Tuan Psikopat Kejam

Tuan Psikopat Kejam
Bab 6


__ADS_3

Lemah tidak berdaya itulah yang dirasakan Keysa, matanya terus terpejam tanpa ada niatan untuk membukanya. Dokter sudah memeriksa keadaan Keysa, tetapi gadis itu sudah lama sekali tidak membuka mata. Arvin membaringkan tubuhnya di samping Keysa, ia mengelus pipinya dengan sangat lembut.


"Baby bangun."


"Maafkan aku." Cairan bening lolos dari pemuda tampan itu. Arvin memandangi wajah Keysa sendu, ia sangat menyesal. Kenapa? Kenapa ia tidak bisa mengendalikan jiwa Psikopatnya.


"Engh." lenguhan kecil itu berasal dari Keysa, ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Seluruh tubuhnya serasa remuk, tubuhnya tiba-tiba menggigil padahal selimut yang ia pake sangatlah tebal.


"Key, kamu kenapa?" Arvin panik ia bangkit dan memegang kening Keysa terasa panas. Arvin mengambil obat yang diberikan dokter dan membantu Keysa untuk meminumnya.


Laki-laki itu mendekap tubuh mungilnya itu ke dalam pelukannya. Keysa mengingat kembali kejadian beberapa jam yang lalu, ia menangis tersedu-sedu.


"Maafkan aku Keysa," ucap Arvin. Keysa menggeleng tangisannya malah semakin keras.


"Ke-na-pa a-ku ti-dak ma-ti hiks ...." Lebih baik mati daripada hidup tetapi di bawah kekangan seorang Psikopat yang sangat tidak punya hati. Hati Arvin terasa teriris mendengar penuturan Keysa, gara-gara dirinya Keysa jadi seperti ini.


"Keysa maafin aku hiks ...." Arvin mempererat pelukannya.


"Aku ingin mati saja hiks ... bunuh aku Tuan, BUNUH AKU!" Keysa memukuli dada bidang Arvin disertai air mata yang terus mengalir.


"Enggak Sayang, aku gak akan membunuhmu." Sekarang dia berjanji pada dirinya sendiri akan berjanji tidak akan pernah menyakiti gadisnya sudah cukup Keysa menderita gara-gara dirinya. Arvin ingin sekali memutar waktu dan memperbaiki kesalahannya.


Isakan tangis Keysa perlahan menghilang mungkin ia cape. Arvin melepas pelukannya lalu menghapus air mata Keysa dengan penuh kasih sayang.


"Jangan nangis lagi," lirih Arvin, ia mengecup kedua mata kecil Keysa.


'Kenapa aku tidak bisa membencinya' batin Keysa.


"Sekarang kamu mau apa?" tanya Arvin.


"Kenapa Tuan tidak membunuhku?"

__ADS_1


Degh!


Arvin berusaha menelan ludahnya kenapa gadisnya malah bertanya seperti itu.


"Hei Tuan, katanya aku korban selanjutnya terus kapan kau membunuhku?" tanya Keysa memiringkan kepalanya.


"Key--"


"Owh iya, Tuan mau menyiksa aku dulu, terus baru deh, membunuh bener 'kan?"


"Key--"


"Atau mau aku bunuh diri aja? Tapi jangan deh, 'kan aku korban selanjutnya." Keysa mengetuk-ngetuk dagunya berusaha berpikir.


"Mendingan siksa aku dulu deh, dari mulai menyayat, memotong kaki, memo--"


"KEYSA!"


"Dengerin aku Baby, aku gak akan pernah membunuhmu, mana mungkin aku membunuh orang yang aku sayangi."


"Tapi tadi Tu---"


"Ssstt ... yang tadi aku minta maaf, aku melakukan itu karena aku takut kehilanganmu." Arvin melepas pelukannya, ia mendekatkan wajah tampan bak pangeran itu dan menyatukan Keningnya dengan Keysa.


Huaa aink jomlo astaghfirullah author udah gila ini wkwkw.


Hidung mancung bersentuhan langsung, Keysa mundur, tetapi pinggang rampingnya ditahan oleh tangan Arvin. Keysa memperhatikan setiap inci wajah Arvin, ia tidak percaya bisa berdekatan dengan laki-laki yang sangat tampan sekali. Padahal menurut Keysa, dirinya tidak sebanding dengan Arvin, masih banyak wanita yang lebih cantik dari dirinya, malahan lebih kaya.


"Lagi mikirin apa Baby?" Arvin menggesek-gesekan hidung mancungnya, Keysa terkekeh geli. Si Arvin memang bisa ya membuat jantung Keysa konser, terus author kapan punya laki-laki seperti itu huaaa emak aink jomlo ....


"Tuan."

__ADS_1


"Hm, iya Baby."


Arvin membuka matanya perlahan dan seketika pandangan mereka bertemu. Keysa mengerjap-ngerjapkan mata lucu. 'Kenapa dia tampan sekali arghh'


"Kenapa Tuan jadi guru di sekolahku?" tanya Keysa.


Arvin menjauhkan wajahnya lalu menjawab, "Because i want to be close to you."


Gadis cantik itu menaikkan satu alisnya. "Kita 'kan selalu bertemu, kenapa Tuan ingin dekat denganku emangnya Tuan gak bosen?"


Si tampan bin ganteng itu memegang dagu gadisnya. "Aku gak akan pernah bosen Baby, karena kamu adalah bidadariku yang akan terus berada di hatiku." Aww si Arvin kok jadi bucin, apa jangan-jangan dia lest di kelas para buciners lagi.


Pipinya memerah seperti kepiting rebus, ruangan yang tadinya dingin seketika menjadi panas.


"Baby ku pipinya merah." Arvin terkekeh kecil, wajah imut Keysa merah padam menahan malu.


"Tuan ...." Keysa menempelkan kedua tangan ke wajahnya, ingin sekali ia menjahit bibir Arvin, agar ia tidak mengucapkan gombalan mautnya.


"Jangan di tutupin dong, aku 'kan belum puas lihat wajah kyud kamu." Eleh-eleh Arvin, kok gue malah gereget ya dengar gombalanmu. Ingin ku jungkir jumpalik ketika jiwa jomblo ini bergetar.


Keysa mengerucutkan bibirnya, kenapa manusia yang ada dihadapannya sekarang selalu membuat dirinya salting. Arvin ingin sekali mencium bibir Keysa, tetapi nanti aja deh awok-awok.


"Itu bibir mau aku cium?" tanya Arvin menaik turunkan alisnya.


"Ish, ap-aan sih."


"Sini-sini aku peluk," ucap Arvin melentangkan kedua tangannya.


Dengan penuh keberanian Keysa memeluk tubuh kekar Arvin dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Arvin.


"I hate you," ucap Keysa.

__ADS_1


"I love you too."


__ADS_2