
Pagi sudah tiba, terlihat Edgar sudah bangun dari tempat tidurnya. Dia sedikit meregangkan tubuhnya yang kaku sebangun tidurnya.
“2 geild untuk kasur yang keras. Tapi beer mereka sangat enak untuk kelas menengah kebawah” Keluhnya sambil membuka jendela kamarnya dan memadang keluar.
Dia tersenyum ria melihat orang-orang yang sudah lalu lalang di jalanan kota. “Kurasa, hari ini akan menjadi hari yang cukup menyenangkan” katanya sambil mengingat kejadian kemarin.
Seorang pemuda dengan surai white-silver, yang memiliki manik hatarochrome. Dia memiliki aura misterius disekitarnya. Seakan dia mengetahui sesuatu tentang Edgar, namun tidak ingin memberitahukan padanya. Edgar sendiri teringat dengan perkataan kakeknya mengenai kepemilikan mata heterechrome.
...***...
Terlihat seorang anak kecil dengan rambut coklat cappucino sedang duduk dipangkuan seseorang dan memegang buku besar dihadapannya. Manik yang senada dengan surainya itu tampak berninar melihat tulisan dihadapannya. Sudut bibirnya tertarik kebelakang, menampakan senyum lebar di wajahnya.
“Ahahaha, kau terlihat selalu senang membaca buku itu, cucuku. Apa yang membuatmu tertarik pada buku cerita itu? Sampai-sampai, kau selalu membaca berulang kali” Tanya seorang kakek-kakek yang memangkunya.
“Hehehehe, tentu saja karena ceritanya menarik. Mereka memang seperti tokoh buatan dalam cerita. Tidak nyata di dunia ini. Namun, jika mereka memang nyata, aku harap bisa bertemu langsung dengan mereka” Kata anak kecil itu gembira.
Sang kakek hanya tersenyum mendengar perkataan cucunya. “Cucuku, apakah kamu tahu tentang sebuah kerajaan impian di dunia ini? Kerajaan dimana semua orang hidup makmur. Kerajaan yang memiliki kekuatan terbesar untuk menggerakan dunia. Apa kau tahu tentang itu?” Tanya sang kakek lagi.
Cucunya itu hanya memiringkan kepalanya dengan ekspresi kebingungan. “Apakah ada kerajaan yang seperti itu?”
Si kakek yang mendengar pertanyaan kebingungan dari cucunya langsung tertawa “Hahahahaha! Tentu saja ada”
__ADS_1
Jawaban kakek membuat mata sang cucu kembali bersinar “Benarkah?” Tanyanya dengan semangat.
“Iya, Kerajaan yang berada di benua tengah. Benua yang terkenal dengan keganasan lautnya. Mereka memiliki sumber daya alam yang melimpah. Kerajaan yang menjadi penengah antar kerajaan lainnya. Salah satu kerajaan tertua didunia ini. Dan kerajaan yang memiliki kekuatan besar” Kata sang kakek dengan senyum tulusnya.
Kakekpun kembali bercerita mengenai suatu kerajaan impian, yang ada di benua tengah itu. “Kerajaan itu, hanya memiliki satu garis keturunan untuk melanjutkan tahtanya. Mereka terkenal akan kebijaksanaan dan kekuatan mereka. Para penduduk di kerajaan itu, menyanyangi Raja mereka. Banyak negara-negara kecil yang menjadikan kerajaan tersebut sebagai panutan mereka. Dan tak jarang juga, banyak kerajaan yang bekerja sama dengan kerajaan itu”
“Benar-benar kerajaan yang makmurkan?” Tanya kakeknya.
Anak kecil itu hanya mengangguk dengan semangat dan mata berbinar “Apa disana ada seseorang yang mirip dengan tokoh dibuku ini?” Tanyanya.
