
Melihat Yola yang terjatuh di lantai membuat Tio bergegas menyelesaikan masakannya, mematikan kompor dan segera menuju ke arah Yola.
Yola tersadar sebelum Tio mendekatinya. Tapi Yola berniat pura-pura pingsan karena ia bingung apa yang akan dibicarakan nanti dengan Tio setelah ia tersadar.
"Duh, Tio mendekat!" batin Yola pura-pura pingsan.
"Ya Allah Bu Yola, Bismillah." Lirih Tio mengangkat tubuh Yola.
Yola kagum dengan Tio. Disaat dirinya lemah dalam agama, ada Tio yang sepertinya Islamnya kuat. Yola diam-diam curi pandang melihat Tio yang terlihat sangat manis meskipun ia memang sangat lelah.
Tio lalu membaringkan Yola di kasurnya. Ia lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Yola yang berpura-pura pingsan hanya bisa melihat punggung Tio yang masih mengenakan hem putihnya.
Yola masih memikirkan apa yang akan dilakukannya setelah ini. Yola merasa sangat pusing dan akhirnya ia memilih tidur sejenak.
Selesai mandi, Tio mengenakan kaos oblong dan celana panjang dan langsunh menuju ke dapur. Ia membagi nasi gorengnya ke dalam dua piring dan membuat coklat panas untuk Yola. Tak lupa ia suguhkan pula buah naga yang ia potong balok agar bisa menjadi appatizer Yola. Tio juga membuat Lemon tea untuk dirinya sendiri. Ia menata di atas nampan agar bisa dibawa sekali jalan.
Yola terbangun saat Tio memasuki kamarnya.
"Bu Yola, gimana kondisinya sekarang? anda pasti laper dan lelah. Makanlah dulu nanti saya jelaskan mengenai pakaian yang anda kenakan. Tenang saja, bukan saya yang memakaikannya." Kata Tio sambil menyodorkan makanan Yola di atas meja.
"Terima kasih untuk semuanya ya, Tio." ujar Yola lalu mengambil sepotong buah yang dihidangkan menggunakan garpu kecil.
Mereka makan tanpa sepatah kata. Karena keduanya memang sangat lelah dan lapar.
"Ini kamu yang memasaknya?" Tanya Yola penasaran, karena ia biasa wing food kalau ingin memakan nasi goreng seperti yang dihidangkan Tio. "Enak sekali aku suka." Sambungnya sambil menikmati kunyahan suapan terakhirnya dan memegang secangkir coklat hangat.
__ADS_1
"Iya, Bu. Alhamdulillah kalau bu Yola suka. Saya terbiasa masak sendiri kalau malam." ucap Tio yang melanjutkan makan.
Setelah selesai makan, Tio membereskan bekas makanan mereka dan menaruhnya lagi ke dapur. Ia berniat mencuci bekas makannya besok pagi. Tio lalu bergegas menuju kamar Yola menepati janjinya untuk menceritakan apa yang terjadi pada Yola.
Tio lalu masuk ke kamar yamg ditempati Yola.
"Tio duduklah, kau mungkin capek, biar nanti aku yang bebenah bekas makanan kita tadi. Kamu kan udah repot-repot masak, biar aku yang repot-repot bebenah nanti." Kata Yola menyambut kedatangan Tio.
"Kerja sama yang bagus, terima kasih, Bu" jawab Tio sambil tertawa kecil. "tidak usah, bu. Biar saya saja nanti yang bebenah. Yang penting bu Yola sehat dulu." sambungnya.
"Oiya, ini ada vitamin untuk bu Yola." ucap Tio memberikan tablet vitamin Yola dari dokter Fani.
"Terima kasih banyak ya, Tio."
"Iya, sama-sama. Oiya saya kesini mau menepati janji menjelaskan kondisi bu Yola tadi. Nanti bu Yola tetap tidur disini saja. Saya akan tidur di depan TV nanti. Kalau ada apa-apa bu Yola bisa panggil saya." jelas Tio.
