
Di kediamam Kiren......
Jam sudah menujukan pukul 10.12 malam. Jack yang terbangun dari tidurnya iya melihat nakas di sebelah kasurnya ternyata ada makanan berati ada yang masuk di waktu Jack tidur tadi tapi tak iya hiraukan. Iya beranjak dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi untuk berwudu dan solat isya.
Setelah selesai Jack langsung makan makanan di atas nakas kayu itu. Dengan lahap Jack makan hingga tak menyadari ada seorang yang memperhatikanya dari cela pintu kamar yang terbuka sedikit.
Tok..tok..tok...
Ketukan pintu kamar Jack bertanda ada orang yang hendak masuk membuat Jack berhenti makan."masuk" perintah Jack datar.
Jack tak terima kegiatanya di ganggu orang lain selain ayah bunda dan Lisa adiknya.
Ckleek...
"permisi tuan" ucap gadis berambut coklat lurus sepanjang pinggul beriris mata merah ke coklatan dengan sopan menunduk memberi hormat.
"panggil Jack aja" perintah Jack masi datar.
"eh i..iya Jack" ucapnya dengan ragu.
"ada apa?" tanya Jack masi datar menaikan satu alisnya.
"m....saya akan menjadi pengurus anda" ucapnya ragu dan gemetaran.
"itu aja?" tanya Jack mempertahankan alisnya dan mendak menyuapi mulutnya lagi.
Gadis itu mengangguk dua kali sontak Jack terdiam tak jadi menyuapi mulutnya.
"gadis ini pasti di paksa" guman Jack termenung tanganya yang hendak menyuapi mulutnya masi di tahan.
"baik silahkan pergi" perintah Jack melanjutkan makanya dengan santai.
Gadis itu masi berdiri di tempatnya. Menatap lantai tak menghiraukan perintah Jack. Rambut coklatnya bergerak menutupi wajah gugupnya. Keringat dingin tambah bercucuran di kala Jack tak menghiraukanya.
"bagai mana ini? Jack, anak ramalan itu? Aku harus sekamar denganya? Oh tidak nasip buruk bagiku" batin gadis itu pandangannya mengikuti corak keramik yang iya pandang.
"kenapa masi di sini?" tanya Jack heran sambil mengusap bibirnya yang terdapat sisa makanan. Tapi tak ada sahutan dari gadis itu.
Jack langsung meletakkan piring di tanganya ke nakas kembali dan meminum air putih di gelas samping piring tadi.
"apa kamu tuli?" tanya Jack sontak gadis itu mendongak menatap tak terima pada Jack. "tidak ya? Lalu kenapa masi diam di situ?" tanya Jack heran sambil mempersiapkan bantalnya untuk di tidurinya.
"m...saya satu kamar dengan anda" ucap gadis itu membuat Jack mematung menghentikan aktifitasnya.
"apa maksudmu?" tanya Jack dengan nada tinggi menoleh langsung ke gadis berambut coklat lurus di dekat pintu itu.
"saya di suruh tuan Kiren untuk satu kamar dengan anda" jawabnya gugup langsung menunduk takut.
"satu ranjang?" tanya Jack kembali menatap ranjangnya dan melanjutkan aktifitas mempersiapkan bantalnya.
"mungkin"
"okelah ayo" ajak Jack tak menoleh ke gadis itu langsung berbaring membelakangi pintu dan bergeser menjauh dari tempatnya berbaring.
Gadis itu berjalan ke arah ranjang dengan pelan dan ragu. Setiap langkahnya serasa di penuhi beban berat keringat dingin tak hentinya bercucuran.
"setelah ini apa yang akan terjadi?" batin gadis itu.
"lu tenang aja gw bukan cowo yang lu pikir" ucap Jack santai beranjak dari baringnya dan berpindah ke sofa.
__ADS_1
"m..maksud mu?" tanya gadis itu meyakinkan diri.
