
Bagas dan dinda sama-sama belum menjawab permintaan orangtua mereka. Jujur saja mereka masih bingung di satu sisi mereka masih trauma tapi di sisi lain mereka tak ingin mengecewakan orangtua. Dan akhirnya bagas pun membuka suaranya.
“bagas menerima perjodohan ini” kata bagas. Tentu saja membuat orangtua mereka tersenyum dan mereka langsung memandang dinda yang masih menunduk memikirkan jawaban.
“kamu bagaimana din?” tanya bunda dengan lembut seraya berpindah kesamping dinda dan mengelus pucuk kepalanya.
Dinda yang merasa ditanya, langsung mengadahkan kepalanya dan ia sangat terkejud karena semua orang memandangnya dengan sangat berharap jika jawabannya menyenangkan hati mereka.
Naila yang sedari tadi menyimak langsung menggenggam tangan dinda menyalurkan dukungan apapun keputusan sahabatnya itu. Karena naila tau tak semudah yang orang lain pikirkan untuk kita melupakan masa lalu dari pikiran dan hati kita. Bagaimanapun dia merasakan apa yang dirasakan oleh dinda. Naila hanya berharap dinda tak membuat keputusan yang salah dan tidak akan mengecewakan siapa pun. Mungkin jika naila diposisi dinda, dia sudah akan meminta waktu untuk berfikir matang-matang karena walaupun papi devan sangat tegas dan dingin tetapi ia tetap tak ingin membuat naila tertekan dan papi devan tidak seperti ayah abdul yang tak ingin dibantah keputusannya. Kalau papi devan masih mau menerima alasan jika naila menolak sesuatu dari papi devan.
Dinda yang merasa mendapat dukungan dari naila, dia pun membuka suara setelah mengucapkan basmalah.
“dinda menerima perjodohan ini” kata dinda membuat suasana yang tadinya tegang menjadi enjoy kembali dan bunda ara langsung memeluk putrinya dengan erat sedangkan yang lain berterimakasih padanya karena sudah mau menerima keputusan ini.
Saat dinda melihat wajah bahagia dari mereka semua ada perasaan senang juga karena keputusannya tak mengecewakan siapapun tetapi ada perasaan takut kalau nanti hubungannya akan seperti dulu kandas saat ia sedang sayang-sayang nya.
Tetapi sejenak ia membuang semua pikiran itu karena ia tak mau membuat orang kecewa, dinda memang lebih mementingkan perasaan orang lain dibanding perasaannya sendiri.
“yasudah kalau begitu ini sudah malam kami pamit dulu, assalamualaikum” pamit papi hendrik setelah melihat arloji nya
“baiklah, terimakasih telah berkunjung di rumah kami semoga kalian berkenan mampir kembali dan hati-hati dijalan” ujar ayah abdul
“sama-sama dul” kata papi hendrik
“ayo kita pulang” ajak papi hendrik ke mami hasna dan bagas
“mari kami antar sampai depan” ucap bunda ara
“tidak usah ra” tolak halus mami hasna
__ADS_1
“tidak apa-apa hasna” ucap bunda ara
Akhirnya tuan rumah pun mengantarkan tamunya sampai ke perkarangan rumahnya dan setelah acara pamit-pamitan keluarga adhyasta pun pulang dan kini ayah abdul, bunda ara, dinda dan naila kembali ke ruang keluarga.
“ayah berterimakasih sama kamu dinda karena telah menerima keputusan ini. Ayah berharap kamu sudah memikirkan secar matang dan tidak ada rasa keterpaksaan” ujar ayah abdul
“iya yah” sahut dinda
“yasudah sudah malam kamu sama naila tidur sana” tutur bunda ara
Yang dijawab oleh anggukan kepala oleh dnda. Ayah abdul dan bunda ara pun langsung menuju ke kamarnya diikuti oleh dinda dan naila yang menuju ke kamar dinda. Sesampainya di kamar dinda mereka berdua melakukan kegiatan sebelum tidur dan kini mereka sedang bersandar di sandaran kasur.
“dinda” panggil naila, membuat dinda menoleh ke arah sahabatnya itu
“kenapa nai?” tanya dinda
“lo yakin dengan keputusan lo itu?” tanya naila membuat dinda tersenyum
“tapi gimana kalau soal itu terjadi kembali” kata naila
“gw yakin bagas bukan tipe cowo seperti itu” sahut dinda membuat naila sedikit tenang
“udah malam tidur yuk” ajak dinda
“selamat malam best friend forever” seru naila membuat dinda tersenyum dengan ucapannya
“selamat malam best friend forever nya dinda” sahut dinda
Setelah itu mereka berdua pun terlelap ke alam mimpi. Sedangkan dikamar bawah tepatnya kamar ayah abdul dan bunda ara. Bunda ara belum bisa memenjamkan matanya hingga membuat ayah abdul tak nyaman, ia pun segera bertanya kepada bunda ara.
__ADS_1
“bunda kenapa?” tanya ayah abdul sambil membelai rambut istrinya itu
“bunda hanya takut dinda terpaksa yah, ayah kan tau dinda itu anak yang penurut jadi dinda tak ingin mengecewakan kita” ujar bunda ara membuat ayah abdul terdiam dan berfikir hal yang sama
“bunda tenang aja ayah yakin itu tidak benar” ucap ayah abdul membuat bunda ara sedikit menyungginggkan senyuman tipis
“oh ya dinda besok bekerja dirumah sakit zuhairy saja bagaimana bun?” tanya ayah abdul. Walaupun ayah abdul adalah orang yang tegas dan tidak ingin dibantah dengan keputusannya tetapi ia masih sering berunding terlebih dulu terhadap bunda ara apakah keputusannya sudah benar apa belum karena kunci hubungan itu harus saling mendukung satu sama lain.
“yaudah besok kita beritahu dinda” jawab bunda ara
“naila bagaimana bukannya ia mempunyai butik di jogja apakah ia akan bekerja di sini juga?” tanya bunda ara
“ayah tak tau bun tapi kata devan nanti butik naila akan di bukakan cabang disini dan besok naila di suruh ke marveen grup untuk sementara waktu sebelum devan dan baby pulang naila disuruh untuk mempelajari perusahaan marveen grup karena itu akan menjadi harta waris naila” jelas ayah abdul. Sebelumnya ayah abdul dan papi devan sudah membicarakan ini saat mereka baru sampai di bandung.
“oh begitu yasudah” seru bunda ara
“yaudah bunda tidur” kata ayah abdul sambil meletakkan kepala bunda ara di dada bidangnya dan mengecup pucuk kepala bunda ara.
Satu hal yang bisa membuat bunda ara tertidur dengan nyaman hanya diposisi ini. Perempuan mana sih yang gak mau diperlakukan seperti ini oleh kekasih halalnya, kata bunda ara.
Ayah abdul dan bunda ara pun langsung terlelap karena sudah capek dengan perjalanan jogja bandung.
***
Hay guys author balik lagi nih 🙌🙌🙌
Jangan lupa like komen favorit vote dukung terus authornya terimakasih readers.
Jangan lupa mampir ke karyaku yang lainnya “DENDAM YANG SALAH”, “CINTA ANAK MOTOR” dan “DEAR CALON IMAM”.
__ADS_1
.
.