
"ka Na" panggil bocah lima tahun yang unyu berpipi gembul bak bakpau tak lupa nada manjanya tanda ingin sesuatu sambil mengguncangi tangan kecil Anan yang sedang di sofa.
"ya, apa Ja?" tanya Anan yang sedang belajar di sofa membaca majalahnya dengan bertelungkup. bocah tujuh tahun yang sudah menujukkan ke jeniusnanya di umurnya yang masih bocah itu. Ya meski tak di ragukan lagi jika kalau anak pengusaha kaya punya kejeniusan tinggi dan pasti IQnya pass atau di atas rata rata.
"Ja bosen ka" ucap Jack duduk merengek di lantai dan mendongak memasang tampang sedihnya pada kakak yang paling iya sayangi. Bocah lima tahun itu sangatlah menyusahkan. Terlalu manja dan bikin kezel sendiri tapi karena gembulnya mambuat Anan tak ingin kehilangan adik yang menyusahakn itu di tambah ramalan yang mengejutkannya membuat Anan tak sanggup melihat Jack di masa depan.
"ya nanti kita keluar kok sama bi Nah" ucap Anan mengelus pucuk kepala Jack yang wangi Jeruk itu.
Bi Nah adalah pengasuh mereka berdua dari baby sampe dewasa nanti. Dari bayi mereka sudah di asuh bi Nah karena mereka termasuk anak tak di butuhkan. Orang tua mereka tinggal di Jakarta. Kota sebagai pusat ibu kota dan pusat semuanya. Ayahnya Aliando Marchelo seorang CEO perusahaan di keluarganya yang harus menikah dengan orang yang tak se agama dengannya dia Alice Ariangel seorang putri dari kerajaan Ariangel kerajaan muslim satu satunya di inggris. tinggal bersama keluarga yang sederhana penuh kasi sayang karena kerajaannya sudah di sembunyikan oleh para keturunan kerajaan Ariangel karena banyaknya kerajaan yang ingin memiliki ke kayaannya.
Mareka masih beda agama ketika sudah menikah hingga membuat perpecah belahan dalam rumah. Ya Arka si anak pertama menganut agama sama dengan ayahnya yaitu katolik dan Lisa anak terakhir menganut agama islam. Dan Anan beserta Jack islam karena di asuh oleh pama Yaka adik dari bunda mereka.
Kenapa tidak cerai saja Kan beda agama. Pertanyaan itulah yang sering muncul di saat publik menyapa mereka di ujung sapaan. Ya Karena jhon, ayah Ali yang menginginkan putranya menikah dengan Alice sebagai permintaan maaf pada keluarga Alice yang tertabrak olehnya tapi entah sengaja atau tidak Alice dan Yaka tak tahu itu. Yang paling membuat mereka tak bisa adalah peraturan dalam mafia yang di ikuti Ali. 'Tak ada perceraian dalam mafia selain mati' itulah hal yang membuat mereka bertahan hidup berdampingan. Walau Alice kadang harus menangis di kala dia atau putranya Jack di perlakukan kasar oleh Ali ya seperti KDRT.
Mereka tinggal di Jakarta bersama Arka dan Lisa ya dua anak cukup sepasang tanpa ada yang lain. Jadi Jack dan Anan hidup tanpa kasi sayang ortunya. Ya mereka bisa di terima jika ada kelebihan contohnya Anan. Di umurnya yang masih kecil itu iya bisa mengejar kelas Arka yang sudah SD di Jakarta membuat ayah sering datang ke padang guna menjenguk anak Jeniusnya Anan.
Kembali pada Anan dan Jack...
"sabar ya Ja, kita pasti keluar kok" lanjut Anan. Jack cemberut akan jawaban Anan. Melepas pegangan tanganya pada Anan. Mana mungkin bi Nah bisa temanin keluar bi Nah saja pulang kampung Jack tahu itu Anan pasti lagi malas untuk keluar bersamanya.
"bi Nah kan libur Ka" ucap Jack dengan rengekanya di hadapan Anan yang merubah posisi duduk di sofa. Membuat Anan harus berfikir dua kali karena adikny ini memang lebih cerdik darinya. Jika Anan tak mencari cara untuk adik cowonya itu tak mengeluarkan jurus andalanya. ****** nanti Anan kewalahan menghentikanya nanti.