"tidurlah di ranjang gw di sofa" jawab Jack berbaring di sofa.
"terima kasi" ucap gadis itu berbaring di king size.
"berapa umur lo?" tanya Jack memandangi sandaran sofa.
"17 tahun" jawabnya lembut dan langsung terlelap karena sangking nyamanya.
"17 berati seumuran ka Na" batin Jack.
Tik tik tik
Dentingan jam berbunyi nyaring di tengah ke heningan kamar Jack. Menemani Jack yang masi bergulat dengan pikiranya untuk membunuh Kiren.
Jack melihat arloji di tangan kirinya menunjukan pukul 10.40 ternyata gadis itu sudah tidur lama.
Jack beranjak dari tempatnya sekarang menuju pintu keluar dengan belati di tanganya. Belati kecil pemberian Syara yang belum di ambil anak buah Kiren.
Jack berjalan menelusuri lantai dua tepatnya menuju kamar Kiren. Memang banyak sekali kamar di lantai dua ini tapi hanya beberapa yang di tempati membuat rumah lebih hening sunyi.
Sampailah Jack pada kamar utama rumah itu. Kamar yang luas berpintu lebar dari layu pilihan berwarna coklat tua mengkiat menghiasi dinding putih polos rumah itu.
Tok..tok..tok
Ketukan pintu terdengar dari luar kamar membuat Kiren menghentikan aktifitasnya. Dengan telanjang dada Kiren berjalan membuka pintu kamarnya.
Ckleeek..
"ada apa?" tanya Kiren dengan marah membuat Jack kaget. Baru aja di buka pintunya dah marah batin Jack kesal.
"gini om gw mau bilang m...." ucap Jack berekting ragu "bole kita bicara di dalam aja ga om rahasia loh" ucap Jack pura pura merunduk.
Tampaklah oleh Jack sosok wanita berbaju kurang bahan tadi sedang di baluti selimut tebal di kasur Kiren. Jack begidik nyeri membayangkan apa yang mereka lakukan memang umur Jack dan auhor belum cukup buat bayanginya.
Jack langsung menutup dan mengunci pintu kamar Kiren dengan cepat ligat dan kembali berjalan membuat wanita yang berbalut selimut itu menatapi heran pada Jack.
Kiren duduk di sofa dengan collnya memperhatikan ke profesionalannya pada Jack. Kaki yang di silangkan membuatnya tampak percaya diri walau masi bertelanjang dada. Jack diam berdiri mematung di hadapan Kiren mempererat genggaman pada belati mugil di tangannya.
"jadi?" tanya Kiren menautkan sebelah alisnya.
"I AM KILL YOU" sorak Jack langsung menujuu ke arah Kiren untuk menghajar pria itu.
Mendengar sorakan Jack Kiren langsung berdiri menangkis segala seranga Jack yang bisa di sebut ahli entah dari mana Jack belajar bela diri sehebat itu.
Pertarunga mereka memang sengit tapi Kiren belum juga mengetahui Jack memegang belati di tanganya.
Buk..
Buk..
Buk..
Bunyi tendangan dan tinjuan terdengar kebanyakan meleset karena memang mereka sudah ahli. Kiren sebagai ketua mafia BLACK KING dan Jack sebagai petarung inti di incar lawan tawuranya.
Hingga mereka kelelahan dan berhenti menjauh dari lawan dan wanita tadi beranjak dari king size menuju pintu keluar untuk meminta tolong para penjaga.
Kiren yang menyadari langsung berjalan gesit ke wanita itu dan menodongkan pisau dari saku celananya ke leher wanita itu. Jack dan wanita itu membulatkan mata lebar lebar tak menyangka.
__ADS_1
"om!!!" sorak Jack penuh amarah yang di tahan. Matanya memerah termasuk wajah tamvanya.
"menyerahlah" perintah Kiren dengan santainya.
"oke gw nyerah lepasin itu ibuk ibuk" ucap Jack mengangkat ke dua tanganya menyerah.
