Untuk Mu Ayah

Untuk Mu Ayah
part 2


__ADS_3

Mereka sampai di RS terdekat. Dan memasuki ruang untuk di obati. Setelah mendapat pengobatan yang cukup Jack keluar dari ruanganya dan menuju ruangan Anan kakak yang telah menyelamatkanya dari tabrakan sengaja tapi tak sengaja menabrak orang lain.


Jack sampai di depan ruangan Anan matanya berkaca kaca kala melihat tubuh Anan dari pintu kaca yang buras tengah berbaring lemah di brangkar tak lupa infus di tangannya. Kaki bocah lima tahun itu terasa lemas tak kuat malihat kakak yang menjaganya berbaring lemah di dalam ruangan serba putih itu. Jack memutuskan untuk duduk di kursi tunggu karena belum di bolehkan masuk oleh dokter. Dan dokter sajalah yang boleh bolak balik membuat Jack kesal tapi iya tahan itu demi kesembuhan kakaknya.


"tegar" panggil Ray yang duduk di sebelah Jack. Jack kaget karena panggilan itu tiba tiba dan pria itu sudah duduk di sampingnya. Ray melihat raut wajah sedih Jack. Tak kuat Ray melihat hal itu. Bagai manapun Jack bukan anak kandungnya tapi karena kemiripan Jack dengan wanita yang iya cintai dia wanita yang lemah lembut dan penyayang pada semua. Iya takkan pernah tega membunuh walaupun hanya nyamuk sekalipun. Tapi apa ini? Takdir menikahkanya pada orang yang suka membunuh penggemar darah. Apa ini yang di namakan saling melangkapi?.


"om" panggil Jack meletakkan tangan mungilnya di paha Ray dan menguncang sedikit supaya Ray tersadar dari lamunanya karena Ray tak melanjutkan kata katanya setelah memanggil Jack dan Jack bahkan sudah menoleh lama pada Ray. Ray tersadar dari lamunanya kemudian tersenyum.


"maaf ya tegar" ucap Ray irih sambil mengelus pucuk rambut Jack yang berbau jeruk. Iya tak kuasa melihat darah daging orang yang iya cintai menderita. Walau itu kelakuan ayah Jack sendiri. Iris mata hijaunya menatap kasian pada bocah lima tahun yang duduk di sampinya. Bocah yang kuat memang benar ramalan itu. Karena sekarang saja bocah ini masi kuat walau ayahnya membencinya.


"iya om" jawab Jack tersenyum membalas senyum Ray tadi.


"bagai mana ini Jack mirip sekali denganmu Alice" batin Ray. Dadanya serasa sakit di kala iya menghadiri ijab qobul Alice mantan kekasihnya yang masi iya cintai menikah dengan Ali teman sekaligus sahabat terdekatnya waktu itu. Ray merintikan air mata mengingat kenangan bersama Alice dadanya lebih sakit di kala iya tahu mantan ke kasihnya sering menderita karena ulah sahabatnya anak kekasihnya juga menderita.


"om punya nomor ayah?" tanya Jack di angguki Ray. Mana mungkin nomor telpon Ali tidak ada di kontak Ray. Bahkan nomor istrinya saja Ray punya karena terlalu terobsei dengan Alice. Ray beranjak dari duduknya menelpon seseorang yang membuatnya masi lajang hingga sekarang. Sahabat yang sangat dekat dengannya dan kini menjadi musuh cintanya.


"Ali" panggil Ray di telpon ketika panggilanya di angkat oleh seseorang.


"apa maumu Ray?" tanya Ali was was pasalnya Biasanya Ray akan memberikan sesuatu yang tidak mengenakan yang akan membuat Ali meninggalkan Alice.


"putramu di RS Padang" ucap Ray tanpa basa basi sedikitpun.


"apa yang kamu lakukan pada putraku hah?" tanya Ali geram. Benar saja dugaannya. Kalau itu Jack Ali biasa saja tapi kalau itu Anan? Entah apa yang akan Ali lakuan.


"putra jeniusmu masuk RS bodoh" ucap Ray geram langsung mematikan telpon sepihak. Ray memasang senyum kemenangan. Yah walau iya tak bisa mambawa Jack iya bisa membuat sahabatnya kalang kabut karena anak jenius Marchelo di ambang kematian. Memang tak salah Ray mempercepat laju mobilnya tadi.


Ray berjalan menuju Jack yang masi duduk di kursi tunggu dengan mengayunkan kaki mungilnya agar tak terlalu bosan. "tegar om pergi ya" ucap Ray di sertai senyum ciri khasnya. Jack mendongak menatap lekat lekat maik hijau milik Ray. Senyumnya mengembang tak lama kemudian meredup. Seperti tak ada semangat dirinya lagi.


