
"Buat makanan sebelum pulang," kata Devan menutup pintu kamar. Dia bahkan tidak menunggu jawaban dari pelayan itu.
.
.
"Terima kasih," kata Anna setelah memuaskan dahaganya.
"Aku mau pulang," tambahnya lagi lalu mencoba berdiri, namun jatuh kembali ke tempat tidur karena rasa pusing yang menerpa kepalanya.
Melihat ini, Devan berbalik dan segera meninggalkan ruangan. Terdengar bahwa dia menelepon seseorang dan kemudian masuk kembali dan duduk di salah satu sofa di ruangan yang sama dengan Anna.
"Istirahat, jangan banyak bergerak," kata Devan sambil memainkan ponselnya
"Saya ingin bekerja."
"Dalam keadaan seperti ini?" Salah satu alis Devan terangkat.
"Aku akan kehilangan semua pekerjaanku jika aku tidak segera pergi."
"Saya tidak ingin mati kelaparan," tambahnya
"Dimana orangtuamu?" tanya Devan.
"Aku tidak punya siapa-siapa sekarang," Anna mencicit tapi masih berhasil mencapai telinga Devan.
"Maksudmu mereka sudah..."
"Ibuku meninggal karena kanker lima tahun lalu, sedangkan ayahku... aku tidak tahu di mana laki-laki itu sekarang," potong Anna. Dia tidak tahu mengapa dia menceritakan semua tentang keluarganya kepada pria itu.
"Bukankah kamu sudah memiliki pria itu sebelumnya?" Devan terkekeh.
Anna langsung memelototi pria itu dengan tatapan tidak setuju. "Jangan menyebutkannya lagi. Aku tidak menyukainya."
"Kenapa? Kalau aku lihat, kalian berdua sepertinya memiliki hubungan khusus satu sama lain," kata Devan sambil meletakkan ponselnya.
Mendengar itu, Anna menundukkan kepalanya. Keheningan gadis itu menyiratkan bahwa dia sangat enggan membahas pria yang dimaksud Devan.
"Yah, lupakan dan maafkan aku," kata Devan kemudian.
"Jadi bagaimana pekerjaanmu? Bukankah seharusnya bekerja pagi ini?"
Anna mendongak, matanya menatap Devan yang juga menatapnya saat itu. "Dan karena kamu, aku dipecat," kata gadis itu dengan suara yang agak serak.
"Hah? Apa salahku?"
__ADS_1
"Tidak. Lupakan saja," jawab Anna sambil mengusap wajahnya, terlihat sangat frustasi.
Devan penasaran dengan gadis yang sedang bersandar di ranjangnya. Tapi tidak peduli bagaimana dia mencoba bertanya, Anna selalu menolak untuk menjawab.
"Oke, sepertinya terlalu berlebihan jika aku menanyakan semua tentangmu, aku minta maaf," kata Devan. Ini adalah pertama kalinya dia penasaran dengan seorang wanita.
"Aku harus bekerja, apa pun yang terjadi," kata Anna setelah beberapa menit hening. Dengan gerakan yang sangat lambat, gadis itu perlahan bangkit dari posisinya dan berdiri.
Salah satu alis Devan terangkat. "Bukankah kamu dipecat?"
"Aku masih punya dua pekerjaan. Tidak, mungkin hanya tinggal satu karena aku di sini sekarang," jawab Anna sambil mencoba berjalan perlahan menuju kamar mandi dengan tangan menempel di dinding.
"Berapa banyak pekerjaan yang kamu miliki?"
"Bukan urusanmu."
"Apakah kamu berpikir hanya bekerja dan bekerja?"
"Kalau aku tidak bekerja, aku tidak bisa makan. Berhenti menghalangiku, aku bisa kehilangan semua pekerjaan jika aku tetap di sini." Kata Anna dengan satu tangan memegang pelipisnya yang mulai berdenyut.
Devan menghela nafas kasar, tidak tahu bagaimana menjawab, dan hanya pasrah membiarkan gadis itu melakukan semua yang dia inginkan.
Melihat waktu menunjukkan pukul setengah enam, Devan segera meninggalkan kamarnya.
Tapi langkahnya bahkan belum sampai ke pintu, dan suara seseorang jatuh dari kamar mandi membuatnya berbalik dan berlari ke sumber suara.
