
Sekarang Syara sudah berada di rumah Carlo papa Syara. Setelah sampai Syara dan Arlon menceritakan kejadian tadi dan sekarang sedang meradu argument tentang penyelamatan Jack.
"pa, jadi gimana?" tanya Syara pada Carlo yang masi berfikir.
"siapin mental kita ke sana pesta" ucap Carlo santai. Syara dan Arlon langsung merunuduk lesu ya mereka tahu arah ucapan Carlo papa Syara. Sedang Bion dan Zakra masi berfikir apa maksud Carlo.
"m....Bion Zakra kalain pulang gih" ucap Arlon ragu. Dia takut temannya akan ikut pesta pecinta merah.
"kita ikutan" ucap Zakra serius walau tak tahu ikutan apa. Bion juga mengangguk setuju atas ucapan Zakra. Bagai mana pun mereka juga kan sahabat Jack.
"kalian yakin?" kini Syara yang bertanya. Pasalnya Syara tahu kalau Bion dan Zakra tak akan kuat melihatnya. Yang tadi aja udah jadi patung apa lagi nanti pasti jadi lemes kayak jelly.
"ya kami yakin" ucap Zakra dan Bion berbarengan.
"oke kita akan ke sana jam 9" ucap Carlo langsung berdiri dari duduknya dan melengok ke dapur mempersiapkan makan malam.
"makan kuy" ajak Arlon.
"yo i nanti kami takut kalian ke habisan tenaga pass pesta" tambah Syara.
Mereka ahirnya makan malam bersama dalam hening. Hanya detingan sendoklah yang terdengan.
"ah kenyang" ucap Arlon mengelus perut agak buncitnya. Karena persiapan tenaga semalaman nanti.
Semua sudah siap makan malam. Dan mereka masi santai menonton tv tak lupa Carlo ikutan.
"pa" panggil gadis berhijab sorong pendek berwarna merah. Duduk di pangkuan Carlo papanya.
"hm" jawab Carlo masi fokus pada tv.
"abu biru" ucap Syara pelan. Sontak Carlo menatap putrinya yang kini di pangkuanya.
"darimana kamu tahu itu?" tanya Carlo berusaha santai. Sedang yang lain masi fokus menatap tv tapi memfokuskan pendengaran pada sepasang ayah anak itu.
"tadi pass om Kiren kejar kita" jawab Syara polos.
"itu...." ucap Carli masi berfikir. "kamu pindah duduk dulu papa mau ambil sesuatu" ucap Carlo di angguki Syara.
Syara ahinya pindah duduk di samping teman temanya. Carlo sudah pergi ke kamarnya guna mengambil sesuatu yang akan menjadi jawaban pertanyaan putrinya itu.
Carlo memasuki ruang rahasianya yang sudah bertahun tahun tak iya masuki. Nampaik debu berhinggap di setiap permukaan benda di sana.
Carlo kemudian mengambil buku bersampul loreng dari kulit harimau sumatra asli adalah pilihan Carlo waktu menyampul buku itu. Tak iya sangka putrinya akan terlibat dalam kisah Abu Biru ramalan ratu inggris itu.
Carlo keluar dari kamarnya memeluk buku loreng itu. Sampulnya yang lembut membuat Carlo nyaman memeluknya. Setelah sampai di tempat Syara dkk Carlo duduk bersila membuka buku lorengnya di depan Syara dkk.
"Abu Biru adalah kisah pemuda yang memiliki mata abu abu yang langka dengan corak indah tak ada yang punya mata itu sekarang dan gadis bermata biru rubby. Kisahnya di tulis oleh ratu dari inggris yang samapai kini belum di ketahui namanya karena dia istri entah berapa dari raja Aska" jelas Carlo di angguki Syara dkk.
Carlo menghembuskan nafas lagi "kisah ini dulunya di anggap puisi, sajak dan lain lain hingga muncul perdebatan antara penterjemah bahasa" lajut Carlo dan semua tampak masi fokus padahal ga paham.
"di tulis dalam lemabran kerajaan dahulu menceritakan si pemilik mata abu abu ke turunan kerajaan Ariangel yang memang kini sudah tak ada yang punya mata itu tapi entah sekarang apakah Jack adalah keturunan kerajaan itu atau bukan Dan si pemilik mata Biru yang keturunan dari kerajaan Ruby biru sama seperti kerajaan Arianggel sudah lama keturunan Ruby tak ada yang bermata biru lagi membuat kerajaan ini menghilang entah hancur sama seperti Ariangel atau masi berdiri bersembunyi menunggu keturunan bermata biru lagi" jalas Carlo lebih pajang labar dari tadi membuat Bion dkk melongo kecuali Syara yang sudah pernah di ceritakan.
