalu sakit." Huaa Arvin kenapa engkau jadi begini, sebenarnya kamu kejedot apaan hiks ....


"Tu-an."


"Iya sayang."


Gadis itu mengigit bawah bibirnya, ia menunduk malu menyembunyikan rona merah di pipinya. Arvin tidak tinggal diam, ia mengangkat kembali kepala Keysa.


"Tatap mata ku Sayang." Arvin mengelus rambut Keysa lembut.


"Lepaskan tangan ku Tuan," rengek Keysa.


"No! Sebelum kamu memaafkanku."


Keysa mendesis pelan, si Arvin minta di gorok mungkin kenapa ia tidak peka bahwa jantung Keysa lagi konser dangdut.


"Iya Tuan aku maafin."


Indra pendengaran Arvin tajam, ia tahu bahwa Keysa sudah memaafkannya tetapi ia akan mengerjai gadisnya.


"Apa Sayang, yang jelas dong. Jangan panggil Tuan okeh."


"Terus aku ... harus panggil Tuan apa?"


"Emm ... panggil aku, Sayang. Kalau tidak kita akan di sini sampai kau menyebutku Sayang."


Gadis itu menghela napas dalam-dalam, seumur hidupnya ia tidak pernah menyebut kata yang membuat jantung dirinya konser.


"Iya Sayang, aku maafin," ucap Keysa pelan.


"Gimana-gimana?" Arvin belum puas mendengar ucapan Keysa.

__ADS_1


"IYA SAYANG AKU MAAFIN!" teriak Keysa, ia menarik tangannya dan menempelkan kedua telapak tangan di wajahnya.


"Good girls." Arvin mengacak rambut Keysa gemas, lalu mendekapnya erat.


__ADS_2