Tidak ada suara dari dalam, membuat Devan panik dan menggedor pintu lagi.
Sementara di sisi lain, Anna yang berada di kamar mandi kini duduk lemas di dinding di bawah pancuran.
Beberapa detik yang lalu, dia tersandung kakinya sendiri dan jatuh. Sekarang bajunya basah semua bahkan badannya dingin, niat awalnya hanya untuk cuci muka tapi siapa sangka akan berakhir seperti ini.
Suara laki-laki yang datang dari luar membuat alisnya berkerut. Sangat berisik, hanya menambah pusing di kepalanya.
"Kamu berisik sekali. Aku baik-baik saja," teriaknya, segera menghentikan aksi pria itu.
Devan yang mendengar suara Anna dari dalam tidak mau percaya, ia langsung mencari kunci cadangan untuk membuka kamar.
Cekklekk
Pintu kamar mandi terbuka, dan Anna yang basah kuyup sedang duduk sambil bersandar ke dinding.
"Ya Tuhan, Anna."
"Aku baik-baik saja," kata Anna dengan suara yang sangat lemah.
__ADS_1
Devan tidak memperdulikan perkataan gadis itu, ia langsung mengangkat tubuh mungil Anna dan membawanya ke tempat tidur, dia bahkan tidak peduli jika tempat tidurnya akan basah.
"Tunggu di sini, jangan bergerak." Setelah menempatkan tubuh Anna dengan hati hati, dia meninggalkan ruangan.
***
Beberapa menit telah berlalu, Devan kembali ke kamarnya untuk melihat bagaimana keadaan Anna setelah pembantunya pergi. Ya, pria itu meminta pembantu rumah tangganya untuk mengganti pakaian yang dikenakan Anna dengan yang baru.
Sebuah nampan makanan dengan asap yang masih mengepul tergeletak di atas nakas tepat di sebelah Anna.
Gadis itu sudah berganti pakaian, memakai baju Devan. Bahkan sprei dan selimut di tempat tidur diganti dengan yang baru.
"Masih berpikir untuk bekerja?"
"Mungkin setelah istirahat sebentar, aku akan baik-baik saja."
Devan menghela nafas mendengar kata-kata Anna. Kenapa gadis itu sangat gila kerja? Padahal kondisinya seperti ini.
"Terserah, tapi makan dulu," katanya.
"A-aku...."
"Makan atau aku akan memberimu makan," kata Devan segera.
Anna segera meraih nampan di sebelahnya dan melahap makanan yang disiapkan oleh wanita paruh baya yang membantunya berganti pakaian beberapa waktu lalu.
"Ini untukmu," kata Devan mendekati Anna setelah gadis itu menyelesaikan ritual makannya.
"Itu kompensasi dariku," lanjutnya.
"Apa ini?" tanya Anna menerima secarik kertas yang ternyata berupa cek dengan nilai nominal seratus juta yang tercetak di atasnya.
"Apa artinya ini?"
Sudah aku bilang itu kompensasi dariku, bukankah kamu mengatakan sebelumnya bahwa karena ku kamu dipecat? Ini adalah caraku bertanggung jawab."
"Aku akan merasa sangat menyesal ...
"Aku menolak," Anna langsung menyela. Alasan dia dipecat bukan sepenuhnya kesalahan pria itu, tetapi murni dari dirinya sendiri.
Lalu apa yang membuatnya layak menerima cek dengan jumlah yang begitu besar. Seratus juta? Meski pria itu sangat kaya, bukan berarti ia harus menghambur hamburkan uang dengan seenaknya seperti ini.
"Itu bukan salahmu. Itu karena kebodohan dan kecerobohanku. Ambil kembali," kata Anna sambil mengembalikan cek itu kepada pemiliknya.
"Jangan menolak atau aku akan melaporkanmu ke polisi karena mencuri pakaianku," kata Devan. Anna adalah satu satunya gadis yang membuatnya sangat aneh. Karena jika dia biasanya memberikan uang dalam jumlah berapa pun, para wanita tidak akan menolak.
__ADS_1
Padahal sudah sangat jelas, bahwa wanita di hadapannya sangat membutuhkan uang. Tolak cek, jika tidak aneh lalu apa?