
Bi Tati menangis sejadi-jadinya dan takut menelpon Yola untuk memberi tahukan kabar duka kematian Nita. Dengan tangan gemetar dan hati berdebar bi Tati Memberanikan diri untuk menghubungi Yola.
"Halo Bi, apa yang terjadi?" tanya Yola dalam isak tangisnya.
"Nit,,, Nita, Non. Nita tidak berhasil diselamatkan." ucap bi Tati menangis sejadi-jadinya. "Non Yola kenapa menangis? ada yang menyakiti non Yola?" sambungnya.
Yola terdiam dari isak tangisnya setelah mengetahui Nita meninggal dunia.
"Bi, bibi di mana? Aku akan kesana sekarang, Bi" ujar Yola terburu-buru.
Bi Tati langsung mengirimkan lokasi ia berada pada Yola.
Yola meminta sopir untuk mempercepat kendaraannya karena ingin melihat dan meyapa Nita untuk terakhir kalinya.
Dengan langkah gontai Yola mendekati ruangan Nita, tanpa menghiraukan bi Tati yang nangis sesenggukan di kursi tunggu.
"Aku tak menyangka kau pergi lebih dulu, Nit, hiks... hiks... bukankah kau berjanji akan mengikuti peresmian Apartemen kita di Kalimantan sebentar lagi?"
"Aku jadi teringat Danu. Apa Danu tahu tentang kondisi Nita? kenapa aku memikirkannya? Kenapa aku merasa kalau Danu adalah dalang dibalik kematian Nita?" gumam Yola
Usai jenazah Nita dimakamkan, Yola dan bi Tati terhuyung pulang. Di dalam mobil cuma ada keheningan.
"Pak Anam, ini uang buat bapak beli makan ya, aku tau bapak keroncongan." ucap Nita sambil memberikan uang 50 ribuan. Yola memang menggaji penuh semua karyawannya dan selalu memastikan karyawannya tidak kelaparan.
Yola dan bi Tati masuk ke dalam kamar masing-masing.
__ADS_1
Tak lama bi Tati menuju kamar Yola untuk memberikan titipan Nita.
"Non Yola, maaf mengganggu. Tadi sebelum ke meja operasi Yola menitipkan kertas di amplop ini untuk non Yola. Permisi, Non." Ucap bi Tati berlalu dari kamar Yola.
Yola membaca dengan penuh seksama dan mengalirkan air mata.
Yola adikku sayang, eh maaf, kamu taksuka kupanggil adik kan? ya, mungkin saat kamu baca secuil curhatanku ini, kita sudah beda dunia. Tapi jangan khawatir aku selalu menyayangimu.
Yola, jangan terlalu percaya pada seseoarang ya, termasuk diriku. Karena orang yang kau percaya tidak selamanya baik. semua orang punya sisi plus minusnya. Demi aku, tolong awasi pekerjaan Danu. aku mencintainya hingga rela mengalihkan kepercayaanmu padaku untuknya. Aku merasa bersalah jika tidak memberitahumu kebenarannya.
Setelah proyek di Kalimantan kita limpahkan ke Danu, justru aku terluka. Ya, Danu sengaja ingin membunuhku dengan menabrakku. Aku melihatnya sendiri itu Danu yang menabrakku. Saking cintaku padanya aku rela, dan tetap membiarkan dia menjalankan proyekmu. Tolong jangan kau hukum dia karena suratku ini, Tapi jika kamu ingin menghukumnya tunggulah sampai ia melakukan kesalahan lagi. Sungguh aku sangat mencintainya.
Dan ada satu hal lagi. Apa kau kenal Tio? Tio orang kepercayaan kita di Banten, Tolong kau temui. Bicara baik-baik dengannya. Setauku dia orang yg baik dan dari keluarga terhormat. Aku sempat ingin menjodohkan kalian. Tapi aku bisa apa? Yang jelas aku ingin sekali melihat kau menikah dengannya. Makanya tolong perhatikan Tio, cari tau sedalam dalamnya. Aku yakin kau tak kan bisa menolaknya setelah menemuinya. eh tapi kamu kan Yola, bos yang punya banyak kuasa. ha ha ha...
Aku titip bi Tati ya Yola. Aku yakin kau selalu merawatnya tanpa ku minta. Jangan lupa makan, dan segeralah menikah. Aku ingin sekali punya ponakan. Ah.. pasti sangat menggemaskan... Salam sayang dari kakamu, Anita Maharani.
