Unexpected Love : One Night With Mr. CEO

Unexpected Love : One Night With Mr. CEO
Bab 18. Anna, Keluar


__ADS_3

"Devan, ada apa dengannya, jangan bilang..."


"Dia hanya pergi ke toilet," sela Devan segera.


....


Sementara Anna, gadis itu terus berjalan, perasaannya kali ini kacau.


Anna sempat melupakan pria itu sejenak, tiba-tiba sosoknya muncul kembali di hadapannya. Dan saat ini dia sedang bersama wanita itu. Wanita yang dia saksikan berhubungan intim dengan Brian, pacarnya.


Melihat orang yang dicintainya bersama wanita lain, siapa yang tidak sakit hatinya?


Berbelok di ujung koridor, Anna bertemu dengan petugas kebersihan.


"Maaf, bolehkah aku tahu di mana toiletnya?" Anna bertanya, matanya sudah sedikit berkaca-kaca.


Kenangan saat-saat manisnya bersama Brian, dan kejadian malam itu, terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.


Mendengar suara Anna, wanita itu mengangkat kepalanya dan menoleh ke arahnya.


"Oh, jalan terus, nanti di ujung sana belok kanan yah, di situlah toiletnya," jawab wanita itu sambil memberi petunjuk.


"Oke, terima kasih," kata Anna. Bahkan nada suaranya terdengar agak berat dan serak.


Dengan langkah goyah dan perasaan campur aduk, Anna melangkah menuju tempat yang dimaksud cleaning service.


Anna berjalan selama beberapa menit dan akhirnya menemukan tempat yang dicarinya.


Segera gadis itu memasuki salah satu kamar kecil di sana dan akhirnya menangis.


Tangisan tertahan keluar dari bibir gadis itu, hatinya sakit. Seperti ditusuk seribu benda tajam, Anna terisak.


Bagaimana mungkin pria itu ada di sana juga? Anna tidak tahu.


Tiba-tiba sebuah suara yang sepertinya berasal dari beberapa wanita memasuki indra pendengaran gadis itu. Dan itu membuat Anna menutup mulutnya rapat-rapat, menyalakan air agar para wanita tidak mendengar suaranya.


"Astaga, aku tidak menyangka Devan akan datang ke pesta ini."


"Melihatnya secara langsung ternyata lebih tampan dari foto-foto yang beredar."


"Sangat tampan dan sempurna," percakapan para wanita itu tidak luput dari perhatian Anna.

__ADS_1


"Pria idaman. Yang mana wanita yang tidak ingin memilikinya. Kalaupun aku hanya mendapat kesempatan untuk menghabiskan satu malam dengannya, mungkin aku akan menjadi salah satu wanita paling beruntung," kata wanita lain sambil tertawa.


"Sepertinya kau sangat tergila-gila padanya, Len. Sampai ingin menyerahkan tubuhmu hanya untuknya."


"Hei tentu saja, siapa wanita yang bisa menahan pesona pemuda itu. Selain kaya, tampan, tubuh atletis dan... Agnnhhh membicarakannya saja sudah membuatku senang," jawab wanita lain sambil sedikit menghela nafas dan kemudian tertawa.


Semua itu masuk ke telinga Anna dengan sangat jelas.


Ternyata pria yang membantunya dan membawanya ke pesta ini sangat populer di kalangan wanita. Hanya saja apa yang dikatakan wanita itu terlalu berlebihan.


Karena dia merasa biasa saja dengan pria bernama Devan.


"Eh tapi sepertinya kamu harus membuang keinginanmu."


"Apakah kamu tidak melihat wanita yang bersamanya? Saya perhatikan bahwa Devan tampak sedikit posesif padanya."


Mendengar pembicaraan tersebut, Anna langsung tahu bahwa wanita yang mereka maksud adalah dirinya.


"Ada apa dengan wanita itu? Dia tidak memiliki sesuatu yang istimewa. Dia pendek dan terlihat biasa saja."


