Untuk Mu Ayah

Untuk Mu Ayah
part 7


__ADS_3

Dor....


Suara temabakan terdengar nyaring melesat menuju Jack. Untungnya Jack selamat dan tembakan itu meleset karena Bion sudah menarik Jack masuk ke mobil.


"abu biru" ucap Jack tanpa sadar. membuat semua orang kaget. Tapi Arlon masi dalam mode siaga jadinya ga rem dadakan.


"woy Jack paan tu gaje lu" ucap Zakra menyadarkan Jack dari lamunannya.


"udah tenang lu Jack bentar lagi kita ampe ke polisi" Bion menepuk pundak Jack.


Jack langsung merebut ponselnya dari tangan Bion dengan kasar. Matanya tak hentinya melotot ke Bion.


"emang semudah itu pa?" tanya Jack tak percaya.


"iya" ucap Arlon.


Ckt....


"asw lu Laron" umpat Jack kaget karena tak memakai sabuk pengaman.


Dan mobil berheti mendadak membuat semua yang ada di mobil kaget karena tak memakai sabuk pengaman juga setelah pertukaran tempat duduk tadi.


"om Kiren" panggil Arlon dan Syara bersamaan. Ya jalan mereka di blok oleh kiren dengan anak buahnya.


"gw turun" ucap Jack. Membuat semua orang menggeleng pelan. "oke kita taruhan" ucap Jack supaya meyakinkan temannya.


"apa?" tanya mereka bersamaan pada Jack. Jack tersenyum manis.


"gw bakalan kembali ke sekolah besok ama darah om kiren di tangan" ucap Jack memegang knop pintu mobil.


"kalau gak?" tanya Syara.


"ya tunggu aja 24 jam kalau gw masi ga balik lu pergi jemput gw ya ada hadiah yang seru buat kalian" ucap Jack mendorong pintu mobil.


"Jack" panggil Arlon. Jack menoleh ke sumber panggilan. "kembali yak" tambahnya di angguki Jack.


Tapi sebelum pintu ke buka Syara memegang lengan Jack seraya menyodorkan tiga belati dan ada satu yang paling kecil bertutup. Jack tersenyum langsung mengambil belati dari tangan Syara dan menyelipkan di bajunya dan yang paling kecil di letakkan di mulutnya. Al hasil Jack hanya bisa tutup mulut ga bisa ngomong.


Jack berjalan menyerahkan diri pada Kiren dengan cuma cuma. Dengan santainya Jack berjalan dan dengan fokus ke empat teman Jack memeperhatikanya tak lupa mulutnya yang terbuka lebar tak percaya.


"apa Jack emang berencana mati konyol di tangan om Kiren?" tanya Arlon entah pada siapa.


"ku rasa iya" jawab Syara.


"om Kiren bukanlah orang yang mudah di bunuh dan tentunya sangat susah baginya meski hanya kabur saja" jelas Arlon masi menatap Jack tak caya.


"m.....apa Jack emang mau selamatin kita dengan korbanin dirinya kan dari pada ke limanya mati konyol mending satu" ucap Zakra yang sudah normal.


"ku rasa" ucap Syara tak bergeming.


"hm...om Kiren juga musuh papa Syara paman Carlo" ucap Arlon membuat Syara membulatkan mata dan menoleh ke sampingnya.


"sepupu jangan tambah masalah keluraga gw" ucap Syara geram mengepal tanganya hendak meninju sepupu di sampingnya itu.


Dan Kiren seperti orang mengomel di hadapan Jack tapi tak ada jawaban dari Jack. Jack hanya merunduk menutup mulut yang isinya belati kecil dan di kepung anak buah Kiren. Tak lama Jack di periksa dan masuk di salah satu mobil Kiren dan mereka pergi meninggalakan ke empat teman Jack di mobil.


"yah pergi mereka bawa Jack pula" ucap Arlon.


"gw rasa Jack sengaja deh biar kita selamat, kan yang di incar emang Jack" jelas Zakra.

__ADS_1


"yaudah kita pulang, nanti kita bilang ke ayahnya kalau Jack di tangakap siapatuh Kiren ya koren" jelas Bion.


"Kiren ****" ucap Zakra menjitak kepala Bion membuat sang empu mengumpat dalam hati.


"emang lu mau di hukum ana om Ali gw ma ogah" ucao Arlon bergidik nyeri.


"yaudah kita pulang ke rumah papa Carlo minta bantuan" ucap Syara di anguki Arlon.


