
Ketika segala perjuanganku dianggap tak berguna,
pada saat itulah kuyakin bila kau adalah perwujudan kalahku yang sempurna. Karena kau berhasil membuatku menunggu orang yang kucinta tiada tanpa dulu bisa mempertahankannya.
Joana duduk di sofa yang menghadap jendela besar apartemen. Dengan tatapan kosong, pandangannya jatuh pada kerlap-kerlip lampu ibu kota Jakarta yang terpampang di depannya. Seraya menyesap susu cokelat, kembali Joana mengingat kejadian satu bulan lalu. Kejadian setelah Shinta dan Naomi pulang dari apartemen ini.
“Udah berapa banyak orang yang lo kasih tahu tentang keadaan gue sekarang? Kalau aja lo begitu mudahnya ngasih tahu masalah ini sama Shinta dan Naomi, berarti bukan nggak mungkin lo udah ngasih tahu yang lain juga,” tuding Joana pada Raskal.
“Gue ngasih tahu Shinta dan Naomi karena gue tahu mereka sahabat lo. Setelah mereka, gue cuma cerita ke Gavin sama Reza,” jawab Raskal lemah tanpa menatap mata Joana.
“Wah, bagus sekali! Sekarang kita tinggal tunggu mereka nyebarin berita ini ke seluruh sekolah.”
“Mereka nggak mungkin begitu, Jo. Gue tahu siapa mereka.” Joana tertawa mendengus. “Anak-anak macem mereka emang bisa dipercaya?” tanya Joana skeptis, membuat Raskal semakin tertekan. “Apa lo nggak cukup udah berhasil nidurin gue, nikahin gue, dan buat hidup gue berantakan? Terus sekarang lo mau nambah penderitaan gue dengan ceritain semua hal ini ke orang-orang? Lo pasti tau kan Gavin itu—”
“Berhenti! Cukup, Joana!” teriak Raskal tidak tahan. Dia mungkin bisa terima jika Joana terus menyalahkannya. Tetapi, kalau cewek itu ikut menyangkutpautkan Gavin—sahabatnya yang bahkan tidak salah apa-apa—Raskal tidak bisa diam saja.
“Lo nggak tahu apa-apa tentang Gavin. Dia nggak seburuk apa yang lo pikirin selama ini.”
“Nggak seburuk apa yang gue pikirin? Lo lupa, dia yang buat lo jadi berandalan sekolah kayak sekarang, dia yang buat lo suka trek-trekan, dan dia yang buat lo jadi pemakai narkoba! Apa semua itu nggak cukup buat jadi alasan gue selalu berpikiran buruk sama dia?”
“Seenggaknya dia selalu ada buat gue,” Raskal menjawab dengan suara pelan, namun sanggup membuat Joana bungkam. “Lo masih punya orangtua dan kakak lo buat dijadiin pegangan. Terus lo punya Shinta dan Naomi. Kalau gue? Siapa lagi yang gue punya sekarang selain mereka berdua? Siapa lagi yang mau nerima bajingan ini?”
Joana terdiam lama. Dadanya terasa sesak dan sakit. Perkataan Raskal barusan begitu jelas menohoknya keras-keras.
“Lo … lo nggak anggap gue ada?” Joana bertanya dengan terbata-bata.
Raskal tidak langsung menjawab pertanyaan Joana. Dia hanya mengambil langkah satu demi satu ke hadapan Joana sambil menatapnya lurus-lurus. Sikap Raskal itu otomatis membuat Joana yang melihatnya ikut melangkah mundur hingga tubuhnya menabrak tembok di belakang. Lalu, sebelum sempat Joana menyadari semuanya, Raskal telah merentangkan kedua tangan, mengurungnya dalam dekapan tubuh cowok itu dan juga tembok apartemen. Tidak siap dengan sikap Raskal, refleks Joana langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak mau menatap mata Raskal lebih lama.
“Lihat mata gue, Jo,” pinta Raskal lirih dan pelan. Lembut tapi juga penuh penekanan dan sarat akan permohonan.
Joana tidak bergerak. Kepalanya masih tertunduk dan matanya masih melihat ke arah lain. Tanda dia tidak mau memenuhi permintaan Raskal saat ini.
