Uang Tambahan

Uang Tambahan
Jangan Sentuh Koper Hijau Ini


__ADS_3

"Coba saja aku menikah. Mungkin aku sudah bisa punya 2 anak. Kesibukanku yang tiada akhir ini benar-benar membuatku lupa usia. Tapi aku masih cukup muda kok. baru kepala 3." batin Yola sambil melihat pemandangan di luar jendela kantornya.


Kesibukan Yola cuma menandatangani proyek proyek besar di bidang properti. Seperti atasan-atasan yang lain, Yola memiliki watak yang baik, tegas dan cukup menakutkan. Marahnya mengalahkan singa yang kelaparan, segala keinginannya harus terlaksana detik itu juga. Ia juga punya watak misterius yang susah diketahui orang lain. Seperti saat ini,


"Wilda, tolong minta OB buatkan bubur ayam spesial, kutunggu dalam 30 menit" Pinta Yola pada Wilda asistennya.


Wilda bergumam dalam hati, "Buat apa bu Yola minta Buryam. Beliau kan ga suka nasi lemes apalagi bubur. jika tidak segera kupenuhi permintaannya bisa langsung dipecat tanpa pesangon aku. "


"Siap Ibu!" Seru Wilda sambil bergegas menghubungi OB.


dalam waktu 30 menit buryan terhidang di atas meja Yola. Semua karyawan di kantor Yola mulai deg-degan karena Yola mulai minta yg aneh-aneh lagi.


Di ruangannya, Yola hanya melihat buryam itu dan menyisihkannya.


"Wilda, panggil Pak tua itu!" Perintah Yola sambil menunjuk ke arah luar jedela yang tertuju pada petugas kebersihan. "5 menit sampai sini!" sambungnya.


Wilda langsung menghubungi satpam dan meminta dengan setengah memaksa Pak tua petugas kebersihan untuk segera ke ruangan bu Yola dalam 5 menit.


Semua karyawan yang bekerja di Yolanda Corp. memiliki gaji yang tinggi. Sekelas OB saja diatas UMR apalagi asisten yang selalu dikejar dateline oleh bosnya, seperti Wilda. Jadi akan berpikir berkali-kali untuk resign dari Yolanda Corp.


Tepat 5 menit Pak tua itu berada di ruang Yola.


"Makanlah ini, Pak" tutur Yola manis.


"Terima kasih, Bu" jawab Pak tua agak gemetar. mungkin karena belum sarapan ditambah ketemu bos besar.


tanpa basa-basi Pak tua langsung menghabiskan buryan yang disuguhkan Yola.

__ADS_1


"Bagaimana menurutmu rasa buburnya, Pak?" tanya Yola sambil memperhatikan Pak tua yang menghabiskan bubur dalam sekejap.


"Rasanya enak sekali, Bu. Mungkin karena dimakan saat sedang sangat lapar, jadi terasa nikmat." Jawab Pak tua sambil membetulkan posisinya.


"Berarti jika dimakan saat sudah kenyang, bubur itu sudah tak enak lagi? begitukah maksudnya?" tanya Yola penasaran.


"Bu bu bukan, Bu. maksud saya buburnya enak. Ditambah saya makan saat lapar, jadi makin nikmat. seandainya dimakan setelah kenyangpun rasanya sama enaknya, Bu." Jawab Pak Tua sedikit ketakutan.


"Jangan takut, Pak. Bapak boleh keluar, dan ini ada uang buat belikan sepeda anak bapak. Maaf waktu saya sangat berharga, dan tidak bisa menjawab pertanyaan yang mungkin akan bapak ajukan. Silakan keluar" Ujar Yola tersenyum sambil memberikan uang 2 juta pada Pak tua.


"Baik, terima kasih, Bu." Ucap Pak tua tersenyum dan bergegas keluar.


Yola memang misterius, dia bahkan bisa mengetahui jika Pak tua butuh uang untuk membelikan sepeda baru anaknya.


"Wilda bereskan mejaku, dan jangan lupa apa?" tanya Yola.


"Jangan sentuh koper hijau ini, ingat ruangan ini memiliki cctv 360°." Sambung Wilda sesuai dengan ucapan yang biasa Yola ucapkan pada asisten maupun karyawan lainnya.


Yola pulang ke rumahnya. Sepi. Ya. karena Yola yatim piatu sejak lahir. Ayah dan ibunya mengalami kecelakaan hebat saat yola usia 9bulan di kandungan. susah payah Yola diselamatkan kerena ibunya sudah sangat kritis. Sementara ayahnya sudah meninggal saat kecelakaan itu. Satu detik yola terlahir ke dunia, detik itu pula ibunya menghembuskan nafas terakhir.