Ya perjalanan mereka memang berlanjut lancar karena Jack meninggalkan ponselnya. Entah sengaja ato tidak ke empat teman Jack tak peduli.


Sementara di mobil Jack tumpangi. Dia di pegangi oleh anak buah Kiren. Jack terasa risih akan hal itu apa lagi ada belati di mulutnya membuatnya tak bisa membuka mulut menelan ludah saja susah di tambah ini kali pertama Jack di tangkap ato lebih tepatnya di culik.


Memang tak perlu waktu lama untuk mereka sampai entah di mana pokoknya mobil berhenti di rumah tua yang sepi seram gelap di tengah utan pula.


Mereka membawa Jack masuk dan Jack hanya pasrah saja menunggu waktu yang tepat.


Rumah yang minimalis hanya ada kursi dari rotan dan meja juga sama bahanya, lemari tak ada satupun di sana yang ada hanyalah karpet dari rotan juga. Kira kira cuma ada tiga ruangn di sini entah untuk apa ato apalah yang penting Jack di masukan ke ruang tengan dengan di ikat bagian tangan saja. Mungkin si Kiren hanya menggap Jack cuma bisa nembak doang karna semua data tak pernah menujukan Jack bisa bela diri ato pakek senjata ato yang lainyalah yang di gunakan untuk kabur ato lepas dari Kiren.


"bocah tunggu ya boss bentar lagi datang" ucap salah satu pria yang menjaga Jack dan menutup pintu ruangan.


Jack hanya diam pasrah dan memikirkan rencana kabur dari Kiren. Setidaknya kabur bentar cari alat untuk membunuh Kiren. Jack mengeluarkan belati di mulutnya kemudian menancapkan di alas sepatunya dengan kaki


"untuk ga kena kaki" batin Jack bersukur lega.


Memang benar kata pria tadi lima belas menit Jack sudah menunggu Kiren datang akirnya datang juga.


Kiren datang sendiri tak ada bodyguard. Dengan percaya dirinya pria berjas hitam itu berjalan menuju ruang Jack sendirian.


Cleeek....


Pintu terbuka tampaklah sosok pria dengan tubuh tegap dan gagah berdiri di pintu. Matanya coklatnya menatap penuh kemanangan pada Jack. Senyum tipisnya mengembang teruss tak hentinya.


Jack masi merunduk tak mau menoleh ke sumber suara pasalnya Abu bukanlah nama Jack.


"apakah aku harus membunuh Biru?" tanya Kiren mencoba membuat Jack menoleh ke arahnya. Tapi Jack masi tak bergeming. Merunduk adalah yang iya bisa sekarang.


"ku rasa kau belum tahu Biru ya" ucap Kiren menggoda. Senyum kemenangan terpancar di bibir Kiren.


"oke aku akan membunuh Biru dan kau akan menikah dengan putriku" ucap Kiren hendak pergi tapi terhenti dengan ucapan Jack.


"apakah putrimu menerima ku?" tanya Jack masi merunduk.


"tentunya, bahkan sangat senang" jawab Kiren serius.


"cih, aku bukan orang yang mau menikah dengan keturunan mu" batin Jack.


"kalau begitu izinkan Biru hidup dan aku akan menikah dengan putrimu" ucap Jack nampak serius.


"baiklah Abu" ucap Kiren berbalik ke luar.


"tunggu om kalau om mau nikahin gw ama putri om bawa gw juga ngapa biar PDKT lu ama putrimu" ucap Jack dengan logat anak seumuranya saja Jack tak peduli itu walau tak sopan.


"baik" balas Kiren santai.


Kiren langsung melirik anak buahnya yang ada di dekatnya tanpa kata kata anak buah Kiren langsung menarik Jack untuk berdiri.


"woy santai om" ucap Jack kezel. "sakit ni" tambah Jack.


Tak ada jawaban dari pria itu malah Jack di tarik ke luar dengan paksa untuk masuk mobil. Sesamapinya di mobil Jack kembali berulah lagi.

__ADS_1


"om lepasin ngapa om gw ga bakalan kabur om" ucap Jack pada anak buah Kiren sementara Kiren masi mengobrol singkat pada anak buah yang lain.


"gw ga akan kabur om kalau gw kabur nanti Biru mati" ucap Jack memelas. Ya dulu memang Jack suka memelas sebagai senjata kepada alm Anan.