"Ketika anda saya baringkan di kasur ini saya baru sadar pakaian bu Yola basah. Beruntung di lantai sepuluh ada dokter perempuan kenalan saya. Jadi saya menghubunginya dan meminta dibawakan pakaian dan attibut kewanitaan untuk anda. Lalu dia yang membantu menggantikan pakaian bu Yola dan menjelaskan kondisi bu Yola baik-baik saja hanya lemas karena belum makan dan keguyur hujan. InsyaAllah anda tidak apa-apa jadi saya hanya diberi vitamin saja untuk anda." Jelas Tio detail.
Yola yang mendengar penjelasan Tio bernafas lega dan sedikit cemburu. Ia berfikir kalau dokter perempuan itu kekasih Tio. Karena semudah itu dokter perempuan itu menjalankan perintah Tio. Yola sedikit frustasi dan teringat Nita.
"Sepertinya aku tidak berjodoh dengan Tio, Nit" Batin Yola untuk Nita.
"Sekali lagi terima kasih ya Tio. Kau sepertinya sangat lelah. Istirahatlah." ucap Yola sekenanya.
Tio berlalu meninggalkan Yola tanpa sepatah kata. Tio berjalan menuju ruang TV.
__ADS_1
"Tadi kita ngobrol begitu hangat, lalau setelah kujelaskan kenapa seperti agak dingin? Apa dia berharap aku yang menggantikan pakaiannya? Ya Allah itu tidak mungkin karena kita bukan mahrom." gumam Tio sambil cengar-cengir geli.
Di dalam kamarnya, Yola merasa kesal, "kenapa aku lupa menanyakan tentang nama panjang Tio Prasetyo Wirawan. Apakah dia cucunya pak Wirawan yang dimaksud kakek? atau justru Danu yang cucunya? atau bahkan keduanya? Ah pusing! Lebih baik aku tidur. Besuk akan kutanyakan padanya tentang nama panjangnya itu. apakah dia bersaudara dengan Danu atau bukan." ucapnya sambil membanamkan diri ke dalam selimut.
"Jika memang mereka bersaudara, sungguh mereka bagaikan langit dan bumi. Tio yang terkesan Islami sedangkan Danu pembunuh." bisik Yola di dalam selimut sambil menikmati aroma selimut Tio yang fresh.
"Dari segi apapun juga mendingan Tio lah daripada Danu. Kenapa kau malah mencintai Danu, Nit? Danu cuma menang putih doang." Lirih Yola untuk Nita.
Tak lama Yola tertidur, sama seperti Tio, mereka pulas karena memang hari ini melelahkan bagi keduanya.
Karena kegundahan hati Yola hari ini, Yola bermimpi ditemui kakek tua di taman yang mengaku sebagai kakeknya, Roy Mahendra.
Ia meminta maaf pada Yola dan memeluknya. Karena kesalahannya justru cucu satu-satunya yang harus bertanggung jawab.
Yola diam seribu bahasa dan meninggalkan kakeknya begitu saja. Lalu ia terbangun dari tidurnya.
"Ya Tuhan, aku cuma mimpi. Kakek keterlaluan!" ketus Yola sambil mengalirkan air mata.
Ia lalu terbangun untuk menepati janjinya pada Tio. Ia akan mencuci bekas makanannya tadi.
Ketika ia berada di depan ruang TV ia terkaget melihat Tio yang sudah bangun dan melaksanakan sholat.
"Keren banget pria ini. aku bahkan tadi tidak menunaikan sholat wajib, dan ini apa? Tio bahkan melaksanakan sholat sunnah tengah malam. Pasti dia ahli ibadah. Syukurlah Nita tidak salah memilih Tio sebagai orang kepercayaannya di Banten." gumam Yola mematung kagum pada Tio.
setelah beberapa jenak ia mematung, ia memutuskan untuk ke washtafle untuk mecuci piring. Namun tidak ditemukan piring kotor. Bahkan dapur dan sekitarnya sudah bersih dan rapi. Hanya tersisa sebuah rice cooker yang sedang kondisi Cook.
__ADS_1
"Tuhan, sisakan lelalki seperti Tio ini satu untukku. aku ingin belajar dengannya." Batin Yola bersemangat.