"kalian lihat saja ini" tambah Carli membarikan buku lorengnya yang sudah terbuka halaman sajak kisah Abu Biru.
"gw rasa ini bukan sajak ato paan deh ini memang story" ucap Bion di angguki yang lain.
Sementara Syara masi sibuk mbolak balikan lemabaran buku.
"woy liat ni" ucap Syara menarik leher Arlon dengan tangan kirinya hingga menatap buku dan kananya menujuk pernyataan.
"paan itu gaje" ucap Arlon mendongak dan syara melepas tanganya dari leher Arlon.
"hebat storynya gw suka" ucap Syara tak di hiraukan oleh sepupunya Arlon.
"oke kita siap siap pesta" ucap Carlo beranjak dari duduk bersilanya kemudian pergi ke ruang senjata di ikuti Syara dkk tentunya.
Carlo dan Syara dkk keluar rumah untuk masuk mobil dan mencari keberadaan Jack. Tapi sebelum mereka sampai di mobil ada sebuah mobil putih memasuki perkarangn rumah Carlo.
Mobil itu berhenti tepat di hadapan Syara dkk dan Carlo. Tak lama munculah wanita paruh baya yang masi awet muda dan seorang pria yang di duga suaminya.
"ayah, bunda" panggil Syara keget menutup mulit tak caya. Ayah dan bundanya akan datang ke kediaman papanya untuk apa?.
"apa kabar Rio?" tanya Carlo basa basi padahal sudah jelas maksudnya menjemput Syara.
"kami datang menjemput Syara putri kami" ucap Rio santai langsung to the point tak menjawab pertanyaan Carlo.
"baik, kita bicarakan di dalam" ajak Carlo masi santai.
Carlo dan ayah bunda Syara memasuki rumah Carlo. Rumah yang mewah dengan besar sedang itu. Sementara Syara dkk dapat telpon dari bi Nah.
"duh, pakek acara telpon pula bi Nah" celoteh Syara mengambil ponsel Jack di sakunya.
"untung ga di waktu pesta" tambah Arlon.
Syara mengeluarkan ponsel berwarna silver milik Jack yang ada di sakunya.
"halo bi" sapa Syara mengangkat telpon.
....
"iya bi Jack nginep di rumah Syara" balas Syara menahan geram.
__ADS_1
....
"iya kalau pulang sekarang dah kemalaman bi"
....
"iya ga kan marah, nanti Syara yang bilang sama om Ali"
....
"iya bi da" Syara memutuskan telponnya dengan santai langsung mengantongi ponsel Jack ke sakunya kembali.
"gimana?" tanya Bion menelengkan kelapanya ke sebalah kanan menatap Syara.
"tadi bi Nah tanya kok Jack ga pulang" jawab Syara menghela nafas.
"kuy masuk rumah" ajak Arlon mengibaskan tangan mendekat.
"ngapain? Nguping?" tanya Syara di angguki Arlon.
Syara dkk akhinya kembali memasuki rumah Carlo papa Syara. Dengan santai Syara berjalan membimbing teman temanya. Hingga samapai kamar Syara yang dulu.
Kamar serba merah darah. Dinding berwarna merah, king size bermotif mawar merah tak lupa lemari juga dan meja rias juga bercat merah darah.
"ais pecinta darah" ucap Bion begidik nyeri.
"biasa aja kali" balas Syara mengejek.
"yos empuk" ucap Zakra berbaring di king size Syara.
"woy pakek adap ngapa" ucap Syara geram. Teman temanya ini memang susah di atur terlalu seenaknya.
"alah cuma kamar teman" ucap Zakra.
"woy pakek adap juga kali walau kayak gitu" ucap Syara geram sedang Arlon dan Bion menonton anime di ponsel Bion.
Dan terjadilah adu bacotan oleh Syara dan Zakra. Dengan sengit mereka saling mengejek dan mentertawakan. Bion dan Arlon hanya acuh mendengar mereka.
Tak lama.....
"Syara" panggil Rio lantang dari ruang tamu dengan lantang." kemari" tambahnya lagi.
"is tumben ayah lu kayak gitu" ucap Arlo menoleh ke Syara yang mematung tak membalas bacotan Zakra lagi. Membuat rumah hening...
"sejak kapan ayah kayak gitu ya?" guman Syara mematung.