"Aku akan menghukummu, Danu! Kita lihat saja, akan sejauh mana langkahmu. Aku tidak tau kenapa kau berubah seperti ini. Kau tega. Padahal Nita sangat mencintaimu." gumam Yola kesal.
"Wait, Tio? siapa dia? apa aku akan mencintainya seperti yang dikatakan Nita?"
"Yang jelas akan kuawasi Danu terlebih dahulu. Kupastikan dia akan mendapat hukumanku yang setimpal. Selama ini aku selelu memberikan uang tambahan padanya, tapi apa yang kudapatkan? Aku kehilangan Nita. Awas kau Danu." gemuruh batin Yola.
Pagi hari disambut hujan. Yola terdiam. "benar kata orang, hujan itu 1% air, 99% kenangan. Eh begitu atau terbalik ya? ha.. ha.. " ucap Yola sambil melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.
Yola pernah demam dan flu parah waktu diajak Nita main air hujan. Yola juga pernah dibully teman-temannya karena berteman dengan teman yang miskin dan dilemparkan di bawah air hujan. Selain itu Yola dapat cerita dari bi Tati kalau papa dan mamanya kecelakaan karena hujan lebat, disertai angin kencang, sehingga menabrak pembatas jalan.
__ADS_1
Lain halnya dengan Danu Wirawan. Ia memang punya dendam pada keluarga Yola. Keluarga Wirawan dulu pesaing bisnis keluarga Mahendra, ayah Yola. Danu dan Ayahnya punya niat jahat untuk mengerogoti usaha Mahendra. Namun sepertinya cukup sulit.
sulit untuk mendapatkan sekutu untuk menghancurkan usaha Yola. Mengapa? ya karena Yola royal kepada semua karyawannya. Karyawan akan berpikir berkali-kali untuk mengkhianati Yola. Karena tidak ada perusahaan yang memberikan gaji sebaik perusahaan Yola.
Yola memang diurus pembantunya, bi Tati. tapi aset keluarganya tetap berjalan karena Karyawan yang menghormati Surya Mahendra sebagai pemimpin yang adil dan bijak. Sehingga tanpa Bos besar, orang-orang kepercayaan Mahendra tetap menjalankan misi yang ia sepakati bersama bosnya.
Sejak Yola berusia 17 tahun dan memiliki KTP, perusahaan langsung menjadikan Yola bos mereka. tak jarang karyawan Yola banyak yang sepuh. Karena memang karyawan lama, dan Yola tak ingin memberhentikannya begitu saja. Ia merasa bahwa karena karyawan- karyawan ayahnyalah ia bisa melanjutkan bisnis ayahnya.
Dengan memberikan uang tambahan kepada seluruh karyawannya bahkan kepada orang lain yang membutuhkan justru Yola merasa bisnisnya lancar luar biasa.
Terlalu asyik memutar dan mengelola penghasilannya, Yola sampai lupa kalau hari ini peringatan kematian ayah dan ibunya.
"Koper hijau kesayanganku, aku sibuk sekali sampai lupa waktu. Saatnya kau kubuka ya." gumam Yola.
Koper hijau itu Salah satu peninggalan orang tua Yola yang paling berharga. Berbagai hal tersimpan di sana. Yola hanya membukanya setiap tahun sekali sebagai peringatan hari kepergian orang tuanya.
Tiba-tiba iya merasa aneh dengan kopernya. Kenapa ada goresan goresan tipis. samar memang, tapi Yola hafal tekstur koper itu. "Wilda, segera ke ruanganku." ucap Yola dalam telpon sambungannya.
Yola geram, siapa yg yang berani menyentuh barang berharga miliknya.
"Bu, Bu Yola memanggil saya?" tanya Wilda penasaran.
"iya, coba kamu liat ini!" ketus Yola sambil menunjuk ke arah goresan yang ada di kopernya. "siapa yang berani melakukan ini? Hah?" tanya Yola dengan nada melengking.
"Maaf, Bu. Bukankah ibu punya cctv 360°, kenapa tidak dicek saja dari situ, Bu."
__ADS_1
Yola tertunduk malu dan menyuruh Wilda pergi.
"Kenapa aku tak kepikiran ke situ?" batin Yola.