"Mungkin dia hanya akan bernasib sama dengan wanita lain di hadapan Devan," tambahnya lagi.


"Hmm, tapi setidaknya dia bisa bersama pria itu," jawab yang lain lalu terkikik.


"Tentu saja," jawab wanita itu dengan sangat yakin.


"Selesai?" tanya wanita di luar bersamaan dengan pintu terbuka.


"Emm."


"Oke, ayo kita kembali. Tapi rapikan dulu penampilanmu," kata wanita lain.


Begitulah percakapan yang masuk ke telinga Anna, meski perhatiannya sedikit teralihkan, tidak cukup hanya membuatnya melupakan si brengsek itu.


Beberapa menit berlalu, dan para wanita itu pergi. Keheningan kembali terjadi di toilet. Tidak ada suara selain air yang mengalir dari ruangan kecil tempat Anna berada.


Tok...tok...tok...


Tiba-tiba ada ketukan di pintu. Tentu saja, Anna terkejut.


'Siapa yang mengetuk pintu?'

__ADS_1


Ketukan itu terdengar lagi, bukan sekali tapi berkali-kali dan itu tepat di pintu di mana dia berada.


"Maaf, ada seseorang di sini," kata Anna, sedikit meninggikan suaranya.


"Anna keluar," jawab seorang pria di luar, dan dengan suara itu, tubuh Anna menegang. Suara yang sangat dia rindukan dan benci terdengar dari luar. Suara itu milik Brian. Pacarnya, tidak, bukan pacar lagi karena dia telah putus dengannya sejak malam itu.


"Anna..."


"Aku ingin bicara denganmu. Keluarlah," kata Brian lagi. Pria itu telah berhenti mengetuk pintu, tetapi ujung bayangannya yang terlihat di lantai bawah menunjukkan bahwa pria itu masih berdiri tepat di depan pintu.


Anna tidak menanggapi kata-kata pria itu dan entah bagaimana dia bahkan tidak berani keluar dari sana.


Meskipun dalam situasi ini, Anna tidak memiliki kesalahan, mengapa dia harus takut?


"Anna, keluarlah."


"Jangan pura-pura tuli, sayang," kata Brian lagi.


"Kalau kamu tidak keluar, berarti kamu memaksaku untuk membukakan pintu," tambah pria itu lagi.


Mendengar kata-kata Brian, Anna bingung.


'Bagaimana dengan ini?'


Dia tidak ingin bertemu dengannya, tapi kali ini sepertinya pengecualian. Karena tidak ada cara lain selain bertemu dengannya.


Setelah berjuang dengan pikirannya untuk waktu yang lama, Anna akhirnya memutuskan untuk bangun dari tempat duduknya.


Ya, sepertinya dia memang harus berbicara dengan pria itu, tidak peduli seberapa terlukanya dia. Anna harus terus menemuinya.


Dia harus tegas dengan dirinya sendiri, jika tidak. Kemudian selama sisa hidupnya, dia akan lari, bersembunyi dari pria itu. Dan Anna tidak ingin itu terjadi.


Tarik napas dalam-dalam kemudian hembuskan perlahan. Anna kemudian meluruskan gaun yang dikenakannya dan berusaha sesantai mungkin.


Namun, tidak peduli seberapa keras dia berusaha terlihat normal, tangannya masih gemetar. Detak jantungnya berpacu, bahkan darahnya terasa seperti gemerisik


Perlahan meraih kenop pintu. Dan...


Pintu terbuka, dan pada saat yang sama, lengan gadis itu ditarik membuat tubuh mungilnya menghantam dada pria di sana.


Hal itu berhasil membuat Anna kaget. Tiba-tiba diperlakukan seperti itu membuatnya tidak tahu bagaimana harus bereaksi.

__ADS_1


Brian memeluknya, pria itu memeluk tubuh mungilnya dengan erat. Membuat Anna merasa sedikit sesak.


__ADS_2