Uang Tambahan

Uang Tambahan
Membuka Amplop Merah Muda


__ADS_3

Yola menikmati pemandangan dapur yang rapi. Ia munder beberapa langkah untuk melihat lebih luas dan berniat meninggalkan dapur. Tanpa disadari Tio sudah berada tepat di belakang Yola. Karena usai sholat, ia melihat bayangan wanita di dapur. Ia ingin memastikan wanita itu baik-baik saja. karena tidak ada wanita lain selain bosnya di apartemen itu.


"Aduh, eh maaf Tio. Kau mengagetkanku saja." Yola terperanjat lidahnya kelu.


"Maaf, tapi kenapa anda di sini?" Tanya Tio. "Bagaimana kondisi anda sekarang?" Tanya Tio lagi.


"Alhamdulillah sudah mendingan. Eh bukan. Aku sudah sehat. Aku kesini karena mau menepati janji untuk mencuci piring bekas kita makan semalam." Terang Yola.


"Ah, kenapa anda khawatir? saya kan bawahan anda, dengan sigap akan saya kerjakan tanpa anda menyuruh saya, Bu." Canda Tio.


Mereka berjalan menuju ruang tengah.


"EmmmTio, boleh aku minta tolong lagi? sekali lagi maaf ya banyak merepotkanmu, tenang saja nanti akan kuberi kau bonus besar." Pinta Yola sambil menelungkupkan tangan penuh ikhlas memohon.


"Apa yang bisa saya bantu, Bu?" Tanya Tio penasaran.


"Belikan aku jas baru seukuran jasku yang kemarin basah dan kotor. setidaknya aku terlihat rapi dengan Jas meskipun aku memakai kaos oblong wanita ini dan celana bahan ini." Jawab Yola sambil mencubit kaos dan celana yang ia pakai saat ini.


"Oh ok baiklah. Nanti sebelum ke kantor sekalian jalan ya bu. Mobil saya nanti juga akan diantar montir kemari. Jadi anda bisa memilihnya sendiri nanti." Jelas Tio sambil merapikan sajadah dan pecinya.


Yola lalu duduk di depan TV, Tak lama hp Tio berbunyi tune adzan subuh.


"Maaf bu, bu Yola Islam?" Tanya Tio dengan nada lirih.


"Iya Tio, tapi saya sedang haid." Jawab Yola berbohong. Karena ia jarang menunaikan sholat wajib apalagi sunnah. Ia juga bingung akan sholat pakai apa, sementara dirinya tak menemukan mukena di apartemen seorang lelaki.


"Baiklah saya sholat dulu, bu Yola silahkan bersih bersih dulu. Abis itu kita sarapan dan berangkat." ucap Tio meninggalkan Yola untuk menunaikan sholat subuh.


Sementata Yola mandi, lalu Tio lalu bergegas ke dapur untuk mempersiapkan sarapan mereka. Dua sandwich dan dua coklat panas.

__ADS_1


Tio memang sudah mandi selepas bangun tidur sebelum ia melaksanakan sholat tahajud.


Tak lama Tio menerima tamu yang tak lain adalah montir yang mengantar mobilnya.


Mereka lalu menikmati sarapan. Lalu bergegas ke mobil menuju ke arah mall terdekat untuk membeli jas Yola.


Yola pamit pada Tio untuk membeli keperluannya. Dalam waktu 30 menit kebutuhannya terpenuhi. Lalu Tio mengantar Yola menuju kantornya. Ini kali pertama Tio menuju ke kantor Pusat Yolanda Corp.


Di dalam mobil hanya ada keheningan, karena Yola tertidur. Sementara tio mengendarai dengan semangat.


Setelah satu setengah jam perjalanan.


"Bu, maaf ini kita lurus atau belok ya?" Tanya Tio membangunkan Yola.


"Ini belok kiri lalu lurus lima ratus meter." Jerlas Yola sambil tangannya mengarahkan.


"Biar sehari ini dia kerja di pusat. Nanti sore baru pulang ke Banten Tio. biar kamu tidak capek." Batin Yola tersenyum.


"Apa kamu sudah pernah ke sini sebelumnya?" Tanya Yola penasaran. Karena Yola baru pertama kali melihat Tio kemarin saat tidak sengaja bertemu di halte.


