Warisan Dan Miringnya Batu Nisan

Warisan Dan Miringnya Batu Nisan
Bab 21 Dimana surat itu


__ADS_3

Bu Jayan kaget setengah mati mendengar penuturan suaminya. Jadi, ternyata itu alasan arwah Mbah Karti, menemuinya?


Apa yang harus dia lakukan sekarang?


Ada rasa takut yang amat sangat. Tapi dalam hati tidak rela memberikan harta sebanyak itu pada pemiliknya.


"Apa yang harus kita lakukan pak? Jangan sampai nasib kita seperti Alex dan Sinta," Bu Jayan menatap ragu pada suaminya.


"Biar bapak pikirkan gimana baiknya Bu,"


Beberapa hari kemudian, Mila bertemu dengan Pak Wito.


Pak Wito batu sadar jika dulu, Mbah Karti punya tanah di desa Papringan.


"Mil, surat tanah yang di desa Papringan apa ada dirumah Mbah Karti?" tanya Pak Wito suatu sore.


"Sepertinya saya belum pernah melihat surat tanah itu pak. Apa Mbah Karti punya tanah di sana!"


"Iya Mil. Itu dulu beli sama saudara aku yang lagi butuh uang. Kalau begitu, berarti suratnya ada sama pak Jayan," kata Pak Wito.


"Kok bisa pak? Bagaimana bisa ada disana?"


"Karena ada kesalahan ukuran, jadi sama Mbah Karti diserahkan ke pak Jayan untuk di urus,"


"Apa, jangan-jangan...." Mila teringat pada peristiwa aneh itu.


"Apa jangan-jangan ini yang membuat batu nisan itu masih miring pak? Mungkin karena suratnya belum dikembalikan oleh Pak Jayan, jika begitu, Mila akan kesana untuk menanyakannya,"


"Ya sudah, sana Mila. Coba kamu tanya, kok pak Jayan diam-diam saja selama ini, jika bukan hak nya. Harusnya segera di serahkan,"

__ADS_1


Mila lalu pergi kerumah Pak Jayan. Sampai disana pak Jayan sama Bu Jayan batu saja pergi ke orang pintar. Dan sekarang sedang menyiramkan air ke sekeliling rumahnya agar tidak di ganggu oleh makhluk gaib.


"Permisi,"


"Mila, ada apa, silakan masuk" kata Bu Jayan.


Mila lalu masuk dan mengutarakan tujuan kedatanganya.


"Kalau masalah Nisannya miring, kenapa kamu datang kemari Mila? Apa hubungan kami?" Bu Jayan berusaha menyembunyikan kenyataan.


"Saya dengar dari pak Wito, surat itu masih disini, karena Mbah Karti mengutip Pak Jayan untuk mengurus ukuran yang di surat jual beli itu," terang Mila.


"Ngawur kamu, suratnya sudah ditangan Mbah Karti. Kami tidak memegangnya lagi. Sudah lama dikembalikan," kata Pak Jayan kesal karena Mila sok tahu.


"Maaf, kalau saya salah. Hanya saja, Bu Warni menitipkan semua hartanya pada saya. Dan saya bingung, apa lagi yang kurang, karena batu nisannya masih miring,"


"Itu urusan kamu! Lagian kamu sudah mendapat warisan banyak. Apa masih kurang?" Bu Jayan itu dengan keberuntungan Mila.


"Ya, sekarang kamu ngomongnya gitu. Nanti diam-diam juga kamu jual!"


"Ya sudah Bu, jika memang tidak ada disini surat tanahnya. Saya permisi," kata Mila yang segera pamit pulang karena tidak ingin bertengkar pada mereka berdua.


Niatnya hanya ingin menanyakan surat itu. Eh, malah di pojokan dan diajak bertengkar.


Mila datang kerumah Frans. Frans sedang bermain gitar didepan rumahnya.


Sedang asyik bernyanyi mengusir sepi. Begitu melihat Mila datang, dia langsung menghentikan petikan gitarnya.


"Kok berhenti? Teruskan saja. Aku lagi butuh hiburan," kata Mila melampiaskan rasa kesalnya pada calon suaminya.

__ADS_1


Frans hanya menatap wajahnya yang muram sambil meneruskan nyanyiannya.


Lagu itu berakhir, dia lalu menaruh gitarnya.


"Ada apa? Kok mukanya di tekuk begitu?"


"Aku dari rumah Pak Jayan," Mila lalu menjelaskan bagaimana dia bertemu pak Wito dan sial yang milik Mbah Karti yang suratnya di urus oleh Pak Jayan.


"Apa kamu melihat surat tanah Papringan biru ada dirumah?"


"Tidak ada sama sekali. Aku baru merapikan semua surat itu di lemari yang baru," kata Frans yang juga menjaga amanat simbahnya.


Sikapnya berbeda dengan Alex dan Sinta. Mereka tiada karena keserakahan nya.


"Ohh, jadi itu penyebabnya, tunggu saja. Lama kelamaan juga akan terbukti dimana surat itu?"


"Ayo masuk!" ajak Frans mengajak Mila masuk kedalam.


"Aku sudah bertanya pada sesepuh. Kita bisa menikah bulan depan. Kamu pilih baju pengantinnya dan kita akan segera menikah. Aku tidak tahan lagi sendirian dirumah besar ini," Frans duduk disamping Mila.


"Apa!? Kok cepat sekali?"


"Bukannya senang malah kaget. Sebenarnya kamu niat ngga sih nikah sama aku?" Frans menatap intens wajah gadis yang baru dikenalnya itu.


"Iya, tapi, kenapa? Kamu bilang satu tahun lagi?"


"Aku sudah tidak bisa menunggu selama itu Mila. Jika ada kamu disini. Aku tidak kesepian lagi. Rumah ini sangat besar. Aku butuh teman," ucap Frans yang tersiksa tinggal sendirian di rumah Mbah Karti.


"Tapi....."

__ADS_1


"Sudah Mila. Jangan pakai tapi-tapian. Pilih baju pengantinnya, bagaimana kau akan menikah. Lalu kita umumkan pada para tetangga," kata Frans setelah tanya pada sesepuh didesa itu tanpa sepengetahuan Mila.


__ADS_2