
"kamu ikutan kita aja" perintah Jack menunjuk Lia dengan tangan yang masi di lumuri darah Kiren. Tasya hanya mengangguk. Mereka bejalan biasa menuju ruang tamu.
"Tas maafin gw" ucap Jack sambari berjalan menuju ruang tamu.
Sontak tasya melirik asal suara dengan perlahan dan tetap berjalan. Tasya tersenyum tulus. "ga papa kok gw bersukur Kiren lo bunuh" ucapnya tanpa beban. Jack yang mengimak terkejut tapi iya kembalikan dengan cepat mimiknya.
Sesampainya di ruang tamu Jack duduk di sofa di sebelahnya juga ada gadis seumuran alm Anan. Gadis beriris coklat berambut senada itu lebih memilih di samping Jack karena merasa lebih aman. Ya karena dia sering di perlakukan tidak baik oleh Tasya.
"jadi?" tanya Jack menautkan alisnya membuat yang di tanya gelagapan dan suasana menjadi canggaung. Bodohnya tasya seharusnya dia yang menanyakan itu pada Jack. "pinjem hp lu" pinta Jack datar mengalihkan suasana canggung di antara mareka.
"Lia" panggil Tasya dengan entang. Memang kebiasaanya begitu pada gadis tujuh belas tahun yang duduk di samping Jack itu.
Lia ragu karena namanya di panggil sang majikan lebih tepat seharusnya kebaik. Bagai mana mungkin dia menyerahkan ponselnya pada orang yang asing baginya. Dan lagi bukanya yang di minta Tasya kenapa harus dia seharusnya Tasyalah yang menyerahkan ponselnya di tambah tangan Jack yang masi nyaman dengan darah Kiren. Sebenarnya iya ingin muntah karena tak kuat dengan aroma darah yang menyerubak ke seluruh rongga hidungnya.
Gadis itu mengambil ponselnya di saku dengan pelan. "ini" ucapnya gugup ketakutan. Jack tersenyum simpul pada gadis tuju belas tahun yang duduk di sampinya itu. Jack merasa di pertemukan kembali dengan Anan, kakak yang sudah menyelamatkannya dari tabrakan kala itu sekaligus kakak yang perhatian padanya dulu dan kakak yang memanjakannya.
"yang di pinjem siapa yang minjemin siapa. Sebenarnya apa sih hubungan Tasya ama gadis nih" batin Jack memasang ekspresi acuh.
"makasi" ucap Jack mengambil ponsel Lia dari tangan pemiliknya itu dan bergegas menelpon nomornya. Jari jari Jack bergerak dengan lincahnya menekan tombol anggak di layar ponsel milik gadis berambut coklat itu.
Tu...tu...tu...
Panggilan telepon terdengar oleh Lia dan Tasya. Mereka takut Jack menghubungi orang yang berbahaya bagi mereka. Apa lagi jasad Kiren masi di proses anak buahnya di ruang bawah tanah. Mereka takut.
Sedang di tempat lain Syara dkk sedang mengendarai mobil guna mencari keberadaan Jack. Sudah hampir setiap tempat persembunyian Kiren mereka datangi tapi nihil tak ada tanda keberadan Jack yang ada hanyalah anak buah Kiren.
"pa,gimana?" tanya Syara gadis berjab pasmina hitam itu khawatir karena Jack belum juga di temukan. Syara sudah menganggap Jack adiknya sendiri karena di antara mereka berlima Jacklah yang paliang muda. Dan lagi jam sudah menunjukkan tengah malam. Tak ada jawaban dari Carlo. Pria itu sibuk mengingat ingat di mana lagi tempat Kiren menyembunyikan seseorang. Tatapanya fokus pada jalanan dan fikiranya kacau balau itu sudah biasa bagi Carlo. Tapi, bagai manapun Jack adalah bocah berharga kalau dia sampai tidak di temukan alias di sembunyikan publik pasti akan heboh, natizen juga membuat berita yang tidak tidak karena selama ini Jack memang di kuntit natizen.
Selang beberapa lama terdengar deringan ponsel dari saku levis Syara. Membuat semua yang ada menoleh pada sumber suara. Syara hanya mengerutkan dahi tak paham dengan keadaan. Iya langsung menarik ponsel dari saku celana levisnya dan ternyata oh ternyata ponsel Jack yang berbunyi membuat Syara gelagapan.
"kenapa sepupu?" tanya Arlon yang duduk di tengah antara Zakra dan Bion yang sedang mimpi indah duduk di pinggir bersandar pada sandaran jok dengan tenang nyaman tentaram.
