
Hari ini adalah jadwal meeting di perusahaan Arvin, sebenarnya sih Arvin tadinya tidak mau masuk katanya ingin terus bersama Keysa. Njirrr gila! Si Arvin nempel terus sama si Keysa benar-benar nih anak. Arvin memasuki kantornya yang bisa dibilang sangat megah dan besar.
Beberapa karyawan membungkukkan badannya memberi hormat pada bos perusahaan tersebut. Arvin duduk dan mulai membuka beberapa berkas yang sudah sangat menumpuk meminta di tanda tangani.
Cklek
Seorang wanita berjalan anggun mendekati Arvin, ia tersenyum manis sudah lam ia tidak melihat Arvin. Katanya kalau tidak bertemu dengan Arvin hidupnya terasa hampa dan kesepian. Lebayyyyy astagfirullah si mbak sampai segitunya.
"Pak, jadwal meeting akan segera di mulai."
Arvin mendongakkan kepalanya lalu mengangguk. "Baiklah aku akan segera ke sana." Arvin pun melanjutkan aktivitasnya.
Wanita itu mendengkus kesal, ia rela lebih berdandan cantik agar Arvin memujinya. Hello mbak, dandan kayak ondel-ondel jalanan aja minta di puji oleh Arvin? Jangan harap dasar micin.
"Siska," panggil Arvin.
Wanita yang selalu di panggil Siska itu menggigit bibirnya.
'Pak Arvin pasti muji penampilan aku, AW gak sabar deh'
Perlahan Siska membalikkan tubuh seksinya itu, karena tadi ia berlalu pergi, tetapi suara Siska yang lembut memanggilnya dan langsung ia urungkan.
"Iya Pak." Siska berlaga sok cantik dengan menata rambut yang agak sedikit berantakan.
"Nih, tolong bawa 'kan berkas ke ruang meeting."
Hancur sudah harapan Siska, ia kira Arvin akan memuji penampilan yang menurutnya sangat mempesona. Kepedean sekali kau mbak ingin ku tonjok tuh muka, terus gue lempar kau ke rawa-rawa. Dengan berat hati Siska mengambil berkas berwarna biru dan langsung pergi meninggalkan Arvin dengan muka cemberut kayak monyet.
🔪 🔪 🔪
Di lain tempat Keysa tengah dilanda kebosanan. Ia menghela napas panjang ingin sekali dirinya bermain keluar, tetapi Keysa dilarang keras oleh Arvin. Keysa dibolehkan keluar asalkan bersama Arvin. Arvin, Arvin, Keysa juga ingin bermain bersama teman-temannya huh! Dasar manusia posesif.
Keysa bangkit, ia teringat bahwa Arvin pernah memberitahu alamat perusahaannya. Keysa berniat ingin mengunjungi kantor Arvin, ia tidak peduli kalau Arvin marah. Keysa pun bersiap-siap memakai baju kaos putih polos, rambut ia gerai dan celana jeans. Terlihat sangat sederhana tetapi tidak mengurangi kecantikan alami yang Keysa miliki.
Keysa menuruni anak tangga dan keluar dari rumah megah tersebut.
"Nona mau ke mana?" tanya Pak supir.
"Pak, tolong anterin aku ke perusahaan Tuan Arvin," ucap Keysa.
"Baiklah Non, silahkan masuk." Keysa masuk dan mobil berwarna hitam pekat itu mulai maju membelah jalanan kota Jakarta. Sepanjang perjalanan senyuman terukir di wajah Keysa, ia tidak sabar melihat reaksi Arvin, apakah ia akan marah atau malah sebaliknya.
Mata Keysa tertuju pada anak kucing yang sangat lucu-lucu tengah di perjual belikan di sebuah toko yang sangat sederhana. Ia pun menyuruh Pak supir untuk berhenti, ia keluar dan menghampiri penjual anak kucing tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya si penjual.
"Mas, ada kucing berwarna putih betina gak?" Keysa sudah sangat lama menginginkan sekali kucing berwarna putih. Di rumah bibinya Keysa dilarang untuk memelihara hewan berbulu tersebut, karena bibinya alergi terhadap bulu kucing.
"Ini Neng," ucapnya dan menyodorkan kucing berwarna putih bersih seputih salju. Mata Keysa berbinar, ia langsung memeluk hewan tersebut. Keysa pun membeli hewan berbulu putih itu, untung saja Arvin memberi ia uang banyak.
