
Setelah pertemuan antara Leo dan Edgar, Leo terlihat sedang berjalan memasuki sebuah hutan tak jauh dari keramaian Kota Lilith. Dia berjalan lurus dan mendapati sebuah mansion dihadapnnya. Seseorang langsung membukakan pintu untuk Leo sambil menundukan kepalanya. Sepertinya orang itu tahu bahwa Leo akan datang ketempatnya, karena dia berjaga di depan pintu dan mempersilahkan Leo masuk tanpa ragu.
Leo langsung berjalan menuju ke ruang penerima tamu lalu duduk disana, diikuti oleh orang yang membukakan pintu untuknya tadi. Matanya sudah menangkap pemandangan satu set teh yang sudah tersedia untuknya dan beberapa lembar kertas yang ada diatas meja tamu.
“Bagaimana perjalanan, Anda?” Kata orang itu sambil menuangkan teh kedalam cangkir.
“Aku menemukan sesuatu yang menarik” Kata Leo sambil menatap orang itu.
Orang itu hanya menatap Leo dengan tatapan ‘Ah, sesuatu yang menarik lagi’. Dia menghela nafas dan meletakan tekonya di troli dekatnya.
“Kamu yakin?” Tanya orang itu.
Leo hanya tersenyum dan mengambil cangkir tehnya.
“Iya, sangat cocok untuk membantu menyelesaikan masalah kali ini. Lalu untuk meringankan pekerjaanku kedepannya juga” Balas Leo dengan nada ringan dan tanpa ragu.
“Ha? Apa kamu yakin sekali dengan kemampuannya untuk membantu menyelesaikan masalah kali ini?” Tanya orang itu dengan keraguan.
“Iya, aku akan bertaruh dengan kedua mataku jika kamu tidak percaya padaku, Red” Jawab Leo sambil menekan nada akhirnya.
Orang itu bernama Red, pemuda dengan usia di pertengahan 30 tahun dengan baju pelayan ‘butler’ yang melekat ditubuhnya. Surai merah semerah bunga mawar disaku kanannya dengan pupil berwarna merah darah. Tubuhnya cukup tinggi tegak dengan badan yang ramping. Wajahnya tampan dengan hidung mancung dan bibirnya yang tipis. Penampilan seperti ini sudah pasti akan menjadi bahan suami idaman bagi rakyat biasa di Kerajaan Lilyum.
Red hanya terdiam mendengar jawaban dari Leo. Dia hanya seorang pelayan bagi Leo. Tidak memiliki hak untuk menentang keputusan dari Leo.
__ADS_1
“Baiklah jika kamu sampai mempertaruhkan matamu. Tapi, Matamu terlalu berarti jika digunakan untuk taruhan seperti itu, My Lord” Kata Red sambil mengambil kembali tekonya untuk menuangkan kembali tehnya untuk Leo.
“Terimakasih Red, sudah menyajikan teh dan memperbolehkanku menginap beberapa hari ini” kata Leo sambil mengambil dan menyeruput tehnya.
“Ini sudah menjadi tugas saya. Tapi anda tidak bisa berlama-lama disini, My Lord” Red memandang Leo bertanya.
“Ahahaha!!”Bukannya menjawab, Leo justru tertawa.
“Tolong jangan tertawa, My Lord. Jika ayah anda tahu bahwa anda sedang bermain-main terlalu lama diluar, saya bisa mendapatkan hukuman mati” ucap Red.
“Ahaha . . . Maaf ya, Red. Ayah tidak akan sampai membunuhmu kok. Dia sudah terlalu banyak urusan untuk mengurus masalah seperti ini. Bukankah kamu lebih tahu tentang pekerjaan ayah?” Leo tersenyum.
Red hanya menghela nafas mendengar pertanyaan dari Leo. “Bukannya aku tidak tahu pekerjaannya, tapi kamu sudah dua hari tidak pulang. Apa kamu tahu kalau ayahmu juga khawatir padamu?”
