
Amplop hitam itu seperti belum pernah dibuka Ayah Yola. tampilannya masih rapi dan berlapis plastik tebal di setiap amplop. Sebenarnya Yola malas untuk mencari tau masa lalu, karena ia tipe wanita yang duka menatap masa depan.
Biasanya setiap hari ulang tahunnya sekaligus peringatan hari kematian ayah dan ibunya, Yola hanya membuka koper sebentar menyamppakkan rindu yang membelenggu pada orang tuanya, lalu menutup koper hijau itu.
Seakan membuncah rasa penasaran Yola pada kelima amplop kakeknya, Ia mantap untuk membuka yang hitam terlebih dahulu, dan berniat akan membuka yang lain di lain kesempatan.
Perlahan tapi pasti, Yola membuka amplop hitam tersebut. Ia kagung dengan tulisan kakeknya yang rapi.
Deg, Yola tersentak membaca kalimat awal di amplop itu.
Surya Mahendra anakku, Kamu harus tau bahwa ayahmu ini seorang pencuri yang hebat.
"Apa maksud semua ini? Jadi kakek? Tuhaaaan,,, kenapa aku baru mengetahuinya? bi Tati bilang aku terlahir dari keluarga baik-baik? Lalu apa ini? Bahkan kakekku seorang PENCURI YANG HEBAT." lirih Yola yang cukup kaget dan ingin menyobek amplop hitam itu.
Aku akan memberitahu rahasia ayah dalam lima amplop. s Silahkan kau buka amplop mana saja, kuharap kau buka dulu yang warna hitam. Agar kau bisa menjadi anakku yang kubanggakan.
Mahendra anakku, aku memang pencuri, tapi aku ingat bahkan kucatat siapa saja orang yang kucuri. Kelak jika usaha yang ayah bangun ini sukses, dan kamu bisa lebih sukses dari ayah, tolong bantu ayah kembalikan uang yang ayah curi kepada pemiliknya. Jika perlu kau berikan tambahan uang, agar mereka tidak kecewa.
Ayah yakin kau bisa, Nak. Maafkan Ayah telah banyak menyulitkanmu. Namun ini semua ayah lakukan untukmu, anak semata wayangku.
Akan ayah ceritakan bagaimana ayah mencuri uang, nak.
Dulu ayah hanya seorang bawahan. Tapi ayah punya keterampilan bisa membobol rekening perusahaan hanya dengan struk pembayaran/pengeluaran perusahan yang ayah temukan di tong sampah atasan ayah. Setiap merasa gaji ayah tidak cukup untuk keperluan ibumu dan dirimu, tak lama ayah mengundurkan diri dan membobol uang perusahaan.
__ADS_1
Kau juga perlu tau, kalau sebagian uang itu ayah infestasikan untuk membeli saham, sambil ayah kerja menjadi bawahan di perusahaan lain. Dan selalu sama setiap ayah merasa gaji ayah tak memenuhi kebutuhan kalian, Nak. Ayah resign lagi dan membobol rekening perusahaan tempat ayah kerja serta taklupa meninggikan infestasi yang ayah punya.
Lima kali ayah melakukannua nak. dan berdirilah perusahan ayah sendiri yang ayah beri nama RUN Propherty.
Alasan ayah mengubah nama perusahaan menjadi Mahendra Corp. ya agar ayah dapat mewariskan usaha ayah untuk anak ayah dan keturunannya kelak. Serta berharap dengan berubahnya menjadi namamu, perusahaan kita lebih stabil keuangannya serta meninggalkan masa kelam.
Nyatanya Ayah baru berhasil mengembalikan uang pada empat perusahaan yang sempat ayah curi. Tinggal satu perusahaan lagi, yaitu perusahaan om Wirawan sebesar 3T dan saat itu perusahannya langsung bangkrut.
Ayah sebenarnya tidak tega dengan nasibnya. Tapi ayah berjanji akan lebih sukses **darinya dan menge**mbalikan uang tersebut dengan uang tambahan yang lebih banyak, sebagai bunga. Karena Ayah memang tidak berniat mencuri, tapi berhutang meskipun dengan jalan yang salah. Ayah juga berjanji pada diri ayah untuk mengembalikan pada pemiliknya jika ayah rasa uang ayah cukup untuk membayarnya sekaligus berusaha dengan niat baik agar tidak mengecewakannya.