'Meong meong'
"Aku akan beri nama kamu ... Iggy."
🔪 🔪 🔪
Sesampainya di perusahaan Arvin, Keysa keluar dan masih senantiasa memangku kucingnya yang diberi nama Iggy. Keysa bingung di mana ruangan Arvin, ia pun menghampiri salah satu karyawan yang sedang memainkan ponsel.
"Ma-af, ruangan Tuan Arvin di mana ya?" tanya Keysa.
__ADS_1
Wanita itu mendongakkan kepalanya mengernyit heran.
"Mau perlu apa?" ketus Siska. Ia heran kenapa ada bocah nanyain kekasihnya. Sejak kapan si Siska jadi pacar si Arvin, perasaan gue gak buat alur cerita di mana si Arvin nembak si Siska dah.
"Enggak ada apa-apa, cuman mau ketemu sama Tuan Arvin saja," jawab Keya.
"Owh aku tau, kamu mau minta uang ya pada Pak Arvin?"
Keysa membulatkan matanya, apa ia tidak salah dengar minta uang? Ck, buat apa uang si Arvin tiap hari selalu memberikannya uang.
"Bu---"
"Gak usah ngelak, kau wanita yang di sewa Pak Arvin 'kan. Bawa-bawa kucing segala lagi berikan." Woi! itu kucing milik si Keysa bukan milik lo mbak. Kalau mau kucing juga beli lah malah rebut milik orang lagi.
"Ihk ... kembalikan itu milik ku," rengek Keysa, tapi kucing berbulu lebat itu sudah berada digenggaman Siska. Si ondel-ondel itu melepaskan Iggy dan membiarkan kucing itu lepas.
"Heh bocah! Di sini itu perusahaan bukan tempat bermain!" cerca Siska. "Dasar ja*ang, kecil-kecil sudah jadi ja*ang heh!" Ko gue gereget kalau ada di Siska di sini pengen tak hiih.
Keysa mengepalkan tangannya, kupingnya memanas mendengar kata-kata yang sangat menyayat hati kecil Keysa. Catat! Dia bukan ja*ang okeh, justru yang ja*ang itu si Sirsak.
"Cukup! Aku bukan ja*ang hiks ...." Ayolah siapa sih, yang mau dihina sebagai ja*Lang. Kalau gue di posisi Keysa udah gue gorok tuh leher si Sirsak.
"Terus apa? Wanita murahan hahaha ... orang tua lo pasti ja*ang juga 'kan."
"SISKA!" Suara teriakkan Arvin menggelegar, semua menunduk takut melihat sorot mata tajam Arvin.
Laki-laki tampan itu melihat kelakuan Siska, awalnya dia senang melihat Keysa menemuinya dan ingin menghampiri gadis tersebut, tapi ia urungkan ketika Keysa menanyakan keberadaan dirinya pada Siska. Setelah melihat Siska menghina Keysa seketika jiwa Psikopat Arvin muncul.
"Pa-k Arvin." Cih, kalau ada Arvin baru berlaga sok lugu dasar muka dua.
Karena hati Kecil Keysa sudah sakit gara-gara di hina terus oleh Siska ia berlalu pergi.
"Gara-gara kau gadisku menangis!" bentak Arvin tepat dengan sorot mata yang sangat tajam. Diam membisu, Siska tidak tahu bahwa Arvin sudah mempunyai pacar apalagi pacarnya masih bocil.
Arvin membisikkan sesuatu tepat di telinga Siska. "Tunggu nanti malam Siska Aurora."
Arvin berlalu pergi dan mengejar Keysa. Siska? Dia malah bahagia mendengar bisikan Arvin, ia berencana akan berdandan lebih seksi lagi dan membuat Arvin jatuh cinta. Hahaha ... si Siska kepedeaannya tingkat dewa. Dia tidak tau ajal akan menjemputnya malam nanti.
🔪🔪🔪
"Hiks ...."
"Bunda, Ayah, hiks ...."
Di Taman yang sangat sepi Keysa mencurahkan isi hatinya, ia ingin sekali bertemu dengan kedua orang tuanya tetapi itu tidak mungkin.
Arvin baru saja sampai di Taman tersebut, ia menghampiri Keysa lalu memeluknya. Isakan tangis Keysa semakin menjadi-jadi, setiap mengingat kedua orang tuanya ia selalu menangis dan menangis hanya dengan cara itulah ia bisa menenangkan diri.
