Uang Tambahan

Uang Tambahan
Apa Aku Sedang Jatuh Cinta?


__ADS_3

Tio menceritakan keluarganya kepada Yola. Yola jadi merasa bersalah telah membuat keluarga pak Wirawan bangkrut. Tanpa disadari waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 pertanda waktunkerja karyawan telah usai dan mereka bersiap-siap. Begitu pula Tio yang berpamitan pada Yola.


"Bu, saya pamit ya, terima kasih untuk jamuannya, dan maafkan saya banyak membuat masalah sehatian ini." Pamit tio.


"Oh iya sebaiknya kau pulang, supaya nanti tidak terlalu malam sampai apartemen. Nanti kalau saya ke Banten bisa mampir lagi kan?" Tanya Yola.


"InsyaAllah boleh, Bu" Jawab Tio ragu. Karena memang jarang bahkan tidak pernah menemui tamu wanita di apartemennya, keculi Yola yang kemarin tidak sadarkan diri.


"Tio, jangan terlalu serius. Oiya panggil aku Yola saja ya, kita seumuran kok." ucap Yola. "Ini nomerku, simpanlah. Jangan lupa dihubungi ya, jangan dianggurin. Semoga kita diberi kesempatan untuk bertemu kembali." Sambung Yola memberikan nomor hp yang sedang menyembunyikan kesedihan karena akan berpisah dengan Tio.


"Siap, Bu. " Sahut Tio. "Eh Yola maksudnya." Sambung Tio.


Setelah menyimpan nomor Tio langsung menelpon Yola memastikan nomornya, dan ya, hp Yola berbunyi. Keduanya tersenyum lalu berpisah.


Semua karyawan termasuk Yola satu per satu mulai meninggalkan kantor.


Yola memasukkan amplop merah muda dari kakeknya untuk dibacanya nanti di rumah. Karena ia belum selesai membaca isinya secara keseluruhan.


Tanpa basa-basi Yola lalu meminta sopir pribadi yang selalu standby di kantor untuk segera melaju menuju rumahnya.


Di tengah perjalanan Yola melihat Tio bertemu dengan Danu di taman. Yola lalu meminta sopirnya berhenti.


Dari kejauhan Yola melihat Danu marah besar pada Tio. Seakan Tio melakukan kesalahan tapi Yola tidak bisa menerkanya. Tapi di situ Yola melihat Tio tampak sabar menghadapi abangnya dan berusaha memeluk abangnya meski ditolak. Yola merasa tiba-tina pusing. Lalu ia meminta sopirnya untuk segera pulang.


Sampai di rumah bi Tati menanyakan keadaan Yola. Kenapa ia tidak pulang seharian tanpa kabar. Tak seperti biasanya jika memang tak pulang selalu mengabari bi Tati yang sudah ia anggap sebagai keluargnya.


Yola memeluk bi Tati untuk meminta maaf dan minta dihidangkan jus buah naga dan brownie kesukaan Yola.


Bi Tati lalu menuruti keinginan majikannya dengan senang hati.

__ADS_1


Yola memilih untuk langsung ke kamar. Ia langsung mandi dan membuka hp berharap ada kabar dari Tio. Ternyata nihil. Tapi kehadiran Tio membuatnya seakan mendapatkan hidayah. Ia mulai semangat untuk membuka menu browser di hpnya dan mencari tahu tentang tata cara wudhu dan sholat.


Selama ini Yola memang kurang dalam hal agama, karena bi Tati juga tidak pernah mengajak Yola sholat apalagi membaca Al-Qur'an. Sama sekali tidak pernah. Karena bi Tati memang tidak menganggap Yola kekurangan ilmu, serta tidak mau terkesan menggurui majikannya. Selama ini cuma doa yang dilantunkan pada anak majikannya itu semoga bisa ibadah dengan benar, syukur bisa menjalankan sunnah juga.


Bi Tati datang dengan membawa pesanan Yola. Ia terkejut melihat Yola yang melakukan gerakan-gerakan sambil mencoba membaca beberapa doa yang bi Tati jelas menghafal doa tersebut.


"MasyaAllah non Yola sedang belajar doa wudhu dan shola?" Tanya bi Tati terkejut.


"Eem iya Bi." Jawab Yola tersenyim malu.


