
di dalam pesantren ustadz Zulfikar yang sedang termenung dan memikirkan sesuatu dikagetkan oleh temannya(panggil nya ustadz ya karena udah ngajar di pesantren)
doooorrrr
"ngelamun aja ente, kesambet lho nanti" ucap teman ustadz Zulfikar
"ana nggak ngelamun cuma mikir" elak ustadz Zulfikar
" ye, sama aja ntu" ucap teman ustadz Zulfikar
"mikir apa sih ente, kagak biasanya ente kayak gitu"
"ana lagi mikir gimana kita dapat dana untuk pesantren ni, kan desa kita jauh dari kota jarang ada donatur lagipun pesantren ini juga belum lama berdiri, gimana ya Ridh?" tanya ustadz Zulfikar
"hmm.. kan desa kita kan cocok buat sport pariwisata, gimana kalau kita sebarin di sosial media, dan kita manfaatkan para wisatawan untuk berkunjung dan kita dapat dana dari jual tiket plus pemandu dan oleh-oleh khas desa kita, dan kita ajak para ustadz dan ustadzah yang tidak bertugas untuk mengurus pemandu para wisatawan, dan para warga sini kita ajak jual makanan dan oleh-oleh khas desa kita, itu juga bisa untuk memberikan lapangan pekerjaan bagi mereka gimana? ucap teman Zulfikar yang bernama ustadz Faridh
"hmm.. ide bagus tu, kita coba saja, kita cari sport terbaik terus sebarin deh ke sosial media, untuk para warga biar ana yang urus, kalau ente urus para ustadz dan ustadzah! ucap ustadz Zulfikar
__ADS_1
"hmm.. oke deh sipp" ucap ustadz Faridh
akhirnya mereka menjalankan rencana mereka dan akhirnya di setujui para ustadz dan ustadzah, dan juga para warga desa, mereka sangat bersemangat mendengar rencana dari ustadz Zulfikar dan ustadz Faridh, akhirnya rencana mereka berhasil dan setelah beberapa hari kemudian para wisatawan dari kota banyak yang berkunjung dan berwisata di sana, banyak dana masuk dari kegiatan pariwisata tersebut, akhirnya ustadz Zulfikar tidak perlu memikirkan dana pesantren
"Alhamdulillah, rencana kita berhasil ya, Ridh?!!" ucap ustadz Zulfikar
"iya, Alhamdulillah, ana seneng bisa ngeliat majunya desa kita" ucap Ustadz Faridh
di rumah sakit
hari ini hari terakhir Zahra di rumah sakit, dan kini dia sedang bersiap-siap untuk pulang
"dek, nggak usah dipikirin, Kevin mah orangnya santai aja kalau di tolak mah" jawab Azam menghibur Zahra
"tapi, aku bilang ke kak Kevin, alasan aku nggak nerima lamarannya adalah fokus sama kuliah ku dulu, tapi kak Kevin bilang dia bakal nungguin aku Sampek aku lulus kuliah, aku harus gimana, bang?!!" terang Zahra cemas, karena takut karena berbohong pada orang lain
"gpp, dek jangan sedih, Kevin nggak bakal mikir macem-macem kok anggap aja, omongannya itu angin lalu, yaa!!" ucap Azam menenangkan Zahra sembari memeluk Zahra
__ADS_1
"gpp, kan bang aku kayak gitu ke kak Kevin, kan aku nggak enak sama kak Kevin, lagipun kak Kevin juga bukan tipeku" ucap Zahra
"hmm.. la terus tipe kamu yang kayak apa, Sampek-sampek Kevin kamu tolak?" tanya Azam
"nggak bakal ada cowok yang kusukai kecuali Abang dan Abi" jelas Zahra
"masak kamu nggak akan jatuh cinta, masak kamu mau jadi perawan tua dan nggak nikah gitu?" celetuk Azam
Zahra mendengar itu menundukkan kepalanya, melihat Zahra menundukkan kepala Azam mengerti kalau kata-katanya membuat Zahra sedih
"aku nggak akan nikah, aku membahagiakan keluarga ku dulu, baru aku bisa pergi dengan tenang" ucap Zahra yang menangis di pelukan Azam
"huusss kamu nggak akan pergi dan nggak bakal aku ijinin kamu pergi, dan kalau kamu nggak mau nikah sama orang lain, nikah sama Abang aja!!? celetuk Azam agar Zahra nggak mikir macem-macem
"ihh, nggak boleh tau kita nikah, malahan kita bakal kena dosa!!" tolak Zahra
🤣🤣🤣🤣🤣
__ADS_1
akhirnya mereka segera pulang setelah bercanda