Unexpected Love : One Night With Mr. CEO

Unexpected Love : One Night With Mr. CEO
Bab 22. Gadis Unik


__ADS_3

"Kita sudah berakhir, aku tidak ingin melihatmu lagi." Siapapun bisa melihat air mata tidak berhenti mengalir di pipinya.


Setelah mengatakan semua itu, Anna menarik tangan Devan ke arah pintu, keluar dari sana.


Meninggalkan Brian yang berdiri membeku di tempatnya.


Anna bahkan tidak menoleh dan sudah keluar dari sana.


Hatinya hancur, dia tidak bisa tinggal di tempat ini lebih lama lagi. Ana ingin pulang.


Gadis itu terus berjalan dengan menggenggam tangan Devan tanpa menyadarinya.


Diperlakukan seperti itu oleh Anna, salah satu alisnya terangkat.


"Anna, kamu mau kemana?" tanya Devan setelah mereka berdua pergi dari toilet.


Anna segera berbalik dan menatap pria itu. "Kenapa? Kamu ingin aku kembali ke pesta?"


"Tidak, Devan, aku ingin pulang, aku lelah. Aku tidak ingin berada di sini lagi," kata Anna terisak, satu tangannya menyeka air mata yang sepertinya menolak untuk berhenti keluar.


"Kalau masih mau tinggal di sini terserah kamu, tapi tidak denganku," tambahnya.


Mendengar itu, Devan mengangkat tangannya yang masih dalam genggaman Anna sambil mengangkat salah satu alisnya.

__ADS_1


"Ah iya, maaf," kata Anna segera melepaskan tangan pria itu.


"Aku pergi, dan kuharap setelah malam ini, aku tidak akan melihatmu lagi," tambahnya lalu berbalik, berjalan menjauh dari Devan.


"Tunggu!" kata Devan.


Namun, Anna mengabaikan pria itu dan terus berjalan, tetesan bening terus mengalir di pipinya. Pada titik ini, dia merasa ingin segera menghilang.


"Anna, tunggu!" teriak Devan sekali lagi, segera mengikuti gadis itu, meraih lengannya dan berhasil menghentikan langkah Anna.


"Jangan hentikan aku, Devan. Kita hanya orang asing, jangan terus memaksaku untuk menuruti semua keinginanmu," kata Anna tidak setuju. Nada suaranya naik sedikit.


"Kemana kamu pergi?" Devan mengulangi, terdengar sangat santai dan mengabaikan semua yang dikatakan gadis itu.


"Tapi jalan keluarnya ada di sana," kata Devan sambil menunjuk ke belakang tanpa membalikkan badannya.


Seketika Anna membeku di tempat, malu? Tentu saja. Lagi-lagi Devan membuat gadis itu malu dengan perbuatannya.


Gadis itu tidak menjawab, dan dengan wajah kaku, dia segera bangkit, berbalik, melewati kehadiran Devan tanpa sepatah kata pun.


Sementara di sisi lain, Devan tanpa sadar menyunggingkan senyum tipis, namun hanya beberapa detik kemudian ekspresinya kembali normal saat menyadari apa yang baru saja dilakukannya. Dia berdeham sejenak lalu mengikuti Anna.


Gadis itu berjalan dengan langkah yang sangat cepat, tentu saja Devan berusaha menandinginya. Pria itu menebak bahwa jika Anna tidak mengenakan sepatu hak tinggi, dia mungkin sudah berlari sekarang.

__ADS_1


Namun, tiba-tiba Anna menghentikan langkahnya membuat Devan yang berjalan di belakang melakukan hal yang sama.


"Apa lagi yang akan dilakukan gadis itu?" Kening Devan berkerut.


Dan ternyata apa yang ada di pikirannya beberapa detik yang lalu baru saja terjadi.


Dari posisinya, Devan bisa melihat Anna melepas sepatu hak tingginya dan memilih bertelanjang kaki. Berjalan lebih cepat dan sekarang bahkan berlari.


"Eh?"


Devan tidak menyangka, bagaimana bisa ada wanita yang tidak memiliki perasaan malu seperti itu? Ketika semua wanita yang selalu ditemuinya berlomba-lomba untuk tampil cantik dan sempurna, Anna memiliki sikap sebaliknya. Ya, meskipun dia tahu bahwa gadis itu tidak baik-baik saja, tetapi bukan berarti dia harus mengabaikan penampilannya, kan?


Gadis itu bahkan tidak memperhatikan tatapan orang-orang di sekitarnya, melepas sepatunya sembarangan, dan memilih bertelanjang kaki.


Sudut bibir Devan terangkat sedikit. "Menarik."


Saat langkah Anna sudah sangat dekat dengan lift, tiba-tiba tubuhnya terangkat dan berhasil membuat gadis itu kaget.


"Jangan menolak," kata Devan. Ya, pria itu menggendong Anna dengan gaya bridal.


"Lantainya sangat dingin, aku tidak ingin kamu sakit hanya karena mengikutiku ke sini," kata Devan segera ketika dia melihat Anna ingin berbicara.


"Kau memaksaku," kata Anna, suara isakan sesekali masih terdengar.

__ADS_1


"Terserah kamu," jawab Devan segera memasuki lift yang baru saja dibuka.


__ADS_2