"Bibi bisa mengajarkan, Non. InsyaAllah lebih mudah." ujar bi Tati sambil meletakkan makanan dan minuman Yola di meja samping tempat tidur Yola.


"Serius, Bi? Aku mau aku mau." Jawab Yola kegirangan.


"Tapi sebelumnya, coba ceritakan pada bibi, kapan non Yola mendapat hidayah untuk belajar wudhu dan sholat?" Tanya bi Tati penasaran.


"Ah bibi ini kepo deh." jawab Yola acuh sambil senyum-senyum tak jelas.


Bi Tati menjelaskan detail pada Yola sehingga Yola mudah memahami dan menghafalnya.


Setiap saat Yola membolak-balik hp yang masih tampak diam tanpa ada yang menghubungi. Mengetahui tingkah konyolnya itu bi Tati memberanikan diri bertanya.


"Non Yola menunggu telpon dari siapa? Apa ini ada hubungannya dengan non Yola yang ingin bisa menunaikan sholat?" Tanya bi Tati penasaran.


"Iya" sahut Yola keceplosan.


"Sepertinya bibi Tau perasaan non Yola. Apa non Yola sedang jatuh cinta?" Tanya bi Tati melempar senyum kepada Yola.


"Benar kata bi Tati. Apa aku sedang jatuh cinta." Batin Yola.

__ADS_1


Bi Tati lalu mengingatkan Yola kalau beberapa menit lagi adzan maghrib. Karena Yola belum punya mukena, maka ia meminjamkan mukena yang sedikit lebih bagus untuk dipakai Yola. Bi Tati lalu berlalu untuk membawakan mukena dan sholat berjamaah.


Usai sholat Yola membuka hp lagi berharap ada kabar dari Tio. Ternyata masih Nihil.


"Non, saya pamit ya, mau baca Al-Qur'an dulu. Besuk-besuk kalau luang, InsyaAllah bibi ajarkan lagi. Atau non Yola kursus dengan guru ngaji, biar lebih afdhol." Ucap bi Tati lalu meninggalkan kamar majikannya.


Ucapan bi Tati membuat Yola berpikir sejenak. "Apa aku minta Tio mengajarkanku membaca Al-Qur'an ya? Siapa tau aku lebih mudah membacanya jika Tio yang jadi guruku" Lirih Yola sambil membayangkan suasana kursusnya bersama Tio.


Tak lama Yola beranjak dan memutuskan untuk membeli perlengkapan ibadanya besok.


Tak ada kabar dari Tio, Yola lalu membuka amplop merah muda kakeknya berniat melanjutkan membaca isinya.


Ayah lalu mengadzanimu lalu menaruhmu di ruang rawat karena perlu diobservasi dan penanganan medis.


Melihat perjuangan ibumu, perjuangan ayah serasa tak ada harganya untuk menafqahi kalian.


Sejak kamu lahir, kami belajar menjadi orang tua dan itu tidak mudah, Nak.


Disaat kami hendak makan kamu menangis, disaat kami sedang pulas tertidur justru kamu menangus kencang tanpa kita ketahui penyebabnya.


Ayah benar-benar menjadi seorang suami saat sadar kodrat wanita hanyalah empat. Menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui. Karena selain empat hal. itu, ternyata Ayah juga bisa membantu kerjaan ibumu. Sungguh itu bukan sesuatu yang menjatuhkan harga diri untuk membantu pekerjaan istri. Justru dengan membantu menyelesaikan pekerjaan istrilah ayah terlihat seperti suami sekaligus ayah sejati.


Karena kita sama-sama lelaki, maka ayah tulis surat ini untukmu nanti. Karena istri harus selalu kita hargai.


Ayahmu yang masih belajar untuk menjadi suami sejati, Roy Mahendra.


"Kakekku luar biasa. MasyaAllah." ucap Yola kagum pada kepribadian kakeknya.


Yola berniat untuk menjadi wanita yang lebih islami. Ia ingin mulai mengganti beberapa kata yang biasa ia ucapkan. Astaga menjadi Astaghfirullah, Nanti menjadi InsyaAllah, Wah menjadi MasyaAllah, ataupun Subhanallah, Tuhan menjadi Allah, dan sebagainya.

__ADS_1


Ia merasa tidak terlambat untuk memulai. Karena hidayah Allah tidak dimetahui kapan waktunya. Yang jelas ia memang butuh belajar dan butuh pendamping untuk belajar.


__ADS_2