"putri papa sini" ucap Carlo dari balik pintu tiba tiba. Entah kapan dia berjalan ke pintu kamar Syara.
"kebalik ya" bisik Arlon di telinga Bion. Bion mengengguk karena tahu arah bisikan Arlo.
Kalau Rio dan Carlo ke balik yang biasa Carlo keras kini melembut dan Rio yang biasa lembut kini mengeras.
Ceklek...
Suara pintu terbuka namapaklah sosok pria yang gagah berani yang berusaha lembut pada putrinya itu. Senyumnya mengembang kaku karena tak biasa.
"papa" panggil Syara merunduk.
"kita ke ruang tamu ya" ajak Carlo berusaha melembutkan suara agar terbiasa lembut. Syara hanya mengangguk pelan.
Mereka berjalan menuju ruang tamu. Bion, Arlon dan Zakra hanya menguping dan mengintip dari kamar Syara saja mereka tak mau ikut campur masalah Syara yang ini.
"Syara ayo kita pulang" ajak Rio ketika Syara dan Carlo sampai di ruang tamu. Syara mengeleng tanda tak mau dan memeluk lengan Carlo kuat kuat.
"ayolah" kini bunda Syara ikutan bersuara.
"nggak" bantah Syara bersembunyi di balik punggung Carlo.
"Syara" bentak Rio menahan geram.
"ga mau" tolak Syara bernada takut berharap papanya membantu.
"kalian dengar kan?" tanya Carlo membela Syara. Syara tersenyum walau papanya membuat Syara seperti psyco tapi dia juga yang mau merawat Syara penuh kasi sayang dan memahami Syara.
"ya kami dengar, tapi apa hak anda?" tanya Rio dengan formal membuat Carlo ikutan formal.
"dia putri saya" jawab Carlo berbangga diri.
"owh putri ya, apa ada orang tua yang mendidik anaknya jadi psyco?" tanya bunda Syara dengan suara tinggi.
"itu karena saya ingin putri saya tidak kenapa kenapa" jawab Carlo lantang jelas sambil menujuk Syara di balik badanya dengan lurus kaku.
Ruang tamu menjadi tegang, hawa panas akan perdebatan terasa menyelimuti mereka yang ada.
"kalau begitu saya akan mengambil paksa" ucap Rio menodongkan pistol hitam ke arah carlo.
Carlo hanya tersenyum tipis dia sudah menduga hal ini akan terjadi. Untungnya Syara membenamkan wajahnya di punggungnya kalau tidak pasti putri satu satunya Carlo akan drop melihat ayah tirinya seorang lembut ternyata sama saja.
"silahkan" ucap Carlo merentangkan tanganya.
"rupanya anda tidak takut ya" ucap Rio berbangga.
__ADS_1
"Ara ke kamar papa dulu dan jangan lihat ke arah kami" perintah Carlo lembut namun agak keras karena belum terbiasa.
"iya pa" jawab Syara beranjak pergi ke kamar papanya karena paling dekat dari ruang tamu.
"anda ternyata takut" ucap Rio meremehkan.
"seharusnya anda" ucap Carlo lalu menepuk tanganya.
Tak butuh waktu bermenitan para anak buah Carlo sudah memenuhi ruang tamu dengan jass hitam rapi berkaca mata hitam dan tentunya bersenjata lengkap memenuhi ruang tamu.
"owh memanggil anak buah ya" ucap Rio manguk manguk biasa sedang istrinya sudah ketakutan melihat yang tadi apa lagi sekarang.
Yang tujuanya menikah dengan suaminya sekarang adalah menghindari perkelahian bersenjata malah sekarang apa? Suaminya adalah ast mafia kedudukanya lebih rendah dari suaminya yang dulu.
"tidak hanya jaga jaga kalau anda sampai menyerang yang lain selain saya" jawab Carlo santai.
"oke majulah" ajak Rio mengeluarkan belati dari sakunya dan membuang asal pistolnya.
Carlo langsung maju dan menghajar Rio dengan tangan kosong alias tanpa sanjata kecuali kepalan tangan. Sedang anak buah Carlo melindungi mantan istri tuannya dan tak mengizinkan mantan istri tuannya melihat secara live perkelahian itu.
"ayah" guman Syara mengintip. Terlihat dalam manik matanya rasa kecewa. Ayah yang selau ingin Syara menjadi feminim ternyata sama saja.
"papa ayah" panggil Syara membuka pintu dan duduk lemas menonton perkelahian dari sana namun tak di dengan oleh semua kecuali teman temanya di kamar Syara.
