
Aku mengenalimu sebagai orang asing. Aku menerimamu sebagai orang asing. Dan akhirnya kucintai kamu sebagai orang asing. Hingga saat ini aku tidak mengerti, mengapa semakin jauh kita berjalan, semakin jauh pula kau tak terkenali lagi.
Hampir setengah jam Raskal berdiri termangu di depan sebuah toko perhiasan yang ada di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Dia berniat membeli cincin yang pantas untuk pernikahannya kelak dengan Joana. Namun, jika memakai tabungan untuk membeli cincin dengan harga yang lumayan mahal, dia pasti tidak akan mampu membiayai segala kebutuhan Joana yang lain nanti.
Raskal melihat saldo terakhir di buku tabungannya. Setelah kemarin dia menjual beberapa barang-barang kesayangannya seperti play station, launchpad, arloji Swiss Army, dan sepatu Nike Air Jordan, tabungannya kini berisi kurang lebih 80 juta. Jika dihitung-hitung dengan pengeluaran nanti, uang yang biasanya bisa dihabiskan dalam satu minggu itu tentulah tidak cukup. Apalagi Raskal harus membayar segala biaya persalinan Joana nantinya.
Raskal mengurut dahi yang terasa pening. Sejak dia memutuskan untuk bertanggung jawab dengan kehamilan Joana, Damar mewajibkannya mengurus segala keperluan Joana berikut masa depan Joana. Katanya, jika tidak mau dituntut atas tindakan asusila yang telah dia perbuat, Raskal harus menikahi Joana dan menanggung hidup cewek itu seumur hidup. Raskal yang tidak bisa mengelak akhirnya hanya bisa menyetujui seluruh keinginan Damar. Lagi pula, tanpa perlu diancam dengan tuntutan seperti itu, Raskal sebenarnya memang berniat sama. Jadi, sekarang, harusnya dia tidak boleh mengeluh. Apalagi, yang lebih hancur di sini bukanlah dia, melainkan Joana. Sahabatnya.
Raskal menggelengkan kepala. Tidak, dia tidak boleh mengeluh. Sampai titik akhir, dia harus tetap berjuang. Jika sekarang dia ikut putus asa dan menyerah begitu saja, siapa yang akan menyelamatkan Joana dari ini semua nanti?
Joana hampir kehilangan semuanya. Jadi, jika dia mengeluarkan uang sedikit lagi untuk membelikan sahabatnya itu cincin, sepertinya tidak salah. Toh nanti dia bisa kerja jika uangnya tidak cukup. Maka, dengan berbekal tekad juga keyakinan, Raskal pun masuk ke dalam toko perhiasan di hadapannya, lalu membeli cincin dengan model sederhana untuk Joana.
***
Seminggu setelah Raskal mengakui perbuatannya pada Damar, Joana seperti kehilangan semangat hidup. Dia tidak masuk sekolah, jarang makan, dan tidak mau bicara. Cewek itu seperti mayat hidup yang kerjanya hanya bernapas. Keluarganya yang melihat kondisi Joana tentu sedih. Terutama mamanya, Hestia. Dia selalu menangis setiap melihat keadaan anak bungsunya. Ingin sekali dia marah pada Raskal. Ingin sekali dia melemparkan segala kesalahan pada anak laki-laki yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri itu. Namun, setelah dia berpikir ulang, semua kesalahan tidak bisa dilimpahkan pada Raskal. Meski penyebab utama kehancuran Joana tetaplah Raskal, awal mula dari masalah ini pasti berasal dari dirinya dan suaminya yang tidak bisa menjaga Joana. Karena terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing, Hestia dan Damar kadang menjadi terlalu apatis dengan keadaan rumah.
