Uang Tambahan

Uang Tambahan
Tio Prasetyo Wirawan


__ADS_3

Rintik gerimis mengundang. Namun Yola tetap pada lamunannya. Sepanjang jalan ia hanya berjalan sambil melamun. Sampai sebuah Taman Kartika, Ia tersadar bahwa saat ini hujan.


Hampir kuyup Yola berlari menuju harte di depan taman. Sekadar menghangatkan badan hingga terlihat menunggu angkutan. Padahal Yola tak ingin pulang. Tanpa menghiraukan yang lain, Yola hanya menyendiri di bangku tunggu.


Setiap ada bus yang menawari tumpangan ia tolak dengan ringan dan senyum manisnya. Gadis yang memang hampir sempurna itu memang ramah kepada siapapun.


Kekurangan Yola cuma satu, Ia belum bisa seperti umat muslim yang taat seperti pada umumnya, karena memang tidak belajar agama kecuali di sekolah saja. Ia hanya ibadah yang ia bisa saja.


Yola masih termenung hingga waktu menunjukkan pukul 21.30 WIB.


"Apa kau yakin tidak akan ikut naik? Ini angkutan terakhir di halte ini semenjak PPKM." Ucap seorang lelaki tinggi besar, hidung mancung, kulit sawo matang, dan memakai setelan jas yang tampak sopan, dengan senyum yang terlihat manis dan tampak ikhlas.


Yola terdiam beberapa jenak dan akhirnya berniat ikut menaiki angkutan umum itu.


"Kenapa aku ikut naik? Kan aku bisa telpon sopir. Ya ampun apa aku terhipnotis dengan ketampanan pria yang sepertinya seumuran denganku ini?" Batin Yola sambil senyam senyum tak jelas.


Yola terdiam dan berpikir akan turun dimana ia nanti? Sepertinya angkutan ini tidak mengarah ke rumahnya.


"Ah terserah lah, nanti biar kuhubungi sopir pribadiku." gumam Yola.


"Emm, kamu mau kemana Mba?" Tanya lelaki yang tadi sehalte dengan Yola.


"Saya sebenrnya mau ke cari bus yang ke arah Jakarta. Tapi sepertinya ini mau ke arah Tangerang ya?" Jawab Yola malu-malu.


"Kenalkan, saya Tio." Sapa Tio sambil menelungkupkan tanyan ke dada efek Corona yang harus menghindari kontak langsung dan menjaga jarak.


"Tio? Jangan-jangan ini Tio yang dimaksud Nita? Nitaaaa ia benar-benar tampan dan keren. aku akan memastikannya." Batin Yola kagum.


"Saya Yola." Jawab Yola singkat sambil menulungkupkan tangan pula sama seperti Tio.


"Yola??" Sahut Tio penasaran. "MasyaAllah kebetulan sekali, saya punya atasan bernama Yola. Tapi saya belum pernah bertemu dengan beliau." sambungnya.


"Benarkah? Seperti apa karakter atasnmu itu?" atanya Yola penasaran dan merasa ini benar Tio yang dimaksud Nita.

__ADS_1


"Saya kurang paham, Karena saya hanya berinteraksi dengan saudaranya yang kebetulan bertanggung jawab atas pekerjaan saya." jawab Tio sekenanya. Ia tak mau Keluar dari kerjaannya hanya karena membicarakan atasannya.


"Memangnya kamu kerja di mana?" Tanya Yola yang semakin penasaran.


"Yolanda Corp. Itu perusahan properti besar yang tadinya bernama Mahendra Corp." Jawab Tio detil.


"Kamu Tio sebagai orang kepercayaan Nita proyek proprti di Banten bukan?" Tanya Yola memastikan.


"Iya, kok anda bisa tau?" tanya Tio penasaran.


"Apa anda Yola, bos kami?" tanya Tio kembali.


"Ia Nita saudaraku yang pernah bercerita tentang kamu. Nita sekarang sudah tiada. Jadi sudah tidak ada cerita dari karyawan-karyawannya." Jelas Yola dan kembali sedih mengingat Nita.


"Iya, Bu. Saya turut berduka cita atas meninggalnya bu Nita. Beliau orang yang baik selama saya kenal. InsyaaAllah beliau masuk surga husnul khotimah." ucap Tio merendah.


"Aamiin" sahut Yola. "Panggil saja saya Yola. sepertinya kita seumuran. Kalau dipanggil 'ibu' sepertinya aku tampak lebih tua darimu" sambungnya.


"Maaf bu, eh Yola. saya tidak bermaksud begitu. Hanya ingin menghormati atasanku saja." Balas Tio singkat.