__ADS_1
"J...jack" ucapnya gelagapan. Tanpa ba bi bu Arlon langsung mengambil ponsel silver dari tangan Syara itu. Sedang Zakra dan Bion bobok tenang di samping Arlon jadi mereka tak koment.
"halo" sapa Arlon mengangkat telepon dari nomor tak di kenal. Arlon memang gak maen pikir pikir dulu yang terpenting Jack di temukan olehnya. Karena Jack bagai permata kalau besok dia ngak ketemu habislah riwayat Arlon.
"woy Laron" panggil seorang pemuda di sebrang sana dengan semangat senang membuat yang di panggil langsung berekspresi datar.
"paan lu bukanya mati malah telpon kite kite" dengus Arlon karena sudah tahu siapa pemilik suara di sebrang sana. Syara dan Carlo hanya bisa menyimak. Banyak pertanyaan yang berputar di otak mareka mendengar Arlon bicara santai badai seperti itu.
"jemput gw di rumah Tasya" ucap pemuda di sebrang sana langsung mematika telepon sepihak.
"woy Jack" panggil Arlon tapi nihil karena telepon sudah di matik. Arlon geram karena di gitukan Jack. Mereka khawati padanya dia malah senang senang di rumah Tasya. "oh. Setan tu anak" umpat Arlon membuat Zakra yang berasa di samping kanan Arlon terbangun.
"sakit woy" teriak Arlon memegangi lengan kanannya karena merah di pukul Zakra yang tidurnya terusik dengan umpatan Arlon tadi.
"makanya diem lu, w lagi bobok" ucap Zakra langsung menyamankan posisinya kembali tidur nyenyak. Arlon mendengus kesal karena dia terus yang kena imbas.
"gimana?" tanya Carlo dan Syara bersamaan menoleh ke Arlon. Ayah dan anak itu memang sering kompak tapi ketika sepemikiran.
"kita jemput" bantah Syara iris mata yang di baluti lensa pink itu menatap tak terima pada sepupunya. Mana mungkin dia meninggalkan Jack di tempat yang belum tentu aman. Carlo mengangguk menuruti permintaan putri satu satunya itu sekaligus putri kesayangannya. Toh tujuan mereka mencari Jack dan membawanya pulang ke rumah Carlo untuk menginap seperti yang di bikang Syara ke bi Nah. "kita jemput Jack" ucap Carlo tanpa mau di bantah lagi. Arlon merunduk karena tak ada yang membela dan Zakra sudah kembali tidur nyenyak dan tenang menyusul Bion kembali.
Kembali pada Jack...
"nih, makasi" ucap Jack lembut penuh kasi sayang di setai senyum tulus."maaf noda darahnya" tambah Jack Membuat Tasya iri pada gadis berambut coklat yang tengan duduk di samping Jack. Ya walau Tasya menyukai Zakra tapi Jack lumayan juga karena dia most wanted di sekolah mengalahi Zakra. Licik mu Tasya.
"ya" balas gadis berambut coklat dengan pelan hampir tak terdengar oleh Jack sambil meletakkan ponsel yang berlumuran darah itu di meja depanya. Jack memamerkan senyum ke biasaanya mendengar lembutnya suara gadis seumuran Anan yang kini duduk di sampingnya.
"ekhem"
dehem Tasya merasa menjadi nyamuk di antara kedua insan yang bersebelahan. Jack dan Lia menoleh ke sumber suara di dapati Tasya sedang menatap iri pada gadis berambut coklat beriris mata senada. "jadi??" tanya Tasya ingin berbicara dengan Jack.
"lo gak marah dady lo w bunuh?"tanya Jack berlogat santay seperti biasa. Kan di sini anak muda semua jadi ya gitudeh. Memang Jack sering melihat film aksi jadi jack meniru gerak gerik film aksi yang iya tonton dan tadi Jack mempraktekanya beraksi seperti propesional melawa Kiren. Dan sekarang Jack kembali lagi pada Jack yang biasa yang seloww badai menyamai Arlon 11 12 lah. "dan apa Kiren dady lo?" tambah Jack serius.
__ADS_1
"gw ga marah malah bersukur Kiren mati. Kiren cuma dady yang mengangkat gw buat dapatin lu dan lagi...." penjelasan Tasya terhenti karena air matanya mengalir mengingat masalalu pahit yang di alaminya. Lia pun begitu iya juga sebagai saksi kepahitan hidup Tasya di masalalu karena iya selalu di bawa oleh Kiren kemana mana sebelum Kiren menganggat Tasya. Tasya menarik nafas panjang berusaha menguatkan dirinya untuk melanjutkan kata katanya. Jack tetap memasang telingan tajam tajam iya masi bingung kenapa Tasya dan gadis di sebelahnya bersedih.