“Gue mohon, Jo. Jangan lihat gue sebagai brengsek yang udah ngerusak lo. Lihat gue sebagai Raskal sahabat lo,” pinta Raskal sekali lagi. Nada suaranya terdengar sangat putus asa.
Lagi-lagi Joana tidak berkutik. Seperti patung, Joana tidak menggerakkan tubuhnya sama sekali. Membuat Raskal yang melihatnya langsung tertawa kecut.
“Kalau lo nggak bisa lihat gue, gimana bisa lo nerima gue?” Raskal melepaskan kurungannya dari tubuh Joana. Kemudian cowok itu berbalik membelakangi Joana. “Lo berhasil buat gue nyerah tanpa perlu berjuang. Gue kalah bahkan sebelum perang.”
Joana mengerjapkan matanya yang mulai basah. Sebelum air matanya jatuh, buru-buru cewek itu mengusapnya. Dalam hati dia mengutuk dirinya sendiri yang selalu merasa sedih saat terngiang-ngiang perkataan Raskal satu bulan lalu. Sejak perkataan itu terucap, Raskal berubah menjadi orang yang benar-benar tidak dia kenali lagi. Misalnya, saat berpapasan, Raskal tidak pernah mau melihat mata Joana. Cowok itu selalu membuang pandangan ke arah lain tanpa mau menatapnya langsung. Lalu, cowok itu juga berubah menjadi pendiam dan hanya bicara seperlunya. Yang tambah membuat dia tertekan, Raskal tidak pernah mau terbuka dengannya lagi. Entah dari masalah-masalah yang menimpa cowok itu, pekerjaan cowok itu sekarang, atau kabar tentang orangtua cowok itu.
Sempat terlintas di benak Joana, perubahan sikap Raskal ini terjadi karena dirinya sendiri. Dia yang membuat Raskal tutup mulut dan tidak mau berbagi apa pun lagi. Dia yang membuat Raskal bungkam karena cowok itu tidak mau menambah bebannya lagi.
Joana melirik jam dinding yang tergantung di ruang TV. Sudah pukul sebelas malam. Tapi, Raskal belum juga pulang. Berhubung cowok itu tidak menyempatkan pulang ke apartemen, bisa dipastikan Raskal belum makan malam.
Dengan perasaan yang benar-benar gelisah, marah, juga khawatir, Joana bangkit dari sofa lalu beranjak ke dapur untuk menyiapkan makanan. Semarah atau sebenci apa pun dia pada Raskal, nyatanya Joana tetap tidak pernah mampu menyingkirkan kepeduliannya pada cowok itu.
__ADS_1
Joana tidak bisa. Tidak pernah bisa.
***
Di salah satu SPBU di Jakarta.
“Kal, gue cabut duluan, ya,” seru Irgi lantang. Raskal membalas seruannya dengan anggukan.
“Iya! Hati-hati lo,” katanya sambil terus memegangi gagang pengisi bensin ke tangki mobil di depannya. Ketika Irgi sudah pergi, perhatian Raskal kembali pada si pemilik mobil yang kini menyerahkan beberapa uang lima puluh ribuan padanya.
“Terima kasih, Pak. Silakan berkunjung kembali,” ucap Raskal ramah pada si pengemudi mobil. Si pengemudi mobil tidak mengacuhkannya dan langsung masuk ke dalam mobil lalu pergi begitu saja.
Raskal menghela napas panjang. Sambil membetulkan letak topinya yang sedikit turun, cowok itu duduk di kursi. Seperti habis berlari sepuluh kali putaran lapangan, badannya terasa sangat lelah. Sepulang sekolah tadi, dia tidak mampir ke apartemennya dulu. Sehingga perutnya belum terisi sama sekali.
Jika hari ini sama dengan empat bulan lalu, saat dia belum menikah dengan Joana dan masih suka berfoya-foya atau main-main, mungkin dia sedang berada di arena trek-trekan. Berkumpul dengan Reza dan Gavin sambil mencari rival balapnya yang baru. Bukan malah kerja lembur di sebuah SPBU dengan kondisi kelaparan. Merenungi nasibnya sekarang, Raskal hanya bisa tersenyum getir.