"kenapa om pergi lagi? Apa om akan kembali? Kalau Ja kangen om gimana?" tanya Jack bertubi tubi dengan raut wajah kecewa sambil merunduk. Bagai mana bisa om Ray meninggalkanya di umurnya yang masi butuh kasi sayang. Apa lagi Anan masi sakit bagai mana bisa iya menghadapi hukuman ayahnya nanti di rumah paman Yaka. Dan mereka baru saja satu bulan bertemu tapi seperti ayah dan anak saja. Saling rindu satu sama lain. Ya kalau yang ke tabrak Jack tadi pasti hati ke duanya tak kan sakit seperti ini.


"Tegar ga akan rindu om lagi" ucap Ray membuat Jack menoleh ke Ray. Ternyata Ray menyodorkan kartu namanya dengan no telpon. Tanpa ba bi bu Jack mengambilnya dengan semangat 45 dan senyumnya mengembang.

__ADS_1


"kalau Tegar punya ponsel nanti hubungi om ya" lanjut Ray langsung mengecup dahi Jack bak ayah yang akan pergi lama.


"om Ja janji akan jaga kartu ini sampai kita bertemu lagi" ucap Jack sumringa. Mereka langsung berpelukan dengan kuat layaknya ayah dan anak yang akan berpisah lama. Yang sedang menabung untuk tak rindu memeluk erat tak ingin saling melepas. Kehangatan yang terasa antara mereka sungguh mengharukan bagai mana seorang Rayon Hirasaki mau menjadi penganti ayah untuk seorang bocah lima tahun. Dan bagai mana kasih sayang Ray untuknya di tambah mereka seharusnya tak bertemu.


"om pergi ya" ucap Ray melepas pelukan eratnya. Meski tak kuasa menahan perpisahan ini tapi harus Ray jalani demi janji pada sang ayah untuk kembali ke negri tirai bambu mengerjakan tuga sewajibnya tugas penting bagi keluarga dan rakyatnya.


"om" panggil Jack tak rela melepas kepergian orang yang telah memberi kasi seorang ayah walau hanya dalam dua minggu saja. Ingin rasanya Jack selalu di sayang seperti itu tapi apalah dayanya.


"kalau kita bertemu lagi om ingin Tegar panggil dady ya" pinta Ray di angguki Jack. Tak terasa kristal bening telah jatuh dari ke dua mata mereka. Memang tak ironis bagi mereka salang merindu bak ayah dan anak tapi mungkin karena Jack yang ke kurangan kasi sayang ayah dan Ray yang tak bisa mendapat orang yang iya cintai kini telah berdiri copyan dari Alice membuat Ray ingat bagai mana mereka dulu menghabiskan masa masa bucin mereka.


"iya dady" ucap Jack tak lupa senyum bangga. Bangga karena telah di beri kasi sayang seorang ayah walau mereka tak sedarah. Ray terkejut pasalnya mulut mungil Jack berucap dady dengan mudahnya. Ray berjalan menjauh dari Jack untuk menutupi ke terkejutanya. Perlahan tapi pasti Ray telah jatuh cinta pada Jack. Iya ingin Jack Marchelo menjadi anaknya. Iya ingin Jack menjadi penggantinya di masa depan dengan menyandang nama keluarganya Hirasaki. Ya itu nama keluarga jepang karena Ray adalah anak jepang-cina. Ray berjalan dengan kristal bening di pipi. Langkah kakinya terasa berat. Tubuhnya ingin berbalik ke Jack membawa Jack pergi dari neraka di kediamanya. Tapi apalah dayanya iya hanya bisa menggapai Jack tapi tak bisa di dapatnya.


"Jack tidak tegar saja, jadilah anak yang tegar seperti panggilanku dan jadilah anak ramalan itu dengan senang hati" batin Ray tersenyum sebelum hilang dari pandangan mata kecil Jack.


Jack masi berdiri di tempatnya tadi. Dengan kristal bening yang ikutan turun bersama semangatnya. Memikirkan sehari saja tanpa Ray Jack terasa tak ada yang mengisi hari harinya yang kelam dan tak tahu arah mungkin cuma Anan yang akan menghiburnya nanti karena bi Nah pasti hanya beres beres rumah.


"keluarga Anan" panggil dokter yang tiba tiba mengagetkan Jack. Menyadarkan dari lamunannya.


"s..saya dokter" ucap Jack sambil menghapus air matanya. Dokter tersenyum kecil melihat bocah lima tahun yang manyahutnya dan tidak ada seorang pun bersamanya.


"kalau begitu ayo masuk" ajak dokter itu mempersilahkan Jack masuk dan pergi entah kemana.


Jack menuruti dokter itu. Iya memasuki ruang rawat Anan. Banyak alat yang tajam nan steril di sini. Tak lupa alat yang canggih di pasangkan pada tubuh Anan yang masi lemah akibat tertabrak. Jack sampai di samping brangkar tempat Anan berbaring. Tubuhnya yang nampak lemah, tanganya yang di pasang infus dan lain sebagainya.