"iya bentar ka Na telpon paman Yaka ya" ucap Anan berjalan ke arah kamar untuk menelpon paman Yaka di kantor meminta izin dan meninggalkan si bocah manja nan meyusahkan itu di ruang tamu. Jack langsung senyum sumringah dan duduk di sofa tepat Anan tadi. Jack mengamati majalah yang di baca Anan sedikit yang iya pahami yaitu gambar di mjalah itu. Majalah bobo yang memang mempunyai banyak cerita seru membuat Jack tak bosan memandangi gambarnya.
Denga lihai Anan mengetik nomor telpon Yaka ketika ponselnya di pagang. Setelah selesai mangetik nomor yang kini sudah lengkap semua dengan urutan yang sesuai Anan menekan tombol panggil.
Tu......t tu.....t Tu....t
Suara panggilan telpon tapi tak kunjung di angkat. Membuat Anan jadi resah panik menghadapi ini.
"nomor yang anda tuju sedang sibuk cobalah beberapa saat lagi" ucap operator dari ponsel Anan yang di berikan ayah sewaktu berkunjung di Padang sebagai hadiah ulang tahunya. Anan berkali kali menelpon paman Yaka yang sibuk bekerja sebagai penjual kue di tokonya. Padahal mereka bisa saja hidup berkecukupan dengan uang yang di kirim Ali kakak iparnya tapi menurut paman Yaka dia lebih ingin hidup bersama Anan dan Jack dengan yang halal.
Hampir lima menit Jack membaca majalah menunggu Anan dan iya memutuskan untuk menengok Anan dan memastikan kalau dia bisa keluar kali ini. Sebab kerinduannya pada pria yang tak kunjung datang ke taman dua minggu lalu,pria yang menemani bermainya selama dua minggu juga. Anan menoleh ke Jack yang baru saja sampai di kamar mereka. Jack langsung duduk di tepian ranjang yang terbuat dari kapuk itu. Itu ranjang mereka berdua ya mereka tak seperti Arka dan Lisa yang tidur di King size mewah dengan selimut lembut sutera.
"ga di angkat Ja" ucap Anan irih entah apa yang akan iya lakukan di kala Jack mengunakan jurus andalanya.
"Ja ga mau tau ka" ucap Jack memalingkan wajahnya dari Anan seperti orang marah. Tapi itu tak membuatnya kelihatan sedang marah malah seperti orang yang unyu membuat orang yang melihat langusng mencubit pipi gembul Jack tidak dengan Anan kemarahan adik laki lakinya itu akan menimbulkan musibah baginya dan Anan tidak ingin itu terjadi karena sayangnya pada adik laki lakinya.
__ADS_1
"pokoknya Ja mau keluar sekarang ka Na" rengek Jack dengan mata berkaca kaca. Sepertinya Jack akan mengunakan jurus ampuhnya. Menangis hingga lelah ato ngantuk walau keinginannya sudah di turuti tanpa kecuali.
"ya maaf Ja ka Na ga bisa" bantah Anan lembut sambil mengusap air mata Jack yang sudah menetes setetes di pipi gembulnya.
Anan berjalan menuju ranjang yang terbuat dari kapuk itu mendekatkan dirinya pada adik laki lakinya. Anan jongkok di depan Jack yang duduk di tepian ranjang dengan mata berkaca kaca. Anan mengusap air mata di mata adik laki laki di drpanya itu. Anan tersenyum getir kala melihat kecewa di raut wajah adik cowonya itu.
"ka Na kita keluar aja, sebentar ko" ucap Jack irih dengan iris mata abu abu indahnya memancarkan penuh harapan akan keluar di jam biasa dia ke taman bersama om Ray yang sudah dua minggu tak kunjung datang lagi ke taman tempatnya mendapat kasi sayang ayah dan senyum yang seharusnya karena ayahnya walau mereka tak sedarah.
"okelah, ayo" Anan akhinya setuju toh taman dekat dengan kediaman paman Yaka.
Rumah minimalis dengan cat warna hijau yang membutanya nampak elegan di tambah barang yang antik nan indah jika di tatap penuh makna, namun sayang paman Yaka belum juga beristri alasanya simpel karena belum ada yang menerimanya apa adanya. Yaka tak mau seperti Alice yang menikah karena permintaan maaf dari ayah sang kakak iparnya. Itu sangatlah mengerikan apa lagi beda agama,sangatlah buruk apa lagi menikah beda agama tak di anggap Allah membuat Yaka teguh keyakinannya untuk lebih mencari yang cocok.
"ye ka Na baik de" ucap Jack sumringah langsung memeluk Anan yang masi jongkok membuat mareka terbaring di lantai masi berpelukan.
