
Akhh ...!
"Sa-kit hiks ...."
Rintihan, teriakan, tidak digubris oleh Arvin, ia terus menghukum Keysa tanpa ampun. Arvin menyayat tangan Keysa dengan pisau kecil kesayangannya. Keysa hanya bisa pasrah, ia menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit luar biasa ditangan kirinya.
"Tu-an, ku-mo-hon maaf 'kan aku," pinta Keysa. Arvin mendongakkan kepalanya, ia menyeringai.
"Cup, cup, jangan nangis dong, nanti cantiknya hilang lagi," gombal Arvin, Keysa diam saat Arvin menghapus air matanya dengan sangat lembut.
"Akhh ...!
Teriak Keysa menggema di seluruh penjuru kamar Arvin. Arvin menekan karyanya ditangan Keysa, dan keluar cairan kental berwarna merah itu tanpa henti.
"Sakit Tuan!" bentak Keysa, ia sudah cape diperlakukan seperti itu, ia manusia yang akan merasakan sakit ketika disayat, memangnya ia boneka huh.
Keysa menarik tangannya dan meniup-niupnya sesekali mengelap darah yang mengalir terus-menerus. Kali ini Arvin diam, kenapa ia bisa melukai gadisnya sungguh Arvin tersulut emosi saat tau Keysa kabur. Arvin mengambil pisaunya dan menyayat tangannya sendiri.
"Akhh ...."
"Tuan, apa yang kamu lakukan." Keysa mengambil pisaunya lalu membuangnya ke sembarang arah, ia mengelap darah yang mengalir dari tangan Arvin dengan bajunya. Keysa tidak peduli kalau Arvin marah saat pisaunya direbut, yang terpenting Arvin harus berhenti melukai dirinya sendiri.
"I'am sorry." Arvin menundukkan kepalanya, jujur biasanya ia tidak pernah seperti ini, tapi entah kenapa setelah bertemu Keysa ia merasa bersalah telah menyakitinya.
Keysa mengerutkan keningnya. "What for?"
__ADS_1
"Kalau saja kita tidak bertemu, pasti kamu tidak akan merasakan sakit seperti ini," ungkap Arvin.
Keysa menghela nafas panjang sebenarnya jalan pikir Arvin itu bagaimana sih? Apakah ini efek jiwa psikopat? Setelah menyakiti ia akan merasa bersalah. Setahu Keysa psikopat biasanya tidak akan pernah merasa bersalah dan akan merasa paling benar.
"Tapi, aku bersyukur bisa bertemu dengan Tuan," ucap Keysa. Arvin mendongakkan kepalanya menatap mata hitam Keysa dengan tatapan tanda tanya.
"Maksudnya?"
Gadis itu tersenyum miris. "Iya, kalau saja Tuan tidak ada pada malam itu, mungkin saja aku sudah tidak perawan lagi."
Keysa menundukkan kepalanya, setelah kepergian kedua orang tuanya hidup Keysa jadi menderita ia selalu disiksa oleh Marisa kalau tidak menuruti keinginannya. Malam itu adalah malam yang paling buruk di hidup Keysa, andai kedua orang tuanya masih hidup pasti kehidupannya tidak akan seperti ini. Tak terasa cairan bening lolos dari mata cantik Keysa disertai Isakan kecil, Arvin mendekap tubuh mungil Keysa memberikan kenyamanan bagi gadisnya.
"Ssst ... tenanglah, aku akan selalu ada untukmu," ucap Arvin mengelus rambut hitam Keysa lembut.
"Apakah aku akan bahagia Tuan?" tanya Keysa.
"Nama aku Keysa Fawnia Okta," ucap Keysa menjauhkan tubuhnya. Arvin tersenyum manis, ia mengacak rambut Keysa gemas.
'Oh good kenapa dia tampan sekali'
"Sekarang nama kamu aku ganti menjadi Keysa Fawnia Abiputra, karena kamu adalah milikku."
Keysa menggulum senyumannya, rasa sakit ditangannya tiba-tiba menghilang dalam sekejap. Entahlah dia juga aneh dengan sikap Arvin, kadang baik, dan jahat, terkadang juga membuat jantung Keysa berdebar lebih kencang saat berdekatan dengan Arvin.
🔪 🔪 🔪
__ADS_1
Pagi hari Keysa sudah siap dengan baju sekolahnya. Ia dibelikan langsung oleh Arvin, Keysa sempat menolak karena baju di rumah bibinya masih bagus, tetapi Arvin ya tetap Arvin, ia tetap kekeuh membelikan seragam baru.
Cklek
Datanglah sesosok laki-laki jangkung berparas tampan memasuki kamar Keysa, memang itu kamar Arvin tapi ia memberikannya pada gadisnya. Keysa yang melihat Arvin masuk seketika jantungnya berdegup kencang, ia pun melanjutkan aktivitas mengikat rambutnya.
"Morning Baby," panggil Arvin lembut.
"Morning too," jawab Keysa malu-malu.
Arvin duduk disisi ranjang dan memperhatikan gerak gerik Keysa. Arvin bangkit dan menghampiri Keysa yang sedang kesusahan mengikat rambut.
"Kenapa dibuang?" tanya Keysa heran saat Arvin mengambil ikat rambut lalu membuangnya ke sembarang arah.
"Sekarang jangan diikat Baby, aku tidak suka," ungkap Arvin.
"Ta-pi, aku udah biasa mengikat rambutku."
Arvin menyisir rambut hitam Keysa dengan penuh kasih sayang. Keysa mengigit bibirnya, Arvin membalikkan tubuh Keysa jadi menghadap dirinya lalu berkata," Aku tidak mau milikku dilihat orang lain."
Keysa mengerutkan keningnya tidak mengerti. "Why? Emangnya orang lain tidak boleh melihat aku gitu?"
"Enggak Baby. Maksud aku gini, kalau rambutmu diikat nanti leher putihmu akan dilihat orang banyak dan aku tidak suka." Si Arvin cemburu anjirrr sampai segitunya awok-awok. Keysa mengerucutkan bibirnya kenapa Arvin sikapnya jadi berubah dalam sekejap, kemarin malam dia marah-marah sekarang sikapnya jadi kayak gini. Arvin berjongkok, ia mencubit pipi Keysa gemas.
"Kok, setiap hari kamu makin gemes aja sih." Maaf pak orang jomblo jadi senyam-senyum sendiri nih, kalau bisa gombalnya di filter.
__ADS_1
"Sakit tau," ringis Keysa menepis tangan Arvin pelan.
"Ututu ... Baby ku marah ternyata." Arvin menyalipkan anak rambut Keysa ke belakang telinga, detak jantung Kyesa berdetak lebih cepat dari sebelumnya saat Arvin mendekatkan wajah tampannya itu ke telinga Keysa lalu berbisik, "I love you Keysa Fawnia Abiputra."