“Kal, kamu belum makan, kan? Bapak punya roti nih.” Pak Didin, rekan kerja yang seumuran ayahnya, memberikan sebungkus roti cokelat pada Raskal.
“Makasih, Pak,” sahut Raskal seraya mengambil roti dari tangan Pak Didin. Dia menyunggingkan senyum lemahnya. Sejak dia bekerja sebagai pengisi bensin, Raskal memang sudah dekat dengan Pak Didin. Alasannya sepele. Setiap kali melihatnya, Pak Didin selalu teringat dengan anak laki-lakinya yang sudah meninggal empat tahun lalu. Katanya, jika saja masih hidup, anak laki-laki Pak Didin akan seumuran dengan Raskal. Makanya, selama dia bekerja, Pak Didin selalu memperlakukan Raskal layaknya anak sendiri.
Raskal mendesah lelah. Andai saja ayahnya mempunyai sifat sebaik dan sehangat Pak Didin, mungkin sekarang dia tidak akan terlalu menderita.
“Baik-baik aja, Pak. Sekarang sih lagi sibuk try out,” jawab Raskal setelah menelan rotinya.
“Terus nilai kamu gimana? Bagus?”
Raskal tersenyum. “Lumayan, Pak.”
“Bagus deh kalau gitu. Jadi, nanti pas udah lulus kamu harus kuliah terus cari pekerjaan yang lebih keren. Masa ganteng-ganteng tukang isi bensin sih? Gengsi atuh sama cewek-cewek,” kata Pak Didin sambil terkekeh geli. Raskal mendengarnya hanya bisa tersenyum geli. Cowok itu jadi membayangkan, kalau Joana tahu apa pekerjaannya sekarang, apa cewek itu akan malu seperti yang Pak Didin bilang barusan?
“Rencananya kamu mau ngelanjutin ke mana, Kal? Nanti kamu mau jadi apa?”
Raskal tercenung. Disodori pertanyaan seperti itu, perutnya mendadak mual.
Mau jadi apa?
Dia bahkan masih bingung mau jadi apa nantinya. Dulu, mungkin Raskal bercita-cita jadi pilot. Tapi, setelah dia ingat bahwa dia pernah mengonsumsi narkoba, cita-cita itu lenyap sudah. Persyaratan mutlak pilot haruslah bersih dari narkotika. Raskal sudah pasti tidak memenuhi persyaratan itu.
“Belum tahu, Pak. Tapi, saya pasti kuliah,” jawab Raskal sekenanya.
Pak Didin mengangguk-angguk paham. Tangannya terulur untuk menepuk-nepuk bahu Raskal. “Cepat pikirin. Kalau nanti kamu butuh biaya tambahan buat kuliah, Bapak usahain bantu.”
__ADS_1
Raskal tertawa sumbang. Pernyataan yang keluar dari mulut seorang Pak Didin yang statusnya hanya seorang petugas SPBU tak kuasa membuat air mata Raskal jatuh begitu saja.
“Makasih, Pak. Makasih banyak,” ucap Raskal sambil mengusap habis air matanya.
Pak Didin terkekeh. “Kamu ini cengeng banget. Baru dibilangin gitu aja udah nangis.”
Raskal meringis. “Saya terharu, Pak. Soalnya baru kali ini saya ketemu orang sebaik Pak Didin.”
“Halah! Kamu bisa aja bohongnya!” Pak Didin tertawa. “Sudah jam dua belas. Kamu pulang sana! Kamu kan sudah kerja dari jam tiga.”
Raskal melirik jam tangannya. Benar saja, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Sifnya sudah selesai. Waktunya dia pulang. Setelah berpamitan dengan Pak Didin dan beberapa rekan kerja yang lain, cepat-cepat Raskal mengganti seragam tugasnya dengan kaus.
Raskal menyetop angkutan pertama yang lewat. Tiga puluh menit perjalanan, Raskal akhirnya sampai di depan apartemennya. Dengan langkah lunglai, cowok itu berjalan menuju lift dan menekan angka lantai apartemennya berada.
