Tuan Psikopat Kejam

Tuan Psikopat Kejam
Bab 5


__ADS_3

Apakah hidup kita ini akan terus bahagia? Sedih? Atau hidup dalam keterpurukan terus menerus? Enggak tau 'kan, hidup itu sebuah kejutan yang bisa membuat kita tercengang di saat kita mengalami hal yang tidak terduga.


Hidup ibaratkan Siput berlomba bersama Kelinci. Di mana Siput jalannya lambat dan kelinci jalannya cepat, kalau di pikir-pikir siput itu akan kalah benarkan? Tapi siapa sangka ternyata hewan bercangkang itu memenangkan perlombaan tersebut.


Sama halnya dengan hidup Keysa, ia tidak menyangka hidupnya akan di bawah kekangan seorang Psikopat berdarah dingin dan Kejam. Masa depan yang selalu ia mimpikan setiap malam seketika kandas. Dia bermimpi di masa depannya nanti akan ada seseorang yang menerima dirinya apa adanya dan menyayanginya dengan tulus.


Byuurrr


"Di-ngin."


Bibir pink Keysa berubah jadi pucat, air dingin itu disiramkan langsung pada tubuh mungilnya. Untuk kedua kalinya Arvin mencengkeram pipi Keysa erat.


"Jangan coba-coba untuk bunuh diri Keysa! Karena kau adalah mangsaku selanjutnya." Arvin mempererat cengkramannya dan langsung mencekik lehernya. Keysa mendorong tubuh kekar Arvin hingga terhuyang ke belakang.


Uhuk, uhuk


Laki-laki jangkung itu tersadar apa yang telah ia lakukan kepada gadisnya.

__ADS_1


"Tuan sudah puas menyiksaku hah?!" Keysa memegang lehernya yang terasa sakit luar biasa. Keysa menatap tajam Arvin, ia menghapus air matanya Kasar.


"Key--"


"Cukup! Tuan bilang aku mangsamu selanjutnya, kalau begitu bunuh aku SEKARANG JUGA!" Gadis itu sudah cape di perlakukan seperti itu. Tidak di sekolah, tidak diluar sekolah, dia selalu mendapat siksaan.


Arvin? Ia diam membisu, kenapa dirinya tidak bisa mengendalikan jiwa Psikopatnya. Arvin memegang tangan Keysa, tapi langsung ditepis kasar. Keysa tersenyum kecut selalu saja begini setelah menyiksa, Arvin akan meminta maaf kepadanya dan menyesali perbuatannya. Terus saja terus sampai monyet nikah sama Kucing.


"Key--"


"Keysa." Arvin berusaha meraih tubuh Keysa ke dalam dekapannya, tetapi tangannya selau disingkirkan oleh Keysa seolah-olah dirinya tidak boleh memeluk gadisnya.


"Gak usah peluk peluk! Dasar manusia gila." Ini Psikopat loh yang dihadapan Keysa bukan tukang bubur. Arvin menggertakan giginya sekali lagi ia mendengar Keysa berbicara kasar awas aja.


"Jaga bahasamu Keysa, aku gak akan segan-segan membunuhmu detik ini juga." Bola mata Arvin berubah jadi merah menahan amarah.


"Cih, kau budek apa gimana hah?! Kalau mau bunuh aku, bunuh saja! Jangan pake basa basi."

__ADS_1


Sudah cukup! Kesabaran Arvin sudah habis, ia bangkit dan menarik tangan Keysa keluar dari kamar mandi. Cengkraman Arvin sungguh kuat, ia tidak mendengarkan ringisan Keysa, Indra pendengarannya ia tutup rapat.


Sampailah di kolam renang yang sangat luas. Arvin menyeringai lebar, ia melirik Keysa tengah ketakutan.


"Udah aku peringatkan jangan berbicara kasar Baby, tapi kau keras kepala." Arvin mengelus pipi Keysa lalu mencengkeramnya. "Ini hukuman buat kamu."


Byurrr


Tubuh Keysa di lempar ke kolam renang. Arvin memperhatikan Keysa tengah kesusahan berenang, ia tidak peduli bisa jadi 'kan si Keysa bohong pura-pura tidak biaa berenang.


"Jangan drama, saya tau kamu itu bisa berenang," ucap Arvin.


"Ha ... to-long Tu-an." Penglihatan kabur, air serasa masuk ke dalam hidung Keysa. Ia pasrah mungkin dengan cara ini ia akan tenang dan tidak akan mendapatkan siksaan lagi.


"Te-rima ka-sih." Tubuh mungilnya itu tenggelam ditengah-tengah kolam. Arvin mematung, detak jantung berdetak lebih cepat. Arvin tidak tahu bahwa Keysa tidak bisa berenang, ia kira Keysa jago 'kan di sekolahnya selalu diadakan olahraga renang, padahal Keysa jarang masuk dan selalu minta izin.


"Key, Keysa!" Terlambat Keysa sudah tenggelam ke bawah. Arvin masuk dan berusaha menyelamatkan tubuh gadisnya, ia memangku Keysa dan membawanya ke sisi kolam. Nasib Keysa? Entahlah, apakah ia masih hidup atau sudah meninggalkan kita semua.

__ADS_1


__ADS_2