"Baby, please don' t cry." Hati Arvin selalu merasakan sakit ketika gadis yang ia sayangi menangis. Terus Author kapan punya laki-laki kayak gitu huaaa ....
"Tuan hiks ... aku ingin Ayah, Bunda," lirih Keysa.
Arvin tidak bisa bicara apapun, dia juga bingung andai kedua orang tua Keysa masih ada mungkin hidup Keysa akan bahagia.
"Baby, tenanglah aku akan selalu di sampingmu," ucap Arvin, Keysa mengangguk kecil.
"Sekarang jangan nangis lagi, karena setetes air matamu sangat berharga." Mulai deh mulai gombalnya awas! Kalau si Arvin buat gue senyum-senyum sendiri lagi nanti gue dibilang gila lagi.
"Gak usah gombal."
__ADS_1
Arvin terkekeh kecil, ia melepas pelukannya lalu berkata, "Karena gombalan mautku bisa membuat jantung kamu konser, bener 'kan? Karena dengan itu perlahan-lahan kamu akan mencintaiku."
Jangan tanya reaksi Keysa, pipinya berubah lagi menjadi merah. Arvin tidak tahan dengan wajah kyud Keysa, ia mencium pipi Keysa sekilas.
"Kok aku dicium sih." Keysa sangat kesal, kalau nanti ada yang lihat gimana?" Kan ia malu atuh kalau dilihat orang.
Arvin mengambil dari saku jasnya sebuah bando kecil berwarna pink, terdapat telinga kelinci di atasnya. Psikopat bucin itu, memasangkan bando tersebut kepada Keysa.
"Astaga kamu makhluk apaan Keysa?"
Keysa mengernyitkan keningnya. "Aku manusia Tuan."
"Tapi kok, kamu gemes banget." Arvin mencubit hidung mancung Keysa. Keysa menggulum senyumannya. 'Tuhan kenapa jantung ini konser terus'
"Baby, coba hadap sini deh," perintah Arvin. Keysa berdehem dan menghadapkan tubuhnya ke arah Arvin.
"Tatap mata aku."
Keysa tersentak kaget, sebuah tangan kekar memegang pinggang rampingnya.
"Tuan lepas nanti ada yang lihat."
Bukan melepas, Arvin malah memegang erat pinggang Keysa. Wajah mereka semakin dekat dan dekat. Arvin menyalipkan anak rambut Keysa ke belakang telinganya.
"Baby, kau harus berjanji bahwa kau akan selalu di dekatku, sampai ajal menjemput kita."
Keysa menahan tubuh Arvin dengan menempelkan kedua tangan mungilnya di dada bidang Arvin.
"I-ya aku janji."
Senyuman terukir di wajah tampan Arvin, ia mengigit pipi Keysa gemas. "Kau adalah makhluk terimut di dunia ini Keysa." goda Arvin, posisi mereka masih sama Arvin senantiasa memegang pinggang gadisnya.
"Sekarang kau adalah separuh jiwaku, yang akan selalu menemaniku di setiap suka maupun duka." Aw, si Arvin minta di jahit mulutnya ini. Kalau ada di sini gue karungin heh.
"Tuan lepas," rengek Keysa.
"Jangan harap Baby, kalau mau lepas cium aku dulu."
Keysa membulatkan matanya, cium? Si Arvin udah gila kayaknya.
"Gak mau."
"Yaudah gak papa, kita akan terus seperti ini sampai kau menciumku," ancam Arvin.
Keysa sangat gereget, apa tidak ada pilihan lain apa selain mencium Arvin. Dia mengedarkan pandangannya melihat sekitar, takut ada yang mengawasinya.
"Tidak ada siapa-siapa, di sini hanya ada kita berdua." Arvin menggesek-gesekan hidung mancungnya ke wajah Keysa.
"Geli Tuan."
"Sekarang cium aku."
Gadis itu mendengkus kesal terpaksa ia lebih mendekatkan wajahnya.
Cup
AINK JOMBLO ASTAGHFIRULLAH HALADZIM
Keysa langsung memeluk Arvin erat menyembunyikan wajah merah bak tomat tersebut. Arvin tersenyum senang, akhirnya setelah sekian lama ia bisa dicium langsung oleh Keysa.
__ADS_1
"Thanks you dear, i love you forever."