Kiren berjalan menuju Jack dengan menarik wanita itu dengan paksa. Setelah sampai depan Jack, Kiren langsung melepas wanita itu mengganti dengan Jack.
"Abu" panggilnya lembut tepat di telinga Jack membuat sang empu merinding.
Jack yang pernah menonton film aksi itu langsung teringat dengan menginjak kaki si pemegang. Tanpa ba bi bu Jack menginjak kaki Kiren dengan sekuat tenaga membuatnya lepas dari pegangan Kiren dan Kiren mengadu kesakitan.
"au st" umpat Kiren memegagi kakinya membuang pisau di tanganya sembarang arah.
"lu liat kan buk" ucap Jack menunjuk Kiren dan menoleh ke wanita yang sedang ke takutan di sudut kamar. Wanita itu mangangguk cepat membuat Jack tersenyum.
Jack berjalan menuju Kiren dengan santai memegang erat belati mini di tanganya.
"om" panggil Jack membuat Kiren menoleh ke arah Jack.
Jack memamerkan senyum mautnya yang membuat para ciwi tergila gila padanya. Hingga sampai tepat di depan Kiren Jack menusuk dada Kiren tepat di jantungnya dan tersenyum kemenangan.
"a...." teriak wanita itu ke takutan.
Kiren yang marasa tertusuk baru menyadari ada belati di tangan Jack. Memang sangat mini hingga tertutupi oleh jari jemari Jack.
"I AM KILL YOU" ucap Jack mendekatkan bibirnya ke telinga Kiren dan membisikan sesuatu.
"biru selamat" bisiknya pelan. Kiren hanya memasang tampang terkejut karena belati mini di tangan Jack.
Jack langsung melepas tusukan di dada Kiren menarik belati mini pemberian Syara dari dada kiren. Sedang wanita di sudut kamar hanya menutup matanya tak kuasa melihat pembunuhan itu.
Tak beberapa lama Kiren mengembuskan nafas terkirnya. Ya memanglah mudah bagi Jack karena belati mini pemberia Syara sungguh sangatlah tajam menembus ke jantung hingga berlubang. Setelah Jack memeriksa Kiren tak bernafas lagi.
"buk" panggil Jack pada wanita di sudut kamar yang masi berbalut selimut.
"ayo keluar, gw ga kan bunuh lu" jelasnya sambari menuju pintu keluar.
Jack keluar dari kamar utama kamar tidur Kiren. Ternyata semua orang menungu mendengarkan perkelahian di dalam termasuk Tasya dan gadis berambut coklat lurus sepanjang pinggul itu.
"kenapa?" tanya Jack santai semua yang ada hanya bengong melihat tangan Jack yang berlumuran darah Kiren dan Jack masi santai seperti tak terjadi apa apa.
Jack langsung menutup pintu kamar utama memberika waktu bagi wanita di sudut kamar untuk mengenakan pakaiannya kembali.
"kalau gitu semua kembali" perintah Jack seperti boss saja tapi malah di kerjakan oleh semua orang.
Semua pergi kembali pada aktifitas masing masing kecuali Tasya dan gadis berambut lurus itu.
"Jack boleh bicara sebentar?" tanya Tasya di angguki Jack. "dan Lia ambilkan air untuk Jack cuci tangan" tambahnya pada gadis berambut coklat lurus itu.
"ga usah biar ginia aja" bantah Jack membuat Tasya mengangguk ketika Lia menoleh ke arahnya.
"kamu ikutan kita aja" perintah Jack menunjuk Lia. Tasya hanya mengangguk. Mereka betjalan menuju ruang tamu.
"Tas maafin gw" ucap Jack sambari berjalan menuju lantai satu tepatnya ruang tamu.
HAPPY READING YA😊
Jack membunuh musuh pertama ni dan Jack pertama kali bunuh orang:v
__ADS_1
salam manis lika
😊😊😊