
Disuatu tempat didaerah pertokoan. Seorang laki-laki menggunakan jubah tertutup warna cokelat sedang berjalan. Dia melihat ke suatu tempat yang bertuliskan “Penginapan Blue Moon”. Dia masuk ke dalam sana dan menemui sang pemilik penginapan.
“Permisi, adakah ruang yang masih kosong?” Kata laki-laki itu.
“Ah, Pelanggan ya! Tentu saja ada, untuk satu orangkah? Kami menyediakan kamar dengan pelayanan juga. Harganya dimulai dari 10 geild untuk satu minggu.” Kata pemilik penginapan.
“Tolong beri aku ruangnya saja, aku punya 2 geild untuk tiga hari dua malam” Kata laki-laki itu.
“Baiklah, 2 geild untuk satu kamar selama tiga hari dua malam” Kata pemilik penginapan sambal menulis data registrasi.
“Boleh kutanya nama anda? Dari mana anda berasal? Dan berapa lama anda akan tinggal disini?” Tanya pemilik penginapan.
“Kamu bisa menberi aku nama. Aku tidak punya nama dan tempat asal” Kata pemuda itu.
“Baiklah kalau begitu. Bagaimana dengan Tuan Edgar dan berasal dari Kota Ruth?” Kata pemilik penginapan.
“Edgar, ya… Kurasa tidak buruk” Kata Edgar menanggapi pemilik penginapan.
“Apa anda tidak nyaman dengan namanya?” Tanya pemilik penginapan.
“Ah! Tidak… Itu nama yang bagus… Terimakasih atas sambutannya” kata laki-laki itu sambil mengambil barang-barangnya dan menerima kunci kamarnya.
“Kamar anda berada di lantai 2, sebelah kanan nomor 2 dari ujung. Selamat datang di ibukota Kerajaan Lilyum, Kota Lilith. Semoga hari anda menyenangkan” Kata pemilik penginapan dengan senyum ramahnya.
“Terimakasih” Balas Edgar.
Laki-laki itu berjalan menuju ke lantai 2 tempat kamarnya berada. Dia segera masuk ke dalam kamarnya dan meletakkan barang-barangnya diatas meja dekat jendela, samping tempat tidurnya.
“Ternyata, hidup disini mahal ya. Berbeda dengan tempat tinggalku dulu” katanya sambil menatap keluar jendela.
__ADS_1
“Jika disini, mereka pasti tidak akan bisa menemukanku” katanya sambil membuka tudung jubahnya.
Tubuhnya mulai menampakkan diri. Rambutnya berwarna Coklat Cappuccino, badannya cukup tinggi dan ideal, ia tampak seperti pemuda yang baru berumur sekitar ± 17 tahun. Wajahnya cukup tampan dengan bibir tipis dan mata yang sewarna dengan rambutnya.
“Haah~ Ini sangat melelahkan. Kerajaan paling aman di dunia ini dan yang paling memegang tinggi perdamaian. Tidak kusangka aku akan kemari lagi. Haah~” Helanya.
Pemuda itu membaringkan tubuhnya diatas Kasur. “Kurasa besok aku akan mulai berkeliling” katanya sambil menutup mata dan tertidur.
...***...
Keesokan paginya, pemuda itu bangun dan segera bersiap untuk meninggalkan penginapan.
Dia keluar dari penginapan dan mendapati banyak orang yang berlalu lalang. Banyak juga orang-orang yang berjualan disepanjang jalan. Diapun berhenti di depan sebuah kedai. Dia lantas memasuki kedai tersebut dan duduk disalah satu meja kosong disudut ruangan.
Seorang pelayan wanitapun menghampirinya.
“Apakah ada rekomendasi untuk menu hari ini?” kata pemuda itu sambil tersenyum.
“Untuk hari ini kami merekomendasikan Quiche, Tuan.”
“Kalau begitu, satu Quiche dan Meed nya jangan lupa” kata pemuda itu.
“Baiklah, mohon tunggu sebentar” kata pelayannya sambil meninggalkan pemuda itu.
Tak berapa lama, makanan yang dipesanpun telah disajikan di meja. Dia mulai makan dengan tenang. Sampai ada kegaduhan terjadi didalam kedai itu. Pemuda yang dinamai Edgar itu tampak tidak peduli dengan sekitarnya. Dia hanya memandangi dari kejauhan.
“Ternyata di ibukota juga ada kejadian seperti ini” ia kembali melanjutkan makannya.
“Apa kau berpikir kalau di ibukota tidak ada kejadian seperti itu, pendatang baru? Itu salah besar” kata seorang pemuda lainnya yang tiba-tiba duduk dihadapannya.
__ADS_1
Edgar tampak terkejut dengan kedatangan seorang pemuda yang sudah duduk didepannya ini. Edgar tak dapat merasakan hawa kehadirannya sampai si pemuda berbicara dengannya.
“Ah, maaf. Aku sudah bersikap tidak sopan. Kau boleh memanggilku Leo. Kalau aku boleh tahu, siapa namamu, pendatang baru?” sambungnya sambil mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan.
“Em… pemilik penginapan memberiku nama Edgar” kata pemuda bernama Edgar sambil menjabat uluran tangan pemuda yang bernama Leo.
“Kalau begitu, namamu memang Edgar. Edgar, cara berpikir dan sifatmu cukup menarik. Apa kau punya keahlian? Apa kau sudah punya pekerjaan?” tanya Leo.
“Saat ini aku masih belum mempunyai pekerjaan. Lagi pula aku baru tiba disini kemarin. Makanya hari ini aku berkeliling untuk mencari pekerjaan” jawab Edgar lalu menegak Meed nya.
“Kalau begitu, bekerjalah untukku. Aku akan memberikan gaji yang cukup tinggi untukmu” Kata Leo sambil tersenyum lebar, seperti menyambut kedatangan Edgar.
“Oh, tawaran yang menarik! Tidak biasanya ada orang yang mau memberikan pekerjaan pada pendatang baru sepertiku ini” sahut Edgar.
“Ah! Tentu saja ini memang terdengar aneh tapi jangan khawatir. Aku punya mata yang bagus dalam menilai seseorang” kata Leo dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.
Sekilas Leo menampakan mata heterocomnya, yang kanan berwarna Pale Green dan yang kiri berwarna Blue Turquoise. Edgar yang melihat kedua mata Leo langsung terpana pada kedua manik dihadapannya, seperti sebuah sihir.
“Kalau begitu, besok pagi temui aku ditempat ini. Bawa semua barang-barangmu. Jangan sampai ada yang tertinggal. Sampai jumpa lagi, Edgar” Leo memberikan secarik kertas pada Edgar lalu beranjak pergi dari sana.
Edgar melihat kertas dihadapannya dan kedua ujung bibirnya pun terangkat dengan sendirinya. ‘Apa semua orang di Kerajaan Lilyum adalah orang aneh?’ Kalimat itu tergambar dalam ekspresi Edgar saat ini.
“Padahal aku belum menerima tawarannya. Kenapa dia terlihat begitu yakin aku akan datang menemuinya? Aku juga belum mendengar apapun tentang pekerjaannya” Edgar menghela nafas Panjang.
“Ya, apa boleh buat. Sepertinya cukup menarik untuk dicoba” gumamnya sambil tersenyum.
Edgar lalu meninggalkan satu keping geild dimeja setelah mengucap terima kasih pada si pelayan.
...***...
__ADS_1