
Mila dan Frans lalu pulang. Mila segera pergi ke gudang lagi untuk mencari informasi lainnya.
Namun saat akan masuk kesana, Frans mencegahnya. "Besok saja Mila. Sekarang kita sudah mandi. Susana debunya sangat tebal sekali. Besok aku akan membantumu, mencari data masa lalu pak Karta,"
Mila akhirnya mengangguk. Dia meninggalkan gudang itu.
Malam ini jam 11 malam. Mila sengaja belum tidur, sementara Frans sudah tidur.
"Aku ingin tahu, apakah suara itu kembali muncul lagi atau tidak?" bisik Mila dalam hati sambil membaca buku cerita.
Tiba-tiba sebuah bayangan lewat didepan kamar Mila.
"Siapa?" Mila bangun dan meletakkan buku cerita di atas meja.
Dia berjalan ke luar kamarnya, mencari bayangan yang baru saja lewat.
"Disana!" gumam Mila melihat bayangan itu masuk ke sebuah ruangan. Ternyata ini adalah ruang kerja Pak Karta.
"Kenapa kesini, ada apa disini?" Mila yang tidak pernah masuk ruang kerja pak Karta akhirnya masuk kesana. Biasanya dia hanya datang untuk bersih-bersih. Tapi, sekarang dia yakin bayangan hitam itu ingin menunjukkan sesuatu padanya.
Tiba-tiba sebuah mal terjatuh.
Bruuukkkk!
Bayangan hitam itu menghilang. Mila lalu membukanya.
"Tidak ada apapun," bisik Mila setelah membuka Map itu.
"Tidak! Pasti aku kurang teliti dan sudah melewatkan sesuatu,"
Mila lalu melihat lembar demi lembar secara hati-hati.
"Apa ini?" Dan benar saja, Ada sebuah kertas wasiat yang menempel dengan kertassinnya saking lamanya.
__ADS_1
Kertas ini sepertinya sengaja di sembunyikan diantara kertas lainnya.
"Teruntuk istri siriku Maria. Jika aku tiada maka dia atau putrinya berhak mendapatkan separo harta peninggalan nya, dibagi dengan anaknya yang lain,"
Tertanda, Karta dan Karti.
Mila gemetar memegang kertas itu setelah membaca isinya.
"Jadi, pak Karta punya istri siri? Dan istrinya juga tahu. Disini ada juga tangan keduanya," kata Mila bergumam sendirian.
"Dan aku, ternyata adalah putrinya. Lalu dimana ibu? Dan kenapa Bu Karta dan Bu Warni sangat baik padaku. Apakah mereka juga tahu jika aku adalah darah daging pak Karta? Benarkah mereka tahu semua ini?"
Mila mengingat setiap kejadian demi kejadian.
Bagaimana, Bu Warni mengatakan agar Mila menempati rumahnya.
Tiba-tiba komputer yang sudah lama dan kuno itu menyala. Ada adegan di dalam layar yang menyala sendiri.
Mila memperhatikan orang-orang didalam komputer itu. Dan ternyata didalamnya adalah Pak Karta saat masih muda dan Maria juga Mbah Karti.
Ada bayi diatas troli sedang tidur. Mereka berdebat sangat hebat, namun tidak ada suaranya.
Bu Karya nampak sangat marah pada wanita itu. Tanpa sengaja, dia mendorong wanita itu dan membentur meja.
Wanita itu lalu pingsan. Dan Pak Karta dan Bu Karti saat muda saling berpandangan. Mereka memeriksa detak jantung wanita itu. Ternyata wanita itu punya riwayat penyakit jantung. Dan karena takut dan panik, mereka menggotong wanita itu kedapur.
Lalu menggali tanah di bawah jendela dapur. Dan menguburkan wanita itu disana saat malam hari.
Pak Karta nampak sedih dan ketakutan, begitu juga istrinya.
Tiba-tiba komputer itu mati setelah adegan itu.
"Mati? Kok mati?" Mila mendekati komputer itu dan tidak ada kabel yang tersambung. Artinya ada yang sudah menyalakannya dengan kekuatan gaib.
__ADS_1
Mila segera meninggalkan ruang kerja pak Karta dan berlari kekamarnya. Saat akan masuk bertabrakan dengan suaminya.
"Mila! Aku mencarimu kemana-mana, kau dari mana malam-malam begini?" tanya Frans saat Mila memeluknya dan telapak tangannya sangat dingin.
"Aku dari ruang kerja pak Karta. Aku melihat komputer itu nyala tanpa sambungan listrik. Aku lalu lari saat tahu hal itu,"
"Komputer nyala?" Frans kaget, karena komputer itu sudah rusak. Tidak mungkin bisa menyala.
Mila lalu menceritakan bagaimana dia mengikuti hantu itu dan masuk ke ruang kerja pak Karta.
"Jadi, mereka menguburnya dibawah jendela?" tanya Frans pada Mila.
"Iya, wanita itu dikubur dibawah jendela. Wajahnya sangat mirip denganku. Mungkinkah itu ibu?" Mila menangis tersedu-sedu.
"Dan ini? Ini surat wasiat dari Pak Karta," ucap Mila sambil memperlihatkan kertas wasiat itu pada Frans.
"Ya, ini dibuat oleh eyang Kakung," kata Frans pada Mila.
"Besok kita akan meminta warga untuk menggali tanah itu dan memakamkan ibumu dengan cara yang benar," kata Frans dijawab anggukan oleh Mila sambil mengusap air matanya.
Keesokan harinya, Frans datang menemui Pak Wito dan menceritakan apa yang terjadi beberapa hari ini.
Pak Wito juga kaget saat mendengar cerita Frans. Namun ibu pak Wito yang sudah tua juga mengatakan jika cerita mbok Darmi itu benar adanya.
"Kami semua tidak ada yang berani mengatakan pada Mila, karena memang dirahasiakan oleh kedua orang tuamu yang sudah tiada,"
"Ohh jadi ada rahasia besar di rumah Mbah Karti? Ternyata mereka menyimpan rahasia besar ini pantas saja mereka menyerahkan harta warisannya pada Mila. Ternyata itu wasiat terakhir suaminya, karena tidak ada yang hidup dari keturunannya, maka menyerahkan semua hartanya padamu Mila," kata Pak Wito.
"Yang dikatakan Wito benar. anaknya Murni sudah meninggal, lalu Mbah Karti, dan yang terakhir, Warni juga tidak punya anak, makanya menyerahkan hartanya padamu Mila. Saat Maria datang dari kota, Warni dan Murni sudah besar, mereka berusia sepuluh tahun-an saat itu," terang ibunya pak Wito.
Mila mengangguk.
Ternyata dia adalah pewaris yang tersisa. Dan tidak ada yang lainnya lagi. Pantas saja saat pak Alex dan Sinta menguasai harta warisan itu, karena menganggap Mila hanyalah pembantu, mereka terus dihantui oleh mahkluk gaib. Jangan-jangan yang menghantui mereka bukanlah Mbah Karti. Melainkan ibunya, Maria yang di kubur di rumah Mbah Karti.
__ADS_1