Arlon langsung berlari menghampiri Syara untuk membawanya istirahat. Tanpa ba bi bu Zakra dan Bion ikutan mengikuti Arlon.
"sepupu ayo masuk" ajak Arlon menarik lengan Syara yang melemas tak bertenaga.
"Syar" panggil Zakra menepuk pipi Syara lembut. Namun Syara tak bergeming dari duduknya.
Tanpa aba aba Zakra langsung membopong Syara ke ranjang kamar Carlo dan Arlon Bion juga ikut di belakang.
"ya ampun sepupu" keluh Arlon menepuk pipi Syara yang sudah berbaring di ranjang Carlo.
"Lon lu tengahi tu apak apak" pinta Bion karena melihat kepalan tangan Carlo memerah darah.
"wis tiba ginian yang disuru gw" decak Arlon tak terima tapi dia berjalan menuju perkelahian di ruang tamu.
Terlihatlah Carlo yang akan manaklukan Rio dengan tangan kosongnya.
Sereeeet....
Satu sayatan mendarat di pelipis Carlo membuat darah segar bercucuran dari bekas sayatan. Semua orang yang menyaksiakn secara live kaget bukan main karena sayatanya cukup panjang dan lebar. Tapi perkelahian tetap berlanjut tanpa kendala.
"ngapa tiba ada gw om Carlo ke sayat si" batin Arlon begidik nyeri.
"woy om om!!!" sorak Arlon membuat Rio dan Carlo berhenti berkelahi dan menoleh ke sumber suara.
Tampaklah Arlon yang ciut akan tatapan kedua pria itu. Tapi demi sepupunya iya akan berusaha.
"om Syara" ucap Arlon irih. Carlo yang tadinya menghapus aliran darah di pelipis menggunakan tanganya langsung berlari menuju kamarnya untuk menolong Syara keluarga satu satunya.
"Ara" panggil Carlo irih melihat Syara pingsan di ranjangnya tanpa peduli pada luka di pelipisnya.
Carlo mengelus pelan pipi putih lembut Syara sambil merintikan air mata kecewa pada diri sendiri karena tak bisa menjaga putrinya. Tanpa semua sadari darah di pelipis Carlo makin banyak tapi semua masi fokus pada Syara yang berbaring lemah.
Rio dan istrinya yang melihat itu hanya bisa diam membisu. Bagai manapun itu juga kesalahan mereka. Andai mereka tak menjemput Syara itu pasti tak akan terjadi.
"om pelipis" ucap Zakra menujuk pelipis Carlo dengan gemetar. Laki laki itu masi takut pada Carlo karena melihat kebengisanya menghajar Rio tadi.
Carlo masi tak peduli pada pelipisnya iya masi mengelus pipi lembut putri satu satunya bahkan satu satunya keluarganya sekarang ini.
"papa" panggil Syara membuka matanya dengan perlahan membuat senyum Carlo mengembang senang.
"iya Ara" sahutnya berkaca kaca masi mengelus pipi lembut Syara.
"Syara mau ikut papa aja" ucap Syara lembut dan pelan tapi masi di dengar oleh Carlo dan Arlon dkk.
"iya papa akan lindungi Syara kalau sama papa" balas Carlo membuat Syara tersenyum senang. "kita ke RS ya" pinta Carlo di gelengi oleh Syara.
"luka papa" ucap Syara menujuk luka di pelipis Carlo. Carlo hanya bungkam tak tahu harus jawab apa.
Rio beserta istrinya langsung pergi tanpa pamit karena merasa kecewa pada keputusan Syara yang ikut bersama Carlo.
"ga parah" ucap Carlo entang mengacuhkan lukanya walau darahnya sudah sampai di samping matanya tapi hanya iya lap dengan kelima jarinya.
"istriahat ya" pinta Carlo di angguki Syara.
Semua kembali tenang karena Rio sudah out dari rumah emang jalangkung. Kini jam menujukan pukul 10 entah berapa jam Carlo berkalahi dengan Rio. Membuatnya lelah, tapi karna tujuannya membantu Jack jadi iya kesampingkan.
"kalian jadi ikutan?" tanya Carlo yang masi di obati pelipisnya oleh Arlon.
"iya om" jawab Zakra dan Bion kompak.
"oke abis ini kita berangkat" ucap Carlo di angguki semua.
"Ara ikut" ucap Syara di angguki ragu oleh Carlo.
dan Arlon hanya mendengus kesal karena bukan ke mauanya meminta vote dan like dari readers tapi author yang maksa:3
salam manis lika
__ADS_1
😊😊😊