
"Lupakan saja, kau miskin," kicau Anna tak jelas. Dia menundukkan kepalanya lagi di meja konter. Pusing dan rasa mual yang dialami semakin hebat.
"Begitukah rasanya ketika seseorang mabuk?"
"Buruk," gumamnya kembali dengan kepala masih menunduk.
Matanya sudah tertutup karena jika dia membukanya lagi, dia mungkin akan memuntahkan semua yang ada di perutnya saat itu juga.
Dering ponsel seseorang yang dia duga adalah pria yang menolak hadiahnya menggelitik telinganya. Meskipun, saat ini Anna terlihat seperti orang yang kehilangan kesadaran, semua yang ada di sekitarnya masih dapat didengar dengan sangat jelas.
"Hmm," suara bariton seorang pria terdengar.
"..."
"Aku sudah menyuruhmu untuk berhenti menggangguku," dia sepertinya berbicara kepada seseorang di ujung telepon.
"..."
"Berhenti bertingkah seperti itu, kamu menggangguku," dan setelah mengatakan itu, pria itu segera mengakhiri panggilan secara sepihak.
Anna tidak melewatkan sepatah kata pun dari percakapan pria itu, karena posisinya hanya dibatasi oleh dua kursi bar. Jika Anna menebak itu mungkin pacar pria itu.
"Dasar bajingan," gumam Anna lagi.
"Hei, kamu. Berhentilah memperlakukan wanita seperti itu, wanita juga punya hati, jangan bertingkah seolah kamu satu-satunya di bumi ini," tambahnya dengan suara yang naik turun, khas orang mabuk.
Merasa bahwa semua kata-kata ini ditujukan padanya, pria itu berbalik dan menghadap wanita yang telah mengganggunya sejak tadi. Dia tidak tahu masalah apa yang dia miliki dengannya sehingga dia terus diganggu.
“Saya pikir dengan kondisi Anda saat ini, Anda tidak perlu ikut campur dalam urusan orang lain, Nona.”
Anna hanya menghela nafas mendengar kata-kata pria yang sepertinya ditujukan padanya.
"Nona, bisakah Anda memberi tahu saya nomor telepon teman atau keluarga Anda untuk menjemput Anda di sini?" tanya bartender lagi mengulangi pertanyaan yang sama.
"Hhhh, ibuku, kamu bisa menggalinya di dalam kubur. Sedangkan ayahku, alangkah baiknya jika kamu mencarinya untukku, tanganku gatal untuk membunuhnya. Bagaimana jika kamu membawaku nanti," jawab Anna dengan nada tinggi lalu kembali terisak, sepertinya dia belum melupakan semua hal yang terjadi dalam hidupnya.
"Wanita yang gila," gumam pria yang duduk di sebelahnya.
"Ah aku punya satu orang, tapi aku ragu apakah dia akan peduli padaku, tsk," katanya lagi lalu tertawa keras seperti orang yang kehilangan kewarasannya.
__ADS_1
Melihat perubahan ekspresi pada wanita di depannya yang terjadi begitu cepat membuat pria bartender itu merasa sedikit bersalah. Bagi si bartender, ini adalah pertama kalinya dia melihat seseorang yang begitu menyedihkan, terutama jika itu adalah seorang wanita. Dia merasa menyesal tetapi juga merasa lucu pada saat yang sama.
Detik berganti menit, menit berganti jam, tak terasa Anna sudah berada di tempat itu selama dua setengah jam.
Tidak ada lagi gumaman yang terdengar, hanya isakan sesekali keluar dari bibirnya. Dan kemudian diam, seperti orang yang sedang tidur. Bartender itu hanya menghela nafas pasrah dan dengan sabar menunggu sampai wanita itu sadar kembali.
Anna telah berhenti minum satu jam yang lalu karena dia tidak bisa menahan berat badannya lagi dan akhirnya tanpa sadar, dia menjatuhkan kepalanya di meja konter dan tertidur di sana.
.
.
.
Anna mengedipkan matanya, masih di bawah pengaruh minuman beralkohol dia mencoba melihat sekelilingnya, sepertinya pusingnya sedikit mereda. Tapi rasanya tidak enak sama sekali. Tenggorokannya sangat kering. Dia sangat haus.
Melihat sebotol air mineral di hadapannya, Anna langsung mengambilnya dan meminumnya tanpa menanyakan milik siapa air itu.