Lagi pula, tidak adil bila dia hanya menyalahkan Raskal. Sama seperti Joana, Raskal juga masih anak-anak. Setangguh-tangguhnya anak itu menghadapi masalah sendirian, Raskal tetaplah anak remaja yang sesungguhnya masih butuh bimbingan. Maka, Hestia tidak pernah setuju dengan usul suaminya yang ingin melimpahkan segala tanggung jawab pada Raskal saja.
“Raskal masih anak kecil, Mas! Mana mampu dia menghidupi Joana sendirian!” seru Hestia ketika membantah usulan Damar.
“Tapi, dia laki-laki, Hes. Dia harus bertanggung jawab dengan apa yang telah dia perbuat pada Joana,” sahut Damar, tidak mau dibantah.
“Raskal belum punya pekerjaan. Dia juga masih sekolah.
Mana mungkin dia bisa menghidupi Joana sendirian!”
“Itu sudah jadi risikonya. Cukup, Hes. Jangan bantah omongan aku.”
“Terus kamu mau telantarin hidup mereka gitu aja?”
“Aku bukan mau telantarin, tapi mendidik mereka. Aku mau mereka belajar dari kesalahannya.”
Telak. Hestia tidak bisa lagi membantah omongan suaminya. Sementara Gea dan Givi yang mendengar keributan itu hanya bisa duduk diam di ruang tamu. Sama seperti kedua orangtuanya, mereka juga kaget dengan kabar kehamilan Joana. Tak hanya itu, mereka jauh lebih terkejut setelah mereka tahu yang menghamili Joana itu Raskal, sahabat adiknya sendiri!
“Raskal brengsek!” desis Givi geram. Tidak mau memperburuk keadaan dengan marahnya Givi, Gea tanggap menenangkan adiknya dengan mengusap-usap bahunya pelan.
“Marah pun percuma, Vi. Nggak ada gunanya. Yang harus kita lakuin sekarang adalah ngurus adik kita yang satu itu,” bisik Gea lirih seraya memandang Joana yang tengah mengamati seluruh ruangan dengan tatapan kosong. “Pasti akan susah buat bikin jiwanya balik ke semula lagi.”
“Gue nggak pernah nyangka Joana bakal punya masalah sepelik ini.”
__ADS_1
Ketika Givi berbicara seperti itu, Joana balas menatap mata kakaknya. Lalu, masih dengan tatapan kosong, air mata tahu-tahu saja mengalir dari sana. Tidak bersuara, tidak beremosi, air bening itu menetes begitu saja dari mata Joana yang hampa.
***
Lagi-lagi panggilan telepon itu terputus. Seolah tidak mau mendengar suaranya, setiap kali Raskal menelepon, mamanya selalu memutuskan sambungannya lebih dahulu. Padahal, Raskal sangat ingin bicara pada mamanya mengenai masalah yang dia alami. Meski mamanya berubah menjadi sosok wanita yang selalu gonta-ganti pasangan, setidaknya dia masih peduli pada Raskal dan tidak sekeras ayahnya. Walau tidak sering, mamanya kadang masih menanyakan kabarnya lewat telepon atau SMS. Namun, sekarang, saat kehadirannya sangat diperlukan, mamanya malah menghilang.
Raskal menyerah. Dia akhirnya memilih mode kirim pesan suara untuk menggantikan teleponnya. Lalu, di sudut kamar yang sepi, dengan lelah dan juga dengan nada putus asa, Raskal mulai merekam suaranya.
“Halo, Ma. Apa kabar? Mama sehat, kan?” tanya Raskal basa-basi. “Semoga, di mana pun sekarang Mama tinggal, Raskal harap Mama baik-baik aja. Sehat terus. Dan … kalau bisa, jangan terlalu sering merokok dan minum alkohol. Nggak baik buat kesehatan Mama,” Raskal memberi jeda untuk menyiapkan kalimatnya. “Raskal ngelakuin kesalahan, Ma. Raskal ngehamilin sahabat Raskal sendiri,” adu Raskal dengan napas terengah-engah akibat sesak. “Besok Raskal nikah, Ma. Makanya Raskal mau nelepon Mama. Raskal butuh … Raskal butuh Mama. Sehari aja. Bisa nggak Mama nemenin Raskal? Raskal nggak bisa sendirian, Ma. Raskal nggak bisa. Raskal belum cukup mampu buat jalanin semuanya sendiri. Raskal takut, Ma. Raskal takut,” lanjut Raskal lagi dengan suara terbata-bata. “Raskal butuh Mama.”