Ketika berada di dalam lift, Raskal menyandarkan tubuhnya. Hari ini dia benar-benar lelah. Dulu, dia juga sering pulang lebih dari jam malam, tapi dengan alasan yang jauh berbeda. Yaitu, untuk menghabiskan uang, bukan mencari uang seperti sekarang. Dengan ketimpangan keadaan itu, awalnya mungkin Raskal selalu mengeluh. Tapi, setelah dia jalani lebih lama, Raskal akhirnya menyadari bila mempunyai uang hasil dari kerja keras sendiri jauh lebih menyenangkan dibanding harus terus meminta belas kasihan dari ayahnya.
Ting!
Suara bel lift berbunyi, tanda dia telah sampai. Raskal pun keluar dan mulai berjalan menuju apartemennya. Seperti kebiasaannya sehari-hari, semenjak Joana resmi tinggal bersama dan menjadi istrinya, saat dia menekan bel tanpa sadar Raskal selalu memanjatkan doa pada Tuhan agar ketika Joana membuka pintu, cewek itu akan menyambut kepulangannya dengan tersenyum. Atau minimal menyambutnya dengan pertanyaan ‘Kenapa baru pulang? Habis dari mana?’ atau pertanyaan-pertanyaan lain yang menekankan Joana masih peduli meski sebenci itu padanya.
“Lo sebenarnya kerja apa main sih?” Joana bertanya sinis, tepat saat cewek itu membukakan pintu untuk Raskal.
Raskal tertawa dalam hati. Dia memaki dirinya yang berharap terlalu tinggi pada Joana. Mau selama apa pun dia berdoa, sepertinya Joana tetap akan terus begitu. Sama seperti empat bulan yang lalu, cewek itu terus bersikap dingin, berbicara dengan tajam, dan selalu mengabaikan keadaan Raskal yang kelelahan.
Tanpa menjawab pertanyaan Joana, Raskal masuk ke apartemen dalam diam. Dia melempar tas ranselnya ke sofa, lalu berjalan ke balkon untuk mengambil handuk di jemuran.
Joana yang kesal diabaikan begitu saja oleh Raskal mengekori cowok itu dan menarik lengannya. Saat ditahan, Raskal mungkin berhenti melangkah, namun tidak berbalik. Seolah-olah dia tidak mau menatap Joana.
“Kalau ditanya tuh jawab!”
“Gue capek,” kata Raskal sambil mengenyahkan tangan Joana dari lengannya perlahan. “Mendingan sekarang lo tidur. Udah malem.”
“Capek? Lo kira gue yang selalu harus ngehadepin sikap aneh lo ini nggak capek? Gue udah mulai frustrasi sama lo,” tukas Joana kesal seraya berjalan menuju kamar dan menutup pintunya keras-keras.
Tidak memedulikan reaksi Joana tadi, Raskal tetap melanjutkan langkahnya ke kamar mandi yang terletak di samping dapur. Ketika Raskal melintasi dapur dan mendapati bau makanan, cowok itu berjalan ke meja makan dengan penasaran. Benar saja, di balik tudung saji, Raskal menemukan semangkuk sup ayam, nasi, tahu, dan tempe. Dari aromanya yang masih wangi juga hangat, Raskal tahu semua makanan ini pasti baru saja dibuat sebelum dirinya pulang. Lalu, siapa lagi orang di rumah ini yang membuatnya selain Joana?
Senyum Raskal mengembang tipis. Dia melirik kamar Joana dengan tatapan penuh arti. Saat tahu Joana tidak sepenuhnya mengabaikan, akhirnya dia berani mempertanyakan hal yang tidak pernah lagi dia pertanyakan.
Bisakah sekali lagi dia berharap?
Bisakah sekali lagi dia berjuang?
Dan bisakah dia memulai lagi semua yang telah berhenti? Misalnya, bermain basket bersama cewek itu lagi, tertawa bersama cewek itu lagi, melakukan hal-hal aneh bersama cewek itu lagi, berlibur ke tempat-tempat unik bersama cewek itu lagi, dan berbagai macam momen lain yang nyatanya sangat ingin dia ulang kembali.
__ADS_1
“Sekali lagi. Gue bakal tahan lo sekali lagi,” kata Raskal yakin seraya menggeser kursi di samping meja makan, lalu mulai menyantap makanan yang disediakan Joana untuknya dengan perasaan lega.