"Maaf, Yola. Nanti kamu turun di mana? Atau kamu hubungi keluarga terdekat saja jika kamu salah angkutan?" Tanya Tio khawatir.


"Aku sejak lahir yatim piatu, dan keluargaku cuma Nita. Kau tau kan sekarang ia tiada." jawab Yola ringan.


"Baiklah nanti akan saya bantu mencari hotel terdekat ya, supaya kamu bisa istirahat." gumam Tio lirih


Namun gumaman Tio terdengar oleh Yola.


"Tak usah repot-repot. Kau kan capek seharian bolak balik Banten-Jakarta." Ceplos Yola yang bisa menerawang kondisi Tio.


"Bagaimana Yola tau? Ya pasti tau lah. Beliau kan bosku" batin Tio.


"Tak apa, biar ku bantu. Aku khawatir jika nanti terjadi sesuatu dengan bosku." ujar Tio sambil melihat jamnya. "Banten ini wilayah yang cukup keras. Banyak jegal dan pencopetan juga" sambungnya sedikit menakuti Yola.

__ADS_1


Yola yang tadinya berpikir akan aman dimanapun ia berada, mulai merasa sedikit panik dengan ucapan Tio dan akhirnya ia memutuskan untuk menerima bantuan Tio.


"Baiklah carikan aku hotel terdekat ya, dan pastikan aku dalam kondisi baik-baik saja selama di Banten." ucap Yola yang akhirnya menerima bantuan Tio.


Bis berjalan hingga sampai tujuan akhir. Tio lalu memesan taksi online dan mengajak Yola untuk mengikuti langkahnya.


Taksi onlinepun tiba, mereka segera menaikinya. Tujuan mereka tertuju pada hotel yang terletak di seberang apartemen Tio.


"Sebenarnya di seberang situ apartemenku, Bu, eh Yola." ucap Tio sambil menunjuk apartemen yang dimaksud.


"Lebih baik saya panggil anda 'bu' karena hanya ini mungkin yang bisa saya lakukan untuk menghormati anda sebagai atasan saya." sambung Tio dengan senyum ramahnya.


"Baiklah terserah kamu saja." Jawab Yola singkat karena ia sudah merasa sangat lelah dan badannya sedikit menggigil.


"Apa anda sakit, bu?" Tanya Tio yang khawatir karena Yola terlihat lemah dan hampir ambruk.


Yola pingsan dan langsung ditangkap Tio. Dengan kondisi seperti ini Tio lebih merasa tidak enak lagi jika Yola harus bermalam di hotel sendirian. Terpaksa ia membawa Yola ke apartemennya. Supaya ia bisa memastikan kondisi Yola nantinya.


Tio lalu menaiki taksi yang masih ada didepannya untuk membawanya ke seberang.


Tio lalu membawa Yola ke lantai 20 untuk menuju apartemennya. Ia juga menghubungi rekan dokternya untuk dimintai saran pertolongan pertama sesuai kondisi Yola.


Sesampainya di apartemen Tio langsung membawa Yola ke kasurnya. Ia berniat tidur di sofa yang terletak di depan TV suapaya Yola tidak berfikir yang tidak tidak saat ia tersadar.


Tio yang menyadari baju Yola basah, akhirnya meminta bantuan temannya Fani yang berprofesi sebagai dokter itu untuk menuju ke lantai 20 karena mereka berada di apartemen yang sama, hanya saja dokter Fani berada di lantai 10.


Dokter Fani lalu memeriksa Yola sekaligus mengganti baju Yola dengan baju yang ia bawa.


"Bosmu sepertinya kehujanan dan belum makan, itu yang membuatnya lemas hingga pingsan. Kau belilah makanan. Dan berikan vitamin ininsetelah ia makan." Perintah Fani. "Kau pasti sangat mencintainya. Ia cantik. cocok untukmu." Ucap Fani lalu berlalu karena sedikit cemburu.


Fani memang mencintai Tio. Tapi ia menepis rasa itu karena mereka beda suku yang sangat bertentangan.


Yola yang merasa sadar lalu membuka mata dan melihat sekeliling. Ia bahkan kaget pakaiannya berubah. Ia lalu bangkit dan menuju ke arah aroma makanan. Ia melihat Tio memasak. Yola kaget. Apakah Tio yang menggantikan bajunya? iapun tersandung dan menjatuhkan id card yang tertulis TIO PRASETYO WIRAWAN

__ADS_1


"Wirawan???" Deg. Yola pingsan kembali.


__ADS_2