Setelah rekaman itu berhenti dan berhasil terkirim, Raskal menyungkurkan tubuhnya ke tembok kamar. Melepas lelah yang akhir-akhir ini bukan hanya menggerogoti fisik, tapi juga menguras hati dan pikiran.
Saat keadaan hancur seperti ini, Raskal kadang membayangkan dia sedang tidur dan sewaktu-waktu terbangun, lalu menyadari bahwa semua ini hanyalah mimpi. Namun, sepertinya, bila semua ini hanya mimpi, Raskal harus siap jika mimpi ini tidak akan berakhir.
Tidak akan pernah….
***
Di dalam kamar, Joana menatap nyalang kebaya yang tergantung di samping lemari. Kalau saja kebaya putih berkerah sabrina itu bukan milik mamanya, ingin rasanya Joana membakarnya agar hari ini dia tidak jadi menikah. Tetapi, apa daya. Sekalipun beratus-ratus kebaya berhasil dia bakar, nyatanya dia tetap tidak bisa mengubah kenyataan. Dia tetap harus menikah dengan atau tanpa kebaya dan riasan wajah. Lantas sekarang, saat Givi memaksanya untuk setidaknya memulas wajahnya dengan sedikit taburan bedak dan sedikit sapuan lipstik agar tidak terlihat pucat, Joana hanya bisa pasrah. Dia membiarkan kakak sulungnya itu berkuasa atas dirinya saat ini.
“Mau sampai kapan lo diem aja, Jo? Cerita aja sama Kakak biar lo lega. Kakak janji nggak bakal ngehakimin lo,” ujar Givi pelan seraya menyisiri rambut Joana yang panjang.
Givi menghela napas panjang. Prihatin dengan keadaan adiknya, Givi merentangkan kedua tangan untuk memeluk Joana dari belakang erat-erat. “Sabar, Jo. Sementara ini mungkin lo harus nerima dia. Itu demi anak—”
“Gue nggak mau nikah sama dia! Nggak! Nggak mau!” jerit Joana tiba-tiba sambil melerai paksa pelukan Givi. Givi, yang terkejut dengan histeria Joana yang begitu mendadak, limbung dan terjerembap ke lantai. Jika saja satu tangannya tidak buru-buru menyangga, mungkin sekarang kepalanya sudah terbentur siku ranjang.
“Joana! Lo kenapa?!” tukas Givi langsung.
“Gue nggak mau nikah sama si brengsek itu! Gue nggak sudi!” seru Joana lagi. Sambil terus memberontak dengan cara mengacak-acak seluruh isi kamar, Joana terus menyerukan ketidakinginannya menikah dengan Raskal. Awalnya, ketika dia mendengar usul Raskal beberapa minggu yang lalu, kedengarannya mudah dan tampaknya mampu dia jalani. Namun, saat dia memikirkan masa depannya, Joana kehilangan keyakinan itu. Usulan Raskal malah berubah menjadi tekanan yang perlahan-lahan membuatnya gila.
Tak lama, Hestia, Damar, dan Gea masuk ke dalam kamar. Saat melihat kamar Joana yang mulanya sudah dirapikan kini kembali berantakan akibat sang pemilik kamar mengamuk, mereka langsung tanggap memegang tubuh Joana.
“Joana berhenti! Kamu kenapa sih?” tanya Damar sambil memegang Joana yang terus saja ingin menghancurkan barang-barang yang ada di depannya.