Tak lama Kiren berjalan menuju mobilnya yang di tumpangi Jack. Dengan santainya Kiren masuk dan duduk di samaping Jack yang tanganya masi terikat.


"om lepasin ni ikatan om" pinta Jack ketika mobil akan jalan. Tapi Kiren masi tak bergeming juga.


"gw ga akan kabur om" lanjut Jack memelas andalanya.


Tak lama Kiren berfikir ahirnya melepas ikatan di tangan Jack. Jack langsung tersenyum girang.


Cowo beriris mata abu abu itu senang akan ke ampuhan senjata memelasnya. Tak lupa senyumnya mengembang hingga 180 derajat di setiap perjalan.


Mobil mereka berjalan membelah jalan kota pusat itu dengan santai karena tak ada tujuan lain lagi. Walau macet tapi perjalanana tak hening karena cerocosan Jack yang tak berguna.


"makasi om, om baik deh gw ga mau bobok di tu rumah ada tikus dan kecoa apa pagi di lantai kayak tadi hi..ogah" cerocos Jack seperti anak kecil bercerita pada ayahnya.


"om, gw rasa putri om cantik deh makanya gw mau dan lagi kayaknya gw ngefans ama om" tambah Jack tapi Kiren masi tak bergeming.


"om, om juga tamvan loh om" rayu Jack. "om udah nikah?" tanya Jack tapi tak ada jawaban dari Kiren. Pria itu hanya sibuk memamdangi jalan di sampingnya tanpa peduli pada cerocosan Jack.


"gw punya tante cantik buat om kalau belum nikah" tambah Jack tapi Kiren masi tak bergeming seakan cerocosan Jack tak iya dengar.


Ckiiit....


Suara mobil di rem ya ternyata Jack sudah sampai di rumah Kiren. Rumah mewah yang tak kalah besar dengan rumah Jack. Namun rumah ini sepi seperti tak ada nyawa di dalam sepi hanya ada bodyguard yang berjaga di sekeliling.


Jack masi tak percaya akan rumah Kiren yang ada nyawanya. Rumah mewah dengan taman yang luas bertanami bunga mawar merah dan bunga matahari berjejer di taman.


Ada juga bangku taman berwarna putih menghadap jalan di tambah rumput pendek memenuhi tanah taman dan air mancur di tengan taman bagian kanan. Tak lupa pohon besar nan rindang menjadi tempat istirahat yang sejuk mengenakkan. Mereka disambiut anak buah yang berjejer menunduk hormat pada Kiren dan Jack.


Sesamapinya di teras ada wanita yang memakai baju kurang bahan melekat sempurna di tubuh gitarnya. Di balakangnya ada maid berjejer menunduk hormat.


"Tasya" panggil Kiren membuat Jack membulatkan matanya lebar lebar ketika gadis berpiama warna moca menuruni tangga dengan girang menyambut pemuda impianya.


"apa apaan ni Tasya? Baru sore dah pakek piama" guman Jack dalam hati.


"baby" sapa Tasya ketika sampai depan Jack yang mematung di samaping dady angkatnya.


peduli dengan dady angkatnya? Tidak lah mana Tasya mau. Karena Tasya benci si pembunuh papanya dan mangaku pemilik perusahaan papanya mangangkat Tasya jadi anak angkatnya juga.


"putri dady siap siap untuk makan malam ok" ucap Kiren mengelus pipi Tasya senyumnya tak iya lupakan.


"ya dady" balas Tasya cemberut. Tasya berjalan malas ke kamarnya iris coklatnya tampak tak bersahabat.


"Abu kamu tidur di sebelah kamar Tasya" ucap Kiren melengok pergi ke kamar bersama wanita berbaju kekurangan bahan. Jack ahirnya berjalan menuju lantai dua ke kamar samping kamar tasya."kayaknya ni kamar dah di siapain buat gw" batin Jack merebahkan tubuhnya di king size.


Padahal Jack suka warna hijau bukan abu abu tapi kamar ini abu abu dan panggilan Jack juga Abu. Emang Jack abu gosok apa.


"ok 10 teng teng gw jalanin rencananya" batin Jack senang.


Jack duduk dan mengambil belati di alas sepatunya dengan senyum mengembang. Sambil memainkan belatinya Jack memikirkan apakah hubungan Kiren dengan wanita itu dan lagi Tasya, bukan kah ayahnya tak bernama Kiren.


hingga Jack meminta vote dan like dari readers yang baik:v


salam manis lika


😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2