Warisan Dan Miringnya Batu Nisan

Warisan Dan Miringnya Batu Nisan
Bab 24 Nisannya kembali tegak


__ADS_3

Pak Jayan, Bu Jayan, Mila dan Frans datang kerumah pak Kusni dengan mobil Frans.


Tapi saat sampai dirumahnya, ternyata Pak Kusni tidak ada. Dia pergi ke luar pulau tadi pagi dengan membawa semua hartanya.


"Pak Kusni satu keluarga sudah pindah tadi pagi," jawab pembantu yang hari ini juga akan menyelesaikan tugas terakhirnya, yaitu, membersihkan rumah itu yang sudah di jual sama pak Kusni.


"Kok mendadak Mbah?"


"Iya, sudah beberapa hari Pak Kusni terus di teror hantu. Lalu akan pindah ke pulau lain. Rumah ini juga sudah dijual,"


"Ke pulau mana mbak pindahnya?" tanya Pak Jayan yang akan mencari pak Kusni sampai ketemu.


"Saya tidak tahu," jawabnya.


Pak Jayan dan Bu Jayan saling bertatapan. Lutut mereka mendadak lemas tak berdaya. Dan sekarang tanah itu sudah dijual. Tapi tidak tahu siapa pembelinya.


Padahal, Pak Jayan berniat membeli tanahnya itu kembali demi ketenangan arwah Mbah Karti yang terus menerornya.


"Bagaimana ini buk?" tanya Pak Jayan lemah dan lirih.


"Mila, kau lihat sendiri. Tanah itu sudah dijual pada orang lain. Pergilah ke kuburan dan katakan pada arwah Mbah Karti. Nanti sisa uangnya akan aku serahkan padamu," kata Bu Jayan.

__ADS_1


"Benar Mila. Kami kapok. Kami tidak mau lagi sepeserpun harta warisan Mbah Karti, kau saja yang menyimpannya," kata Pak Jayan.


Mila menatap Frans. Minta persetujuan darinya dengan tatapannya.


"Kita nanti akan ke kuburan. Setelah kalian menyerahkan uang itu," kata Frans.


"Baiklah, jika begitu, ayo kita ke bank. Aku akan memindahkan atas nama Mila," kata Pak Jayan.


Mereka lalu pergi ke bank. Dan memindahkan sisa uangnya ke rekening Mila dan sisanya akan di cicil oleh Pak Jayan.


"Sekarang sudah lunas," kata Pak Jayan pada Mila.


"Sisanya saya akan cicil," kata Bu Jayan juga.


Mila lalu bersama Frans pulang duluan dan akan langsung ke kuburan.


Mereka akan mengatakan pada Mbah Karti apa yang baru saja terjadi.


"Mau hujan, kita harus cepat sampai," kata Frans yang sebenarnya dia tidak seberani Mila. Pergi ke kuburan sendirian, membuatnya takut. Bersama Mila dia menjadi lebih berani, namun saat mendung seperti ini, dia juga merasa tidak nyaman.


Mereka memasuki pintu kuburan. Lalu berjalan ke kuburan keluarga Mbah Karti. Anehnya, setelah sampai disana, semua batu nisan itu sudah tidak miring lagi.

__ADS_1


Semua sudah tegak berdiri dengan semestinya.


"Lihatlah Frans, batu nisannya sudah tegak seperti yang lainnya. Apakah ini artinya, Mbah Karti setuju dengan kesepakatan kita tadi?" Mila tersenyum bahagia.


"Sepertinya begitu. Mereka tidak keberatan jika Pak Kusni tidak mengembalikan tanahnya. Pak Jayan sudah mengembalikan uang hasil penjualannya,"


"Frans, aku sangat bahagia," kata Mila lalu memeluk Frans.


"Tentu saja. Kau menganggap mereka seperti keluargamu. Mereka juga menganggapmu seperti keluargamu," kata Frans.


"Ayo kita pulang. Sebentar lagi mau turun hujan," kata Frans mengajak Mila pulang ke rumah Mbah Karti.


"Iya," Mila berjalan di samping Frans. Begitu sampai rumah, hujan mengguyur sangat deras. Namun tidak lama. Satu jam kemudian, hujan langsung berhenti dan matahari terlihat bersinar lagi.


"Hujan macam apa ini? Seperti sebuah pertanda," kata Mila berbisik pada Frans saat mereka duduk diruang tamu sambil minum teh hangat.


"Ya, pertanda baik," Frans lalu menggandeng tangan Mila.


"Kemana?"


"Ke kamar, ayo ikut denganku," Frans mengajak Mila kekamarnya.

__ADS_1


Mila tersenyum lalu menutup pintu depan rumahnya.


__ADS_2