“Joana nggak mau nikah sama Raskal, Yah! Joana nggak mau! Nanti gimana sekolah Joana?! Gimana masa depan Joana? Joana mau jadi desainer, Ayah! Bukan jadi ibu rumah tangga! Terus nanti apa kata teman-teman aku kalau aku udah nikah? Apa kata keluarga kita kalau mereka tahu aku udah punya anak? Aku takut, Yah! Aku nggak bisa hadapin semua ini sendiri!!!” jerit Joana tanpa henti, seolah mengeluarkan segala sesak yang selama ini diendapkan dalam hati.
“Sabar, Joana. Sabar. Mama, Ayah, Kak Gea, sama Kak Givi nggak akan ninggalin kamu. Kamu harus menikah semata-mata biar anak kamu punya Ayah,” ucap Hestia sambil memeluk tubuh Joana erat-erat. “Maafin Mama, Jo. Maafin Mama yang nggak becus jagain kamu sampai semua ini terjadi. Ini semua salah Mama.”
__ADS_1
“Iya, Joana. Kita nggak akan pernah ninggalin kamu,” sambung Gea, menenangkan.
“Jangan buat semuanya tambah sulit. Jalani saja pernikahan ini sebagaimana mestinya,” tandas Damar sebelum akhirnya dia keluar dari kamar. Meninggalkan Joana yang masih menangis di pelukan mamanya.
***
Pernikahan Joana dan Raskal dilaksanakan secara tertutup. Hanya keluarga inti Joana dan seorang penghululah yang menjadi saksi pernikahan keduanya. Karena umur Joana masih belum genap tujuh belas tahun—tanda dia belum memenuhi syarat untuk menikah, terpaksa pernikahan itu hanya disahkan secara agama saja.
Wajah Raskal terlihat kaku dan pucat meski tampilannya cukup rapi dengan balutan kemeja putih polos lengan panjang, jas hitam, dan juga peci. Sedangkan Joana, meski penampilannya yang sempat berantakan sudah kembali dirapikan, tetap tidak mampu menyembunyikan ketakutannya akan pernikahan ini. Jika saja keduanya tidak dalam situasi sulit dan benar-benar menikah dengan dasar cinta serta bukan atas keterpaksaan, mungkin hari ini keduanya akan terlihat seperti pasangan yang paling bahagia.
Setengah jam lagi pernikahan akan dimulai. Selama menunggu di belakang meja penghulu, Raskal sibuk menenangkan gejolak di hati dan meneguhkan keyakinan. Seharusnya, ini adalah jalan paling benar yang dia ambil. Ini tanggung jawabnya. Dia tidak boleh lari. Cukup sekali dia melakukan kesalahan. Dia tidak mau melakukannya untuk yang kedua kali.
Raskal menghela napas. Dia menegapkan tubuh, lalu mendongakkan kepala. Andaikan hari ini mamanya datang, setidaknya dia punya sedikit tambahan kekuatan. Nyatanya, lagi-lagi dia harus menelan pil pahit kekecewaan.
“Bisa dimulai akad nikahnya?” tanya penghulu yang ada di depan, memecah keheningan yang ada. Damar yang duduk tidak jauh dari sana langsung mengangguk. Sementara, Joana yang baru saja duduk di samping Raskal mendadak menegang.
“Bisa, Pak. Silakan dimulai,” kata Raskal tegas, membuat Damar langsung mengulurkan tangannya pada anak laki-laki itu.
Setelah itu, semuanya terasa seperti mimpi. Ketika Raskal selesai mengucapkan ijabnya dengan lancar dan langsung disambut dengan sahutan ‘sah’, Joana mulai merasa semuanya tidak bisa dia selamatkan lagi. Pada hari ini, jam ini, menit ini, Joana harus menerima kenyataan bahwa dirinya telah menjadi istri dari Raskal Galivan Anandio, sahabat yang sudah tidak dia kenali lagi.