"ayo cepet nanti kita juga bisa cepet main" ajak Anan di angguki Jack tak lupa senyum ke biasaan Jack terpampang di wajah gembul bak bakpaunya.
Mereka akirnya keluar dari kediaman yang minimalis itu. Berjalan di trotoar adalah hal yang menyenangkan dimana kita bisa tegur sapa pada orang yang kita temui tak lupa senyum ibadah yang paling mudah untuk mendapat pahala. Mereka berjalan dengan riang gembira. Jack terus menerus manarik tangan Anan dengan setengah berlari supaya lebih cepat berjalan. Jalan Padang memanglah ramai tak seramai Jakarta tapi itu membuktikan kota Padang adalah kota yang juga di minati oleh orang orang.
"ka Na, Ja mau es" ucap Jack menujuk ke penjual ice cream di sebrang jalan. Anan mengerutkan alisnya melihat penjual ice cream di sebrang sana. Ya karena Anan tak bawa uang sepersenpun bahkan ponselnya saja ketinggalan.
"m..ka Na ga bawa uang Ja" ucap Anan ragu, takut adiknya nekat berlari ke penjual ice cream di seberang jalan.
"yah masa ka Na ga bawa si" ucap Jack kecewa.
Anan menatap Jack dengan rasa bersalahnya. Salah karena tak bisa membelika ice cream untuk Jack. Haruanya iya tadi membawa uang tabungan untuk jaga jaga jika terjadi seperti ini. Yah apalah daya manusia yang kadang salah ini. "yok pulang kita ambil" ajak Anan menarik pergelangan tangan kanan Jack. Tapi Jack malah bersi kukuh dengan ke inginannya. Jack berusaha melepas tarikan Anan di pergelanganya dengan menggeleng kuat.
"ka Na Ja ga mau, Ja mau sekarang nanti kita balik pas uda dapat es" bantah Jack mencoba melepas tarikan Anan yang mulai membawanya kembali ke rumah minimalis Yaka.
"ngga Ja ka Na ga bawa uang nanti kita balik kok, kita bisa lebi lama di taman nanti" balas Anan tak kalah. Jack terus meronta ronta mencoba melepas tarikan Anan. Sebenarnya Anan masi mau jalan jalan ke taman tapi apalah dayanya yang lupa bawa uang dan ponselnya. Jadinya Anan harus kembali ke rumah minimalis paman Yaka. Kalau Anan sendiri yang balik maka Jack akan sendiri di taman kemungkinan besar Jack bisa di culik.
"ayolah Ja" Anan memelas pada Jack yang masi kukuh atas ke inginannya. Ya ice cream adalah makanan ke sukaan Jack. Ketika bersama orang asing pun asal di beri ice cream Jack langsung menurut saja dan sibuk pada ice creamnya.
"ga mau ka Na" balas Jack menolak mentah mentah. Membuat mareka berdua saling beradu ke inginan. Tak terasa mereka sudah lama tarik menarik dan sudah lama pula seorang pria menonton mereka. Ya rencan awalnya ke taman adalah bertemu dengan anak yang iya panggil tegar si anak ramalan dunia mempunyai iris mata abu abu bercorak indah yang sulit untuk di tiru dengan karya tangan manusia tak lain adalah Jack.
Memang sudah terbukti ramalan itu terjadi. Ya walau kabar itu di curi dari langit oleh syetan tapi itu benar benar terjadi. Kini bocah itu sudah tumbuh menjadi bocil yang membuat semua orang kesal denganya. Memang sangat pintar bocah itu mencari perhatian orang lain untuknya dan juga Jack sudah bisa melawan, kekuatanya melebihi semua anak di usianya. Tapi entahlah apa yang ada di pikiran Ali ayahnya Jack yang tak caya akan ramalan itu.
"ka Na jahat" teriak Jack dengan keras. Tanpa sadar Anan melepas tarikan dan pegangan pada pergelangan Jack karena terdiam akan kata kata adik cowonya itu.
__ADS_1
Jahat? Itu bukanlah Anan tapi itu adalah cara Anan melindungi Jack batin Anan. Merasa pegangan Anan terlepas Jack langsung berlari ke jalan guna sampai di tempat penjual ice cream meminta satu saja untuknya karena iya sangat ingin sekali. Memang Jack selalu tergoda dengan ice cream.
Anan yang tersadar akan Jack yang sudah berlari hingga tengah jalan langsung berlari pula mengejar Jack si anak manja nan merepotkan tapi tak untuk Anan, menurut Anan Jack adalah adik cowo yang istimewa.