"Belum, Bu. Ini kali pertama saya kesini. Sebetulnya kemarin saya sempat bolak-balik Jakarta Banten. Cuman staffnya minta ketemunya di Cafe. bukan di kantor pusat. Itu juga karena saya dari Jauh, niatnya biar bisa sambil menikmati makanan. Alhamdulillah akhirnya ke sini juga." Terang Tio sedetail-detailnya.


Yola lalu mengajak Tio menuju ke ruangannya. Karena ini memang kali pertama Tio ke kantor Yola, jadi semua mata karyawan tertuju pada Tio. Sifat Yola yang ramah pada semua karyawan membuat karyawan banyak yang berdehem bahkan ada yang ber "cie-cie" ria.


"Hey, sudah sudah... apa kalian ga bisa fokus kerja aja? suka jelalatan ya kalau ada lelaki tampan?" Tanggapan Yola atas deheman dan ciat-ciut karyawannya.


Tio tampak memerah ketika dikatai tampan oleh bosnya.


Tio berpura-pura acuh pada karyawan dan hanya melempar senyum ramahnya.

__ADS_1


"Tio duduklah di sofa itu. Aku mau menanyakan sesuatu nanti. Tunggulah di situ." kata Yola sambil menunjuk sofa di ruangannya.


Yola pura-pura menyibukkan diri supaya Tio bisa beristirahat.


Benar dugaan Yola. Tio akan tertidur karena pasti lelah untuk dua hari ini.


Yola lalu menghentikan kepura-puraannya dan menata posisi Tio agar bisa istirahat lebih nyaman.


"Sepertinya Tio sangat pulas. Ia mendengkur tipis yang masih bisa kudengar. Tio kau manis sekali." Batin Yola lalu pergi ke arah mejanya.


"Kakek, aku sangat berbunga-bunga jika harus menikah dengan Tio Prasetyo Wirawan. Tapi aku akan berduka jika menikah dengan Danu Wirawan" Batin Yola menikmati pemandangan tampan yang tertidur di sofanya.


Yola lalu berniat untuk membuka koper hijaunya kembali.


"Karena aku sangat berbahagia hari ini, aku akan membuka amplop merah muda milik kakek." Batin Yola yang terlihat senang dan tertawa kecil.


Yola mengambil amplop tersebut dan menaruhnya di atas meja. Sementara ia meletakkan kembali koper hijau itu pada tempatnya. Lalu ia menuju ke ruangan Wilda untuk memesan makan siang dan berbagai cemilan. Wilda mengangguk tanda setuju. Yola pun kembali ke ruangannya.


Karena Yola dan Tio tak kunjung keluar dari ruangan meskipun waktu istirahat tiba, maka muncullah rumor lokal bahwa Tio adalah kekasih Yola.


"Akhirnya Ya" "Iya" "Bu Yola berniat maengakhiri masa singlenya di usia 33 tahun" "Hey kau jangan berisik nanti bu Yola marah jika tau kita menyebarkan rumor tidak benar tentangnya" "tapi sepertinya bu Yola tadi terlihat bahagia mengajak tamunya ke ruangannya" "iya iya, benar benar" "bahkan wilda asistennya juga tampak seperti meng iyakan pertanyaan kita" "Yey, sepertinya kita akan makan besar kalau bu Yola nikah dalam waktu dekat"


Yola membuka pintu dan tak jadi keluar karena merasa sedang jadi perbincangan para karyawannya. Bukannya kesal, tapi ia malah bahagia. Seakan mendapat doa bahwa Yola akan berjodoh dengan Tio.


Wilda lalu datang membawa pesanan Yola. Yola berpura-pura sibuk sedangkan Tio masih terlihat terlelap dengan wajah tampannya.


Yola meminta Wilda agar tidak berisik "Sshut!" katanya sambil memberi tanda telunjuk di bibirnya agar tidak meninggalkan suara.


"Sepertinya bu Yola sangat mencintai kekasihnya ini. Tapi aku setuju sih, cocok dengan bu Yola." Batin Wilda sambil meletakkan berbagai macam pesanan Yola di meja, dan berlalu meninggalkan Yola dan Tio.

__ADS_1


__ADS_2