
Dan baru bangun saat hp berdering lagi.
Melirik ke layar, Devan mengabaikannya begitu saja. Seolah-olah pria itu tidak punya niat untuk menjawab sama sekali.
Itu adalah Leo, sepupunya. Dan hari ini, pria itu terus mengganggunya membuat Devan merasa tidak nyaman.
Benda berbentuk pipih itu terus berdering, membuat Devan meraihnya dan mematikan ponselnya.
Dia tahu betul kebiasaan sepupunya.
Devan melirik arloji di tangannya sebentar, sudah larut malam.
Segera ia meninggalkan kantor, kembali ke rumah. Entah kenapa rasanya hari ini dia sangat lelah, tubuhnya terasa remuk dan kepalanya sedikit berdenyut.
Tidak ada yang tahu berapa kali desah*n lelah keluar dari bibirnya saat mengemudikan mobil.
....
Hari berikutnya. Devan menjalani rutinitasnya yang biasa di kantor, berkutat dengan berbagai dokumen dan file penting.
Perhatiannya teralihkan ketika pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Lagi-lagi Leo yang datang.
"Kau tahu? Ini masih jam kerja, Leo," kata Devan sambil bersandar di kursinya.
Seakan mengabaikan perkataan Devan, Leo langsung menghampirinya. "Kenapa kau tidak pernah menjawab panggilanku?" tanyanya mendaratkan tubuhnya di sofa di kamar.
"Tidak apa-apa," jawab Devan singkat.
__ADS_1
"Jangan berkata seperti itu jika kamu tidak tahu apa yang ingin aku bicarakan," kata Leo lagi.
"Sebaiknya kamu keluar. Aku sibuk," Devan meraih kembali tabletnya dan memeriksa beberapa file di sana.
"Apakah kamu sudah menemukan keberadaan Anna?"
Jari-jari Devan berhenti sejenak lalu melanjutkan lagi, memeriksa file-file di tabletnya.
"Hei, aku bertanya padamu."
"Itu bukan urusanmu, keluarlah. Aku sibuk."
"Hei, hei, itu buruk. Dengarkan aku dulu, Devan," jawab Leo sambil mengendurkan tubuhnya di sofa.
"Terserah," jawab Devan singkat dan datar, sepertinya pria itu tidak ada niat untuk peduli dengan keberadaan Leo.
Segera Devan mengangkat pandangannya, "Siapa maksudmu? Jika kamu hanya ingin membicarakan pacarmu, lebih baik kamu pergi dari sini."
Leo yang mendengarnya hanya tersenyum, seolah pria itu sudah kebal dengan sikap sepupunya itu.
"Maksudku Anna. Aku melihatnya kemarin."
Seketika tubuh Devan menegang mendengar kata-kata Leo, tapi dia buru-buru menormalkan ekspresinya lalu melanjutkan aktivitasnya.
"Kemarin, aku menghubungimu karena ini, tapi kamu mengabaikanku," kata Leo lagi sambil menilai ekspresi Devan. Dia tahu betul bahwa sepupunya telah mencari Anna sejak gadis itu menghilang lima tahun lalu.
"Sepertinya dia sudah menikah."
__ADS_1
"Dan juga punya anak yang berusia sekitar empat tahun mungkin?" tambah Leo lagi.
"Baiklah, karena aku sudah memberitahumu, maka aku akan pergi sekarang," kata pria itu lagi ketika dia tidak mendapat jawaban dari Devan, dia kemudian pindah dari posisinya.
"Di mana kamu melihatnya?" Akhirnya, Devan berbicara membuat Leo tersenyum tipis.
"Aku sarankan untuk tidak mencarinya, Dev. Dia sudah menikah dan punya anak. Aku tidak ingin sepupuku merusak hubungan orang lain."
"Di mana kamu melihatnya?" tanya Devan mengulangi pertanyaan yang sama.
"Di kafe depan kantorku, aku melihatnya saat jam istirahat. Tapi dia sepertinya tidak menyadari keberadaanku, atau karena dia sudah melupakanku," jawab Leo. Saat ini, pria tersebut sudah memiliki perusahaan sendiri, berbeda dengan lima tahun lalu, di mana Leo masih satu perusahaan dengan Devan.
Mendengar penuturan pria itu, Devan kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda, seolah tak peduli dengan ucapan Leo.
"Oke, kalau begitu aku pergi," kata Leo berbalik sambil melambaikan tangannya, meninggalkan ruangan Devan dengan senyum di bibirnya.
Saat pintu tertutup, Devan menyandarkan punggungnya sambil memijat kepalanya yang berdenyut-denyut lagi, mungkin karena semalam dia hanya tidur sebentar? Ya, sejak gadis itu menghilang, dia sulit tidur.
Helaan napas berat kembali keluar dari bibirnya.
Entah kenapa, hatinya sakit ketika mendengar Leo mengatakan bahwa gadis itu sudah menikah dan punya anak. Namun, dia mencoba menolak untuk percaya pada semua itu sebelum dia membuktikannya.
Berada dalam posisi itu selama beberapa menit, Devan kemudian meraih ponselnya dan kemudian tampak menelepon seseorang.
Sekarang sudah jam makan siang, namun Devan masih berada di ruangannya.
Beberapa saat kemudian, "Clarissa, mulai besok dan seterusnya, kosongkan jadwalku pukul sebelas hingga dua," kata Devan tiba-tiba muncul dari ruangannya lalu menutup pintu lagi tanpa menunggu jawaban dari sekretaris, dan berhasil membuat sekretaris terkejut, melongo di tempat.
__ADS_1