"Ja!" panggil Anan bertriak khawatir akan terjadi apa apa pada adik cowonya itu. Meskipun Jack mengesalkan tapi itulah yang membuat Anan sayang pada Jack. Mareka pula adalah anak yang tak di inginkan ayaha mereka. Tapi kakek mereka yang paling menyayangi mereka dari pada Arka dan Lisa. Ya setimpal kan?.
"ka Na jahat!" teria Jack masi berlari di tengah Jalan tanpa takut pada mobil dan motor yang berlalu lalang dengan secepat kilat itu.
Tak butuh waktu lama untuk pria itu mengambil Jack dari tangan sang musuhnya Ali ayah dari bocah itu sendiri. Ya walau Jack bukan anaknya tapi iya juga berhak atas Jack. Karena kalau bukan karena pengorbanan cintanya pada Alice. Ya harusnya dia yang menikahi Alice. Hingga menjadikanya pejakar tua yang masi menunggu cinta dari ke kasihinya Alice yang menikah dengan Ali yang sebenarnya sahabatnya sendiri.
Pria itu mempercepat lajuan mobil sedan hitamnya. Iya harus membuat Jack terluka agar bisa membawanya dengan mudah. Pria itu mangarahkan mobil sedannya ke arah Jack yang sedang berlari. Hingga...
Buk.....
Suara tabrakan antara tubuh manusia dan mobil terjadi. Mobil sedan itu langsung berhenti setelah menabrak seseorang. Pria itu langsung keluar dari mobilnya dengan hati gembir ria. Bagaiana tidak hanya tinggal membawa anak yang iya panggil tegar itu ke RS dan setelah sadar iya akan terbang bersama tegar ke negri tirai bambu cina.
Tapi...alangkah kagetnya pria itu melihat siapa yang di tabraknya. Orang yang salah, anak jenius si Aliando marchelo, kakak dari Jack. Kenapa si jeniua Marchelo sih umoat pria itu frustasi mengacak rambutnya.
"ka Na!" sorak bocah lima tahun yang sedang duduk di pinggir jalan dengan lutut terluka.
"ka Na" panggil bocah itu lagi sambil menghampiri tubuh yang sedang berbaring bersimpah darah di tengah jalan.
Sedang pria yang menabrak itu hanya diam mematung menatap ke dua bocah laki laki yang dia tabrak setelah mendengar panggilan bocah yang paling ingin iya bawa,bocah yang iya temani selama di taman,bocah yang iya anggao anak sendiri. Tubuhnya gemetaran keringat bercucuran. Iya tak menduga kalau yang di tambrak bukan bocah lima tahun tapi tujuh tahun. Setelah bergulat dengan fikiranya pria itu membopong Anan masuk mobilnya tapi Jack masi menangis terisak isak di jalan sambil duduk.
Setelah meletakkan Anan di jok belakang pria itu berjalan menuju Jack yang sedang terisak mengucek kedua matanya dengan kedua tanganya yang sedang terbanjiri air mata. Pria itu tak kuasa manahan iya berdiri mematung di depan Jack. Perlahan iya berjongkok mengelus pipi lembab Jack. "nak ayo kita antar kakak mu ke rumah sakit" ajak pria itu lembut berhenti mengelus pipi Jack. Sontak Jack menatap wajah pria di depanya.
Ingatan dua minggu lalu kembali di benak bocah lima tahun itu setelah medengar ajakan seorang pria. Jack ingat betul siapa pria yang berjongkok di hadapannya ini. Jack mengangguk karena tak mungkin Jack bicara karena suaranya pasti putus putus nantinya. Pria itu tersenyum dan menggendong Jack memasuki mobilnya.
Di letakkanya Jack di jok belakang bersama Anan yang menahan sakit akibat luka tabrakanya belum di obati. Mobil berjalan cepat menuju RS terdekat. Pria itu tampak fokus pada jalanan tapi itu hanya nampak sebenarnya iya frustasi bagai mana dia bisa membawa bocah yang iya impikan bocah yang iya beri kasi sayang seorang ayah. Sementara Jack memangku kepala Anan di paha kecilnya. Air matanya mengalir hingga memasuki mulut mungilnya. Kadang iya telan dan terkadang terasa asin tapi masi hambar. Anan hanya bisa meringis menahan luka di sekujur tubuhnya.
happy reading ya:v
jgn lupa vote share dan coment karena masi belajar bikin novel.
salam manis ku lika:v
😊😊😊
__ADS_1