***
Dulu, sebelum segala masalah menimpa mereka, apartemen Raskal selalu menjadi tujuan utamanya untuk mengusir penat, bermain play station, atau bertanya pada Raskal tentang pelajaran yang tidak dia mengerti. Sekarang, belum juga dua langkah Joana berjalan memasuki apartemen, dia mematung di tempat. Rekaman peristiwa mengerikan yang menimpanya satu bulan lalu kembali terputar dalam otak. Menerjang kesadaran sampai membuat tubuh Joana limbung ke belakang. Jika saja tidak ada Raskal yang tanggap menyambar tubuhnya, mungkin sekarang dia sudah jatuh terjerembap.
“Lo kenapa, Jo?” tanya Raskal khawatir. Dua tangannya mencengkeram erat bahu Joana.
Suara Raskal lantas membuat Joana tersentak. Buru-buru cewek itu mengembalikan kesadarannya dan melepaskan diri dari cengkeraman tangan Raskal. Entahlah, sedikit sentuhan Raskal saja sudah membuat tubuhnya gemetar. Baginya, sentuhan itu bukan lagi dari tangan orang yang sudah dia kenali selama hampir sepuluh tahun. Sentuhan itu begitu asing dan tabu sekarang.
Joana menundukkan kepala. Tidak mau menatap sepasang mata Raskal. Raskal yang menyadari itu lebih dari terluka. Dia sangat terpukul. Raskal mungkin bisa menerima jika Joana membencinya. Tetapi, dia tidak bisa sepenuhnya menerima kenyataan bahwa Joana seperti melihat binatang buas yang selalu ingin menyantapnya kapan pun dia mau jika melihat dirinya.
Raskal tersenyum pedih. Jujur, dia benci situasi ini. Namun, dia bisa apa? Bukankah ini juga bagian akibat dari kesalahan yang telah dia perbuat?
Setelah menaruh koper dan ransel Joana ke kamarnya, Raskal kembali menghadap cewek itu. Lalu, perlahan, dengan gerak kikuk dia mengulurkan tangannya ke wajah Joana, hendak mendongakkan kepala cewek itu. Tapi, belum juga tangannya sampai, tiba-tiba saja Joana menepis kasar dan mendorong Raskal hingga jatuh ke lantai. Lalu, belum cukup sampai di situ, Joana tahu-tahu saja melepas cincin yang menjadi mahar pernikahan dan membuangnya tepat ke hadapannya.
“Jangan harap lo bisa sentuh gue!” seru Joana tandas. Setelah mengambil cincin pemberiannya yang tadi dibuang Joana, Raskal bangkit berdiri kembali. Dengan kepala tertunduk, Raskal melangkah mundur.
“Kalau lo emang nggak mau gue ngelihat lo, gue bakal berusaha mungkin buat ngehindarin tatap mata sama lo.” Raskal menelan ludahnya susah payah. Dia mengepalkan dua tangannya kuat-kuat untuk menahan laju emosinya saat ini. “Kalau emang lo nggak suka gue deket-deket sama lo, gue bakal jaga jarak. Dan kalau … kalau emang lo nggak mau dengar suara gue, gue bakal diem. Gue berusaha … gue bakal usaha sekeras mungkin buat lo nyaman tinggal di sini. Gue nggak minta lo wajib melayani gue sebagai suami lo. Tapi, tolong, Jo … tolong anggap gue seperti sahabat lo.”
Joana mendengus. Dia tersenyum sinis. “Sahabat? Lo bukan sahabat gue lagi. Bagi gue, hubungan kita sekarang nggak lebih dari hubungan seorang tersangka dan korban.”
__ADS_1
Begitu kalimat tajam itu berhasil membungkam Raskal dengan telak, Joana melenggangkan kakinya masuk ke dalam kamar. Suara pintu ditutup paksa terdengar ngilu di telinga Raskal yang saat ini sudah jatuh terduduk sambil menahan emosinya mati-matian.