Tegukan pertama yang berhasil melewati tenggorokannya, dia muntah lagi.
Tebakannya salah, bukan air mineral seperti yang ada di pikirannya, rasanya begitu hambar dan asam seperti rasa minuman yang diminumnya tadi.
Perasaannya tidak stabil, dan terkadang sakit kepala masih mendera kepalanya.
Tiba-tiba sepasang pria dan wanita memasuki bar, Anna berbalik untuk melihat mereka dan dia terkejut.
Apa yang dilakukan bajingan itu di sini?
Bukankah dia bercinta dengan seorang wanita beberapa waktu lalu?
Siapa lagi wanita yang bersamanya itu?
Jelas bagi Anna bahwa wanita dengan Brian tidak sama sebelumnya.
Mereka mendekati meja konter membuat Anna bingung, dia tidak tahu harus berbuat apa untuk menghindari Brian.
Otaknya bekerja cepat, rasa mabuk yang melandanya beberapa saat yang lalu tiba-tiba menghilang.
Bagaimana dengan ini?
__ADS_1
Dia tidak ingin dilihat oleh bajingan itu.
Dengan keberanian yang tersisa, Anna segera pindah ke pria yang duduk di sebelahnya dan mendaratkan bibirnya di bibir pria itu.
Tentu saja kaget, pria itu melotot dan langsung mendorong Anna tetapi ditahan olehnya yang telah melingkarkan lengannya di lehernya dengan botol minuman yang masih ada di genggamannya. Ingin mengejan untuk kedua kalinya namun terhenti saat lelaki itu merasakan air mata jatuh dan membasahi bibir keduanya yang masih berciuman.
"Tolong aku, sekali ini saja," bisik Anna tanpa melepaskan bibir mereka.
Sedangkan bartender laki-laki yang melihat perubahan sikap tiba-tiba dari wanita mabuk itu hanya bisa menatap kaget. Dia pikir itu terlalu barbar.
"Selamat datang, ..."
"Pinot noir," kata wanita itu, menyela bartender, salah satu tangannya memegang lengan seorang pria yang tidak lain adalah Brian. kekasih Ana.
"Sayang, jangan pilih minuman itu, aku tidak mau jika kamu mabuk, pilih minuman lain," kata pria itu lalu menarik kursi bar dan mempersilakan wanita itu duduk.
"Bekerja di kantor membuatku stres, sayang, sekali ini saja, ayolah. Besok liburan, lagipula kamu di sini," kata wanita itu lagi dan mendaratkan ciuman di pipi pria itu.
"Sudahlah, terserah kamu. Tapi jangan minum terlalu banyak," kata pria itu lagi lalu mencoba melihat sekeliling ruangan.
Tatapannya terhenti pada sepasang kekasih yang sedang berciuman tepat di sampingnya, dengan posisi wanita membelakanginya.
"Pasangan yang tidak tahu malu," kata wanita yang bersamanya sambil mengikuti tatapan Brian.
Sementara di sisi lain, Anna yang mendengar percakapan mereka memperdalam ciumannya. Air matanya mengalir deras. Meskipun dia tidak mendapatkan jawaban dari pria itu, dia tidak peduli.
Hatinya sakit. Dia tidak lagi peduli dengan siapa ciuman pertamanya diberikan, yang dia inginkan sekarang adalah keluar dari tempat ini.
Anna melepaskan ciumannya dan berbalik untuk memeluk pria itu.
"Tolong aku, sekali ini saja. Bawa aku pergi dari sini. Aku mohon," bisik Anna tepat di samping telinga pria itu dengan suara yang masih terisak.
Pria itu sepertinya kurang lebih mengerti tentang situasi Anna.
Dia kemudian mengeluarkan sejumlah uang dan membayar minumannya serta milik wanita yang masih memeluknya.
"Sisanya untukmu," katanya.
"Sepertinya Anda tidak tahu konsekuensi dari tindakan Anda, Nona," bisiknya sensual dengan seringai terpampang di bibirnya. Kemudian menggendongnya dengan gaya pengantin. Sementara Anna tersentak kaget dan secara refleks menyembunyikan wajahnya di dada lebar pria itu.
__ADS_1
Pria bartender yang melihat keanehan kedua orang itu hanya menatap seperti orang idiot.