Warisan Dan Miringnya Batu Nisan

Warisan Dan Miringnya Batu Nisan
Bab 23 Pengakuan


__ADS_3

Mila menatap kaget pada dua orang yang berdiri dengan gemetar dihadapannya.


Pak Jayan dan Bu Jayan, tidak berani lagi untuk berbohong. Mereka sadar, jika tidak mengakuinya maka arwah Mbah Karti terus menerornya dan sekarang sudah tidak bisa diremehkan.


Arwah itu mengincar nyawanya. Dia dan istrinya ketakutan dan untunglah berhasil keluar dari rumah dan berlari kemari. Arwah itu sudah tidak mengikuti mereka di belakangnya lagi.


"Jadi, kalian sudah menjualnya pada pak Kusni?" tanya Mila.


"Iya, kami menjualnya tujuh ratus juta pada Pak Kusni,"


"Astaga, pantas saja, Batu Nisan Mbah Karti dan keluarganya masih tetap miring. Uangnya sebanyak ini, mereka pasti tidak tenang disana,"


"Mil, kami menginap disini ya? Kami sqngat takut," kata Bu Jayan dan di iringi anggukan juga oleh Pak Jayan.


"Tapi...." Frans nampak keberatan.


"Biarkan mereka menginap disini. Lagian, banyak kamar kosong kan disini?"


"Ya sudah. Tapi ingat, jangan ganggu kami lagi, ini sudah malam. Waktunya kami istirahat," Frans tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya.


"Iya, iya. Kami tidak akan mengganggu lagi,"


Mila lalu mengantarkan mereka kekamar tamu. Frans menarik lengan Mila.


"Ayo cepat ke kamar. Keburu pagi," ucap Frans dan setelah Pak Jayan dan Bu Jayan masuk kemar, dia segera menggendong Mila.


"Lepaskan, nanti mereka lihat," ucap Mila meronta karena rasa malu jika di lihat oleh dua tamunya yang menginap.


"Sudah, diam saja. Nanti malah jatuh," Frans lalu membawa Mila ke kamar mereka. Mila menurut dan diam seperti keinginan Frans.

__ADS_1


Ada-ada saja!


Gerutu Frans kesal sambil mengunci pintu dari dalam.


Frans mematikan lampu kamar dan menatap Mila lalu tersenyum.


Mengangguk-angguk dan menyibakkan rambutnya yang tergerai menutupi dadanya.


"Kita lanjutkan," kata Frans membaringkan Mila.


Mila diam saja. Tapi pikirannya malah melayang pada batu nisan Mbah Karti. Dia tersenyum karena setelah tanah itu dikembalikan, pasti batu nisan itu bisa lurus kembali.


"Kok malah senyum-senyum sendiri, apa yang kamu pikirkan?" bisik Frans di telinga Mila.


"Batu Nisan. Batu Nisan itu pasti akan lurus kembali setelah tanahnya di kembalikan," kata Mila menatap Frans yang berada diatasnya dan wajahnya sangat dekat dengan pipinya.


"Astaga, Mila. Kita sedang malam pertama. Bisa ngga fokus ini dulu. Jangan mikirin batu nisan dan kuburan melulu...." Frans geleng-geleng kepala melihat istrinya yang terus saja memikirkan kuburan Mbah Karti.


Satu jam kemudian.


Frans lega, akhirnya misinya berhasil. Malam pertama sudah dia dapatkan tanpa ada gangguan.


"Mila, jangan dipakai," kata Frans saat Mila akan memakai baju tidurnya.


"Kenapa?"


"Begini saja. Kita tutup pakai selimut, lebih hangat kan?" kata Frans memeluk Mila dan kulit mereka bersentuhan.


"Tapi,"

__ADS_1


"Sudah, tenang saja. Ini kan kamar kita,"


Frans melingkarkan tangannya ke badan Mila dan memeluknya.


Pagi jam 4.


Tok tok tok!


"Apaan sih?!" Frans terbangun. Sementara Mila masih pulsa tertidur.


"Maaf mengganggu. Saya tidak tahu dimana kamar mandinya. Saya mau kencing," kata Pak Jayan dan Bu Jayan.


"Astaga, dia orang ini, bikin kesal saja!" Frans segera memakai bajunya dan keluar.


"Lurus. Belok kanan, lalu belok kiri, dan lurus lagi," kata Frans menunjukan pada mereka berdua.


"Iya terima kasih," Pak Jayan lalu mengikuti apa yang dikatakan Frans.


Rumah Mbah Karti sangat luas. Dan rumah zaman dulu, kamar mandi selalu berada di paling belakang bangunan rumah. Maka jarak dari ruang tamu ke kamar mandi sangat jauh, apalagi timah Mbah Karti yang luas dan memanjang.


Frans lalu mendekati Mila dan mencium keningnya.


"Ehm, sudah pagi ya," kata Mila saat membuka matanya dan melihat wajah Frans hanya lima sentimeter dari matanya.


"Masih malam. Baru jam empat," kata Frans menarik selimut lagi.


"Tapi...." Mila biasanya akan bangun jam segini dan masak.


"Aku akan masak," kata Mila.

__ADS_1


"Tidak perlu. Kita akan sarapan di warung saja," kata Frans lalu memeluk Mila didalam selimut.


__ADS_2