Red menghela nafas kembali “Hah . . Baiklah, kalau itu maumu” Jawabnya.
“Oh iya, Red! Besok kita akan kedatangan tamu. Aku menyuruhnya untuk datang kesini. Orang yang menarik perhatianku sebelumnya. Dia yang aku ceritakan tadi” Kata Leo membuat Red terdiam sejenak.
“Apa! Besok?!” Kata Red yang terkejut hingga hampir menumpahkan teh di tekonya.
Leo yang juga terkejut akan teriakan Red juga hampir menumpahkan teh di cangkirnya. “Red, jangan mengagetkanku. Aku hampir saja menumpahkan tehnya”
“Mohon maaf atas sikapku, My Lord. Tapi, apa anda gila? Besok? Kenapa mendadak sekali? Dan kenapa harus disini? Tidak anda arahkan ke departemen ketenagakerjaan?” Red langsung memborbardir Leo dengan segenap pertanyaannya.
__ADS_1
“Hei, tenanglah, santai dulu, Red. Tenanglah. Dia tidak akan bekerja dibawah departemen ketenaga kerjaan. Dia akan bekerja dibawahku. Dia mempunyai potensi yang lebih dari orang-orang departemen ketenagakerjaan. Sayang sekali jika dia digunakan oleh departemen ketenagakerjaan, lebih baik biar kugunakan saja. Itu lebih baik kan?” Jawab Leo dengan santainya seperti tidak akan ada masalah kedepannya.
Red mengerutkan dahinya dan membalas jawaban Leo “Jangan bilang kamu ingin melakukan hal itu lagi? Bukankah kamu baru saja melakukan hal itu setahun yang lalu. Apa yang sebenarnya kamu rencanakan, Leo?”
Leo tersenyum mendengar balasan dari Red “Red, aku hanya melakukan kewajibanku sebagai seorang putra yang berbakti pada ayahnya. Lagipula, aku melihat sesuatu akan terjadi kedepannya. Dan aku membutuhkan orang itu, sebagai salah satu tanganku” Senyum Leo melebar menenangkan Red yang sempat panik dengan keputusan mendadak Leo.
“Hah . . Jika itu kemauanmu untuk kedepannya, aku tidak punya pilihan banyak lagi. Semoga rencanamu berhasil kedepannya, Leo. Jika butuh bantuan kami, tinggal hubungi kami seperti biasa” Hela nafas Red mengakhiri perdebatan mereka.
‘Aku bisa mengerti kenapa pendahuluku berganti dengan cepat. Aku bisa mati jantungan jika seperti ini terus’ Batin Red mengakhiri pikirannya tentang keputusan Leo yang terkesan tergesa-gesa.
Selang beberapa menit, Red langsung menyerahkan sekumpulan kertas kepada Leo dengan ekspresi serius.
“Ini dokumen yang anda minta, My Lord. Sudah termasuk dengan kota lain di wilayah Lilith. Silahkan beritahu kami, bila anda membutuhkan apapun” Kata Red sambil menundukan kepalanya.
“Terimakasih, Red. Dengan ini, kita bisa mempersempit jangkauannya” Jawab Leo dengan senyum misterius yang tiba-tiba muncul di wajahnya.
Red langsung menegakan kembali kepalanya dan berjalan menuju pintu. “Saya akan menyiapkan segalanya untuk tamu besok. Saya undur diri terlebih dahulu, My Lord” Kata Red sambil menundukan kepalanya lagi sebagai bentuk hormat pada Leo.
“Iya. Sekali lagi, terimakasih, Red” Jawab Leo dilanjutkan dengan Red yang sudah menegakan kepalanya dan berjalan keluar dari ruangan, meninggalkan Leo sendirian.
“Sekarang saatnya aku bekerja” Kata Leo sambil menyimak kertas dokumen ditangannya.
...***...
__ADS_1