Selama ini Yola tinggal di rumah bersama pembantunya. Ia nyaman bercerita apapun dengan pembantunya itu. Ia seperti memiliki kelebihan bisa menerawang kesedihan² orang lain tapi tidak bisa untuk menerawang dirinya sendiri.


"Bi Tati, Yola pulang! tolong buatkan jus alpukat ya!" pintanya sambil menyalakan TV.


"Beres, Non!" seru bi Tati dari dapur.


Tak lama bi Tati datang dengan pesanan Yola. Yola kemudian meminumnya dan merebahkan kepala di sofa. bi Tati berlalu tanpa sepatah kata.

__ADS_1


"Bi, kemarilah. Ambillah ini untuk berobat Nita." Pinta Yola dengan senyum sambil mengulurkan uang 5juta. ya Yola hanya memberikan 5juta karena operasi Nita tidak akan dipotong biaya karena BPJS yang diberikan Yola. "Kalau kurang bilang saja, Bi. Jangan sungkan. Semoga Nita cepat sembuh." Sambung Yola.


Bi Tati yang sudah mengenal Yola langsung mengambil uang dan berterima kasih lalu segera berlalu. karena jika tidak dituruti, Yola bisa marah dan mogok makan berhari-hari.


Yola lalu mengambil hp dan menghubungi Danu yang mengurus proyek apartemen di Kalimantan.


"Hey, Danu! Lama sekali kamu angkat telponku? Ha? apa kamu sudah bosan bekerja denganku?" Seru Yola


"Maaf bu maaf, saya tadi lagi mengurus kuli yang terjatuh dari lantai 5, Bu" Jawab Danu pura-pura. karena sebenernya dia malas menjawab telpon bosnya.


"Ada apa ini? Kenapa aku selalu merasa kalau Danu tidak pernah jujur menjawab pertanyaanku. Dan lagi, kenapa aku merasa tidak ada kuli yang terluka ya? apakah aku akan mulai normal seperti manusia biasa?" gumam Yola.


"Segera bawa ke dokter, jangan sampai lukanya lebih parah. aku akan menelponmu lagi nanti!" ujar Yola lalu mematikan HP nya.


Danu memang licik dan suka memanfaatkan situasi semenjak menjadi salah satu orang kepercayaan Yola. Yola memiliki banyak Orang kepercayaan sesuai jumlah proyeknya. Ia memilih orang kepercayaan sesuai dengan kinerjanya. Tapi sepertinya kali ini malah ia dimanfaatkan Danu.


Yola kembali ke kantornya karena merasa pikirannya kacau setelah menelpon Danu. Ia merasa ada masalah besar dalam proyeknya. Tapi Danu hanya mengatakan kalau ada kuli bangunan yang terluka. Anehnya ia merasa tenang kembali setelah membuka isi koper warna hijau di ruangannya, hingga dirinya tertidur.


***


Di Rumah sakit Nita berjuang di meja operasi untuk kesembuhan kakinya paska kecelakaan tiga bulan yang lalu. Bi Tati khawatir dengan keponakan sekaligus keluarga satu-satunya yang dimilikinya. Selama ini bi Tati merawat Nita dan Yola tanpa pandang bulu. Nita 2 tahun lebih tua dari Yola. Tapi mereka sekolah dengan tingkatan yang sama. Jadi Nita sudah seperti sahabat karib Yola.


Paska kecelakaan itu Nita merasa lebih baik dan berusaha menahan rasa sakit yang dideritanya. Dan satu bulan terakhir Nita mulai merasa sedikit-sedikit kesakitan tanpa diketahui siapapun. Puncaknya tiga hari yang lalu ia ditemukan pingsan oleh bi Tati di dapur.


Bi Tati menggenggam kertas titipan Nita untuk diberikan pada Yola setelah operasinya selesai. Tak henti-henti bi Tati berdoa untuk kesembuhan Nita. Karena dokter mengatakan luka yg di derita Nita ini cukup parah karena infeksi mengenai sistem syaraf.


Di kantor Yola terbangun dan menangis tersedu-sedu tanpa tau penyebabnya. Bahkan ia takbisa menghentikan tangisnya. "Ada apa denganku? kenapa aku takbisa menerawang sesuatu untuk diriku sendiri? Kenapa, Tuhan?" Isak Yola sambil memukul-mukul sofa kantornya.

__ADS_1


Operasi Nita selesai, dokterpun keluar.


"Maaf, Bu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkata lain" tutur dokter dan berlalu meninggalkan bi Tati.


__ADS_2