Sang kakek hanya tersenyum manis menanggapi pertanyaan dari cucu kecilnya itu “Cucuku yang manis, orang yang memiliki mata heterechrome seperti di buku itu sangatlah berbeda. Mereka memang sama-sama memiliki warna mata yang sama. Tapi, beban dari kemampuan mereka berbeda-beda. Ada yang bisa melihat masa lalu, melihat masa depan, melihat garis takdir, atau melihat pasangannya. Dan setiap mereka menggunakan kekuatannya, tetap ada harga yang harus dibayar. Entah energi sihir mereka, mata mereka, darah mereka, bahkan umur hidup meraka”
Cucunya hanya termenung mendengar perkataan dari kakeknya. Dia terlihat bingung, tidak paham akan maksud perkataan kakeknya.
...***...
Itulah sedikit kenangan Edgar tentang perkataan kakeknya yang menceritakan tentang kemampuan dari seseorang dengan mata heterochrome. Yang kebetulan sekarang dia bertemu dengan Leo, seorang pemuda yang tiba-tiba menawarkan pekerjaan padanya.
Edgar menghela nafas lalu melihat kertas yang dia taruh atas mejanya, bersebalahan dengan tas dan jubahnya. Dia segera menggunakan jubahnya, dan menyelempangkan tas kebahunya. Berjalan keluar dari kamarnya, turun menuju lantai satu, bertegur sapa dengan penjaga penginapan dan keluar dari sana.
Saat ini Edgar terlihat sedang berjalan sambil membawa barangnya dan secarik kertas di tangannya.
__ADS_1
“Kurasa tempatnya ada disekitar sini. Tapi kenapa sepi ya?” kata Edgar sambil melihat sekelilingnya hanya ada pohon-pohon disepanjang jalan, keluar dari ibukota Lilith.
Edgar lalu merasakan sesuatu yang mengganjal, dia melihat sekelilingnya dengan lebih seksama, dan menemukan pohon kembar yang unik tak jauh dari jalan setapaknya. Dia kemudia berjalan menuju pohon tersebut.
“Em.. ini kan … Multiple-Barrier!” katanya sambil menyentuh pohon kembar yang sempat menarik perhatiannya.
“Kurasa aku akan bekerja untuk orang yang tidak biasa. Multiple-Barrier dan Illusion. Ini termasuk skill tingkat tinggi untuk orang normal” Multiple-Barrier tersebut diraba menggunakan tangan kanannya .
Edgar menutup matanya. Menganalisis Multiple-Barrier didepan sekelilingnya. ‘Multiple-Barrier, dengan Full Elementals Magic Attack Ressistance, Divine Magic Attack Ressistance, Dark Magic Ressistance, dan Physicall Attack Ressistance. Ini gila!’ Batin Edgar yang selesai menganalisi Multiple-Barrier.
Dia bisa merasakan hembusan angin yang datang dari arah depan. Edgar membuka matanya, dan mengikuti arah datangnya angin tersebut lalu berhasil menembus Multiple-Barrier dan sekarang dia mendapati Magic Illusion.
Edgar sejenak berhenti dan memastikan langkah kakinya tidak salah. Karena berjalan didalam Magic Illusion tanpa Magic Illusion Ressistance juga berisiko. Baru saja melewati Multiple-Barrier dan Illusion, dia sekarang juga dihadang oleh 2 Elemental Golem. Golem api dan golem air. ‘Ini benar-benar gila! ’ Batinnya ngeri melihat situasinya sekarang.
“Apa aku harus mengalahkan kedua golem ini?” Keluhnya entah pada siapa.
“Tidak ada yang boleh masuk, itu perintah dari Master” Salah satu golem itu berucap.
Edgar menyerngit, “Sebanyak apa dia tahu tentang diriku? Padahal baru pertama kali bertemu. Ya ampun, tidak ada pilihan lain ya” Dia segera meletakan tasnya ditanah dan bersiap untuk melawan 2 golem dihadapannya itu.
...***...
__ADS_1