
"Nona, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" Suara yang sangat dirindukan Anna mencapai telinganya. Sekarang, Brian ada di sampingnya.
Tubuh Anna menegang, bahkan lebih, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang, dia tidak ingin melihat pria itu lagi.
Haruskah dia lari dari sana secepat yang dia bisa?
Atau haruskah dia meminta penjelasan pria itu tentang semua yang dia lihat?
"Nona," kata pria itu lagi sambil menepuk bahu Anna. Sepertinya pria itu sedikit curiga bahwa gadis yang duduk itu adalah Anna.
Mungkin karena hubungan mereka selama bertahun-tahun, jadi hanya dengan melihat sekilas saja sudah bisa mengetahui keberadaan masing-masing.
Brian memanggilnya beberapa kali sambil menepuk pundaknya, Anna masih tidak bergeming. Sejujurnya, dia merindukannya, tetapi hatinya sudah sakit.
Berjuang dengan pikirannya untuk waktu yang lama, Anna kemudian memutuskan untuk berani menghadapi pria itu, karena cepat atau lambat dia akan dihadapkan dengan hal seperti ini. Jika ada cara lain, Anna hanya ingin menghindari pria itu dan tidak pernah melihatnya lagi seumur hidupnya. Ya, andai saja dia bisa. Tapi posisinya saat ini sangat tidak mungkin. Itu juga salahnya karena tidak meninggalkan tempat itu lebih awal dan memilih untuk melihat kekasihnya dengan wanita lain.
"Aku tahu, kamu Anna, Brian tiba-tiba berbicara lagi setelah beberapa menit hening.
Anna terkejut, bagaimana bisa pria itu dengan seenaknya langsung mengenalinya. Padahal dia menyembunyikan wajahnya.
"Berhenti bersikap kekanak-kanakan, ayo bicara."
"Aku masih ingat cincin di jari kamu. Itu hadiah pemberian dariku," tambahnya.
Anna tersentak, sekarang tidak ada cara baginya untuk melarikan diri. Air mata bening yang dia tahan dengan patuh mengalir di pipinya.
"Berdiri dan berhenti menyembunyikan wajahmu, atau aku akan memaksamu," kata Brian lagi.
Jarak mereka hanya sekitar satu meter, Brian berdiri sementara Anna masih duduk dengan kepala tertekuk di antara kedua lututnya.
__ADS_1
Tiba-tiba ponsel pria itu berdering,sepertinya ada yang memanggilnya, Brian hanya melirik layar ponselnya tanpa ada niat untuk menjawabnya.
"Anna, aku sibuk. Jadi, ayo kita bicara dulu," katanya lalu mendekat ke arah Anna yang tampak memeluk lututnya lebih erat.
Ketika tangan Brian hanya beberapa sentimeter dari bahu Anna, tiba-tiba seorang pria muncul dan memeluk gadis itu dengan erat.
Tentu saja, baik Anna maupun Brian sama sama terkejut.
"Aduh, maaf membuatmu menunggu sayang."
"Kamu pasti kedinginan," tambah pria itu lagi lalu melepas jaketnya dan menutupi tubuh Anna.
Di sisi lain, Anna tercengang, suara itu terdengar familiar di telinganya. Di mana dia pernah mendengarnya? Dia tidak ingat.
Tangan Brian yang hampir menyentuh tubuh Anna menggantung di udara selama beberapa detik sebelum ditarik olehnya.
"Itu seharusnya menjadi pertanyaan untukmu, siapa kamu? Dan apa yang kamu lakukan dengan istriku?" tanyanya dengan alis terangkat ke arah Brian.
"Ck, istrimu? Jangan membuatku tertawa. Gadis ini kekasihku. Cincin di tangannya adalah hadiahku, sebaiknya kau pergi dan jangan ganggu kami."
"Maaf tuan. Mungkin salah orang. Dia istri saya, soal cincin itu, itu pemberian saya karena dia akhirnya berhasil mengandung anak saya. Dia sedang hamil. Mungkin karena ngidam bawaannya, makanya dia agak aneh," pria itu menjelaskan panjang lebar.
"Apakah itu benar?"
Pria itu mengangguk meyakinkan.
Ponsel Brian berdering lagi.
"Ya, aku akan masuk," dia mendengar seorang wanita di ujung sana berbicara.
__ADS_1
"Oke saya minta maaf,"
"Kalau begitu kami pergi dulu," kata pria itu, dan Brian mengangguk. Dibantu oleh seorang pria yang tidak dikenal Anna, dia berdiri perlahan dengan jaket masih di kepalanya. Dia memperbaikinya sedikit sehingga wajahnya masih tertutup.
Apa yang terjadi padanya sekarang, Anna tidak tahu. Dia mematuhi pria yang wajahnya bahkan tidak bisa dia lihat. Satu hal yang dia syukuri, kali ini, dia berhasil menghindari bajingan itu lagi.
Hujan telah berhenti beberapa menit yang lalu, Anna merasakan tubuhnya digiring ke sebuah mobil.
"Masuk," suara pria itu kembali terdengar setelah membuka pintu mobil. Anna tahu dia berada tepat di sebelah mobil.
Kerutan samar muncul di dahi Anna, bukankah sangat berbahaya memasuki mobil pria asing? Mungkin, dia harus lari sekarang?
Tangannya bergerak untuk melepas jaket tapi dihentikan oleh suara pria itu.
"Apakah kamu bermaksud menunjukkan dirimu kepada orang itu? Lalu bukalah. Orang itu masih memperhatikanmu."
"Oh tidak, dia sedang dalam perjalanan kesini," tambah pria itu.
Mendengar itu, tanpa ragu Anna masuk ke dalam mobil dan menutupnya rapat-rapat. Terdengar bunyi tik yang menandakan pintu mobil terkunci.
Anna perlahan mengintip dari balik jaket, melihat kaca depan mobil berwarna hitam, Anna menghela nafas lega dan segera melepas jaket yang menutupi seluruh kepalanya.
Tepat saat dia menghela nafas lega, Anna tersentak lagi ketika dia melihat siapa pria yang telah membantunya tadi.
Dia adalah pria tadi pagi. Pemilik rumah tempat ia bermalam. Penyebab semua kemalangannya hari ini. Mengapa pria itu ada di sini?
Dan sekarang, pria itu sedang menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan satu alis terangkat.
"Kamu sangat cantik dengan pakaian itu," katanya lalu menyalakan mobil dan melaju keluar dari tempat parkir. Senyuman yang terlihat di bibirnya membuat Anna semakin tenggelam di kursi mobil.
__ADS_1