"kiren.....Kiren yang membunuh semua keluarga gw" lanjut Tasya langsung memangis kencang teringat olehnya kebengisan Kiren dalam membantai keluarganya dan Lia dia hanya bisa menagis dalam diam sesekali air matanya mengalir iya seka perlahan hingga hampir tak ada yang tahu. Jack mendengar itu terkejut bagai mana bisa Kiren membantai keluarga Tasya. Pantasaja waktu pembagian lapor bokap nyokap Tasya tak datang. Jack turut bersedih.
Tiba tiba ada yang mengelus pundak Tasya dari belakang. Membuat Tasya lebih menangis kencang dari tadi. Jack dan Lia terdiam ketika tahu siapa yang mengelus pundak Tasya dengan lembut.
"tenanglah" pinta seseorang wanita yang mengelus pundak Tasya dengan lembut penuh kasi sayang. Ya wanita yang tadi di tinggal Jack di kamar setelah mbunuh Kiren. Perlahan tangis Tasya mulai tak terdengar alias berhenti. Wanita itu langsung memeluk Tasya karena tangisnya sudah berhenti. "aku ada untuk mu, untuk menjadi penebus kesalahan Kiren" ucapnya mengecup pucuk kepala Tasya lembut plus kasi sayang seorang ibu pada putrinya yang sedang terluka yang amat pedih.
Melihat adegan itu Lia langsung memeluk Jack tanpa ingat darah di tangan Jack sedang senang medapat mangsa baru untuk di lumuri. Lia juga memeluk dengan kasi sayang pada Jack iya berharap Jack menjadi adiknya suatu saat. "ka Na" guman Jack manja dengan nadanya yang dulu ketika bermanja dengan Anan tak membalas palukan Lia. Pelukan Lia mengingatkannya pada sosok Anan. Kakak laki laki yang menjadi penyemangat Jack dalam hidup dan sandaran Jack ketika sedih. Lia tak menghiraukan panggilan Jack tadi karena samar samar tersengar.
Wanita itu akhirnya melepas pelukanya karena sudah puas. Iya menatapi intes iris mata Tasya, iris mata yang penuh kebencian pada Kiren sejak pembantaian keluarganya dan menyisakan dia sendiri. Sejak pertama wanita itu melihat Tasya, gadis yang di tatapnya sekarang. Dulu Tasya sudah memikirkan rencana untuk membalas Kiren namun masi tetap gagal total.
"Tas, Lia gw bawa ya" pinta Jack tanpa kode kode membuat Lia membulatkan matanya lebar lebar. Iya tak menyangka Jack tahu isi hatinya itu 'keluar dari hidup yang lama ke yang baru'
"iya, buat tanda makasi dah bunuh iblis itu" jawab Tasya masi sesenggukan. Lia tersenyum dalam diam. Senang, itulah yang diarasakanya selarang. Bagai mana mungkin tasya melepasnya tapi bodo amat lah yang penting dia punya hidup yang baru bukan hidup yang suram lagi menjadi pembantu tanpa di bayar.
Drrrrt....drrrrrt...
Bunyi ponsel yang berlumuran darah di atas meja tamu. Membuat suasana berubah drastis. Jack langsung mengambil ponsel Lia tanpa meminta izin dan langsung mengankatnya. Lia hanya bisa pasrah toh dia akan jadi kakak buat Jack.
"paan?" tanya Jack santai mengangkat telpon tadi.
"share lokasi woy" teriak Arlon di sebrang sana membuat Jack mengelus elus telinganya. Ya Arlon dkk sudah mutar muatar mencari rumah Tasya setelah telpon Jack tadi tapi Arlon ga tau rumah Tasya di mana.
"ok ok" balas Jack langsung menutup panggilanya. Jack langsung mengirim lokasinya pada Arlon dan membersikan noda darah pada ponsel Lia yang akan berstatus jadi kakak anggkatnya.
"ni kak makasi" ucap Jack menyerahkan ponsel yang di pegangnya ke pemiliknya setelah bersih dari darah. Ya jadinya seragam Jack kotor dong.
"iya" jawab Lia canggung mengambil ponselnya dan memasukanya pada saku celana kulotnya. "Jack tadi aku dengar kamu salah mengucap bahasa inggris" lanjutnya mengingat ingat ucapan Jack sebelum berkelahi dengan Kiren tadi. Jack nyengir kuda memang tadi asal ceplos ketularan Arlon. Dan mereka bercanda tawa lepas termsuk Tasya yang sudah tenang dan lupa yang terjadi tadi.
salam manis dari ku😊😊😊😊
__ADS_1