
Malam itu,Melodi dan Indra sudah bersiap di ruang rias. Berkali-kali Melodi ingin melihat ibunya,dan berkali- kali kebohongan Deny dengan mengatakan bu Niati sedang dalam perjalanan.
Ijab kabul terlaksana, kedua mempelai langsung bersalaman. Kening Melodi masih merengut, mata kecilnya tak menemukan bayangan sang ibu.
"Om,Tante, dimana ibu saya?" ucapnya memberanikan diri.
"Tidak datang, dan memang tidak akan pernah datang."Jawab Viola ketus.
"Ma, apa-apaan ini? Mama tega menipu Melodi?" kini giliran.Indra memberikan pembelaan pada Melodi.
"Indra! jaga bicaramu! sudah bagus papa dan mama nikahkan kamu dengan gadis miskin ini. Sekarang kamu bilang kalau mamamu menipunya! Cihh, dasar tidak tahu diuntung." Deny berdecih sinis.
Mendengar kenyataan itu,Melodi merasa dirinya telah benar-benar dipermainkan dan dengan begitu pintarnya. Hingga diujung acara ia sama sekali tidak menyadarinya. Buliran airmata bening itu mengurai dari permukaan pipi Melodi. Suara isakan pun sudah mulai terdengar.
"Sudah,sudahlah,besok aku akan temani kamu ke bunda, aku akan menjelaskan semuanya. Sekarang tenangkan dirimu. Kita ke hotel ya." kalimat Indra cukup ampuh menenangkan Melodi.
Ia pun segera menuntun Melodi menuju mobil mercedes yang sudah berhias bunga pengantin. Dan malam ini keduanya melaju menuju Deep Hotel. Hotel milik keluarga Danuartha. Yang dikendalikan oleh Lexy.
__ADS_1
"Tuan,Tuan muda Indra dan Melodi sudah memasuki kamar hotel."lapor Jimm, sekertaris setia Lexy.
"Baik, mari kita menjemput gadisku. kau tahu kan apa yang harus kau lakukan?" ucap Lexy sebelum ia benar-benar berjalan pergi. Dan dengan hormatnya, laki-laki itu membungkuk.
Malam itu, setelah Melodi membersihkan diri, Indra yang hendak menuju kamar mandi terkejut dengan kedatangan beberapa orang tak dikenal. Mata keduanya membelalak. Kedua orang tak dikenal itu langsung mengapit Melodi. Memegangi kedua tangannya. Sementara Lexy sudah berjalan menuju tubuh Melodi.
perlahan ia menyentuh dagu gadis itu. Dengan seringai licik, ia menatap genit kepadanya.
"Om Lexy?" lirih Melodi.
"Gadis pintar. Ternyata kau mengenaliku,ya?"
"Kamu, sayang. Aku sebenarnya sudah sangat menyukaimu sejak pertemuan pertama kita. Dan sekarang malam pertama kita berdua."
"Tidak Om. kumohon, jangan lakukan ini, Om. aku ini istri keponakanmu, aku keponakanmu juga." melas Melodi. Sementara Indra sudah diseret pergi setelah berhasil membuatnya pingsan.
Lexy memulai aksinya. Dia mulai melucuti pakaian Melodi. Sementara para pengawal itu, berjaga di luar kamar.
__ADS_1
"Tolong, jangan lakukan ini padaku, Om. kumohon."
Kalimat itu berulang-ulang kali diucapkan Melodi. Namun apa peduli Lexy, nafsu birahi sudah menguasai dirinya. Ia pun mulai melakukannya. Suara ronta, memohon,dan penolakan Melodi tak mempengaruhinya. Justru membuat lelaki itu semakin menggila menodai keperawanan Melodi.
Rasa sakit, sedih, dan hina,kini membaur dalam hati Melodi. Selama berjam-jam. Bahkan lelaki itu kini seperti binatang buas di atas tubuh kecilnya. Rasa perih pada area feminimnya sudah tak bisa ia tahan.
"Sakit Om!" jeritnya ketika lelaki itu terus mempercepat temponya. Sial,gadis ini membuatku kecanduan. jeritan batin Lexy di tengah sensasi nikmatnya.
Empat jam lamanya, kini Lexy menyudahi aksinya. Melodi terkulai tak bertenaga di balik tumpukan selimutnya. Tangannya mencengkram ujung selimut yang sudah menutupi tubuh polosnya.
"Berhentilah menangis, ikut denganku,tanda tangani surat cerai itu." Hanya itu yang diucapkan lelaki yang sudah menghisap rokok di sisi Melodi.
Perlahan Melodi terbangun sembari meringis kesakitan. Matanya menatap penuh kebencian pada lelaki dingin itu.
"Apa serendah ini kelakuan orang kaya? kau jahat Lexy. Tak seharusnya kau melakukan ini padaku. Aku ini keponakanmu juga."
"Tapi aku tidak menganggapmu keponakanku di mataku kau seperti wanita lainnya."Ketusnya.
__ADS_1
"Tanda tangani surat itu dan ikutlah denganku." Lanjutnya lagi.
Ya Tuhan, apa takdir harus sekejam ini pada Melodi. Bahkan ia tidak sempat berpamitan pada ibunya. Dan kini malah ia akan dibawa oleh lelaki yang sangat asing baginya.