"Kakek,, aku tak tau harus bangga atau kecewa padamu, kek." gumam Yola yang perasaannya tercampur aduk antara bangga kecewa, sedih dan khawatir masa depannya seperti apa.
"Wirawan? Siapa? Seperti kenal nama itu. Tidak asing bagiku nama Wirawan." pikir Yola sambil menatap langit-langit kantornya.
Setelah berpikir sesaat.
Yola memilih melanjutkan membaca isi amplop hitam itu kembali.
Ayah tidak berani menemui keluarga om Wirawan meskipun saat itu ayah bisa mengembalikan uangnya beserta bunga besar yang memang ayah rencanakan, tapi Ayah tidak bisa. Karena Om Wirawan berhasil menyelidiki pencuri rekeningnya kemudian terjatuh karena penyakit jantungnya dan meninggal pada saat itu pula.
Atau jika memungkinkan adakanlah perjodohan di antara keturunan kita dengan keluarga om Wirawan. Semoga kedua keluarga bisa menerima dengan baik.
Ayahmu yang mencintaimu, Nak. Roy Mahendra.
__ADS_1
"Apa ini? siapa lagi keturunan kakek? ya cuma aku. Apa aku harus memenuhi wasiat kakek? Bahkan aku berniat akan membalas dendam Danu karena tega membunuh Nita. Aku harus bagaimana, Tuhan?" pikir Yola sambil berjalan bolak balik ke aras sofa dan lemari.
"Kenapa aku baru membaca amplop milik kakek ini? Seandainya aku membacanya lebih awal, mungkin beda cerita dengan sekarang. Dan ya, Nita sangat mencintai Danu. Apa pantas aku menikah dengan lelaki yang dicintai Nita? Sahabat sekaligus saudara bagiku. Kakek, aku harus bagaimana? Kenapa aku berada pada posisi yang sesulit ini?" Yola meneteskan air mata.
"Jika hanya untuk membayar hutang, aku bisa saja berbagi perusahaan dengan Danu. Tapi perjodohan? Rasanya tidak masuk akal. Apalagi jika di luar sana Danu memiliki kekasih." batin Yola masih dalam suasana sedih.
Yola tak henti hentinya menitikkan air mata, mengingat Danu yang mencelakai Nita. Nita yang merasakan sakit karena cintanya.
Yola memang berdoa untuk dirinya sendiri agar bisa segera menikah. Sepeninggalan Nita, Yola merasa hampa. Tidak dusta dia juga butuh seseorang yang selalu ada di sampingnya dalam keadaan suka dan duka. Serta bisa saling mendukung dalam pekerjaan dan cita-citanya.
Yola lalu menata kembali isi koper hijau kesayangannya dan bergegas meninggalkan ruangannya. Ia berniat menghibur diri dengan suasana hati yang tak kacau.
Pertama, Yola membeli tiga bungkus nasi box untuk diberikan bi Tati, Pa ucup tukang kebunnya serta sopirnya. Ia menyerahkan pada sopirnya, kemudian meminta kunci mobilnya, karena ia ingin mengendarainya sendiri.
Sempat berhenti sejenak ia di dalam mobil. Pikirannya masih melekat pada isi amplop yang dibacanya tadi. Yola tidak yakin bisa mengendarai mobilnya dalam keadaan kacau seperti ini. akhirnya ia memilih jalan kaki.
Kembali ia melihat seorang anak yang dengan semangat berjualan balon. Yola mendekatinya, hati nuraninya ingin memberikan uang tambahan karena Yola tau Ibu anak tersebut sedang dirawat di rumah sakit.
"Dek, kakak mau balonnya satu ini yang warna hitam." ucap Yola menunjuk bola hitam.
"Bola ini mewakili perasaanku. Kelam ya, lebih tepatnya kelam." batin Yola.
"Ini Kak, sepuluh ribu" Jawab anak itu sambil memebrikan balon pada Yola.
__ADS_1
"Ini, terimalah kembalinnya. Semoga ibu cepat sembuh, dan hari ini jualannya laris manis ya, dek." ujar Yola sembari memberikan Uang 30 juta didalam amplop coklat.
Tanpa menunggu balasan anak itu, Yola lalu bergegas jalan sambil membawa balon hitamnya.