Unexpected Love : One Night With Mr. CEO

Unexpected Love : One Night With Mr. CEO
Bab 16. Ingin Pulang?


__ADS_3

Berjalan bergandengan tangan, Anna sedikit menjaga jarak dari Devan.


Memasuki lift, satu per satu pria dan wanita yang bersama pasangannya masuk, terus berlanjut hingga lift hampir penuh. Beberapa dari mereka tampaknya menjadi tamu di hotel ini, sementara yang lain, dilihat dari penampilan mereka, orang dapat menebak bahwa mereka akan pergi ke pesta, atau mungkin mereka sedang menuju ke pesta yang sama yang akan dihadiri Anna dan Devan.


Anna, yang berdiri di pojok paling belakang, merasa tidak nyaman.


Saat lift hendak menutup kembali, sepasang kekasih muncul kembali.


Devan yang melihat siapa kedua sosok itu langsung maju selangkah, berdiri di depan Anna lalu berbalik menghadap gadis itu dengan kedua tangannya bertumpu di sisi lift seolah sedang mengurung gadis itu.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Anna dengan berbisik. Tubuh mungilnya hanya mencapai dada pria itu.


"Ssst..." Jari telunjuk Devan bergerak ke bibir gadis itu.


Beberapa orang sepertinya sesekali menoleh untuk melihat sepasang kekasih di belakang mereka. Termasuk dua sosok yang baru bergabung.


Kedua orang itu adalah Brian dan seorang wanita yang dilihat dari sikapnya sepertinya adalah kekasih pria itu.


Ya, siapa pun akan berpikir seperti itu karena tangannya menempel di lengan Brian.


Devan memiliki perawakan yang tinggi sehingga dia bisa melihat kedua sosok itu lebih cepat dari Anna.


Devan tahu betul bagaimana Anna menghindari pria itu.


Ting...


Pintu lift terbuka.


Semua orang segera keluar dari sana, kecuali Devan dan Anna.


Devan masih di posisinya membuat Anna menaikkan sebelah alisnya bingung.


"Apa yang sedang kamu lakukan?"


"Cepat, menjauh. Kamu terlalu dekat membuat mataku sakit," kata Anna.

__ADS_1


Devan tetap pada posisinya sampai lift tertutup kembali. Dan pada saat itu, pria itu kembali ke posisi semula di samping Anna. "Ingin pulang kerumah?" tanya Devan tiba tiba dan itu membuat kerutan di dahi Anna semakin jelas.


Apa maksud pria itu dengan mengatakan hal seperti itu? Dia memaksanya untuk menemaninya ke pesta dan mereka bahkan belum tiba di tujuan dan akan kembali ke rumah?


Tidak hanya itu, Anna telah mengorbankan pekerjaannya hanya untuk menghadiri pesta yang sama sekali tidak berguna baginya.


"Apakah kamu bercanda?" tanya Anna dengan nada tidak setuju. Bukan tanpa alasan, dia berada di tempat ini sekarang itu semua karena pengorbanannya yang besar.


"Tidak, aku hanya bertanya padamu, Anna," jawab Devan.


"Aku telah berada di sini dengan mengorbankan pekerjaanku dan sekarang kamu bertanya apakah aku ingin pulang?" kata Anna sinis.


"Jangan bercanda."


"Oke, oke. Kita tidak akan pulang," jawab Devan segera.


"Kuharap, apapun yang terjadi di pesta nanti..kau masih memiliki pendirian ini," tambahnya lagi sambil menghela napas kasar.


Mendengar itu, Anna hanya terdiam dan tidak menjawab lagi.


Devan menekan tombol lift lagi, tepat di nomor lantai yang akan mereka tuju. Dan kali ini hanya mereka berdua di sana.


Dan pada saat yang sama, Devan meraih tangan Anna dan mengaitkannya ke lengannya.


"Jangan protes, Anna. Malam ini jadilah kekasihku. Itu aturannya mengikutiku ke pesta ini."


Gadis itu ingin protes tapi langsung dihentikan oleh Devan. Dan apa yang dia katakan? Ikuti dia ke pesta? Anna memutar bola matanya kesal.


"Aku tidak mengikutimu, Tuan. Kamu yang memaksa ku," jawab Anna.


"Tapi kamu tidak mau pulang ketika aku memintamu sebelumnya. Aku pikir siapa pun tidak akan merasa terpaksa setelah mengatakan seperti itu, Nona," jawab Devan, tidak kalah.


Anna berhenti berjalan, menyebabkan pria itu melakukan hal yang sama. Jelas bahwa gadis itu tidak menyukai apa yang baru saja dikatakan Devan.


"Ada apa? Hmm?"

__ADS_1


"Hah, terserah kamu saja," jawab Anna. Melepaskan tangannya dari lengan Devan dan memutuskan untuk berjalan lebih dulu. la merasa kesabarannya diuji saat bersamanya.


Namun, Anna hanya mengambil beberapa langkah, dan Devan menarik lengannya ke belakang, menyebabkan tubuh mungil itu sedikit tersentak dan kemudian menabrak tubuhnya. Gadis yang mendongak menatapnya dengan marah.


"Wow... yah... lihat siapa yang baru saja datang," suara seorang pria menarik perhatian Devan dan Anna.


Melihat sumber suara, sesosok pria berjalan ke arah mereka dengan setelan kasualnya.


Dia adalah Leo. Sepupu Devan.


"Kupikir kau tidak akan datang," kata Leo sambil menepuk bahu Devan.


"Ah siapa gadis ini, Devan? Apakah dia mainan barumu?" dia melanjutkan lagi dengan nada suara yang sedikit berbisik pada kalimat terakhirnya.


"Jaga ucapanmu, Tuan," kata Anna dengan nada tidak setuju sambil mendorong tubuh Devan sedikit menjauh darinya.


"Wow... Baiklah. Maaf," jawab Leo segera.


"Perkenalkan, saya Leo. Sepupu Devan," kata pria itu memperkenalkan dirinya.


"Devan?" Anna bergumam dengan satu alis terangkat. "Ya, pria yang bersamamu itu."


"Wooah... Mungkinkah kamu tidak tahu namanya sama sekali?" Leo bertanya dengan ekspresi kaget yang dibuat-buat.


Anna tidak menanggapi kata-kata pria itu, dan sebaliknya, dia berbalik untuk melihat pria yang ternyata bernama Devan.


"Astaga.... ada apa ini? Kukira kalian berdua sudah saling kenal. Padahal dari jauh kalian terlihat cocok," kata Leo lagi, melanjutkan obrolannya.


"Kami memang saling mengenal," jawab Devan singkat dan itu membuat Leo ternganga lagi.


Devan menjawab lagi? Pria terdingin itu menjawabnya? Apakah dia sedang bermimpi?


"Yah, mungkin hanya kau yang mengenalnya," kata Leo setelah beberapa detik terdiam.


"Nona, apa yang pria ini lakukan padamu? Apakah dia mengancammu untuk datang ke sini?" tanya Leo berniat menggoda sepupunya. Dia hanya berpura-pura.

__ADS_1


"Dia memang mengancamku," jawab Anna singkat. Dan itu membuat Leo membeku di tempat. Balasan gadis itu benar-benar di luar dugaannya.


Apa lagi ini? Wah, dunia sudah gila. Devan mengancam seorang wanita untuk pergi dengannya? Benar-benar kejadian yang sangat langka.


__ADS_2