Unexpected Love : One Night With Mr. CEO

Unexpected Love : One Night With Mr. CEO
Bab 23. Aku Bukan Brian, Anna


__ADS_3

"Kau memaksaku," kata Anna, suara isakan sesekali masih terdengar.


"Terserah kamu," jawab Devan langsung masuk ke dalam lift yang baru saja dibuka.


Berada di pelukan seorang pria kekar, Anna berjuang untuk memberontak. Sampai mereka berdua kembali ke mobil, gadis itu masih dalam pelukan Devan.


Mereka berdua meninggalkan hotel, pergi entah kemana, Anna tidak tahu.


...


Kembali ke rumah Devan, mungkin jam 1:00 pagi. Anna masih terjaga, gadis itu masih terdengar sesekali terisak.


"Tinggallah di sini malam ini," kata Devan tiba-tiba.


Anna yang mendengar perkataan pria itu tidak menanggapi dan hanya mengikutinya masuk ke dalam rumah. Dia juga tidak tahu harus kemana, kost tempat dia tinggal sangat jauh dari sini.


Jadi dia tidak punya pilihan lain selain menuruti kata-kata Devan. Ya, malam ini saja. Terakhir kali dia bersama pria asing itu.


Tubuh Anna tiba-tiba tersentak kaget, itu karena Devan tiba-tiba menoleh ke arahnya dan memegang keningnya.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?" Dia bertanya.


"Kamu telah melihat semua yang terjadi padaku, kamu seharusnya tidak menanyakan itu lagi padaku."


"Maksudku, apakah kamu masih merasa pusing?" tanya Devan sambil menjauhkan tangannya dari kening Anna.

__ADS_1


Sesaat gadis itu membeku di tempat, rasa pusing yang begitu mengganggunya beberapa saat yang lalu telah hilang, entah hilang sama sekali atau karena sakit hatinya yang begitu mendominasi sehingga dia tidak lagi peduli dengan perasaan lain yang dialami tubuhnya.


Ana mengangguk pelan.


Melihat respon gadis di depannya, Devan langsung berjalan pergi, seolah memasuki sebuah ruangan, dan kembali keluar setelah beberapa menit.


"Mau minum denganku?" dia menawarkan sambil membawa sebotol anggur untuk Anna.


Anna tidak menjawab, hanya melirik pria itu.


"Ini," kata Devan, menyodorkan segelas anggur kepada Anna.


"Terima kasih."


Devan hanya menganggukkan kepalanya tidak menanggapi. Penampilan gadis di sebelahnya benar-benar menyedihkan. Meski masih mengenakan gaun mewah yang sama seperti sebelumnya, tapi mata sembab itu tidak bisa membohongi perasaannya saat ini.


Tidak ada yang tahu berapa gelas anggur yang dihabiskan Anna, tubuhnya semakin panas. Dia melepas tuksedo Devan yang membungkus bahunya dan meletakkannya sembarangan, dan itu berhasil mengekspos kulitnya yang terbuka.


Seolah-olah Anna tidak menyadari bahwa dia saat ini bersama pria normal.


Tidak peduli seberapa banyak dia meminum cairan merah itu, ingatannya tentang Brian juga tidak hilang.


Mungkin karena anggurnya tidak banyak? Dia segera meraih botol di depannya dan meneguknya sembarangan, membuat beberapa cairan merah tumpah dan mengalir di dagunya ke leher dan dadanya, seolah-olah dia tidak peduli dengan tatapan Devan padanya.


'Gadis ini,' pikir Devan.

__ADS_1


'Apakah dia tidak menyadari keberadaanku?'


Tapi dia dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia hampir kehilangan kendali atas pemandangan di sampingnya.


Dia menjaga sikap normalnya sebanyak mungkin. Berdeham beberapa kali untuk menormalkan perasaannya dan mencoba untuk tidak menoleh ke arah gadis itu berada.


Hingga terdengar dengkuran halus membuat pria itu menoleh ke arah sumber suara.


Anna tertidur, botol anggur di tangannya.


Helaan napas kasar keluar dari bibir pria itu.


Perlahan tapi pasti, Devan mengangkat tubuh Anna setelah meletakkan sebotol anggur di atas meja, berniat membawanya ke kamar.


"Brian..." sebuah nama terdengar dari mulut Anna, membuat langkah Devan terhenti sejenak.


"Aku bukan Brian, Anna."


Tapi gadis itu terus menyebut nama pria yang telah menyakitinya, sampai-sampai Devan merasa kesal karena terus mendengar nama bajingan itu.


Perasaan seseorang sangat menyusahkan baginya.


Dia membaringkan tubuh Anna di tempat tidur, tetapi tubuhnya tiba-tiba tersentak. Anna menarik tangannya saat itu juga.


"Jangan pergi... Brian." Lagi-lagi, Anna mengoceh dan menyebut nama pria itu entah berapa kali.

__ADS_1


"Aku bukan Brian Anna."


"Sekali lagi kamu menyebut namanya, jangan salahkan aku jika aku melakukan sesuatu yang lebih padamu."


__ADS_2