Tuan Psikopat Kejam

Tuan Psikopat Kejam
Bab 9


__ADS_3

Hari-hari di lalui oleh Keysa bersama Arvin, ia bersyukur bisa bertemu dengan Psikopat yang membelinya. Kalau tidak ada Arvin mana mungkin ia akan hidup bahagia seperti sekarang, menurutnya Arvin itu seperti bunglon selalu berubah-ubah. Semenjak di mana Keysa di lempar ke kolam renang, sampai sekarang ia tidak pernah lagi di sakiti oleh Arvin.


Keysa masuk ke dalam perpustakaan, ia celingak-celinguk hanya ada penjaga perpustakaan dan murid berkacamata. Ia masuk dan mulai mencari buku kesukaannya, ia mendudukkan dirinya di kursi belakang.


Halaman demi halaman di buka oleh tangan mungilnya, sesekali ia terkekeh kecil membaca kata-kata yang menurutnya lucu.


"Seneng banget bacanya."


Keysa menoleh ke belakang dan terdapat sosok laki-laki jangkung berparas tampan mendekati dirinya.


"Ehk, Kak Rio. Iya nih, seru soalnya," jawab Keysa.


Laki-laki yang selalu disebut Rio itu duduk di sebelah Keysa. "Emm ... pantesan sampai gak nyadar kalau aku dari tadi merhatiin kamu."


Gadis berambut panjang itu membulatkan matanya, dia berpikir apakah Kaka kelasnya ini melihat dirinya saat dia sedang ketawa-ketawa sendiri.


"Kaka dari tadi lihatin aku?" tanya Keysa mengerjap-ngerjapkan matanya.


Rio mencubit pipi Keysa. "Iya Keysa Fawania Okta, dari tadi aku lihatin kamu ketawa-ketawa sendiri."


"Aduh, aku jadi malu." Keysa menempelkan tangannya diwajah cantiknya.


Rio terkekeh, ia mengacak rambut Keysa gemas. "Gak usah malu, aku juga selalu ketawa sendiri kok, kalau lagi baca buku." ucapnya.


Rio Winata, menjabat sebagai ketua osis wajahnya yang tampan dan otak yang cerdas membuat para ciwi-ciwi tergila-gila padanya. Laki-laki itu tidak pernah menganggap lebih satu pun wanita yang mengejarnya, ia hanya menganggap mereka teman tidak lebih.


"Hehe ... gitu ya kak."


"Iya, cantik."


Pipi Keysa memanas, setiap orang yang memujinya pipinya selalu berubah menjadi merah. Rio mencubit kembali pipi Keysa gemas.


"Aws ... sakit kak," ringis Keysa.


"Aduh ma--"

__ADS_1


"Keysa," panggil seseorang dari belakang.


Keysa menoleh dan mendapati seorang gadis berambut panjang tengah memperhatikan dirinya dan Rio.


"Iya ada apa?" tanya Keysa.


"Kata Pak Arvin, kamu harus ke ruangannya," suruh Rahel.


"Owh yaudah, aku tinggal dulu ya kak Rio. Makasih Rahel udah beri tahu." Keysa pun melenggang pergi meninggalkan mereka berdua.


Saat Rahel berbalik ia terkejut tangannya di cekal oleh seseorang. Ia menoleh menaikkan satu alisnya. "Ada apa kak?" tanya Rahel.


"Lo sahabatnya Keysa?" tanya Rio.


"Hmm ... iya Kak."


"Pasti lo tahu sesuatu tentang Keysa."


Kening gadis itu berkerut tidak mengerti." Maksudnya?"


Rio berdecak lalu menjawab."Apa Keysa udah punya pacar?"


"Kok, malah bengong."


"Ehk ... an-u aku gak tau."


Rio manggut-manggut, ia menepuk bahu Rahel. "Kalau lo udah tau kabarin gue ya, soalnya kalau Keysa belum punya pacar gue mau nembak Keysa." Rio berlalu pergi keluar dari perpustakaan meninggalkan Rahel sendirian.


Rahel menatap kepergian Rio dengan tatapan yang sulit diartikan.


🔪🔪🔪


Pintu bercat cokelat sudah berada di hadapan Keysa, perlahan ia buka, tapi tidak ada sesosok manusia kehidupan di dalamnya. Keysa menghela napas panjang mungkin Arvin hanya mengerjai dirinya. Ia berbalik, tapi kepalanya menubruk dada seseorang.


"Aduh siapa sih, in-- ehk ... Tu-an."

__ADS_1


"Hm." Arvin berjalan melewati Keysa dan duduk di kursi ruangannya.


Keysa mengernyit, kenapa sifat Arvin beda biasanya dia selalu mengeluarkan gombalan maut. Keysa pun mendekati Arvin lalu berdiri di sampingnya.


"Kenapa Tuan panggil aku?" tanya Keysa.


Arvin melirik Keysa. " Karena kamu membuat kesalahan." ujar Arvin.


"Kesalahan? Kesalahan apa?" tanyanya.


Matanya menatap tajam Keysa, ia berdiri dan mulai mendekati Keysa. Tubuh mungil Keysa perlahan mundur dan mentok di tembok.


'Ya Tuhan kenapa lagi dia'


Arvin mendekatkan wajahnya ke telinga Keysa. "Kau membuat hatiku menangis lagi." bisik Arvin.


Gadis itu tidak mengerti, ditatapnya manik mata Arvin dengan kebingungan.


"Ma-ksud Tuan apa?"


Arvin mengelus pipi Keysa lembut, tapi perlahan ia mencengkram nya. "Kau selingkuh Keysa Fawania Okta." ucap Arvin lebih kuat mencengkram kedua pipi Keysa.


"A-ku gak se-lingkuh." Mata Keysa berkaca-kaca, ia tidak habis pikir kenapa Arvin sikapnya menjadi aneh lagi. Apa jangan-jangan dia melihat Keysa bersama Rio.


"Terus cowok tadi siapa?"


Udah Keysa duga ternyata Arvin salah paham. Keysa melepas paksa tangan Arvin, ia tersenyum jahil.


"Kalau benar cowok tadi selingkuhan ku, gimana?" tanya Keysa.


Bola mata Arvin berubah menjadi merah, ia mencekik Keysa. "Kalau benar itu selingkuhan kamu, aku gak akan segan-segan membunuhmu. Karena tidak ada seorang pun yang dapat memilikimu, kecuali aku." Woi! itu anak orang main cekik aja dasar Psikopat.


"Le-pas ... uhuk, uhuk." Napas Kesya ngos-ngosan, ia menatap tajam Arvin.


"Tuan bilang, Tuan gak akan nyakitin aku lagi. Tapi ini apa hah?! Tuan mengingkari janjimu." Padahal Keysa hanya bermain-main saja dan menguji kesabaran Arvin. Ternyata Arvin belum bisa menahan jiwa Psikopatnya. Keinginan Keysa hanyalah merubah Arvin menjadi manusia normal dan tidak pernah menyakiti siapapun lagi termasuk dirinya.

__ADS_1


"Sudahlah, gak guna bicara sama Psikopat sepertimu." Keysa keluar dari ruangan Arvin dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


Tangan kekar Arvin mengusap pipinya kasar, ia menonjok tembok dengan sangat keras. "Aku gak mau kehilangan kamu Key, maaf 'kan aku."


__ADS_2