"ka Na" panggil Jack dengan suara pelan irihnya. Tak kuasa iya melihat ka Nannya lemah. Seorang yang selalu menjaganya di waktu bahaya dan bosan. Salalu ada di saat dia tak punya semangat, yang selau menyemangati walaupun mereka sama saja tak di butuhkan.


"ka Na" panggil Jack ke dua kalinya sambil mengguncagi. Tak terasa kristal bening yang baru saja berhenti kini keluar lagi.


"sssst" ringis Anan terbangun dari tidurnya. Ya walau pun cepat sekali tapi itu membuat Jack bersukur.


"ka Na" panggil Jack senang.

__ADS_1


"Ja" panggil Anan irih. "Ja janji ya harus jaga ayah buat ayah aman sebenarnya ayah itu baik tapi ayah hanya mau kita mandiri" ucap Anan masi lancarnya. Jack hanya menganguk dengan semangat 45.


"Ja harus senyum terus pertahankan di depan semua kalau Jack itu hebat" ucap Anan memberi sangat.


"Ja, ka Na pergi ya" izin Anan di angguki cepat oleh Jack.


Jack memeluk Anan yang masi berbaring di brankar. "ka Na Ja janji selalu senyum walau ayah hukum Ja dan akan buat ayah aman" ucap Jack di sela nafas terakhir Anan. Anan hanya tersenyum di pelukan malikat kecil bernama Jack dan mulai berhenti bernafas.


Nafas terakhir Anan adalah rasa senang tenang dari Anan. Iya tenang kalau ayahnya akan aman bersama adik laki lakinya itu. Anan masi tak percaya pada Arka karena sifat dinginya itu menurun entah dari siapa menurit Anan Arka bukanlah keturunan dari bundanya melaikan perempuan lain.


"ka Na" panggil Jack karena Anan tak bicara ataupun bergerak lagi. Jack melepas pelukanya pada Anan. "ka Na jangan tinggalin Ja" ucap Jack dengan air mata yang langsung membanjiri pipi gembulnya. Ternyata dan ternyata Jack di tinggal untuk ke dua kalinya pada hari itu. Sungguh tak adil, seorang anak tanpa kasi sayang ortunya harus kehilangan kakak yang salau ada untuknya dan juga kehilangan pria yang sudah iya sayangi bak ayah untuknya.


Ckleeek


Suata pintu terbuka menampilkan seorang pria yang sudah khawatir setengah mati, dia Aliando ayah Anan dan Jack, ayah yang tak pernah adil, yang selau sayang pada yang iya mau. Walau itu berbanding terbalik dengan jhon ayahnya sendiri.


Di belakangnya ada wanita yang salama ini sudah menelantarkannya tinggal bersama adiknya bernama Yaka. Di gendonganya ada gadis kecil dengan umur tiga tahun. Di samping Alice ada Arka si dingin acuh yang tak pernah peduli akan Anan dan Jack.


"Anan" panggil Ali irih kakinya tak mampu lagi menompang tubuh yang salau tegap dan berwibawa. Tubuh yang menghukun Jack ketika melawa dan membantah.


"Anan" panggil Alice irih dan melemah. Iya menurunkan Lisa dari gendonganya lalu berjalan menuju brangkar.


Arka hanya berjalan biasa menuju brangkar. Tanpa ada rasa sedih dan masi datar. Lisa yang tak tahu hanya mengikuti Alice menuju brangkar.


"Anan" panggil pria yang terlambat. Ya dia Yaka sehabis pulang berkerja tadi iya di beri kabar oleh kakak iparnya kalau Anan kecelakaan. Iya sangat menyesal atas ke teledorannya menjaga ponakan tersayangnya dari bayi.


Ali menatapi penuh kebencian pada Jack yang masi memeluk tubuh kaku Anan. Bagai mana mungkin Jack bisa hidup nantinya kalau semua orang yang sayang padanya pergi dari sisinya. "Jack aku tak peduli kau anak ramalan itu atau tidak yang aku tahu kau anak yang membuat susah. Ku bawa kau ke Jakarta dan ku hukum kau" ucap Ali dalam hati dengan geram matanya memerah karena manahan marah.


Setelah itu Ali mengurus pemakaman Anan dengan berat hati iya lepas anak jeniusnya untuk menuju tempat istirahatnya selamanya. Jack tak henti hentinya menangis kini hanya ada kartu nama Ray di genggamanya. Iya simpan baik baik kartu itu di tempat penyimpanan barang ke sayangannya dan Anan kotak peti harta karun Anan dan Jack tentunya. Jack yakin suatu saat dia pasti bertemu Ray kembali.


jangan lupa vote ya share dan coment :v

__ADS_1


salam manis ku lika


😊😊😊


__ADS_2