
Cats
Cats
Cats
"Arghhh ...!"
Sebuah cambukan berwarna hitam pekat itu, dilayangkan oleh Arvin kepada laki-laki berkulit hitam. Bukan tanpa sebab Arvin mencambuknya, laki-laki itu berusaha korupsi di perusahaan milik Arvin. Semua karyawan sudah diperingatkan oleh Arvin bahwa seseorang yang korupsi, penghianat, di perusahaannya akan di death penalty.
Srett
Sekali sayatan lengan laki-laki itu robek dan mengeluarkan cairan kental berwarna merah. Arvin bahagia? Senang? Tentu saja, hati Arvin lebih jauh dari kata bahagia, karyanya yang sangat bagus ia bisa memberikan sayatan panjang sekaligus. Laki-laki itu adalah karyawan Arvin yang bernama Sandy.
"A-mpuni sa-ya Tu-an."
"Ampuni? Setelah apa yang telah kau lakukan, jangan harap!"
Jlebb
Srett
Bola mata Sandy melotot merasakan sakit yang sangat luar biasa di pahanya. Aksa menyeringai lebar, sudah cukup lama ia tidak melihat darah segar yang mengalir deras.
"Bu-nuh sa-ja la-ng-sung Tu-an, akhhh ...." Tidak ada harapan lagi, Sandy memilih dibunuh langsung dari pada disiksa terus-menerus oleh Arvin. Dia juga tahu bahwa dirinya akan mati ditangan Arvin saat ini juga, tapi Arvin sengaja menunda kematian Sandy dan bermain-main dengan tubuhnya.
"Tidak, saya tidak akan membunuhmu, sebelum saya merasa puas menyiksamu," imbuh Arvin. Oh ayolah, seorang Arvin tidak akan membunuh mangsanya secara singkat, ia akan membuat tubuh mangsanya menjadi seperti bubur.
__ADS_1
Cowok psikopat itu, melangkahkan kakinya mengambil satu gelas air lemon yang sudah di sediakan oleh bodyguardnya. Seringan di wajah Arvin terlihat sangat mengerikan bagi Sandy, Indra penglihatannya ia tutup rapat-rapat, derap langkah Arvin semakin semakin mendekat.
Byurr
"Arghh ...!"
"Bu-nuh sa-ya Tu-an, arghhh ...!"
Bagikan alunan melodi, teriakan, ringisan itu, sangat merdu sekali di Indra pendengaran Arvin. Arvin memotong kedua kaki Sandy dengan kampak yang sangat tajam, di ruangan tersebut memang sudah tersedia berbagai macam benda tajam, seperti gergaji, pistol, dan benda tajam lainnya.
"Kenapa kau berani korupsi di perusahaan saya?" tanya Arvin dengan nada bicara lembut, tangannya juga tidak tinggal diam ia mencincang bagian tubuh Sandy yang sudah terputus.
"Arghhh ...! Sa-ya bu-tuh u-ang."
"Butuh uang Hmmm? Kau punya mulut 'kan, kenapa kau tidak minta saja padaku."
"Ada apa?" tanya Arvin.
"...."
Rahang Arvin mengeras mendengar penuturan bodyguardnya disebrang sana.
"Pantau terus, kalau sampai kau kehilangan jejak, kau akan tau akibatnya." Telepon itu terputus secara sepihak, Arvin mengepalkan kedua tangannya ia mengambil pistol yang ia beli dari Amerika.
"Karena saya baik hati, saya akan menghantarkan kematianmu dengan cepat." Apa katanya baik hati? Spesies macam apa dia huh! Sungguh psikopat gila.
Dor ...!
__ADS_1
Peluru yang semulanya di pistol sekarang berada tepat di jantung Sandy. Arvin sebenarnya belum puas mencincang tubuh Sandy, tapi karena ada masalah ia harus segera menyelesaikannya.
"Bereskan dan berikan pada Black," perintah Aksa kepada kedua bodyguardnya. Black adalah buaya peliharaan Aksa yang selalu diberi makan oleh tuannya berupa daging manusia.
🔪 🔪 🔪
Napas tersengal-sengal disertai keringat yang sudah membasahi pelipis itu dirasakan oleh seorang gadis. Keysa, berusaha melarikan diri dari rumah Arvin yang menurutnya seperti penjara. Saat itu di rumah Arvin sedang sepi, tak lama bodyguard Arvin datang dan berusa membawa Keysa kembali ke dalam rumah, untung saja Keysa mengambil sebuah tongkat dan memukuli kedua bodyguard tersebut.
"Huftt ... aku bingung harus kemana." Keysa berdiri di Taman yang sangat sepi, jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Hari ini adalah hari weekend. Jadi, Keysa tidak masuk sekolah ia berniat untuk mengambil seragam sekolah di rumah bibinya, setelah itu ia akan pergi jauh, tapi ia juga bingung harus pergi kemana.
Keysa memejamkan matanya menikmati sepoi-sepoi angin yang menerpa wajah cantiknya. Keysa tersentak kaget sebuah tangan melingkar di perutnya, ia menoleh sesaat Keysa terdiam melihat wajah yang sangat tampan tengah memeluknya.
"Mencoba kabur Hussy," bisik Arvin. Ya ... laki-laki itu adalah Arvin, bodyguardnya memberi tahu bahwa Keysa kabur dari rumah. Arvin pun bertindak cepat mencari sebelum Keysa pergi lebih jauh lagi.
"Tu-an." Tubuh Keysa bergetar ia takut Arvin marah dan membuat jiwa psikopatnya muncul.
Keysa tahu bahwa Arvin adalah psikopat, ia diberi peringatan oleh beberapa maid untuk berjaga-jaga agar tidak membuat Arvin marah katanya kalau membuat Arvin marah Keysa akan dibunuh. Dari situlah kenapa Keysa kabur karena ia takut sama yang namanya psikopat, yang ia ketahui bahwa psikopat akan membunuh mangsanya tanpa ampun.
"Kenapa kamu kabur hmm?" tanya Arvin mempererat pelukannya.
"A-ku--"
"Mau saya potong kaki kamu, supaya kamu tidak kabur," ancam Arvin.
"Ga-k mau." Tidak kebayang kalau kaki Keysa dipotong ia merinding mendengar ancaman yang dilontarkan Arvin.
"Kalau begitu jangan pernah kabur lagi Honey," ucap Arvin, ia mengecup pipi Keysa singkat. Arvin berusaha agar tidak marah dan melukai gadisnya itu, bisa-bisa Keysa kabur lagi melihat kemarahan Arvin.
__ADS_1
"Kita pulang, saya akan berikan hukuman untukmu," kata Arvin dengan nada bicara berubah menjadi dingin, ia langsung menggendong tubuh mungil Keysa memba