
"Ini masih belum membuktikan apapun," kata Mila lalu mencari berkas lainnya.
"Iya. Kita harus selidiki masalah ini. Mungkin ini masalah yang sangat penting. Yang dilewatkan keluarga Mbah Karti,"
"Aku tidak tahan baunya. Hidungku sepertinya penuh dengan debu," ungkap Mila sambil memegang hidungnya.
"Baiklah, ayo kita keluar, kita lanjutkan besok lagi," kata Frans lalu menaruh foto-foto itu ke tempatnya semula.
"Iya," Mila mengangguk lalu keluar dari gudang bersama Frans.
"Hah, kotor sekali!" Frans membersihkan bajunya dari debu yang menempel.
"Sepertinya, kita harus mandi lagi," kata Frans lalu mengajak Mila mandi bersama.
Mereka segera ke kamar dan akan mandi. Frans masuk duluan kekamar mandi. Karena menunggu Mila tidak kunjung masuk, dia berteriak dari dalam.
"Mil!" teriak Frans dari dalam kamar mandi.
"Ya,"
"Kemari, bantu aku. Pinggangku keseleo," kata Frans dari dalam.
"Kamu keluarlah, biar aku pijit disini," kata Mila yang malu jika harus mandi bersama. Maklum, Mila gadis kampung tulen, rasa malu sangat melekat dalam dirinya.
"Cepatlah Mila. Aku tidak bisa bergerak," imbuh Frans yang tahu jika sulit mengajak Mila mandi bersama tanpa tipu muslihat.
"Ya sudah, tutupi tubuhmu. Aku akan masuk kedalam," kata Mila lalu masuk perlahan.
Dan begitu Mila masuk, Frans langsung mengunci pintunya dari dalam.
Dia langsung memeluk Mila.
__ADS_1
"Kena kau," Frans tertawa senang sembari memeluk Mila dari belakang. Ternyata dia berdiri didekat pintu. Begitu Mila masuk, dia langsung beraksi.
"Kau, dasar! Kau sudah menipuku? Kamu tidak sakit pinggang?" Mila kesal namun dia tidak bisa keluar dari kamar mandi.
"Buka bajumu. Kita akan saling menggosok punggung. Kau banyu aku dan aku akan membantumu,"
"Aku tidak perlu. Aku bisa sendiri," Mila ngga mau melakukan seperti yang di inginkan Frans.
"Ayolah Mila. Ini hal biasa dan romantis bagi sepasang suami istri. Oke, kita coba?"
"Aku, malu," kata Mila yang sebenarnya sadar, jika menolak keinginan suaminya maka akan berdosa.
"Kau akan terbiasa nanti, oke?" Frans membantu membuka baju Mila.
Dan sekarang Mila ada didepan Frans, mengusap punggung Mila dengan sabun yang lembut.
"Lakukan seperti ini? Enak bukan?" kata Frans sambil memijit lembut punggung Mila.
"I..iya..." Mila terbata meskipun dia akui, pijatan Frans membuatnya merasa nyaman.
Saat di warung nasi, mereka mendengar orang membicarakan tentang masa lalu Mbah Karti.
"Maria itu menghilang begitu saja sejak saat itu," kata seorang pria tua yang kebetulan singgah.
Dia adalah teman almarhum Mbah Karta, suaminya Mbah Karti saat masih bekerja menjadi pegawai.
"Sampai sekarang tidak ada yang tahu kemana si Maria itu pergi. Dia melahirkan seorang bayi perempuan yang di asuh oleh tetangganya,"
"Jadi Mbah Karti saat itu akan melaporkan perbuatan suaminya yang sudah menghamili asistennya? Lalu setelah bayi itu lahir, Maria meminta haknya untuk di nikahi demi anaknya, namun Mbah Karta menolaknya, dan sejak saat itu, Maria menghilang. Oleh Mbah Karti bayi itu diberikan pada tetangganya dan dirawat oleh mereka," jelas pria tua itu.
Mila tanpa sengaja mendengar cerita masa lalu Mbah Karti.
__ADS_1
"Aku harus menemui Mbok Darmi," kata Mila pada Frans.
"Habiskan dulu makananmu,"
"Tidak, aku akan segera menemuinya. Ini sangat penting," ucap Mila lalu meninggalkan warung.
Mereka segera ke rumah Mbok Darmi. Saat itu Mbok Darmi lagi sakit sudah beberapa hari.
Mila kaget, karena saat terakhir nkali bertemu, Mbok Darmi sehat, dan tidak tahu jika sedang sakit.
"Mbok, maafkan Mila. Tidak tahu kalau Mbok Darmi sedang sakit,"
"Mbok nungguin kamu Mila. Mbok ingin mengatakan sesuatu padamu. Mbok sakit, dan Mbok khawatir, jika meninggal dan belum memberitahukan hal penting padamu," ucap Mbok Darmi sambil terbatuk-batuk.
"Iya Mbok. Mila mendengarkan,"
"Mila....Kamu sebenarnya bukan anak kandung kedua orang tuamu yang sudah tiada. Kamu adalah anak seorang wanita bernama Maria. Dia datang dari kota dalam keadaan hamil. Dan setelah kau lahir, dia menyerahkanya pada kedua orang tuamu. Entah kenapa ibumu tidak datang lagi hingga sekarang. Wajahnya sangat mirip sekali denganmu, Mila. Carilah foto di rumah Mbah Karti, mungkin masih ada yang tersisa. Dulu ibumu bekerja dengan Pak Karta,"
"Apa mbok? Jadi yang tadi aku dengar di warung, itu benar? Mbok juga merahasiakan jati diri Mila?"
"Bukan begitu Mila? Orang tuamu minta agar semua ini dirahasiakan darimu. Tapi, setelah mbok pikir kembali, kamu berhak tahu semuanya, sebelum mbok tiada,"
"Mbok...." Mila menangis karena dia tidak tahu siapa dirinya uang sesungguhnya.
"Jika kau menemukan ibumu, kau akan tahu siapa ayahmu. Dulu....pernah terdengar kabar jika Pak Karta adalah orang yang di cintai ibumu. Jika itu benar, artinya kau adalah keturunannya. Kau harus mencari bukti yang kuat dirumahnya. Karena mereka semua sudah meninggal. Dan hanya ibumu yang menghilang tidak ada kabar hingga saat ini," kata Mbok Darmi merasa lega setelah mengatakan rahasia besar ini pada Mila.
"Terimakasih mbok. Mbok sudah menceritakan rahasia jati diri Mila. Mbok mau apa? Biar Mila buatkan untuk makan?"
"Tidak Mila, Mbok sudah di buatkan jenang baning oleh Idah. Itu belum dimakan," kata Mbok Darmi.
"Mila suapin ya Mbok," Mila lalu mengambil jenang baning itu dan menyuapi Mbok Darmi.
__ADS_1
Akhirnya Mbok Darmi mau makan. Dia memang dekat dengan Mila sejak kedua orang tua Mila meninggal. Rumah mereka juga dekat.
Hanya saja sejak Mila menjadi istri Frans, dia beberapa hari lalu sibuk dengan urusan surat-surat tanah, sehingga jarang kerumah Mbah Mbok Darmi.