
Satu bulan kemudian, Mila menikah dengan Frans. Dan sekarang sudah tinggal dirumah Mbah Karti.
Mereka menikah sesuai adat didesa itu. Tapi Mila masih memikirkan soal surat tanah yang belum ditemukan.
Malam pertama.
"Pengantin baru kok melamun," kata Frans memeluk Mila dari belakang.
"Aku masih memikirkan surat itu. Di mana surat itu?"
"Sudah kubilang, nanti juga akan ketemu. Kamu tenang saja," Frans lalu mbalikkan badan Mila. Sekarang mereka duduk berhadapan.
Mila tertunduk malu. Bagaimana pun dia adalah gadis desa, yang sifat malu begitu melekat pada dirinya.
"Lihat aku, aku suamimu sekarang," Frans memegang dagu Mila.
"Ya, aku tahu,"
Frans lalu menggendong Mila dan membaringkannya.
Mereka saling bertatapan. Frans adalah pria yang tidak dikenal lama oleh Mila. Namun karena saran beberapa orang, Mila akhirnya menikah dengannya.
Rasa canggung jelas tidak bisa disembunyikan oleh Mila.
"Aku matikan lampunya," kata Frans.
__ADS_1
"Jangan..." Mila ketakutan.
"Lebih baik jika pakai yang redup saja," ucap Frans.
Mila mengerti maksud Frans. Akhirnya mengangguk. Bagaimana pun, ini adalah malam pertama mereka. Ada hak dan kewajiban yang harus ditunaikan oleh sepasang pengantin baru itu.
"Ya sudah," kata Mila lirih.
Frans sudah siap dan menggebu untuk melakukanya. Tapi, tiba-tiba pintunya di gedor-gedor oleh orang dari luar.
"Apa lagi sih? Ngga tahu apa kalau ini malam pertama kita? apa ngga bisa nunggu sampai besok pagi?! Kata Frans kesal saat dia sedang berada diatas tubuh Mila.
"Siapa itu Frans? Seperti suara Bu Jayan?" ucap Mila dan menutupi badannya dengan selimut.
"Ya, sudah biar aku bukain. Mengganggu saja!" Frans lalu memakai piyamanya dan keluar menemui orang yang menggedor pintu dengan keras.
"Ehh, tapi...." Frans tidak bisa menahannya. Bu Jayan menerobos begitu saja.
Aduh! Ngapain sih pakai masuk segala!
"Besok saja Bu. Saya sudah mengantuk," kata Frans
.
"Tidak bisa. Nyawa saya berada dalam bahaya. Hantu itu meneror saya, saya mau menginap disini," kata Bu Jayan yang ketakutan masuk rumahnya sendiri.
__ADS_1
Tidak lama, Pak Jayan juga datang berlari dan masuk kedalam.
Aduh, kenapa nih satu lagi? Kaya ngga pernah jadi pengantin baru saja? Ngga tahu orang lagi nanggung apa?
"Besok saja kita bicarakan. Sebaiknya bapak dan Bu Jayan pulang ini sudah malam," kata Frans.
"Tidak. Ada yang harus saya bicarakan dengan kalian. Mana Mila?"
Aduh! Ngapain pakai manggil Mila segala? Bisa gawat nih? Gagal malam pertama ku, jika Mila tahu mereka ada disini,"
"Pak, Bu, besok saja ya. Sudah malam. Kalian tahu ngga ini malam pertama saya?" Frans kesal dengan mereka berdua.
"Maaf. Malam pertama nya ditunda besok saja. Masalah ini lebih penting. Ini menyangkut nyawa kami," kata Pak Jayan tanpa rasa bersalah.
Sial! Seenaknya saja nih orang bilang suruh menunda malam pertama?
"Mana Mila, tolong panggilkan," Bu Jayan sudah sangat ketakutan. Keringat dingin membasahi dahinya.
"Saya disini Bu," Mila yang mendengar ribut-ribut lalu memakai bajunya dan keluar.
Nah, kan. Gara-gara mereka berdua, alamat gagal malam pertamaku.
"Mila, besok ikut aku kerumah Pak Kusni. Nanti akan saya kembalikan, surat tanahnya," kata Pak Jayan ketakutan.
"Jadi, surat tanah itu ada sama kalian dan sudah kalian jual pada pak Kusni?" Mila terperanjat.
__ADS_1
Terpaksa Pak Jayan mengakui perbuatannya. Karena baru saja arwah Mbah Karti mengamuk dirumahnya. Bahkan pisau pada terbang dan akan membunuh mereka berdua jika tidak segera mengembalikan tanah itu.