
Seorang wanita tua memukulkan tongkatnya di pintu masuk rumah Mila. Dan tiba-tiba ada asap dari gudang.
Adab itu melayang ke ruang tamu dan menghilang. Wanita tua yang membawa tongkat bisa melihatnya. Tapi yang lainnya tidak.
"Aku duduk sini saja cu..." kata wanita tua itu.
"Dingin Mbah, kalau diluar," Mila membantunya duduk.
"Ngga papa cu...."
Acara amal itupun berjalan dengan lancar. Acaranya selesai saat maghrib. Mila dan Frans masih duduk diruang tamu ketika semua orang sudah pulang ke rumah masing-masing.
"Ada yang aneh di gudang itu Mil,"
"Maksudmu?"
"Lantai itu ada yang berbeda. Seperti baru diganti. Siapa yang melakukan ini?"
"Aku juga tidak tahu, saat aku datang, aku tidak memperhatikan lantainya. Tertutup oleh kardus-kardus," sahut Mila.
"Ayo kita lihat lagi," ajak Frans dan Mila.
Mereka lalu berjalan kearah gudang untuk melihat lantai itu.
Tiba-tiba lampu padam, Mila memegang erat baju Frans dalam ketakutannya.
Ada yang terseok-seok berjalan kearah mereka, rambutnya menutupi wajahnya dalam kegelapan.
"Buka lantai itu....hihihi....buka lantai itu....hihihi....."
__ADS_1
"Apa itu Frans...." Pegangan Mila semakin erat dalam hati merasa tercekam.
Frans berhenti dan berusaha melihat bayangan orang yang terseok-seok itu. Namun, tiba-tiba sebuah tongkat melayang dan mengejar Mila dan juga Frans.
Frans melindungi Mila hingga dia yang terkena pukulan tongkat itu dibagian kepala. Frans terkapar dengan kepala berdarah dilantai.
Sementara, Mila kaget.
"Lari....lari.." Saat Mila akan menolong Frans. Frans justru mendorong Mila agar lari dari rumah itu untuk menyelamatkan diri.
Tingkat itu mengejar Mila, dan saat sampai dipintu depan, tiba-tiba lampu menyala. Mila berbalik dan tingkat itu tidak ada.
"Syukurlah lampunya sudah menyala," Mila lalu berbalik dan mencari Frans.
Namun, Frans tidak ada disana. Hanya ada sisa tetesan darah saja.
"Frans, kamu dimana?" Mila mencari didapur dan dikamarnya. Tapi tidak ada sahutan.
"Bekas darahnya disini. Tapi kemana perginya dia?"
Mila lalu pergi ke gudang, siapa tahu Frans ada disana. Namun Mila juga tidak menemukan Frans.
Mila sangat putus asa. Dalam ketakutannya, akhirnya dia memilih untuk menemui pak Wito.
Malam hari, Mila berjalan kerumah Pak Wito dan menceritakan apa yang terjadi.
"Kenapa ya pak? Tongkat itu seperti mengamuk! Seakan ingin membunuh kami," kata Mila sambil menangis.
"Dan, Frans menghilang tiba-tiba. Apakah hantu itu membawa Frans?" Mila masih gemetar membayangkan apa yang baru saja dia alami.
__ADS_1
"Sebaiknya, besok kita mencari orang pintar. Kita tidak tahu apa yang di inginkan roh itu. Tapi dia bisa berbicara dengan orang pintar, bagaimana?"
"Baiklah...saya menurut saja, tapi saya tidak berani pulang. Bolehkan saya menginap disini malam ini?" Mila memohon agar diizinkan menginap. Frans tidak ada dirumah. Dia sangat ketakutan.
Istri pak Wito mengangguk.
"Ayo nak Mila, biar ibuk antar ke kamarmu."
Pagi harinya. Mila dan Pak Wito pergi kerumah orang pintar. Namun saat dijalan bertemu dengan wanita tua yang di undang Mila di acara amal.
Wanita tua itu, tersenyum melihat Mila dan Pak Wito.
Mila dan pak Wito berhenti saat bertemu dengan wanita tua itu.
"Kamu mau mengusir roh jahat itu? heh heh heh," wanita tua itu terkekeh.
"Dia itu dipelihara oleh Sinta dan Alex,"
"Apa?"
"Ya...karena yang memelihara sudah mati, dan mereka terkurung didalam rumah itu. Mereka harus dikembalikan ke pemiliknya," kata Simbah itu.
"Pemilik? Maksud Mbah, kami harus mengeluarkan mereka?"
"Ya, ada syaratnya...baru mereka bisa menurut padamu,"
"Apa syaratnya Mbah?"
Mila juga heran, bagaimana Simbah ini tahu sejarah Alex dan Sinta? Ternyata Simbah ini juga punya kemampuan supranatural. Bisa melihat hal gaib.
__ADS_1